
Setibanya Weng Lao De dan yang lainnya kembali ke Pulau Pasir Hitam, semua perwakilan dari tiap kekuatan besar di Pulau Pasir Hitam berkumpul untuk membahas suatu permasalahan yang menjadi tujuan perginya sepuluh Kaisar Jiwa menuju Daratan Utama sebelumnya.
Fakta bahwa Keluarga Ying memiliki seorang Dewa dalam jajaran kekuatan mereka menjadi pokok alasan kenapa Weng Lao De dan yang lainnya tidak bisa melanjutkan operasi pemusnahan Keluarga Ying dan harus kembali ke Pulau Pasir Hitam untuk membicarakannya dengan Penasehat Kepala Keluarga Weng.
Lebih dari lima puluh orang berkumpul di ruangan pertemuan di Istana Leluhur Weng untuk membahas masalah ini. Hasilnya, dua di ranah Deva akan dikirim untuk ikut dalam misi pemusnahan Keluarga Ying. Keduanya bertugas untuk mengatasi sang Ular Putih Berkepala Sembilan, Ying She.
Karena mereka tidak tau Ying She saat ini telah sampai di tingkat apa di ranah Deva, Penasehat Kepala Keluarga Weng memutuskan untuk mengutus seorang Dewa tingkat 3 dan seorang Dewa tingkat 2 puncak. Dewa tingkat 3 adalah anggota Keluarga Leluhur Weng, sedangkan Dewa tingkat 2 puncak adalah seorang Praktisi Beladiri yang tidak berada dalam naungan kelompok besar manapun di Pulau Pasir Hitam. Meski begitu dia adalah orang yang mau mengikuti perintah dari Penasehat Kepala Keluarga Weng tanpa mempertanyakan keputusannya.
Setelah pertemuan para perwakilan kelompok besar di Pulau Pasir Hitam, Penasehat Kepala Keluarga Weng kemudian memanggil semua Praktisi Beladiri di ranah Deva yang ada di Pulau Pasir Hitam untuk berkumpul di Istana Leluhur Weng, tepatnya di ruangan pribadinya.
Pertemuan itu tidak membahas masalah Keluarga Ying, melainkan masalah yang jauh lebih serius, yaitu tentang pesan yang dikirimkan oleh Lin Nushen pada Weng Lao De sebelum kepergiannya dari Daratan Utama.
Berbeda dengan Lin Nushen yang tidak tau identitas sosok makhluk misterius yang ditemukan oleh salah satu anggota Keluarga Lin, Penasehat Kepala Keluarga Weng ternyata mengetahuinya. Namun dia tidak secara gamblang mengatakan siapa sosok tersebut pada para Dewa yang telah dia kumpulkan dalam ruangan pribadinya.
Dia hanya memberitahukan pada mereka bahwa seluruh dunia saat ini sedang dalam masa-masa tenang sebelum datangnya badai. Tidak, mungkin lebih tepatnya menyebutnya sebagai kiamat.
Sosok makhluk misterius itu seharusnya masih tersegel dan tidak bisa keluar dari segelnya saat ini, namun segel itu tidak akan bertahan lama. Ketika saatnya tiba, segelnya akan benar-benar terlepas dan wujud dari kehancuran itu sendiri akan muncul di dimensi asal mula dan menelan semuanya.
Dia adalah, Unknown God. Salah satu lima makhluk pertama yang ada di Dunia Asal Mula sebelum dunia itu hancur menjadi pecahan-pecahan dunia yang jauh lebih kecil yang dikenal orang-orang sebagai dimensi.
Dibandingkan empat makhluk lainnya yang memiliki wujud tetap dengan ciri khas masing-masing, sang Unknown God masih terus membentuk dirinya sendiri menuju kesempurnaan dengan menyerap sumber kekuatan makhluk hidup lainnya. Alasan mayat anggota Keluarga Lin kehilangan jantungnya tidak lain karena Unknown God telah menyerap jantungnya yang berisikan sumber kekuatan garis darah keturunan Phoenix di dalamnya.
"Aku ingin kalian melakukan persiapan sematang mungkin selama satu dua tahun ke depan. Kita tidak tau kapan makhluk itu akan lepas dari segelnya dan menyerap semua kehidupan yang ada di dunia ini. Jadi lebih baik bersiap untuk segala kondisi," kata Penasehat Kepala Keluarga Weng pada semua Praktisi Beladiri di ranah Deva yang ikut dalam pertemuan itu.
