Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 595. Mendominasi


__ADS_3

Weng Lou dan Weng Ying Luan terbang berdampingan sambil menatap ketujuh pengurus Kota Tiesha di depan mereka.


Keduanya memasang senyum bersemangat mereka ketika mengetahui bahwa mereka berdua keluar dari kurungan dalam waktu yang bersamaan, sehingga tidak ada pemenang di babak pertama mereka.


"Kalau begitu, yang menang akan mendapatkan hadiah apa?" tanya Weng Lou yang siap melepaskan serangannya.


"Hahaha....kemana amarah mu yang sebelumnya itu pergi?" Weng Ying Luan bertanya balik pada Weng Lou. Seperti rekannya ini sudah melupakan bahwa dia baru saja marah besar.


"Jangan alihkan pembicaraan, kau yang mengajakku untuk berlomba," ucap Weng Lou.


"Hahahaha.....baiklah kalau begitu. Yang menang boleh memilih cincin penyimpanan dari tujuh orang ini, apa kau puas?" tanya Weng Ying Luan.


"Aku tidak bisa memeriksa isi cincin penyimpanan milik mereka, dasar sialan. Aku sudah memberitahumu kalau Kekuatan Jiwa ku hanya bisa dipakai untuk memakai Kalung Spasial saja. Ayo ganti caranya saja. Yang menang akan mendapatkan 4 cincin penyimpanan, sedangkan yang kalah hanya mendapatkan 3. Terlepas dari isinya mana yang lebih banyak, aku tidak peduli. Yang jelas 4 cincin yang diambil pemenang adalah pilihan sendiri, bagaimana?"


"Oke, itu cukup adil. Sekarang, ayo kita mulai!"


Dalam sekejap mata, Weng Lou dan Weng Ying Luan telah melesat ke arah Lin Lao dan yang lainnya.


Sosok Weng Ying Luan tiba di hadapan Lin Dan dan Lin Bo. Kedua tangannya tampak mengeluarkan cahaya emas terang, ketika kemudian sebuah gelombang kejut meledak dari tangan Weng Ying Luan dan menghentak tubuh mereka berdua.


Lin Bo langsung terlempar dan menabrak kastil dengan keras. Darah dimuntahkan dari mulutnya ketika dia menerima ledakan gelombang kejut tersebut. Sementara Lin Dan yang telah sedikit bersiap di awal hanya terdorong lima puluh meter ke belakang dengan pelindung Qi yang melindunginya.


Meski begitu, pelindung Qi tersebut tidak bisa menahan serangan Weng Ying Luan sepenuhnya. Pelindung Qi milik Lin Dan tampak hancur di bagian depannya yang mana membuat dia harus menahan sisa serangan Ying Luan dengan kedua tangannya yang menyilang depan dada.


"Bo, Dan?! Kalian baik-baik saja?!" Lin Lao dan yang lainnya tampak terkejut dengan serangan Weng Ying Luan yang diarahkan langsung pada kedua rekan mereka.


Serangan Weng Ying Luan tidak hanya sangat cepat, namun juga mengerikan. Sebuah gelombang kejut memiliki daya kerusakan yang sangat berbahaya jika terkena tubuh manusia karena dampaknya akan menyebar ke seluruh tubuh meski yang terkena hanya satu bagian tubuh saja. Melihat kedua rekan mereka yang terkena serangan itu secara langsung membuat mereka menjadi khawatir.


Akan tetapi, sebelum mereka bisa mengkhawatirkan lebih jauh Lin Dan dan Lin Bo, sosok Weng Lou sudah menghilang dari pandangan mereka dan membuat mereka semua waspada.


Mata Lin Lao bergerak cepat mencari keberadaan nya, begitu juga keempat pengurus Kota Tiesha yang lainnya. Jika Weng Ying Luan saja sudah sekuat itu, maka ada kemungkinan bahwa Weng Lou sama kuatnya juga, pikir mereka.


