Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 572. Menuju Samudra (I)


__ADS_3

Di sebuah hutan bakau yang sangat luas dan lebat, terdapat sebuah jalan kecil yang ditutupi oleh semak-semak belukar dan mengarah ke pantai yang tersembunyi dengan baik oleh beberapa pohon bakau tinggi sehingga tidak bisa terlihat dari atas langit.


Kecuali mengikuti dua rute khusus dari darat dan air, mustahil bisa sampai ke pantai yang sangat tersembunyi ini.


Namun tetap ada pengecualian, jika ada orang yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 ke atas, mereka tinggal menyebarkan seluruh Kekuatan Jiwa mereka ke seluruh hutan bakau, dan pantai itu akan langsung dapat ditemukan dengan mudah. Saat ini di pantai yang nyaris tak mendapatkan cahaya matahari tersebut, seorang anak laki-laki yang tidak lebih berusia sepuluh tahun, terlihat sedang bermeditasi di atas hamparan pasir putih yang sangat bersih.


Beberapa kepiting kecil terlihat naik ke atas tubuhnya, dan anak laki-laki itu tidak terganggu sama sekali.


Dia menghela napasnya, dan asap putih keluar dari mulutnya.


*Krack! Krakk....*


Suara tulang yang patah terdengar dari tubuhnya, namun ekspresi wajah anak itu tidak berubah sedikitpun. Tapi kepiting-kepiting yang ada disekitarnya segera berlarian menjauh karena suara tersebut. Mereka jelas takut mendengarnya.


Membuka mata, dia mengepalkan tangannya dan menatapnya tanpa ekspresi.


"Dasar Pondasi tingkat 4, ini...." Terlihat wajah tidak puas dari anak itu, dia menggigit bibir bawahnya hingga berdarah dan mengutuk dirinya sendiri karena tidak berusaha semaksimal mungkin.


"Du Zhe, ayo makan dulu, kau sudah berlatih dari pagi. Kau akan menjadi sangat kurus kalau terus melakukan latihan seperti ini. Guru mu akan memarahi kami nanti, dia akan berpikir kami tidak memberikan makanan yang layak untukmu!"


Dari dalam sebuah rumah kayu sederhana, seorang pria yang mengenakan sebuah penutup mata di mata kanannya berseru kepada Du Zhe yang baru selesai berlatih.


Du Zhe membuka matanya dan menoleh ke arah pria itu, dia mengangguk mengerti lalu segera bangkit berdiri. Menarik napas pelan, dia memfokuskan pikirannya pada sebuah teknik pernapasan yang diajarkan oleh Weng Lou. Dia segera berlari cepat di atas pasir. Sosoknya segera tiba di rumah itu, di dalamnya beberapa orang lain yang merupakan awak kapal Weng Lou terlihat sudah duduk dengan rapi di sebuah meja panjang.


"Hei Du Zhe! Kemarilah dan makan daging ini! Ini adalah Kepiting Capit Raksasa yang aku tangkap pagi ini! Ini adalah membantu pembentukan otot dan tulang mu. Di umurmu sekarang, memakan yang seperti ini sangat berguna demi masa depan mu!"


Salah satu dari mereka yang merupakan pria bertubuh besar dan berotot berdiri dan segera menarik Du Zhe untuk segera makan di sampingnya. Sebuah capit kepiting seukuran tangan Du Zhe di tempatkan di hadapan anak laki-laki itu.


"Paman, ini terlalu banyak untuk ku seorang, kita bisa membaginya dan makan bersama," ucap Du Zhe yang dengan cepat menolak untuk makan capit kepiting itu seorang diri.


Tapi ucapannya itu hanya membuat semua orang tertawa, "Hahaha...apa yang kau katakan? Semua orang sudah mendapatkan bagian masing-masing! Apa kau pikir aku hanya mendapatkan satu kepiting saja? Tentu saja tidak! Aku mendapatkannya empat dan yang ini adalah bagian mu!" jelas pria besar itu dengan senyum lebar dan ramahnya.


Dia menepuk pundak Du Zhe dan menyuruhnya segera makan. Namun wajahnya berubah ketika dia merasakan sensasi tangannya yang menepuk pundak anak itu.


"Du Zhe....apa kau baru saja naik tingkat?" tanyanya dengan ragu.


Du Zhe menangguk pelan sebagai jawaban sambil berusaha menghancurkan cangkang kepiting yang nyaris setebal jari jempolnya. Seisi meja langsung terdiam, mereka terkejut dengan perkembangannya yang sangat cepat. Ini bahkan belum genap tiga bulan semenjak dia berpisah dengan Weng Lou, namun dia sudah naik tingkat lagi. Dan itu adalah Dasar Pondasi tingkat 4, yang berarti dia sudah memiliki Tenaga Dalam yang cukup untuk ditampung di dalam Dantiannya.