Setelah pertemuan itu, semuanya mulai berubah di Pulau Pasir Hitam. Kehidupan orang-orang yang berjalan di jalan beladiri yang mengalami perubahan besar-besaran.
Biasanya, sumber daya latihan akan selalu disimpan oleh kekuatan-kekuatan besar dan hanya diberikan pada mereka yang memiliki kontribusi yang cukup, namun melalui instruksi dari Penasehat Kepala Keluarga Weng, semua kelompok beladiri secara terbuka memberikan sumber daya latihan yang telah mereka simpan selama bertahun-tahun lamanya untuk digunakan semua anggota mereka.
Dampaknya, banyak bakat-bakat yang selama ini terkubur oleh beberapa anggota biasa di suatu kelompok karena kurangnya sumber daya latihan kini mulai menunjukkan diri mereka. Banyak anak-anak dari keluarga manusia biasa yang diangkat menjadi murid dari Praktisi Beladiri yang cukup kuat karena memiliki bakat yang memadai.
__ADS_1
Ini adalah perubahan besar-besaran yang tidak pernah terjadi sebelumnya, bahkan selama puluhan ribu tahun lamanya.
Hanya dalam beberapa bulan, ratusan Praktisi Beladiri di ranah Penguasaan Jiwa yang baru bermunculan di Pulau Pasir Hitam. Bahkan ada beberapa orang yang berhasil naik ke ranah Penguasaan Jiwa. Ini adalah suatu perkembangan yang tidak masuk akal namun di sisi lain cukup mudah dimengerti.
Selama ini sumber daya latihan di tiap-tiap kelompok besar selalu dijaga dengan baik. Sumber daya latihan itu tidak pernah diberikan kepada anggota-anggota yang seharusnya mendapatkan nya karena tidak memenuhi persyaratan-persyaratan yang lebih seperti omong kosong.
*****
Saat ini, di dalam ruangan tahta di Istana Leluhur Weng. Lima orang terlihat sedang duduk di samping kursi tahta utama.
Penasehat Kepala Keluarga Weng duduk di samping kanan tahta utama, Weng Lao De terlihat duduk dua bangku di kanannya, terdapat orang lain yang duduk diantara dirinya dan Penasehat Kepala Keluarga Weng. Dia kursi di samping kiri tahta utama juga terlihat diduduki oleh dua orang lainnya.
"Selamat kepada saudara kelima karena berhasil naik ke ranah Deva, aku senang karena kau akhirnya berhasil mencapainya setelah mengalami perjuangan yang tak terhitung jumlahnya," kata orang yang duduk tepat di kurus samping kiri tahta utama pada Weng Lao De.
Weng Lao De hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum ramah.
"Terima kasih, Kakak Ketiga. Aku berhasil naik ke ranah Deva semuanya karena bantuan kalian. Seandainya kalian tidak membantuku, maka mustahil aku bisa mencapai kekuatanku saat ini," balas Weng Lao De sambil menghela napasnya.
"Ah, aku sudah terbiasa dengan penampilan ini, rasanya aneh jika harus menggunakan penampilan muda ku. Lagipula, akan jauh lebih baik menggunakan penampilan ku yang sekarang karena bisa dikenali oleh orang-orang yang aku kenal."
Jawaban Weng Lao De dibalas dengan anggukan oleh pria di sampingnya. Dia kemudian menoleh pada Penasehat Kepala Keluarga Weng di sampingnya dan batuk kering.
"Ehem........Kakak Pertama......apa kau tidak mau memberikan hadiah kepada adik mu? Dia sudah menjalani ratusan tahun latihan untuk mencapai ranah Deva, setidaknya kau bisa memberikannya beberapa Senjata Langit kepadanya," ucap pria itu pada Penasehat Kepala Keluarga Weng.
Berkedip. Penasehat Kepala Keluarga Weng mengayunkan tangannya dan sebuah jubah berwarna hitam muncul di udara kosong di hadapan Weng Lao De.
Jubah itu tampak sangat mewah dengan jahitan-jahitan tangan yang membentuk beberapa pola di punggungnya. Terdapat satu kata yang terbentuk dari jahitan-jahitan itu.
'Lima'. Satu kata tunggal itu melambangkan Weng Lao De dengan sangat jelas. Dia adalah orang kelima yang memiliki kekuatan di ranah Deva di dalam Keluarga Weng yang sekarang. Meski jubah hitam itu nyaris benar-benar kosong, selain kata 'lima' di punggungnya, jubah itu juga memiliki tampilan aura yang sangat megah, simbol dari suatu Senjata Langit.
