
Trilyunan tahun yang lalu, di Dunia Asal Mula, atau bahkan mungkin jauh lebih lama lagi.
Sosok makhluk hidup menyerupai manusia namun dengan tinggi seratus kali lebih tinggi dari manusia rata-rata berdiri di pinggir lereng gunung raksasa yang besarnya menyamai sebuah galaxy dan sedang asik memandangi langit gelap yang kosong tanpa adanya kelap-kelip dari bintang-bintang.
Jika dibandingkan dengan gunung itu, makhluk itu tidak lebih dari setitik debu.
Namun, besar tubuhnya tidak membuat aura yang dipancarkannya tertutupi oleh gunung. Malah, auranya membuat sosoknya mustahil tidak disadari di gunung tersebut.
Bahkan besar gunung itu tidak bisa meredam aura yang dipancarkannya.
Makhluk seperti manusia itu memiliki kulit berwarna perunggu. Mata nya hitam legam, benar-benar hitam seluruhnya. Dia tidak memiliki batang hidung dan daun telinga. Rambutnya hitam panjang hingga menyentuh tanah.
Kedua tangannya memiliki panjang yang normal untuk besar tubuhnya. Dia mengenakan jubah dari kumpulan sisik berwarna hitam.
Dari tampilan sekilas, sudah jelas dia bukanlah orang sembarangan.
"Dunia ini sudah akan berakhir, tidak kah kau hanya membuang-buang waktumu dengan mendatangiku di tempat ini?" Makhluk itu berbicara dengan nada datar tanpa emosi.
Tak berapa lama, suara langkah kaki terdengar datang dari belakangnya.
Makhluk itu tidak berbalik sedikitpun untuk melihat pemilik suara langkah kaki tersebut. Suara langkah kaki terus mendekatinya dan kemudian berhenti tepat di sebelahnya.
Seorang pria yang terlihat berusia pertengahan tiga puluhan terlihat berdiri tepat di samping makhluk itu dan ikut memandangi langit gelap.
Kegelapan tempat mereka adalah hasil dari waktu malam di Dunia Asal Mula. Tanpa adanya bintang lainnya dan bulan, malah hari di Dunia Asal Mula berarti kegelapan total.
Namun kegelapan itu bukanlah masalah bagi pria itu ataupun makhluk raksasa di sampingnya.
"Justru karena dunia ini akan berakhir, aku mendatangimu teman ku," kata pria itu sebagai belasan atas pertanyaan yang diberikan padanya.
__ADS_1
Makhluk itu diam. Tak berapa lama, terdengar suara tawa pelan darinya yang bisa didengar jelas oleh pria di sampingnya.
"Hei, apa menurutmu malam akan sama gelapnya di dunia yang baru nantinya?" tanya makhluk itu.
Pria itu mengangkat bahunya dan menjawab, "Aku tidak tau. Tidak ada satupun yang tau. Namun, aku bisa mengatakan sesuatu yang pasti padamu, dunia yang baru pasti akan memiliki berbagai keragaman yang tidak ada di dunia ini. Aku percaya malam tidak akan lagi gelap seperti ini di suatu tempat, tapi di tempat lainnya juga malah mungkin kegelapannya jauh lebih mengerikan dibandingkan dengan ini."
Makhluk itu sekali lagi tertawa, namun tawanya terdengar jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.
Dia menoleh ke samping sambil menundukkan kepalanya, menatap pria kecil di sampingnya.
"Kalau begitu, itu pasti akan sangat menyenangkan. Aku tidak akan bosan tinggal di dunia seperti itu. Berbeda dengan di sini, aku sudah mati rasa melihat pemandangan yang sama terus-menerus. Langit yang gelap, matahari panas yang terus kita putari, perang yang terus terjadi di mana-mana, semuanya sama setiap harinya.
Aku ingin melihat sesuatu yang baru, sesuatu yang bisa membuat rasa hausku akan petualangan terpuaskan! Jika dengan hancurnya dunia ini membuatku bisa melihat hal-hal baru, maka biarlah kehancuran dunia ini terjadi. Lagipula, dunia ini memang sudah seharusnya hancur, bukan?
Sudah merupakan keajaiban dunia ini bisa tercipta. Kau dan The Beginning yang paling paham hal ini. Kehampaan menuju penciptaan, penciptaan menuju kehancuran, dan kehancuran menuju kehampaan. Lalu kehampaan sekali lagi akan menuju penciptaan, begitu seterusnya. Hanya saja, kita adalah yang pertama dari penciptaan itu.
Bukankah itu terdengar hebat? Hahahaha......aku sudah tidak sabar menantinya. Saat diriku menjelajahi dunia yang baru itu, itu pasti menyenangkan! Pasti!"
Makhluk itu tertawa lepas, sementara pria di sampingnya hanya diam dan menghela napas panjang.
