
Weng Baohu Zhe tak bisa berkata-kata di depan Jian Qiang yang memancarkan aura kekuatan miliknya.
"Kami minta maaf atas itu semua, rekan-rekan kami memang salah karena sudah menyerang lebih dulu."
Weng Hua menundukkan kepalanya dan meminta maaf kepada Jian Qiang. Alis Jian Qiang terangkat melihat itu, lalu menatap Weng Tie dan rekan-rekannya yang ikut menyerang tadi.
Glek....
Mereka bertujuh langsung menelan ludah menerima tatapan itu, apakah mereka akan habis hari ini?
Tapi kemudian yang sebaliknya justru terjadi.
"Aku tidak terlalu mempermasalahkannya, toh tidak ada yang terluka. Yah...aku tidak bisa mengatakan hal yang sama tentang anak itu," ucap Jian Qiang sambil menunjuk Weng Wan yang duduk di tanah.
Yah, mau dilihat dari mana pun, memang hanya Weng Wan saja yang terluka dalam pertarungan ini, sedang yang lainnya mungkin Qi dan mental mereka saja yang terkuras.
"Tapi....jika kau mau memperpanjang masalah ini, maka aku dengan senang hati akan menerimanya." Jian Qiang berbicara sambil menatap kedua mata Weng Baohu Zhe yang masih diam.
"Tidak tidak tidak tidak!!! Aku tidak mempermasalahkannya sama sekali! Ini semua adalah salah murid-murid yang kubawa, mereka adalah orang yang telah membuat masalah ini!"
Weng Baohu Zhe langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan membantah semua itu. Mana mungkin dia mau berurusan dengan Jian Qiang yang jelas-jelas jauh lebih kuat darinya.
Tidak perlu bertarung untuk bisa mengetahui nasib seperti apa yang akan menimpanya nantinya. Jika bukan berakhir dengan babak belur, maka pastinya dia akan mati.
"Baguslah jika kau mengetahuinya. Kalian semua sepertinya kelelahan, ayo kita ke desa yang ada di sini dan beristirahat."
Selesai mengatakan itu, Jian Qiang pun melangkahkan kakinya dan berjalan menuju ke arah desa tempat mereka menginap.
Weng Baohu Zhe menatap punggungnya dari belakang selama beberapa saat sebelum kemudian menyuruh Weng Tie dan rekan-rekannya untuk berjalan dan mengikuti Jian Qiang bersama dengannya.
Dia menoleh sejenak pada Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning sejenak, dan melangkahkan kakinya mengikuti Jian Qiang.
"Sebaiknya kalian ikut dengan mereka, aku akan di sini selama beberapa saat, mengumpulkan tubuh-tubuh siluman." Weng Lou berbicara kepada Weng Wan, dan yang lain, termasuk Lin Mei dan Man Yue.
"Nah, biarkan saja dirinya. Ayo kita kembali ke desa, dia tidak akan terlalu lalu lama di sini, tenang saja," tambah Weng Ying Luan.
Weng Wan, Weng Hua, dan Weng Ning saling pandang sebelum kemudian mengangguk, mereka butuh istirahat setelah bertarung melawan Weng Lou.
__ADS_1
Mereka semua pun segera pergi ke desa, bersama dengan Weng Ying Luan yang memimpin di depan. Kini hanya Weng Lou yang tersisa bersama dengan Lin Mei yang masih diam sedari tadi.
"Kau tidak ikut dengan mereka?" tanya Weng Lou kepada Lin Mei.
"Siapa dua gadis itu?" Lin Mei balik bertanya dan membuat Weng Lou menjadi bingung.
Dia memiringkan kepalanya, dan berpikir sejenak. Tak lama dia tau kenapa Lin Mei menanyakan hal seperti itu kepadanya. Dia pun tersenyum tipis dan menjawab pertanyaan dari Lin Mei.
"Mereka berdua adalah sahabat yang sangat berarti bagiku," jawab Weng Lou.
Lin Mei pun diam selama beberapa saat dan mengepalkan tangannya keras.
"Seberapa berarti mereka berdua dibandingkan denganku....?"
Weng Lou membuka mulutnya, dan berniat untuk menjawabnya, sebelum kemudian menutup kembali mulutnya.
"Jangan asal menjawab......jika jawabanmu salah, maka selesai sudah hubungan kalian. Apa yang sudah kau dan diriku usahakan sejauh ini akan hancur sia-sia...."
Mendadak muncul sebuah suara asing dari dalam kepala Weng Lou dan membuatnya terdiam. Suara itu tak asing baginya, jika tidak salah dia pernah mendengarnya sebelumnya.
Itu adalah suara dirinya sendiri! Tapi dia tidak mengatakan hal itu sama sekali, lalu siapa?