__ADS_1
Weng Lao De dengan cepat mengambil jubah itu dan mengenakannya. Itu tampak sangat cocok dengannya. Dia tersenyum dan berterimakasih kepada Penasehat Kepala Keluarga Weng. "Terima kasih atas hadiahnya, Kakak Pertama."
"Bukan masalah, lagipula jubah itu memang harus kau miliki. Kami berempat semuanya memiliki jubah yang sama. Hanya karakter di punggungnya saja yang membedakan," kata Penasehat Kepala Keluarga Weng dengan suara tenang.
Setelah pembicaraan itu, terjadi keheningan selama beberapa saat di ruangan tahta itu. Sampai kemudian tahta utama yang selama ini kosong, tiba-tiba bergetar saat sebuah sosok ilusi muncul dan duduk di atas tahta itu.
Begitu muncul sosok ilusi tersebut, kelima orang yang duduk di kursi di samping tahta utama segera berdiri dan memberikan hormat kepada sosok ilusi tersebut.
""Salam kepada Kepala Keluarga!"" seru kelimanya dengan cepat.
Sosok ilusi itu mengangguk dan menyuruh mereka untuk duduk kembali.
"Aku telah mencari jejak seluruh kehidupan terdahulu ku, namun aku hanya berhasil menemukan sembilan puluh enam secara keseluruhan. Dengan mengecualikan kehidupan pertama, aku tidak bisa menemukan satu kehidupan lainnya. Ini berarti ada satu kehidupan terdahulu ku yang dengan sengaja mengunci dirinya dari penelusuran ingatan kehidupan selanjutnya.
Namun ada kejanggalan, jumlah kepingan jiwa di dalam dimensi pewarisan ingatan semuanya berjumlah sembilan puluh sembilan, yang berarti kehidupan itu tetap menaruh ingatannya di dalam dimensi itu. Dia hanya ingin agar kehidupan keseratus yang mengetahui ingatannya. Aku tidak bisa mengetahui kehidupan yang mana, namun sepertinya itu adalah sebelum aku bereinkarnasi setelah puluhan ribu tahun lamanya.
Roda reinkarnasi biasanya berjalan setiap lima ratus tahun, namun aku menjalani reinkarnasi setelah puluhan ribu tahun kala itu. Kemungkinan besar jiwaku rusak parah sehingga memperlambat waktu reinkarnasi ku. Hanya saja, apa yang terjadi sehingga jiwaku mengalami kerusakan parah, itu adalah sesuatu yang masih menjadi pertanyaan bagiku."
Kata-kata sosok ilusi itu terdengar seperti sedang mengingat-ingat semua ingatan di dalam kepalanya.
"Apakah itu ada hubungannya dengan Unknown God?" tanya Penasehat Kepala Keluarga Weng.
Sosok ilusi itu diam. Dia menoleh dan menatap Penasehatnya.
"Itu tebakan yang cukup menarik. Sepertinya kau memiliki beberapa informasi untuk diberitahukan kepadaku," kata sosok ilusi itu.
"Sebenarnya, Kepala Keluarga Lin di Daratan Utama telah mengirimkan pesan kepada Weng Lao De tentang penampakan makhluk misterius yang ditemukan di dalam Gurun Pemakan Kehidupan. Ada beberapa portal teleportasi yang mengarahkan orang yang masuk ke dalamnya ke sebuah tempat yang sangat asing, di sana sosok makhluk misterius itu ditemukan. Kami menduga bahwa sosok itu tidak lain adalah Unknown God, dna dia sedang mempersiapkan diri untuk lepas dari segelnya," jelas Penasehat Kepala Keluarga Weng itu.
Perubahan terjadi pada sosok ilusi itu. Sebelumnya sosok itu benar-benar hanya terlihat seperti sosok transparan yang wajahnya tidak bisa terlihat dengan jelas. Namun sekarang sosok ilusi itu menampakkan wujudnya jauh lebih jelas.
__ADS_1
Weng Lou kehidupan kesembilan puluh sembilan mengerutkan keningnya.
"Lepas dari segelnya? Masih diperlukan setidaknya sepuluh tahun lagi sampai segelnya hancur, bagaimana caranya ada orang yang bisa memasuki tempatnya tersegel?"