Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 407. Menjual Barang Jarahan (V)


__ADS_3

Weng Lou mengambil sesuatu dari balik bajunya dan kemudian melemparkannya pada wanita itu yang ternyata sebuah token yang tidak lain adalah token yang diberikan oleh Kakek Mu kepada Weng Lou.


Menangkapnya, wanita itu pun menatap sejenak token yang dilemparkan oleh Weng Lou padanya.


Dia berkedip beberapa kali, sebelum kemudian ekspresi wajah nya berubah kembali menjadi terkejut, bahkan jauh lebih terkejut dari sebelumnya.


"To-Token ini??!! Da-Dari mana anda mendapatkannya?!"


"Kau tidak perlu tau, aku hanya ingin tau berapa uang harus ku bayar setelah memakai otoritas sebagai pemilik token itu" ucap Weng Lou dengan santai.


Wanita itu tampak bimbang mendengar perkataan dari Weng Lou, saat dia akan mengatakan sesuatu, sosok seorang pemuda muncul dan berjalan masuk ke ruangan pelelangan tersebut.


"Hm? Bukankah itu Token Surga? Kenapa bisa ada di tempat ini?"


Weng Lou dan wanita yang bersamanya pun berbalik dan melihat sosok pemuda itu yang ternyata adalah Yang Guang.


"Hei kau mmmm....aku tidak tau siapa namamu, tapi bagaimana kau bisa mendapatkan token tersebut? Token Surga itu hanya diberikan pada mereka yang dianggap sangat berjasa pada suatu cabang Rumah Obat, pemuda polos seperti mu bagaimana bisa mendapatkannya?" Yang Guang bertanya sambil berjalan kebarah Weng Lou.


"Kau? Yang Guang kalau tak salah kan? Aku tidak terlalu mengenal mu, jadi aku tidak akan menjawab pertanyaan mu itu. Jadi, bagaimana? Berapa yanh harus aku bayar?"


"Ah, itu...itu....Tuan Muda...anu..."


"Dia tidak akan melayani mu sampai kau menjawab pertanyaan ku, darimana dan bagaimana kau bisa mendapatkan Token Surga itu?" Yang Guang menanggapi atas perkataan Weng Lou.


Weng Lou berdecak pelan mendengar hal itu. Menghela napasnya, dia pun memutuskan untuk menjawab pertanyaan darinya.


"Aku mendapatkannya setelah menjual lebih dari 1.000 bagian tubuh binatang buas pada salah satu cabang Rumah Obat di Wilayah Barat, kau puas? Sekarang beritahu aku berapa banyak yang harus aku bayar? Cepatlah jawab, aku ini sedang terburu-buru."


Yang Guang tampak memberi tanda pada wanita yang bersama dengan Weng Lou yang kemudian dibalas dengan anggukan olehnya.


"Semuanya jadi 2.000 koin emas," ucap wanita itu.


Dahi Weng Lou pun mengerut mendengarnya. Dia bukanlah orang bodoh, jelas dia ingat dengan jelas bahwa maksimal potongan harga yang bisa didapatkan olehnya hanya sebesar lima belas persen saja menggunakan Token Surga yang dimaksud oleh Yang Guang itu.


3.000 koin emas berubah menjadi 2.000, itu terlalu banyak. Tapi kemudian Weng Lou tertawa kecil.


"Baik, terserah mu saja. Ini 2.000 koin emas, sekarang aku akan pergi, selamat tinggal."


Weng Lou melemparkan sekantung uang berukuran sedang yang berisikan koin emas berjumlah 2.000 keping, sesuai dengan harga kesepakatan mereka kepada wanita tersebut.


Memasukkan cincin penyimpanan berisikan obat-obatan yang ia pesan kedalam balik bajunya, Weng Lou pun melangkahkan kakinya pergi dari ruangan pelelangan tersebut setelah mengambil kembali token miliknya dari wanita yang bersamanya, lalu pergi keluar dari Rumah Obat.

__ADS_1


Yang Guang hanya diam menatap Weng Lou yang pergi keluar dari situ.


"Tuan Muda Guang, ada surat untuk anda."


Sebuah suara memecahkan keheningan yang terjadi karena kepergian Weng Lou. Yang Guang berbalik dan melihat seorang wanita muda berjalan ke arahnya sambil membawa sepucuk surat bersamanya.


"Surat dari siapa?" tanya Yang Guang yang menerima surat itu.


"Itu dari Ibu angkat anda." Wanita muda itu menjawab dengan suara hormat.


"Hm? Ibu? Ini cukup aneh untuk dia mengirimkan surat kepadaku, bahkan ketika dia pergi ke Wilayah Barat beberapa bulan lalu dia tidak mengirimkan surat satu pun kepadaku."


Yang Guang menatap surat di tangannya sejenak, lalu kemudian membukanya.