Ketika mereka masih mencari, mendadak Lin Lao merasakan sebuah sinyal bahaya yang menyelimuti sekujur tubuhnya. Dia baru pertama kali merasakan sesuatu seperti ini. Sudut matanya berhasil melihat bayangan sesuatu yang bergerak di atasnya, dan dia pun buru-buru menoleh untuk melihat sosok Weng Lou yang memasang senyum mengerikannya.


Tangan kanannya terkepal kuat dan dalam satu gerakan dia pun melepaskan tinjunya ke arah Lin Lao. Namun dalam waktu sesingkat itu, Lin Lao sudah sempat menemukannya, oleh sebab itu dia dengan cepat menciptakan pelindung dari Qi yang dia fokuskan di atas kepalanya.


Tapi apa hal seperti berguna melawan tinju Weng Lou yang mampu membuat seekor binatang buas seperti Kera Hitam Petarung tidak mau macam-macam dengannya? Tentu saja tidak! Kekuatannya adalah bentuk dari kehancuran itu sendiri!!


*BAM!!!! KRACK!!!!* Hanya dengan satu pukulan, pelindung dari Qi itu hancur, dan tinju Weng Lou terus bergerak dan memukul tepat ke atas kepala Lin Lao.


*Fhuuu- BUM!* Seperti bintang jatuh, tubuh Lin Lao melesat dan mendarat di atas tanah dengan keras, menyebabkan sebuah kawah kecil terbentuk dengan dia berada di tengahnya.


Untungnya kekuatan pukulan Weng Lou sedikit berkurang karena pelindung Qi buatannya, sehingga nasibnya tidak begitu mengenaskan.


"Jadi dia pemimpin kalian? Benar-benar lemah, aku curiga para Pasukan Pengejar Keluarga Lin itu telah menggunakan cara licik untuk mengelabuhi Kera Hitam Petarung. Tapi itu bukan masalah, aku hanya perlu membuat kalian buka mulut, lalu aku akan menghajar orang-orang yang sudah mencuri dari ku itu."


Weng Lou berbicara dengan tenang.


Dia menarik napas dalam, emosinya sudah kembali tenang. Dia melihat keempat pengurus Kota Tiesha yang masih tersisa di dekatnya. Mereka semua sudah mengeluarkan senjata, siap bertarung habis-habisan melawannya. Itu bagus, setidaknya dia tidak terlihat seperti pengecut yang tidak memberi mereka sedikitpun kesempatan untuk melawannya.


Lin Heinan terbang dengan Api Phoenix menyala di punggungnya. Sebuah tombak dengan Api Phoenix yang menyelimuti nya di tusukkan ke arah Weng Lou.


"Kalian harus tau, batasan kekuatan kalian."


Weng Lou ikut terbang ke arah Lin Heinan. Dia tidak melindungi anggota tubuhnya dengan Kekuatan Jiwa sama sekali. Dia hanya seperti orang yang ceroboh yang maju tanpa rencana apapun. Bagi Lin Heinan, Weng Lou terlihat seperti orang yang hendak melakukan bunuh diri.

__ADS_1


"Hmp! Akan kubunuh kau!" seru Lin Heinan sambil menggenggam erat tombak di tangannya.


Tombak itu mengeluarkan Api Phoenix yang lebih besar. Begitu dia dan Weng Lou hanya berjarak dua meter saja, dengan cepat dirinya mendorong tombaknya ke depan, hendak menusuk tubuh Weng Lou sebelum pemuda itu lebih dulu menyerang nya.


Mata Weng Lou bisa melihat gerakan tombak itu. Dia mendengus pelan. Kepalanya segera dimiringkan, dan tusukan tombak berapi itu hanya melewati kepalanya dengan jarak yang sangat tipis.


Wajah Lin Heinan berubah terkejut melihat Weng Lou bisa menghindari serangannya, namun segera kembali berubah menjadi senyuman kemenangan ketika kemudian dia mengendalikan tombaknya, dan Api Phoenix sekali lagi berkobar dari tombaknya dan mengenai tubuh Weng Lou.


