
"Guru!"
Du Zhe dengan bersemangat menatap pada Weng Lou. Sebagai balasan, Weng Lou memberikan anggukan.
"Bagus Du Zhe, kau tidak menyia-nyiakan waktumu sedikitpun dan terus berlatih dengan giat, sama seperti ku dulu," ucap Weng Lou dengan bangga.
Merasa senang atas pujian Weng Lou, Du Zhe tersenyum lebar. "Aku hanya mengulang beberapa teknik dasar yang sudah anda ajarkan pada ku, Guru. Tadi aku sedang mencoba latihan Pukulan Naga Api yang Guru ajarkan beberapa hari yang lalu, tapi aku sama sekali tidak mengerti di gerakan keduanya," kata Du Zhe.
"Hm? Benarkah? Coba kau peragakan sekali lagi padaku," ujar Weng Lou.
Du Zhe dengan cepat mengangguk dan memasang kuda-kudanya.
Tangan kanannya terkepal dan membentuk tinju. Tenaga Dalam tipis mulai mengalir keluar dari dalam tubuhnya dan berkumpul di sekitar tangan kanannya, membentuk lapisan berwarna merah kecoklatan.
Jika dilihat dengan baik-baik, lapisan itu berbentuk seperti kepala seekor naga dengan sepasang mata kuning yang berkedip-kedip.
Wajah Du Zhe tampak fokus dan keringat membasahi keningnya saat dia berkonsentrasi. Sesekali di tubuhnya akan sedikit bergetar ketika dia mencoba menahan agar Tenaga Dalam nya tidak terpencar.
Setelah beberapa saat akhirnya, bentuk naga di tangannya tampak sedikit lebih jelas. Dia mengangkat tangan kanannya, dan melakukan gerakan memukul ke depan dengan semua kekuatan yang bisa dikeluarkan.
*BAM!*
Ledakan kecil muncul di udara, kepala naga di tangan kanan Du Zhe tampak meraung dan melesat ke udara, sekitar dua meter dari Du Zhe. Tubuh Du Zhe langsung terjatuh lemas ke tanah begitu dia selesai melepaskan pukulannya. Dia tampak seperti kehilangan semua tenaga yang dia punya.
Weng Lou di sisi lain tampak mengangguk-angguk mengerti.
"Itu tadi sudah cukup bagus, hanya saja kekuatan ledakannya masih terlalu kecil. Pukulan Naga Api di dasari oleh kekuatan ledakan yang dihasilkan dari pelepasan Tenaga Dalam yang kau keluarkan. Meski namanya adalah Pukulan Naga Api, pada dasarnya pukulan ini tidak ada sangkut pautnya dengan elemen api. Ledakan yang dihasilkan oleh pukulan ini berasal dari peledakan pelepasan Tenaga Dalam murni, dan dengan meminjam momentum dari seberapa besar kekuatan pukulan yang kau berikan, maka ledakannya akan menjadi semakin besar.
Untuk kasus mu, Tenaga Dalam yang kau berikan tidak memenuhi syarat untuk melepaskan gerakan kedua dari teknik pukulan ini, namun seharusnya hal itu bisa ditutupi dengan kekuatan fisik mu. Sayangnya, kau terlalu banyak membuang-buang kekuatan mu saat mencoba mengumpulkan Tenaga Dalam di tangan mu. Mengingat umurmu yang masih sangat muda, tidak masuk akal untuk mencoba menambah jumlah Tenaga Dalam mu, jadi satu-satunya cara untuk mengatasi ini adalah dengan meningkatkan kekuatan fisikmu lebih jauh lagi." Weng Lou menjelaskan dengan tenang dan pelan agar mudah dimengerti oleh Du Zhe.
__ADS_1
Namun penjelasannya itu segera merubah wajah Du Zhe. Terlebih saat dia menoleh dan melihat wajah Weng Lou, dia bisa melihat senyum penuh makna yang diberikan padanya.
"Gu-Guru? Bukankah beberapa hari yang lalu kau mengatakan padaku bahwa kekuatan fisik ku tidak perlu ditingkatkan lagi sampai aku berhasil meningkatkan Tingkat Praktik beladiri ku?" Du Zhe menjadi gugup.
"Benarkah? Aku tidak ingat. Yah, anggap saja waktu itu aku mengatakannya karena berpikir kau tidak perlu melakukannya, tapi sekarang berbeda. Karena kau tidak bisa melepaskan gerakan kedua Pukulan Naga Api itu, jadi aku akan kembali melatih fisik mu agar kau bisa melepaskan gerakan kedua teknik itu. Kau tenang saja Du Zhe, gurumu ini adalah orang nomor satu dalam melatih fisik seseorang. Hahahaha....."
"E-Eek?! Guru....aku sudah terlalu lelah...."
"Justru itu semakin bagus. Saat sedang melatih fisik, tubuh yang sedang dalam masa pemulihan biasanya akan mendapatkan hasil yang lebih memuaskan."
