
Setelah keluar dari lapangan tempat ujian penerimaan murid, Weng Lou mengambil kembali kedua senjata miliknya dan kemudian dibawa oleh Tetua Meigui menuju ke sebuah bangunan berlantai 3 yang merupakan kediaman Tetua Meigui sekaligus tempat tinggal para muridnya yang lain.
Pada umumnya, seorang Tetua yang memiliki keluarga akan memiliki kediaman yang terpisah dengan para muridnya, namun karena Tetua Meigui belum menikah, dia menempatkan semua muridnya untuk tinggal bersamanya. Hal ini dia lakukan agar bisa memantau latihan semua murid tiap harinya.
Karena hari yang masih sangat pagi, dan juga karena Weng Lou baru sampai setelah melakukan perjalanan sepanjang jalan, Tetua Meigui langsung menyuruh Weng Lou untuk beristirahat dan kembali menemuinya saat pagi hari di lantai teratas kediamannya.
Weng Lou memberikan hormat pada guru barunya itu begitu dia pergi meninggalkan Weng Lou di sebuah kamar di lantai pertama kediamannya yang terletak di pojok kanan bagian belakang.
Pintu ditutup, dan Weng Lou segera duduk di sebuah kursi dekat dengan jendela yang tertutup rapat.
*Nyiit....* Kursi itu berdenyit ketika dia duduk di atasnya. Kedua pedangnya disandarkannya pada dinding di dekatnya dan bajunya dilepaskannya, memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk dengan sempurna. Otot-otot perutnya tampak bidang, dan kedua lengannya menampilkan dua tangan yang penuh dengan kekuatan.
"Ini benar-benar bagus. Aku mendapatkan kamar untuk diriku sendiri, berbeda dengan ketika aku masih di Sekte Langit Utara. Di sana, entah itu murid langsung dari seorang tetua, atau hanya sekedar murid biasa, mereka semua ditempatkan di satu tempat yang sama.
Tidak ada pengkhususan yang diberikan pada seorang murid pun. Jika seorang murid ingin mendapatkan lebih dari yang diberikan padanya, maka dia harus berusaha sendiri dengan menyelesaikan misi dan mendapatkan uang.
Weng Lou, Weng Ying Luan, dan Lin Mei juga seperti itu ketika masih di sana. Bagi Weng Lou, dia tidak terlalu memikirkan mengenai sesuatu seperti ini, karena dia juga lebih suka memiliki sesuatu yang merupakan hasil usahanya sendiri. Dengan cara ini, dia tidak perlu menghiraukan rasa itu dari para murid lain padanya, karena pada dasarnya semua yang dia miliki di Sekte Langit Utara dulu adalah hasil kerja kerasnya.
"Kalau dipikir-pikir, aku bahkan hanya tinggal beberapa bulan di Sekte Langit Utara sebelum kemudian menerima misi dari Patriak Agung, untuk mengumpulkan bahan-bahan untuk membuat Senjata Langit. Semua bahan yang telah berhasil kami dapatkan untuk membuat senjata itu ada padaku, tapi itu semua berada di kalung tak berguna ini sekarang. Aku harus bisa menggunakan kembali Kalung Spasial ini agar bisa mengakses semua senjata milikku," ucap Weng Lou dengan lesu sambil memegang kalung di lehernya.
Semua yang Weng Lou butuhkan, entah itu senjata atau pun sumber daya latihan, semua itu ada di dalam kalung ini. Jika dia bisa kembali mengaksesnya, dia akan dengan mudah mencari informasi tentang bagaimana agar dirinya bisa menggunakan Kekuatan Jiwa nya kembali.
Setelah menghabiskan waktu beberapa menit untuk melepaskan segala macam pemikirannya, Weng Lou pun memilih untuk membersihkan dirinya di sebuah baskom kayu yang terdapat di pojok kamarnya. Beberapa ember berisikan air bersih terdapat di dekatnya.
***
Pagi harinya, di lapangan belakang kediaman Tetua Meigui.
Beberapa anak remaja, mulai dari yang seusia Weng Lou, lebih mudah darinya, dan lebih tua nya darinya dikumpulkan menjadi satu barisan yang menghadap kepada seorang murid perempuan yang terlihat paling tua dari murid yang lainnya.