Dia tersenyum lebar begitu melihat sosok Weng Lou yang langsung dimakan oleh Api Phoenix nya. Tamat sudah riwayat Weng Lou, pikirnya.


Makhluk hidup yang terkena Api Phoenix tidak pernah ada yang selamat, dan Weng Lou juga akan menjadi seperti orang-orang yang telah mati karena meremehkan Api Phoenix.


Tidak jauh dari situ, Weng Ying Luan yang hendak melanjutkan pertarungannya melawan Lin Dan perhatiannya harus teralihkan karena sosok Weng Lou yang telah dimakan oleh Api Phoenix. Dia mengkertakkan giginya menyaksikan itu, dia tau tubuh Weng Lou sangat tangguh dan regenerasi nya seperti seekor binatang buas, sama seperti dirinya.


Namun terkena Api Phoenix adalah sesuatu yang benar-benar berbeda dari serangan yang pernah Weng Lou terima.


"Kau berani mengalihkan pandangan mu dariku?! Mati lah kau bersama dengan teman mu itu!"


Lin Dan sebelumnya berpikir akan habis karena Weng Ying Luan yang akan melakukan serangan lanjutannya, namun tidak dia sangka lawannya begitu sombong dan malah mengalihkan pandangannya dari dirinya. Karena Weng Ying Luan yang begitu percaya diri dengan kekuatan nya itu, maka dia akan membuat lawannya tersebut merasakan apa akibatnya jika dia kehilangan fokusnya dalam pertarungan!


Lin Dan menebaskan sebuah pedang di pinggangnya ke arah Weng Ying Luan, dan siap memotong leher pemuda itu.


Akan tetapi, mendadak Weng Ying Luan tersenyum dan tertawa kecil.


"Pfft- ahahaha.....Lou sialan itu, dia membuatku khawatir saja. Dasar, tidak kuduga dia memiliki kemampuan seperti itu," ujar Weng Ying Luan dengan santainya ketika tangan kanannya yang terlapisi oleh Qi dengan cepat menangkap pedang Lin Dan yang mengarah padanya.


*Krack!* Pedang itu dihancurkan dalam satu gerakan oleh Ying Luan.


"Keluarga Lin sepertinya hanya berisikan orang-orang pengecut saja, huh. Kurasa hanya Lin Mei satu-satunya orang dengan marga Lin yang benar-benar layak menyandang marga tersebut," ucap Weng Ying Luan.


"Darimana kau tau nama penjahat itu?!" seru Lin Dan dengan terkejut.


Ada sebuah kejadian di wilayah utara Daratan Utama, dimana terjadi penyerangan besar-besaran oleh para binatang buas. Para binatang buas ini mulai menyerang pulau-pulau kecil pada mulanya dan menguasainya satu persatu.


Lalu setelah beberapa waktu, akhirnya para binatang buas ini telah memasuki wilayah benua Daratan Utama dan menyebabkan kericuhan di wilayah utara yang dikuasai oleh keluarga Wang yang merupakan kesulitan menghadapi para binatang buas ini karena jumlahnya yang bukan main banyaknya.


Setelah pertarungan panjang antara binatang buas dan Keluarga Wang, akhirnya berhasil diketahui bahwa ada seorang dalang utama dari terjadinya penyerangan itu. Penyebabnya adalah seorang gadis yang bernama Lin Mei. Entah bagaimana caranya, Lin Mei menjadi pemimpin para binatang buas yang melakukan penyerangan itu.


Informasi ini berhasil di setelah salah satu binatang buas dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 dibunuh oleh seorang Tetua Keluarga Wang. Secara mendadak Lin Mei muncul dan memimpin para binatang buas lain untuk menyerang Tetua tersebut, dan alhasil dia pun mati dengan mengenaskan.


Karena ulah Lin Mei, Keluarga Lin menjadi tersangka atas penyerangan itu, karena Lin Mei pasti berhubungan dengan keluarga Lin.