Du Zhe tersenyum kecut dan dia mau tak mau harus menghadapi latihan yang diberikan oleh Weng Lou padanya.
Meski agak terpaksa, namun dia tidak mengeluh, dia tau ini semua demi dirinya sendiri. Jika dia mau menjadi sekuat gurunya, maka dia harus menaklukan dan mengabaikan rasa lelahnya terlebih dahulu. Jalannya mengejar kekuatan masih sangat panjang.
Dengan begitu, latihan fisik Du Zhe pun dimulai. Weng Lou secara teliti melatihnya dan mencurahkan segala pengetahuan yang dia punya untuk membantu dalam pelatihan Du Zhe.
Meski terkesan brutal, namun latihannya sangat efektif, dan Du Zhe harus mengakui bahwa latihan yang diberikan padanya ini memang berhasil meningkatkan kekuatan fisiknya sedemikan rupa. Meski tidak terlalu besar, tapi peningkatannya berjalan dengan kecepatan pasti.
Apa aku tingkatkan saja massa latihannya? Jika tubuhnya bisa menahan lebih jauh lagi, maka tidak akan lama sebelum dia masuk dalam ranah Pembersihan Jiwa bermodalkan kekuatan fisik nya.
Weng Lou termenung dalam pemikirannya sendiri sementara Du Zhe terus berlatih dengan arahan yang diberikan oleh Weng Lou sebelumnya.
Du Zhe terus berlatih hingga sore hari, ketika cahaya matahari akan tenggelam, dia menghentikan latihannya karena sudah benar-benar kehabisan tenaga. Tubuhnya telah mencapai batasannya dan yang bisa dia lakukan hanya berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh ke tanah.
"Guru.....apakah aku boleh beristirahat sekarang? Aku sudah sangat lelah, tubuhku juga terasa sakit," ucapnya sambil menatap Weng Lou.
Tanpa diduga, Weng Lou ternyata sepanjang hari hanya duduk dan mengawasi latihan Du Zhe sambil sesekali memberikan koreksi padanya. Dia tidak bermeditasi ataupun latihan, dirinya benar-benar berusaha menjadi guru sejati bagi Du Zhe.
"Itu sudah cukup, kau bisa pergi beristirahat sekarang. Tidak baik untuk memaksakan dirimu sendiri," balas Weng Lou sambil berbicara dengan penuh kebijaksanaan.
__ADS_1
Jika Du Zhe mendengar kata-kata dari Weng Lou sebelum latihan hari ini, mungkin dia akan benar-benar tersentuh, namun setelah menjalani latihan yang 'berat', dia hanya bisa memberikan senyum kecut.
Setelah memberi hormat pada Weng Lou, Du Zhe pun pergi dari tempat itu dan bergegas ke kamarnya. Dia sudah terlalu lelah dan langsung tertidur begitu sampai di kamarnya.
Mengingat kembali senyum masam di wajah Du Zhe, Weng Lou tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa di tempatnya.
"Aku lupa bahwa dia tidak seusia ku saat berlatih tubuh fisik untuk pertama kalinya. Mungkin aku harus melupakan untuk meningkatkan latihannya. Berlatih seperti biasa sudah cukup untuknya sekarang."
Weng Lou kemudian tidak memikirkannya lebih jauh. Dia memilih untuk melatih Kekuatan Jiwa hari ini.
Waktu sudah menunjukkan jam enam sore saat dia mulai berlatih. Dia baru selesai setelah matahari kembali terbit dan dan menyelesaikan waktu dua belas jam, sama seperti yang sudah dia tetapkan sebelumnya.
Kekuatan Jiwa nya melonjak dan kekuatan fisiknya bergelora.
"Hufft......"
Dia menghela napas panjang dan asap keluar dari mulutnya.
Setelah dia selesai berlatih, dari arah pintu masuk, sosok Du Zhe sudah kembali datang setelah tertidur pulas semalaman.
"Selamat pagi, Guru. Kau datang lebih cepat dari ku, apa Guru tidak kembali dan berada di sini sepanjang malam?" Du Zhe bertanya penasaran.
"Jangan banyak tanya, pemanasan saja di situ, dan kita akan memulai sesi latihan hari ini."
"Eeeh......baiklah."
Du Zhe berjalan ke arah Weng Lou dan mulai melepas bajunya, membuatnya bertelanjang dada.
Dia melakukan beberapa gerakan dasar dan merenggangkan otot-otot serta tulangnya yang telah dia istirahatkan.
__ADS_1
Ketika dia sedang melakukan pemanasan, tiba-tiba Du Zhe seperti baru teringat sesuatu dan buru-buru berbicara kepada Weng Lou. "Oh ya, Guru. Aku lupa memberitahumu kemarin, Paman Guru mengatakan padaku bahwa dia akan berkeliling kota, jadi tidak perlu mencarinya."
"Hmp! Aku tidak peduli mau dia pergi untuk berkeliling kota atau keliling Daratan Utama."