Teknik yang diajarkan oleh Weng Lou membuat Du Zhe bisa menyerap Tenaga Dalam Alam yang ada di sekitarnya dan merubahnya menjadi miliknya dengan cepat tanpa sadar. Jika seandainya Weng Lou ada di sini dan membimbingnya, mungkin hanya perlu waktu satu atau dua minggu untuknya naik ke tingkat 4.


"Jadi, apa kau sudah bisa menggunakan Tenaga Dalam mu?" tanya salah satu dari mereka.

__ADS_1


Dengan cepat Du Zhe menggelengkan kepalanya. Dia belum mencoba melakukannya karena ingin cepat-cepat naik tingkat agar bisa pergi menemui Weng Lou dengan segera. Lagi pula menggunakan Tenaga Dalam tanpa adanya bimbingan seorang ahli hanya akan mencelakakan orang tersebut.


"Kalau begitu makanlah yang banyak, aku akan mengajari mu sore ini! Aku bisa merasakan Tenaga Dalam mu memiliki unsur tanah, yang mana sama dengan diriku. Akan ku ajari semua yang aku tau padamu. Meski hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 8, tapi pengetahuan ku cukup untuk mengajarimu sampai Guru mu kembali," ucap pria besar itu yang segera membuat perasaan lesu Du Zhe hilang seketika.


Belajar menggunakan Tenaga Dalam adalah yang paling dia inginkan semenjak naik ke Dasar Pondasi tingkat 3, tapi Weng Lou memperingatkannya agar jangan belajar menggunakan Tenaga Dalam ketika belum mencapai Dasar Pondasi tingkat 4.


Weng Lou sudah lama memeriksa Dantian miliknya, dan dia memiliki Tenaga Dalam unsur tanah murni. Tapi itulah yang dikatakan oleh Weng Lou, tapi sebenarnya bukan hanya Dantian unsur tanah saja pada dirinya. Namun Weng Lou memilih untuk merahasiakan kebenarannya demi kebaikan nya, lagi pula memiliki Dantian berunsur tanah bukanlah hal yang buruk.


Dan juga, Kera Hitam Petarung memiliki kekuatan berunsur tanah, yang mana berarti dia bisa membantu Du Zhe berlatih menjadi jauh lebih kuat.


Setelah selesai makan, Du Zhe segera pamit untuk pergi masuk ke dalam hutan. Dia berjalan menuju ke sebuah gua alami dari batuan karang dimana di dalamnya terdapat sebuah pantai yang jauh lebih tersembunyi lagi dibandingkan tempat kelompok mereka tinggal.


Di pinggir pantai, sebuah sosok hitam terlihat sedang tidur pulas. Telinganya bereaksi terhadap suara langkah kaki Du Zhe yang ringan, dan segera sosoknya bangkit duduk dan menatap anak laki-laki itu dengan wajah malas.


"Hei, ini bahkan belum sore hari, kenapa kau datang ke sini? Ini masih jam tidur ku, pulanglah." Kera Hitam Petarung berbicara dengan malas sebelum kemudian kembali tidur dengan nyamannya.


Wajah Du Zhe cemberut mendengarkan ucapannya dan segera meloncat ke atas tubuhnya. Kera Hitam Petarung tidak bereaksi sedikit pun, namun setelah beberapa saat, dia merasakan perubahan pada berat tubuh anak laki-laki itu.


Dirinya yang masih berbaring di sebuah karang segera menatap Du Zhe dan tertawa pelan, "Tingkat Praktik mu sudah naik, huh? Jadi maksud kau datang ke sini pasti ingin aku mengajari teknik beladiri yang dititipkan bocah itu padaku."


Tangan kanan Kera Hitam Petarung segera mengangkat tubuh Du Zhe yang berada di atas tubuhnya sementara dia kembali bangkit duduk. Dia meletakkan Du Zhe di hadapannya dan segera menatap sekeliling gua tempat dia berada.


"Fuuuuuuhhhhh!!!!"


Dalam satu tiupan, pasir-pasir yang berada di sekitar mereka segera menghilang, dan membuat Du Zhe bisa melihat tempat sebenarnya mereka berdiri yang ternyata adalah batu karang yang sangat besar. Dia tidak terlalu terkejut melihat itu, karena di Kepulauan Huwa banyak pantai yang memiliki batu karang di dekat pantainya.


"Perhatikan aku baik-baik, akan kuperlihatkan padamu, teknik beladiri seekor binatang buas sejati."