Dia masih ingin tau dari mana datangnya suara itu, sampai kemudian dia menyadari bahwa dia terlalu lama membuat Lin Mei menunggu jawaban darinya.
Diam selama beberapa saat, Weng Lou pun menemukan jawaban yang menurutnya paling terbaik untuk diberikannya kepada Lin Mei saat ini.
"Kalian semua berharga bagiku. Aku tidak akan mengatakan bahwa salah satu dari kalian adalah orang paling berarti bagiku, tapi yang bisa kukatakan adalah kalian semua itu sangat amat berharga bagiku."
Lin Mei termangu menatap Weng Lou selama beberapa saat, sebelum kemudian sebuah senyuman terlihat diwajahnya.
"Jawaban itu sudah cukup bagiku," ucapnya yang kemudian melangkah pergi dari situ dan segera menyusul Weng Ying Luan dan yang lain, meninggalkan Weng Lou sendirian ditempat itu.
"Ye Lao, suara siapa tadi itu?"
Weng Lou bertanya kepada Ye Lao di dalam kepalanya sambil menatap punggung Lin Mei yang mulai menghilang di dalam kabut.
"Aku tidak tau, tapi suara tadi persisi sama dengan suaramu," jawabnya.
__ADS_1
"Terlalu banyak hal yang tidak aku ketahui sampai sekarang, tapi suara tadi benar-benar sesuatu yang berbeda. Itu seolah-olah adalah suara dari dirimu sendiri, tapi jelas sekali bukan kau yang menginginkannya." Qian Yu ikut berpendapat.
Baginya, suara tadi adalah sesuatu yang patut baginya untuk selidiki.
Tapi saat ini, ada sesuatu yang harus mereka lakukan.
"Cepatlah punguti tubuh-tubuh itu muridku! Kita akan menjual semuanya dan membelikannya dengan berbagai macam logam yang berharga! Aku yakin Pedang Naga Malam akan menjadi Senjata Spiritual tingkat 3 tak lama lagi!" Qian Yu kembali berbicara.
Sepertinya dia sangat bersemangat.
Weng Lou pun mengiyakannya, lebih baik dia pendam saja terlebih dahulu misteri mengenai suara tadi. Untuk saat ini, dia harus fokus mengumpulkan semua tubuh siluman serigala yang ada di sekitarnya.
***
Di dalam ruang dimensi pribadi milik Zhi Juan.
Sosok pria yang wajahnya menyerupai Weng Lou menatap layar hologram yang ada di depannya.
Hologram itu menampilkan sosok Weng Lou yang sedang sibuk mengumpulkan tubuh-tubuh siluman serigala.
"Jiwanya sudah cukup kuat, dia harusnya siap untuk membuka segel pertama tak lama lagi."
Mendadak sosok Zhi Juan muncul di samping pria itu dan ikut menatap layar hologram di depan mereka.
"Aku tau itu, tapi dari kondisinya saat ini, mustahil untuk melakukan itu. Dia membutuhkan situasi hidup dan mati untuk dapat membuka segel pertama yang kau buat itu," ucap pria itu.
"Jangan khawatir, aku sudah mengecek semua yang akan ikut dalam Turnamen Beladiri Bebas yang akan dilakukan di Kota Hundan itu. Jika tidak ada halangan yang terjadi, harusnya pemuda dari 'keluarga itu' akan ikut serta juga." Zhi Juan membalas.
"Apa maksudmu dari 'keluarga itu'?" tanya pria itu sambil menatap wajah Zhi Juan yang tersenyum tipis menatap layar hologram lainnya yang baru dia ciptakan.
Pada layar hologram itu menunjukkan sosok seorang pemuda berusia 15 tahun mengenakan pakaian berwarna merah mengkilap dengan lambang bunga lotus di punggungnya sedang berdiri di atas sebuah kapal kayu yang cukup besar.
Pada pinggangnya, tersarung sebuah pedang dengan panjang mencapai satu setengah meter.
Pria yang bersama dengan Zhi Juan itu ikut menatap layar hologram itu dan mulutnya pun terbuka lebar.
"Bagaimana bisa anggota 'keluarga itu' ada di Pulau Pasir Hitam?!" serunya dengan terkejut.
__ADS_1
"Ada seorang Absolute lain yang berhasil menemukan letak dari dimensi ini, dan sepertinya sudah sempat ikut campur di dalamnya. Karenanya 'keluarga itu' pun berhasil menemukan lokasi dari Pulau Pasir Hitam, dan sedang bergerak menuju ke musuh bebuyutan mereka, Keluarga Leluhur Weng.
Salah satu dari Keluarga Penguasa di Dimensi Asal Mula, Keluarga Ying, dan mantan Keluarga Penguasa Mutlak Dimensi Asal Mula, Keluarga Leluhur Weng. Kedatangan dari pemuda itu, jika tidak dihentikan oleh Weng Lou maka semua rencana kita akan berakhir."