Meski sudah memberikan banyak alasan, namun Keluarga Wang tidak mempercayai Keluarga Lin. Keluarga Lin pun mencap Lin Mei sebagai penjahat dan harus dibunuh untuk memberishkan nama baik keluarga mereka. Pasukan Pembantai yang dimiliki oleh Keluarga Lin dikirim khusus untuk menyelesaikan masalah ini.


Namun informasi ini tetap ditutup rapat-rapat, dan hanya para petinggi dari kedua keluarga saja yang mengetahuinya, mendengar nama Lin Mei dari mulut Weng Ying Luan, keduanya pasti memiliki hubungan satu sama lain.


"Kau tau sesuatu tentang Lin Mei?! Jadi dia juga berada di Daratan Utama?!" Berbeda dengan Lin Dan yang memiliki reaksi terkejut namun marah, Weng Ying Luan justru tampak bahagia.


"Kau seperti nya memiliki banyak informasi berharga, jadi aku akan memanfaatkan mu."


Weng Ying Luan dengan cepat menarik tangan Lin Dan sebelum dia bisa melarikan diri. Dia memukul keras belakang lehernya dan langsung membuatnya tak sadarkan diri.


"Hei, Lou! Aku sepertinya telah mendapatkan informasi mengenai keberadaan Lin Mei! Cepat selesaikan urusan mu di situ, kita hanya membutuhkan satu orang ini untuk mendapatkan informasi mengenai kapal mu dan juga Kera Hitam Petarung!" Weng Ying Luan segera berseru pada Weng Lou yang masih berada di dalam kobaran Api Phoenix.


"Benarkah?! Kalau begitu tunggu sebentar, aku akan menyelesaikan mereka dengan cepat!" Terdengar suara Weng Lou dari dalam kobaran Api Phoenix yang mana sontak membuat empat pengurus Kota Tiesha yang tersisa merasa terkejut.

__ADS_1


Ternyata Weng Lou masih hidup, dan dari suaranya seperti nya dia baik-baik saja!


"Ba-Bagaimana bisa dia masih hidup?! Sialan!!!! Mati saja kau dasar monster!!!"


Lin Heinan berseru terkejut, dia melepaskan Kekuatan Jiwa nya dan menggabungkan nya dengan Qi miliknya sebelum kemudian membuat kobaran Api Phoenix pada tubuh Weng Lou semakin besar. Tiga pengurus Kota Tiesha yang lainnya ikut membantunya, mereka menyatukan Qi mereka lalu membentuk sebuah sosok Phoenix yang setengah pudar menggunakan gabungan Kekuatan Garis Darah Phoenix mereka.


Weng Ying Luan bersiul kagum melihat itu, bahkan Lin Mei belum pernah membuat rupa Phoenix sejelas yang mereka bertiga buat.


Tapi dia tidak khawatir pada Weng Lou sedikit, justru dia sedang berpikir apakah keempat pengurus Kota Tiesha itu akan tetap hidup setelah mereka memberikan serangan itu pada Weng Lou.


"""MATIII!!!"""


"KYIIEEEE!!!!" Phoenix itu melengking dan segera terbang dengan sangat cepat ke arah kobaran Api Phoenix dimana Weng Lou berada.


Ketika sosok Phoenix tersebut menabrak kobaran api, sosok Phoenix itu pun langsung menyebabkan ledakan besar yang membuat seluruh langit Kota Tiesha berubah menjadi merah terang seperti Api Phoenix. Hawa panas menyelimuti kota yang memang memiliki suhu di atas rata-rata tersebut.


Di atas bangunan Arena Pertarungan, sosok pemimpin Arena Pertarungan berdiri menatap ke arah kastil Keluarga Lin di dampingi seseorang yang memakai topeng rubah.


"Sungguh pemandangan yang indah, bukan? Langit merah menyala seperti malam dimana bisnis mu dihancurkan oleh Keluarga Lin," ucap orang yang mengenakan topeng rubah. Suaranya terdengar parau yang berarti dia telah merubah suara aslinya dengan menggunakan Qi.


