
Weng Ying Luan menghabiskan malam dengan Lin Mei sambil bercerita tentang pengalamannya selama terlempar ke wilayah Daratan Utama. Lin Mei yang mendengarnya hanya bisa semakin merasa iri.
Pengalamannya jauh, jauh lebih membosankan jika dibandingkan dengan Weng Ying Luan atau bahkan Weng Lou. Dia hanya bersama-sama dengan para binatang buas tiap harinya. Satu-satunya petualangannya seorang diri adalah ketika dia sedang menyusup ke dalam wilayah Keluarga Lin untuk mengambil bulu Phoenix.
Tentu saja, penyusupan yang dilakukan olehnya tidak bisa dibandingkan sama sekali dengan cerita-cerita yang Weng Ying Luan alami.
"Kau tidak tau betapa tersiksanya aku selama ini. Sepanjang hari aku hanya melihat binatang buas sejauh mata memandang, satu-satunya kesenangan ku adalah ketika aku sedang melatih kekuatan Api Phoenix ku," ucap Lin Mei sambil mendesah pelan. Di telapak tangannya, muncul api berwarna jingga gelap dengan di tengah-tengahnya terdapat api yang berwarna merah gelap.
Alis Weng Ying Luan terangkat sebelah saat melihat api itu. Dia mengingat melihat api yang sama dari Lin Bei ketika bertarung melawannya di Kota Tiesha. Namun api yang dikeluarkan oleh Lin Bei tidak memiliki dua warna seperti milik Lin Mei, hanya api berwarna jingga saja dan memiliki sedikit beberapa jejak kehendak pemusnahan di dalamnya yang membuat Weng Ying Luan sedikit kewalahan.
"Jadi ini api Phoenix yang sesungguhnya? Benar-benar menarik!"
Weng Ying Luan menatap lebih dekat pada api di telapak tangan Lin Mei. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh api itu. Jari telunjuknya perlahan masuk ke dalam api, dia bisa merasakan jari telunjuknya yang langsung berubah menjadi sangat panas.
Untungnya dia memiliki Sarung Tangan Pencuri Langit sehingga jarinya tidak benar-benar mengenai api.
Ketika dia memasukkan lebih dalam jarinya ke dalam api, sensasi panas yang membakar langsung menghilang dan dia bisa merasakan sensasi hangat yang begitu nyaman. Dua bagian jarinya merasakan dua sensasi yang berbeda, dan itu benar-benar membuat Weng Ying Luan merasa semakin tertarik.
"Hei, apa kau sudah selesai?" tanya Lin Mei yang menatap Weng Ying Luan dengan tatapan aneh.
Weng Ying Luan tidak menghiraukannya. Dia justru melakukan sesuatu yang lebih mengejutkan. Dia menarik kembali jarinya, namun bukan karena selesai bermain dengan Api Phoenix milik Lin Mei, melainkan karena dia ingin melepaskan sarung tangannya.
Dengan cepat dia memasukkan kembali jarinya ke dalam api. Melihat hal ini, Lin Mei menjadi panik dan hendak menghilangkan Api Phoenix nya, namun sebelum dia sempat melakukannya, Weng Ying Luan sudah lebih dulu melakukan hal lainnya.
Dia menggores jari telunjuknya dan membiarkan darahnya terbakar ke dalam api yang paling dalam. Ketika darahnya mengenai api berwarna merah, darahnya mendidih untuk sesaat dan asap ungu kehijauan keluar darinya, namun kemudian lenyap saat menyentuh api jingga.
Setelah darahnya berhenti mendidih, Weng Ying Luan segera menggenggamnya dan dengan cepat menarik jarinya.
__ADS_1
Jarinya terluka cukup parah, namun Weng Ying Luan sama sekali tak mempedulikannya. Dia fokus menatap darahnya yang sebelumnya mendidih di dalam api merah. Dia menatap darahnya dengan mata berbinar dan dia tidak bisa menahan dirinya tertawa.
"Hahaha.....siapa sangka api mu memiliki efek pemurnian. Racun di dalam darahku langsung menghilang dan menjadi sangat murni begitu terbakar di dalam api merah mu. Api mu membakar semua sifat negatif yang berada dalam darahku," kata Weng Ying Luan sambil menunjukkan segumpal darah di tangannya pada Lin Mei.
Wajah Lin Mei menjadi jelek. Dia ingin memukul Weng Ying Luan karena mengejutkannya dengan tindakannya sebelumnya. Jika ada kesalahan sedikit saja, maka jari Weng Ying Luan akan hancur menjadi debu. Untungnya api di tangan Lin Mei tidak memiliki kekuatan sekuat itu sehingga Weng Ying Luan hanya mengalami luka lepuh.
"Jangan melakukan sesuatu seperti itu lagi, kau hampir membuat jantungku lepas," ujar Lin Mei sambil menghilangkan Api Phoenix di telapak tangannya.
Dia kemudian menatap darah Weng Ying Luan dan ikut terkejut karenanya. Kemampuan ini baru dia sadari sekarang, dan semua itu karena tindakan gegabah Weng Ying Luan sebelumnya.
"Menghancurkan racun dan menetralkannya adalah dua hal yang berbeda, sangat berbeda. Menetralkan racun bisa diatasi dengan menggunakan berbagai macam cara seperti meminum penawar racun atau obat-obatan lainnya untuk membuat racun menjadi netral dan tak berbahaya lagi bagi tubuh. Ada juga cara lainnya untuk menetralkan racun, yaitu dengan menggunakan kekuatan alami tubuh, namun tidak semua orang memiliki kemampuan ini, hanya mereka yang memiliki garis darah keturunan unik saja yang bisa melakukannya.