Murid perempuan ini memiliki paras yang cantik dengan tubuh yang sudah mulai dewasa. Terlihat dari dua gundukan besar di dadanya yang bisa menggoda mata para lelaki di dekatnya. Namun, murid laki-laki yang ada pada barisan di depan murid perempuan itu tidak berani memandangnya seperti itu karena tau sekuat apa murid perempuan itu.
Jika mereka berani menatap murid itu dengan tatapan tak senonoh, maka hanya ada mimpi buruk yang akan mendatangi mereka.
Total semua murid yang berbaris itu ada sepuluh orang, ditambah dengan murid perempuan yang ada di depan barisan itu, total semua murid ada sebelas orang. Mereka adalah semua murid yang dilatih dan dibimbing langsung oleh Tetua Meigui.
Dengan yang termudah berdiri di paling depan, dan yang paling tua sekaligus paling senior berdiri di belakang. Terkecuali murid perempuan yang berdiri paling depan, dia adalah murid paling jenius yang dimiliki oleh Tetua Meigui dan menjadi pemimpin semua murid ini.
Nama asli dari murid itu adalah Liang Lu, dan para murid Tetua Meigui yang lain memanggilnya dengan sebutan Kakak Senior Lu, atau Saudari Lu jika murid tersebut seumuran.
__ADS_1
Dia telah menjadi murid dari Tetua Meigui semenjak dia berusia tiga belas tahun, dan sudah lima tahun lebih dia menjadi murid sang tetua. Jika dilihat secara usia, dia dan Weng Ying Luan bisa dibilang seusia. Dengan bakatnya yang luar biasa, dia telah berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 6, dan sedikit lagi naik ke tahap 7. Tidak ada yang meragukan kekuatannya dan posisinya sebagai pemimpin dari para murid.
"Kakak Senior Lu, apakah ada yang ingin Guru sampaikan pada kita semua, hingga dia mengumpulkan kita di pagi hari seperti ini?" Seorang murid perempuan yang berusia sekitar 12 tahun mengangkat tangan dan bertanya pada Liang Lu.
Liang Lu menatap gadis itu dan menggelengkan kepalanya, "Aku juga tidak tau pasti. Guru memberitahu ku untuk membawa kalian semua ke sini dan berkumpul. Mengenai alasan dia menyuruhku, aku sendiri masih tidak tau.
Dia menjawab dengan tenang pada juniornya tersebut. Mungkin usianya baru 12 tahun, tapi bakat beladirinya tidak terlalu berbeda jauh dengan dirinya.
Ketika semua orang diam menunggu di lapangan, sosok Tetua Meigui terbang turun dari lantai teratas kediamannya dan mendarat di hadapan semua muridnya. Saat sosoknya telah turun ke tanah, mereka semua, dengan dipimpin oleh Liang Lu, memberikan salam hormat pada Tetua Meigui, Guru mereka semua.
""Selamat Pagi, Guru!"" ucap semua murid serentak dan dibalas anggukan pekan oleh Tetua Meigui.
Tetua Meigui saat ini tidak mengenakan sesuatu yang menutupi wajahnya, sehingga menampilkan wajah cantiknya yang setara, atau bahkan jauh lebih cantik dari Liang Lu.
"Em, angkat kepala kalian." Tanpa menunggu perintah kedua kalinya, mereka semua pun mengangkat kepala mereka.
Tetua Meigui pun kembali membuka suaranya, "Maaf karena telah menyuruh kalian berkumpul di sini pagi hari seperti ini. Aku mengerti kalian sibuk untuk meningkatkan kekuatan kalian semua sehingga waktu adalah sesuatu yang sangat berharga, tapi ini tidak akan lama. Tujuan ku mengumpulkan kalian adalah untuk memperkenalkan junior baru kalian yang akan mulai bergabung bersama kalian sebagai murid ku mulai hari ini."
Pernyataan dari Tetua Meigui membuat semua murid memasang wajah yang sedikit terkejut, karena mereka tidak mengetahui tentang hal ini sama sekali sebelumnya. Biasanya, ketika guru mereka itu akan membawa murid baru, mereka akan mendapatkan kabar angin terlebih dahulu, tapi kali ini mereka tidak mendapatkan nya sama sekali. Sehingga mereka bingung, kapan guru mereka ingin mengambil murid baru.
Perlu diketahui, Tetua Meigui, sebagai bagian dari Tetua inti di Sekte Bambu Giok, dia hampir tidak pernah meninggalkan sekte sama sekali. Dia hanya akan keluar dari lingkungan sekte jika memiliki sesuatu untuk dikerjakannya.
