Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 454. Pertarungan Antar Dua Orang Jenius


__ADS_3

Weng Lou menatap dalam diam sosok Wudi Ge yang masih berdiri di tempatnya.


Keduanya sama sekali tidak ada yang terlihat berniat untuk melepaskan serangan lebih dulu.


"Bertahan, atau menyerang.....itu pilihan mu nak." Ye Lao berbicara di dalam kepala Weng Lou.


"Seperti yang aku pikirkan juga. Tapi mustahil dia bisa menyerang dengan leluasa pada kondisi seperti ini. Tidak hanya lingkungan yang dibatasi, tapi lawannya juga memiliki unsur petir yang memiliki besar kerusakan paling berbahaya dibandingkan unsur lainnya." Qian Yu ikut memberikan komentarnya.


Weng Lou hanya diam mendengarkan ucapan mereka berdua, dan tidak menurunkan kewaspadaannya pada Wudi Ge.


Bertarung atau bertahan? Dia tidak mengenal istilah seperti itu. Selama dia bisa untuk bertahan dari segala serangan yang diberikan padanya, maka dia akan bertahan, begitu juga jika dia memiliki kesempatan untuk menyerang maka dia akan menyerang.


Cara hidupnya ini sudah dia putuskan sesimpel mungkin. Bahkan seorang bayi pun akan meminta makan jika lapar.


"Ye Lao, guru, aku ingin minta tolong pada kalian." Weng Lou mendadak berbicara pada Ye Lao dan Qian Yu.


"Hm? Ada apa?" Ye Lao bertanya pada Weng Lou.


"Katakan saja, muridku. Kami akan selalu membantumu jika ada yang ingin kau lakukan," kata Qian Yu.


Senyum kecil muncul pada sudut bibir Weng Lou mendengar mereka berdua.


"*Aku ingin kalian hanya menonton saja dalam pertarungan ini. Tidak perlu ikut campur tangan, aku sendiri yang akan bertarung kali ini. Sudah terlalu lama aku tidak bertarung menggunakan semua yang aku punya.


Terutama kau, Ye Lao. Aku tidak mau kau secara diam-diam menggunakan Kitab Keabadian untuk membaca masa depan tanpa sepengetahuan ku seperti waktu di Sekte beberapa bulan yang lalu hanya untuk menyelamatkan ku*," jelas Weng Lou.


Ye Lao dan Qian Yu pun terdiam begitu saja selepas mendengar permintaan Weng Lou itu. Bukan karena mereka terkejut akan keputusan Weng Lou, tetapi karena mereka sudah menebak hal ini sebelumnya.


"Kau yakin, murid ku? Tanpa bantuan ku, kau tidak akan bisa menggunakan Pedang Naga Malam secara penuh. Dan Mana pada pedang itu juga tidak akan bisa kau pakai sama sekali loh." Qian Yu mengingatkan.


"Tenang saja, aku pasti bisa. Aku memiliki Qi tanpa batas, jadi tanpa Mana sekalipun seharusnya aku bisa bertarung dengan kekuatan penuh," jawab Weng Lou cepat.


"*Baiklah, jika itu keputusan mu, maka aku akan menghormatinya."


"Terima kasih guru*."


Weng Lou pun berhenti berbicara dengan Ye Lao dan Qian Yu, dan memfokuskan semua perhatiannya pada Wudi Ge yang masih tetap berada di tempatnya.


Dia membuka mulutnya dan terlihat akan mengatakan sesuatu.


"Lou.....nama yang sangat asing, tapi aku seperti pernah mendengarnya sebelumnya. Jika tidak salah.....kau seharusnya salah satu murid jenius baru dari Sekte Langit Utara, apa aku benar?"


Wudi Ge bertanya pada Weng Lou. Weng Lou tak menjawab nya, dan hanya tersenyum sebagai balasan atas pertanyaannya.


Dia tidak merasa heran Wudi Ge mengetahui identitas nya. Menjadi salah satu murid paling jenius di sekte sebesar Sekte Langit Utara, membuat nama Weng Lou menjadi terkenal dan diketahui oleh beberapa sekte lainnya yang memiliki sumber informasi terpercaya.

__ADS_1


Wudi Ge sendiri juga pernah didengar namanya oleh Weng Lou saat masih di Sekte Langit Utara. Itu karena dia sering mendengarkan cerita-cerita dari para murid-murid di sekte saat dia sedang tidak berlatih.


Kekuatan yang dia miliki persis seperti yang dia dengar. Memiliki unsur petir saja sudah cukup membuat seseorang menjadi Praktisi Beladiri yang sangat kuat, apalagi sampai memiliki garis darah keturunan, Weng Lou tidak bisa membayangkan bagaimana kekuatan penuhnya.


"Aku sebenarnya ingin pergi ke Wilayah Barat untuk menantang beberapa pemuda, salah satunya adalah kau dan teman-teman mu itu. Tapi tidak disangka bisa bertemu kalian di tempat ini, aku seperti nya tidak perlu lagi pergi ke Wilayah Barat.


Bagaimana dengan pertarungan kita? Kau ingin bertarung dengan senjata, atau tangan kosong? Aku akan menyanggupinya, karena aku adalah orang yang selalu menjunjung keadilan dalam suatu pertarungan," ucap Wudi Ge.


Weng Lou memiringkan kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya.