Laku, ada menghancurkan racun, caranya tidak bisa sembarangan untuk melakukannya karena mungkin saja racun akan menimbulkan perlawanan.
Ada beberapa hal yang bisa menghancurkan racun, yang pertama adalah dengan meminum sebuah obat yang memiliki sifat yang bisa merusak racun. Obat sejenis ini sangat langka karena telah dak sembarang orang bisa membuatnya. Cara yang lainnya adalah menggunakan kekuatan, entah itu kekuatan dari dalam tubuh sendiri ataupun kekuatan dari luar tubuh.
Penjelasan Weng Ying Luan cukup rinci. Hal ini karena dia sudah lumayan berpengetahuan tentang racun. Tubuhnya memiliki kemampuan alami untuk menetralkan racun, dan bahkan dia bisa mengembangkan lebih jauh sehingga tubuhnya bisa tetap menyimpan racun di dalam tubuhnya tanpa harus menetralkan racun.
Racun yang tersimpan di dalam tubuhnya adalah racun yang sudah tidak bisa mempengaruhi tubuhnya lagi karena dia bisa menciptakan penawarnya lewat tubuhnya sendiri. Bisa dibilang ini adalah sebuah teknik rahasianya. Memperlihatkan hal ini kepada Lin Mei menunjukkan bahwa Weng Ying Luan memiliki kepercayaan yang sangat besar kepada Lin Mei.
"Hei, menurut mu.....apa dia sedang baik-baik saja sekarang ini?" Mendadak Lin Mei bertanya pada Weng Ying Luan.
Dia menatap ke bawah dan tidak menatap pada Weng Ying Luan secara langsung. Weng Ying Luan tersenyum dan dia memberikan tanda jari jempol ke atas pada Lin Mei.
"Tidak perlu mengkhawatirkannya, dia pasti baik-baik saja. Bahkan mungkin dia sedang bersenang-senang sekarang ini karena memiliki petualangan di tempat yang tidak diketahui," katanya sambil menunjukkan ekspresi seperti iri namun itu hanya untuk menghibur Lin Mei.
Lin Mei tertawa melihat sikap dan mendengar kata-kata Weng Ying Luan.
__ADS_1
Sikap dan cara bicaranya adalah sikap dan cara bicara Weng Lou yang sangat diingat oleh Lin Mei ketika mereka masih berada di Sekte Langit Utara.
"Kau tau dia akan memukul mu jika tau kau menirunya seperti ini kan?"
"Bah.... siapa yang peduli. Orang bodoh yang tidak bisa menahan diri untuk tidak berkeliaran sembarangan sepertinya layak mendapatkannya."
Weng Ying Luan dan Lin Mei pun tertawa lepas. Ingatan mereka tentang Weng Lou terlintas di pikiran mereka. Tawa mereka akan semakin kencang bahkan saat mengingat Weng Lou yang sering tanpa alasan yang jelas berjalan-jalan dan berkeliaran seorang diri.
***
Sementara Weng Ying Luan dan Lin Mei sedang menertawakannya, Weng Lou saat ini sedang sibuk dalam proses penyerapan ingatannya.
Keringat membasahi tubuhnya saya dia duduk bersila dan berusaha sekuat tenaga agar dirinya tidak pingsan selama proses penyerapan ingatan. Jika dia pingsan atau kehilangan fokusnya, maka dia akan menemui akhir dari kehidupannya, yaitu kematian.
"Tidak perlu terburu-buru, serap semampu mu saja dalam satu waktu. Proses ini akan memakan waktu berminggu-minggu, karena ini adalah pertama kalinya bagimu menyerap seluruh ingatan satu kehidupan. Jika kau sudah menyerapnya, maka kau akan terbiasa ketika menyerap yang lain," ujar Weng Lou kehidupan kesembilan puluh sembilan di dekat Weng Lou kehidupan sekarang.
Weng Lou mengencangkan giginya dan fokus menyerap ingatan. Seluruh kilasan dari awal kelahiran hingga kematian dirinya di kehidupan yang sebelumnya sedang diputar di dalam kepalanya.
Dia harus bisa menyerap ingatan itu di dalam kepalanya. Bukan hanya sekedar mengingat, melainkan menyerap, menjadikan ingatan itu adalah ingatannya juga.
Kerutan memenuhi keningnya dan dia merasa kepalanya seperti sedang tercabik-cabik dari dalam.
Kehidupan kelima puluh tampak sedikit buram saat tubuhnya sedikit demi sedikit berubah menjadi cahaya dan masuk ke dalam kepala Weng Lou.
Berbeda dengan Weng Lou kehidupan sekarang yang tampak kesulitan dan kesakitan, Weng Lou kehidupan kelima puluh tampak tenang dan ekspresinya tidak berubah sedikit pun. Jelas dia tidak merasakan rasa sakit yang sama.
Kehidupan kelima puluh memiliki ingatan Weng Lou dari kehidupan pertama sampai kehidupannya yaitu kelima puluh. Oleh sebab itu kapasitasnya ingatan yang dia punya jauh melebihi Weng Lou kehidupan sekarang.
__ADS_1
Satu-satunya yang dia rasakan adalah pikirannya yang terasa pusing dan rasa kantuk yang semakin dan semakin kuat ketika semakin banyak cahaya yang pergi meninggalkan tubuhnya.