Semua muridnya yang ada di sini sebelumnya diambil dari para murid yang melakukan ujian penerimaan murid oleh sekte. Karena tawaran dari Tetua Meigui, mereka pun memilih menjadikannya sebagai guru mereka.
Dari dalam lantai satu, sosok Weng Lou keluar sambil berjalan dengan tenang ke hadapan semua orang yang ada di lapangan itu. Tidak ada tatapan rasa takut atau sejenisnya saat dia menatap para 'senior' barunya tersebut.
Beberapa dari para murid yang melihat sikap Weng Lou ini merasa sedikit tidak senang, namun tidak berani menunjukkan nya secara terang-terangan karena kehadiran Tetua Meigui di tempat itu.
"Salam, Senior semuanya. Namaku Wei Lou, aku adalah seorang Penempa." Weng Lou menunduk dengan pelan sambil berbicara hormat pada mereka semua.
Mendengar Weng Lou adalah seorang Penempa, salah seorang murid laki-laki yang berusia enam belas tahun tertawa pelan dan menarik perhatian orang-orang.
"Ahahaha....Seorang Penempa! Pekerja kotor yang hanya tau mengayunkan palunya, dan melakukan kekerasan. Benar-benar sesuai dengan nama mu!" seru murid tersebut.
Tetua Meigui hanya diam tanpa membela Weng Lou sedikit pun, dia ingin melihat tindakan yang akan ditunjukkan oleh Weng Lou terhadap penghinaan yang dilakukan tepat di depan matanya. Namun, Weng Lou sama sekali tidak terpancing. Dia hanya menatap murid itu sambil berkedip beberapa kali dan mengangkat bahunya pada murid itu.
"Ya, kedua orang tua ku yang memberikannya, jadi menurutku itu nama yang bagus."
Jawaban santai Weng Lou itu malah membuat murid yang berusaha memancingnya itu menjadi emosi dan mengkertakkan giginya.
__ADS_1
Di sisi lain, Liang Lu yang berada paling depan, menatap Weng Lou dari atas sampai bawah dan seperti sedang mengamat-amati sesuatu. Weng Lou menyadari tatapan dari perempuan itu dan tersenyum kecil padanya, "Ada apa Senior? Apakah ada yang salah dengan ku?"
Liang Lu diam selama beberapa saat, lalu menggelengkan kepalanya, dan berhenti menatap Weng Lou.
Sementara itu, seorang murid perempuan berjalan keluar dari barisan dan mendekat ke arah Weng Lou sampai dia tiba tepat di depannya. Secara terang-terangan, dia menatap Weng Lou dengan tatapan yang merasa heran sekaligus aneh dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil berbicara pada Weng Lou.
"Junior Lou, kalau boleh tau, ada di tingkat praktik apa dirimu?"
"Hm? Kenapa Senior menanyakan itu?"
"Ah, tidak. Hanya saja aku tidak bisa merasakan sedikitpun gelombang Tenaga Dalam dari tubuhmu sehingga aku menduga bahwa kau pasti telah berada di ranah Pembersihan Jiwa seperti Kakak Senior Lu," jelas murid perempuan itu.
Pertanyaan darinya membuat para murid lainnya tersadar dan segera memindia tubuh Weng Lou dari atas sampai bawahnya dan menemukan hal yang sama. Namun ekspresi yang paling keheranan adalah para murid yang telah berada di ranah Pembersihan Jiwa. Mereka tidak bisa menemukan sedikit pun Qi pada tubuh Weng Lou, atau bahwa gelombang Kekuatan Jiwa darinya.
Dari pandangan mereka, Weng Lou tampak sama seperti manusia biasa. Hanya aura kekuatan pada tubuhnya saja yang membuatnya terlihat memiliki kekuatan hebat, tapi hal itu tidak bisa menjadi standar kekuatan seseorang.
"Pengamatan yang bagus, seperti yang kalian lihat, Lou tidak memiliki Tenaga Dalam atau pun Qi, juga Kekuatan Jiwa. Dia terlahir tanpa Dantian, sehingga tidak bisa menjadi seorang Praktisi Beladiri. Namun hal ini tidak membuat junior baru kalian ini menyerah begitu saja dengan keadaannya.