"Sepertinya cara pandang kita berbeda. Aku tidak terlalu peduli mau lawan ku menggunakan senjata atau tidak, selama itu adalah cara terkuat dia bertarung, maka aku akan melayaninya dengan serius."


"Hmm...itu sebenarnya tidak jauh beda dengan perkataan ku sebelumnya, tapi sudah lah. Apa kau ingin memulai pertarungan ini sekarang?"


"Tentu, aku sudah menunggu mu memulainya dari tadi."


Wudi Ge dan Weng Lou pun berhenti berbicara, dan mendadak situasi sekitar mereka terasa seperti menjadi hening seketika.


Fhuuushh!!!!


Sosok Wudi Ge mendadak melesat dalan kecepatan luar biasa ke arah Weng Lou, sementara Weng Lou diam di tempatnya.


Wudi Ge yang bergerak ke arah Weng Lou melesatkan serangan tinjunya pada kepala Weng Lou, tapi kemudian sebelum tinjunya itu bisa mengenai tubuh Weng Lou, sebuah pelindung Qi muncul menahannya.


BDAM!!!!


"Whuuu....itu pukulan yang cukup kuat," komentar Weng Lou.


Tap ...


Menyadari tidak bisa menghancurkan pelindung milik Weng Lou, Wudi Ge pun segera menarik kembali tangannya, dan menatap Weng Lou sambil tersenyum kecil.


"Tidak kuduga kau adalah seorang Master Pengendali Qi. Lawan ku memang hebat," balas Wudi Ge.


"Tapi, menjadi seorang Master Pengendali Qi saja tidak akan bisa mengalahkan ku!"


Bagai seperti petir yang menyambar di tengah badai, tinju Wudi Ge melesat dan menghantam sekali lagi pelindung Qi milik Weng Lou, dan suara ledakan yang lebih besar terdengar memenuhi seluruh arena.


Krackk....praaakkkk.....


Pelindung Qi milik Weng Lou perlahan retak dan kemudian hancur berkeping-keping menerima hantaman tinju dari Wudi Ge.


Bukannya panik, Weng Lou malah tertawa melihat itu. Sudah dia duga, pelindung seperti itu tidak akan terlalu berpengaruh menahan serangan mengerikan dari Wudi Ge.


Qi mulai melapisi kedua tangan Weng Lou, dan tanpa menunggu dia pun maju dan memberikan serangan pada Wudi Ge yang baru saja menghancurkan pelindung Qi miliknya.

__ADS_1


Itu adalah sebuah tapakan yang dengan lurus mengarah pada dada Wudi Ge.


Namun, seperti layaknya sebuah petir yang memiliki kecepatan luar biasa, Wudi Ge sudah bergerak menghindari serangan tersebut dan muncul di belakang Weng Lou dengan dirinya yang siap melakukan tindakan vertikal ke arah kepala Weng Lou.


"Hooo.....kau ternyata cepat juga," kata Weng Lou.


Tanpa membalikkan badan, dia menyilangkan kedua tangannya ke atas, dan menahan tendangan Wudi Ge.


BAAMMMM!


PRAAKKKK!!!!


Tanah tempat Weng Lou berpijak langsung remuk seketika begitu tendangan Wudi Ge ditahan olehnya.


Weng Lou mengkertakan giginya. Hantaman tendangannya itu benar-benar seperti sebuah petir asli, pikirnya.


"Huwwaa!!" Weng Lou mendorong tubuh Wudi Ge dan membuatnya melompat mundur beberapa langkah dari Weng Lou.


"Tubuhmu kuat juga bisa menerima tendangan ku. Padahal kebanyakan orang-orang yang berfokus memakai Qi seperti mu memiliki tubuh yang lemah," puji Wudi Ge.


"Tidak ada yang mengatakan bahwa aku adalah orang yang fokus menggunakan Qi!" seru Weng Lou yang melompat ke arah Wudi Ge dan melepaskan tinjunya.


Shu- BRAKKK!!


Wudi Ge kembali menghindar dan tinju Weng Lou pun menghantam tanah yang seketika menciptakan retakan-retakan pada tanah yang ia pukul.


Tangan Weng Lou hanya dia lapisi dengan Qi saja, dia sama sekali tidak menambah kekuatan nya menggunakan Qi dalam pukulannya tersebut.


Bisa dibilang, jika seorang Praktisi Beladiri yang terkena pukulan itu, dia akan mengalami patah tulang atau paling tidak retak.


"Pernapasan Pertama," ucap Weng Lou yang kemudian dengan sekejap dia sudah muncul di tempat Wudi Ge.


Mata Wudi Ge sedikit melebar melihat kecepatan Weng Lou, namun dalam sekejap dia kembali muncul di tempat lain. Weng Lou tidak membiarkannya begitu saja dan segera mengikutinya.


"Haa!!!"


Pukulan Weng Lou melesat dan akan mengenai pundak Wudi Ge, namun kemudian Wudi Ge segera ikut melepaskan serangan tinjunya.


BUMMM!!!!


Kedua tinju beradu, dan suara ledakan layaknya seperti sambaran petir menggema sekali lagi di seluruh arena.


Di tengah arena yang telah di tutupi oleh kubah pembatas, Weng Lou dan Wudi Ge saling beradu kekuatan satu sama lain.


""HAAA!!!""

__ADS_1


BDUAARR!!!!


__ADS_2