Terlihat isinya yang merupakan secarik kertas yang bertuliskan beberapa kalimat di atasnya. Yang Guang pun membaca cepat isi surat itu, yang mana dia sendiri cukup penasaran apa isi surat ini.


Selang beberapa saat kemudian, senyum kecil tercipta begitu Yang Guang selesai membaca keseluruhan surat tersebut.


Dia dengan rapi melipat kembali surat tersebut, lalu mengembalikannya kepada wanita muda yang membawanya.


"Tidak menyangka Ibu ingin aku untuk mengikuti Turnamen Beladiri Bebas, padahal bulan lalu saat aku meminta izin darinya, dia dengan tegas tidak mengizinkan ku. Tapi sekarang dia malah yang ingin aku untuk mengikuti Turnamen Beladiri Bebas.


Terserahlah, aku hanya ingin mencoba bertarung dengan tiga orang saat ini, Weng Wan, pemuda yang tadi, dan pemuda satunya lagi yang terlihat paling tua diantara yang lain. Sui, berikan daftar calon peserta yang sudah mendaftar padaku," perintah Yang Guang kepada wanita muda tersebut.


"Baik Tuan Muda. Tolong tunggu sebentar."


Wanita muda itu pun pergi dan kemudian kembali lagi setelah beberapa saat sambil membawa sebuah buku cukup besar dengannya.


"Ini Tuan Muda."


Menerima buku tersebut, Yang Guang tanpa basa-basi langsung membukanya. Terlihat daftar nama-nama orang yang telah mendaftar dalam Turnamen Beladiri Bebas berada dalam buku itu.


Mata Yang Guang bergerak cepat dan membuka satu persatu halaman buka itu, yang kemudian dia berhenti pada satu nama padahal aman keempat buku tersebut.


"Yap, orang itu benar-benar ikut serta dalam Turnamen Beladiri Bebas tahun ini," ucap Yang Guang sambil tersenyum kecil.


"Siapa yang anda maksud Tuan Muda?" Wanita muda sebelumnya bertanya padanya.


"Seorang pemuda yang dijuluki sebagai Pemuda terkuat di seluruh Pulau Pasir Hitam, Wudi Ge."


***

__ADS_1


Di luar Rumah Obat.


Sosok Weng Lou yang baru saja keluar terlihat buru-buru meninggalkan tempat itu.


Akan tetapi, ketika dia sampai di pertigaan jalan yang sebelumnya, sosok seseorang yang tidak dia duga muncul di hadapannya.


"Lu...an? Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah aku mengatakan untuk jaga saja Tetua Fang?"


Weng Lou tampak terkejut dengan kemunculan dari Weng Ying Luan. Akan tetapi sikapnya kembali menjadi normal saat melihat Weng Ying Luan yang sedang menatapnya dari atas sampai bawah.


"Kau, sempat keluar dari kota?" tanya Weng Ying Luan tiba-tiba.


"Eh?"


Mendengar pertanyaan dari Weng Ying Luan, Weng Lou pun ikut memperhatikan dirinya sendiri dan menemukan bahwa pada kakinya masih ada bekas tanah.


'Sialan, matanya cukup tajam juga.'


"Ya.....aku bisa memberi tau mu cerita lengkapnya nanti, sekarang temani aku menjual barang-barang jarahan dari markas kelompok tadi."


Weng Ying Luan tidak membalas, dia malah mengulurkan tangannya pada Weng Lou sambil tersenyum penuh makna.


'Mana bagian ku?'


Kira-kira begitulah yang bisa diartikan dari ekspresi wajah dan juga sikapnya.


"Iya iya iya.....ini ambil bagian mu. Puas? Sekarang temani aku," keluh Weng Lou yang mengeluarkan empat buah botol giok berwarna putih dan sebuah botol giok berwarna hijau dari dalam ruang penyimpanannya.


Dengan gerakan cepat, Weng Ying Luan mengambil kelima botol giok tersebut dan segera memasukkannya kedalam cincin penyimpanan miliknya.


"Hehehe....kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita pergi menjual barang-barang jarahan mu itu," ucap Weng Ying Luan yang kemudian berjalan lebih dulu.


Weng Lou yang dibelakangnya hanya bisa menahan emosinya melihat sikap dari Weng Ying Luan.


'Sial, seharusnya aku beri saja dia pil sakit perut, wajah senangnya malah membuatku kesal sendiri.'


**Catatan Penulis:


Author sibuk buat revisi BOOK 1, jadi akhir-akhir ini selalu jarang up. Mohon maaf semuanya.


Oh ya sekalian saya mau tanya sama kalian, platfrom yang sama bagusnya dengan NT menurut kalian. Saya sudah sangat sabar menunggu waktu review NT, jika dia minggu ini review kontrak saya masih belum selesai saya berencana pindah**.

__ADS_1


__ADS_2