Seperti yang dia katakan, dirinya adalah seorang Penempa. Melalui proses dan pekerjaan yang berat, dia berhasil membuat dirinya memiliki kekuatan pukulan yang bahkan setara dengan Praktisi Beladiri di Dasar Pondasi tingkat 12. Tapi perlu kalian ingat, itu bukanlah kekuatan penuhnya, jadi karena itulah aku mengangkatnya menjadi murid ke-12 ku," jelas Tetua Meigui yang entah kenapa mulai menjadi sedikit bangga atas pencapaian Weng Lou tersebut. Padahal sebelumnya ketika masih di lapangan ujian penerimaan murid, dia merasa kecewa karena Weng Lou tidak memiliki Dantian di dalam dirinya.
"Guru, maaf jika saya lancang, tapi bukankah seseorang tanpa Dantian tidak bisa menjadi bagian dari Sekte Bambu Giok ini? Secara alami, dia bukanlah Praktisi Beladiri sejati karena tidak akan bisa menggunakan Tenaga Dalam, Qi, dan juga Kekuatan Jiwa. Dia tidak lebih dari seorang manusia biasa dengan kekuatan fisik yang menakjubkan. Menurut syarat dan peraturan sekte, seorang manusia biasa tidak bisa bergabung dengan sekte." Murid laki-laki yang sebelumnya mengejek Weng Lou kini kembali berbicara, dan kali ini pada Tetua Meigui yaitu Gurunya.
Tetua Meigui mengetahui peraturan itu, oleh sebab itu dia membawa semua muridnya ke tempat ini pagi-pagi sekali.
"Yang kau katakan itu benar, tapi Lou akan bergabung dengan sekte lewat perantara ku sebagai Tetua Inti. Sama seperti kalian semua, muridku. Kalian sebenarnya terbebas dari beberapa peraturan dasar yang ada di dalam sekte ini, namun karena kalian adalah murid pribadiku, peraturan itu tidak berlaku untuk kalian. Hal yang sama juga akan berlaku bagi Wei Lou. Peraturan yang melarang manusia biasa menjadi murid sekte tidak akan berlaku baginya karena dia adalah murid ku, seperi kalian semua."
Tetua Meigui kemudian berjalan perlahan ke arah Weng Lou, dan dengan pelan dia menepuk pundaknya sambil menatap ke arah para muridnya di situ satu persatu.
"Kalian semua adalah murid-murid ku yang aku sayangi, aku ingin kalian memperlakukan Junior kalian ini seperti aku memperlakukan kalian. Jika kalian merasa keberatan tentang itu, maka kalian ku bebaskan untuk bertarung dengan Lou untuk membuktikan apakah dia layak menjadi bagian dari kalian atau tidak."
Para murid terdiam mendengar itu. Ini pertama kalinya guru mereka melakukan sesuatu sampai sejauh ini. Memangnya sekuat apakah Weng Lou hingga membuat guru mereka mengizinkan untuk melakukan pertarungan antar murid?
Meski mereka semua tidak tau, tapi mereka akan segera mengetahuinya dengan bertarung melawan Weng Lou. Untuk itu, seorang murid laki-laki yang merupakan murid laki-laki bertubuh paling besar dari antara yang lain, serta paling tua dari semua murid Tetua Meigui berjalan maju tanpa ragu dan berhadapan dengan Weng Lou.
"Maka jika begitu, tolong izinkan saya untuk mengetes Junior baru kami ini, Guru. Sebagai murid tertua, saya harus mengetahui apakah seseorang layak untuk menjadi Junior ku yang berada di bawah bimbingan satu guru yang sama." Murid laki-laki itu berbicara dengan hormat pada Tetua Meigui.
Meigui berkedip dan kemudian menoleh melihat Weng Lou yang tidak takut sedikitpun dia pun mengangguk setuju, "Silahkan, Jiu De. Aku mengizinkan mu untuk bertarung dengan Wei Lou. Tapi kau harus ingat ini, jangan sampai membahayakan dirimu sendiri."
Jiu De tidak menjawab, melainkan segera memasang posisi siap bertarung, sementara Weng Lou hanya berdiri tegak dengan tenang sambil menghela napasnya.
__ADS_1
Menggelengkan kepalanya, Tetua Meigui pun bergerak sangat cepat melewati Weng Lou sambil berbicara lembut di telinganya, "Tolong jangan berlebihan, dia adalah Senior mu."
Sosok Tetua Meigui pun segera muncul beberapa meter dari tempat kedua saling berhadapan. Para murid lain sudah mundur dengan cepat dan ketika mereka semua sudah mundur cukup jauh, pertarungan pun dimulai.