Pemimpin Arena Pertarungan hanya diam mendengus sebelum kemudian tersenyum kecil, "Aku harus berterima kasih kepada Luan setelah ini, dia sudah memberikan banyak hadiah hari ini padaku."


"Apa kau sudah puas hanya dengan ini? Bukankah dendam mu itu ada pada para petinggi Keluarga Lin?" tanya orang bertopeng rubah.


"Hahaha.....puas? PUAS?! SEBELUM AKU MELIHAT ORANG TUA ITU MATI, AKU TIDAK AKAN PUAS!!" Nada bicara sang Pemimpin Arena Pertarungan itu berubah menjadi menyeramkan dan membuat orang bertopeng itu terdiam selama beberapa saat sebelum kembali berbicara.


"Kalau begitu, apa kau akan ikut bergabung dengan kami atau tidak?"


"......kembali lah jika kau sudah menyelesaikan permintaan ku. Sebelum kalian menyelesaikan syarat yang kuberikan, aku tidak akan terlibat dalam masalah apapun dengan kalian."


Pemimpin Arena Pertarungan segera berjalan pergi meninggalkan orang dengan topeng rubah itu sendirian. Setelah dia pergi, orang dengan topeng rubah tersebut menatap ke arah lokasi pertarungan berlangsung selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk pergi juga dari situ.


Kembali ke lokasi pertarungan, Lin Heinan dan tiga orang lainnya tersenyum puas melihat ledakan yang terjadi dari hasil serangan mereka. Mereka yakin bahwa mustahil Weng Lou bisa selamat setelah terkena serangan tersebut.


"Wah, itu benar-benar api yang panas. Tapi sepertinya Api Phoenix kalian bukanlah Api Phoenix yang sempurna, itu bahkan tidak mencapai setengah dari Api Phoenix milik Lin Mei, apa kalian memang memiliki garis darah Phoenix? Aku malah curiga kalau kalian sebenarnya memiliki garis darah Burung Api yang wujudnya sedikit mirip dengan Phoenix, tapi tetap tidak sama kuatnya."


Dari dalam kobaran api, sosok Weng Lou berjalan keluar dengan santainya. Sekujur tubuhnya telah dilalap oleh Api Phoenix, terlihat beberapa luka bakar pada tubuhnya, namun luka-luka itu hanya sebatas luka gosong, namun luka itu tidak menembus kulit tubuhnya karena asap hitam yang juga menyelimuti sekujur tubuhnya.


"Da-Dasar monster!"


"Bagaimana kau masih bisa hidup?!"


"Iblis!! Kau pasti adalah jelmaan iblis!!"


"Ah, Phoenix yang agung! Tamatlah kami semua!"


Keempat pengurus Kota Tiesha yang tersisa itu mulai putus asa melihat Weng Lou yang ternyata baik-baik saja setelah menerima serangan gabungan mereka yang bisa membunuh seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 7 sekalipun dengan sekejap mata.


"Jangan salahkan diri kalian, akulah yang terlalu kuat untuk kalian hadapi. Sekarang, selamat tinggal."


Asap hitam di tubuh Weng Lou menghilangkan semua Api Phoenix di tubuhnya. Lalu Weng Lou mengayunkan tangan, dan asap hitam itu pun menyatu dengan Kekuatan Jiwa nya yang kemudian melesat melewati tubuh keempat pengurus Kota Tiesha tersebut.


Pada awalnya, tidak ada apapun yang terjadi pada diri mereka, dan mereka berpikir bahwa serangan Weng Lou tidak berefek apapun pada mereka berempat. Akan tetapi, yang terjadi kemudian membuat mereka terdiam selamanya.


Kepala mereka jatuh dari leher mereka dan tubuh mereka pun ikut jatuh ke atas tanah. Kematian mereka begitu tiba-tiba hingga bahkan wajah mereka tampak tidak tau apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2