"Kau tidak akan bisa melakukannya. Sebelum kau bisa menjelajahi dunia yang baru, kau sudah akan lebih dulu mati. Apa kau pikir kehampaan itu hanya sekedar kekuatan belaka? Sudah keajaiban kau bisa menyatu dengannya dan mengendalikan kekuatannya dalam tahap tertentu. Jika kau menggunakannya untuk membantu penciptaan dunia baru, jiwa mu akan musnah karena menjadi bahan bakar untuk penggunaan kekuatan kehampaan tanpa batas," jelas pria itu pada makhluk tersebut.
Namun, bukannya takut, makhluk itu justru merasa semakin tertantang. Dia tersenyum lebar. Sebuah senyuman yang sangat menakutkan.
Bayangkan sebuah wajah manusia tanpa hidung dan telinga, tersenyum lebar padamu dengan kedua matanya hitam sepenuhnya. Itu sama seperti sesosok hantu yang tersenyum padamu.
Sayangnya, di Dunia Asal Mula, hantu adalah hal yang biasa. Mereka hanyalah sekumpulan energi yang berasal dari makhluk hidup yang telah mati namun masih memiliki kehendak di dalamnya sehingga mengambil rupa menyerupai makhluk hidup, namun dengan rupa yang mengerikan, tergantung bagaimana kehendak yang dibawa hantu itu.
Makhluk seperti manusia yang bersama pria itu bisa dibilang merupakan salah satu wujud makhluk paling normal di Dunia Asal Mula.
__ADS_1
Bahkan, tinggi makhluk itu sebenarnya cukup pendek jika dibandingkan dnegan makhluk lainnya yang ada di Dunia Asal Mula. Tidak ada yang masuk akal di dunia ini. Semuanya bisa saja ada. Kehendak dunia membuat segalanya bisa terjadi.
Teknologi seperti di bumi zaman sekarang sudah lama ada, bahkan jauh lebih canggih. Hanya saja, teknologi bukanlah hal yang dikejar di Dunia Asal Mula. Apa yang menjadi tujuan semua orang di dunia ini adalah menjadi sekuat mungkin.
Mau bagaimana pun, perkembangan teknologi tidak bisa menyaingi perkembangan kekuatan di Dunia Asal Mula. Kekuatan semau makhluk terus bertambah kuat semakin hari, dan membuat mereka memiliki kekuatan dan kemampuan yang bisa melebihi teknologi manapun.
"Siapa bilang aku akan membakar jiwa ku? Tidak, aku akan membakar jiwa orang-orang itu sebagai pengganti jiwa ku. Meski tidak cukup, tapi itu bisa memastikan jiwaku tidak sepenuhnya terbakar habis. Paling-paling aku akan tertidur selama beberapa ribu tahun, setelah itu aku akan terbangun dan bisa menjelajahi dunia baru," kata makhluk itu dengan optimis.
Jauh di bawah gunung tempat keduanya berada, jutaan makhluk terlihat bergerak menuju ke tempat di mana pria itu berada.
Mereka semua terlihat dalam keadaan emosi yang sama, yaitu marah. Kemarahan mereka membara begitu tinggi hingga pancaran napsu membunuh mereka membuat kaki gunung bergetar hebat.
Tapi getaran itu hanya terjadi selama beberapa saat sebelum kemudian berhenti.
Terlihat, semua makhluk yang sebelumnya sedang bergerak menaiki gunung berhenti di tempat mereka karena di hadang oleh seorang makhluk yang sama persis dengan yang saat ini berada di atas gunung bersama pria yang mendatanginya sebelumnya.
"Orang-orang yang menyedihkan. Kalian berbondong-bondong datang ke sini hanya karena mendengar pemimpin kami akan menghancurkan dunia ini, sungguh menggelikan. Sadarkah kalian, bahwa yang membuat dunia hancur sebenarnya adalah kalian yang terus mengejar kekuatan dan membuat kehendak dunia menjadi terus bertumbuh begitu kuat dan tidak bisa mengimbangi sang matahari.
Ini adalah resiko yang kalian ambil karena sudah memilih jalan ini. Senang atau tidak, kehancuran dunia akan terjadi, cepat atau lambat. Pemimpin kami hanya membuat kehancuran itu menjadi lebih cepat agar dunia yang baru bisa tercipta. Pemimpin kami, The Emptiness secara sukarela membantu The Beginning dalam penciptaan dunia yang baru. Seharusnya kalian berterima kasih, tapi kalian malah datang dan memakinya tanpa rasa syukur sama sekali.
Kalian benar-benar orang yang tak tau terima kasih. Jika bukan karena perintah Pemimpin, kalian semua sudah sejak awal ku bunuh, bahkan sebelum kalian menginjakkan kaki di wilayah Gunung Kongxu ini!"
Makhluk itu berseru marah pada jutaan makhluk lainnya di hadapannya.
Sebagai bagian dari kelompok Kaishi yang dipimpin The Emptiness, makhluk itu telah memberikan hidupnya untuk mengabdi pada pemimpinnya.
Jutaan makhluk di hadapannya ini bahkan tak menggetarkan hatinya. Baginya, kematian bahkan bukanlah bentuk bentuk pengabdian yang sebenarnya.
Pengabdian yang sebenernya adalah dengan terus hidup. Dengan begitu dirinya bisa terus mengabdi seumur hidupnya.
__ADS_1