Kera Hitam Petarung menarik napas dan memasang kuda-kuda layaknya seperti seorang manusia. Dia mengepalkan tangan kirinya dan tangan kanannya menggenggam tanga kanannya menggenggam tangan kirinya yang terkepal.


Alis Du Zhe terangkat, dia tidak pernah melihat bentuk serangan seperti itu. Sebelum dia bisa memberikan pendapatnya, Kera Hitam Petarung sudah lebih dulu melanjutkan gerakannya.


Dia mengangkat kedua tangannya itu di atas kepala, lalu dengan satu gerakan cepat, keduanya segera memukul ke tanah dan gua itu pun segera bergetar hebat. Tubuh Du Zhe jatuh ke tanah karena getaran tersebut, sementara Kera Hitam Petarung masih berdiri dengan tenang dan memperhatikan karang yang dia pukul sebelumnya, ada beberapa retakan padanya.


"Bagus, batu karang dan gua ini bisa menahan sekitar 5 persen kekuatan ku, yang berarti kau bisa latihan sepuasmu di sini selama masih berada di Dasar Pondasi. Tapi tidak perlu memikirkan itu, sebelum kau naik ke ranah Pembersihan Jiwa, kita pasti sudah akan pergi dari tempat ini."


Penjelasan dari Kera Hitam Petarung sama sekali tidak didengar oleh Du Zhe, dia justru tampak sangat tertarik dengan teknik yang baru saja Kera Hitam Petarung tunjukkan padanya. Matanya seakan-akan mengatakan pada kerabitu bahwa dia ingin segera diajari teknik tersebut.


Kera Hitam Petarung mendengus pelan dan berbicara padanya, "Jika kau tidak mendengarkan penjelasan, bagaimana kau bisa mempraktekkannya?"


Du Zhe baru menyadarinya dan dia merasa malu lalu segera meminta maaf. Tak berapa lama, keduanya pun mulai melakukan latihan.

__ADS_1


Teknik yang diajarkan oleh Kera Hitam Petarung adalah sebuah teknik bertarung sederhana yang hampir diketahui oleh semua binatang buas berjenis gorila atau pun kera seperti nya. Teknik ini berpusat pada kedua tangan yang dihantamkan ke tanah, dimana seluruh kekuatan dan titik tumpu diubah menjadi satu yaitu di kedua tangan.


Teknik ini tidak bisa sembarangan dilakukan oleh manusia karena dapat membuat pembuluh darah mereka meledak seketika. Namun berbeda dengan Du Zhe, dia telah menerima pelatihan khusus oleh Kera Hitam Petarung selama dua bulan lebih, dan Weng Lou sendiri yang menyuruhnya.


Menurutnya, Du Zhe lebih cocok berlatih dengan Kera Hitam Petarung. Tidak hanya keduanya memiliki unsur yang sama, namun tubuh Du Zhe sangat cepat terbentuk, sehingga memungkinkannya untuk berlatih beladiri menggunakan teknik para binatang buas. Kera Hitam Petarung sendiri tidak masalah, karena dia merasa itu bisa mengisi waktunya yang sangat kosong.


****


Waktu berlalu dengan cepat, tidak terasa sudah sore hari. Du Zhe dan Kera Hitam Petarung telah selesai berlatih, dan saat ini Du Zhe dengan tubuh yang berkeringat berlari menuju ke kembali ke pantai dimana tempat tinggal kelompoknya berada.


Akan tetapi, suasana pantai itu sangat jauh berbeda dengan yang biasanya dia rasakan.


Tidak ada para awak yang biasanya berkeliling memeriksa lingkungan sekitar, atau pun aroma masakan yang biasanya akan sudah tercium begitu dia memasuki daerah pantai. Segera, Du Zhe masuk ke dalam mode siaga, dan dia tanpa sadar memasang posisi siap bertarung.


Sambil berjalan pelan, dia bergerak menuju ke rumah kayu kelompok mereka yang terletak diantara dua pohon bakau besar yang membuat seluruh pantai tertutup dari cahaya matahari. Semakin dekat dengan rumah, jantung Du Zhe berdetak semakin kencang. Segala macam pemikiran melintas di kepalanya, dia berusaha untuk tenang namun semakin dia berusaha berpikir positif semakin segala macam pemikiran buruk terlintas di kepalanya.


Napasnya mulai tak beraturan, dan dia tanpa sadar telah tiba di depan pintu rumah kayu.


Menelan ludahnya, Du Zhe pun membuka pintu dengan perlahan dan menemukan tidak ada siapa pun di sana selain sosok bayangan yang berdiri membelakangi jendela sehingga wajahnya tidak terlihat.


Mata Du Zhe menyipit, dia berusaha melihat wajah pemuda itu, namun secara tiba-tiba suutas benang emas muncul dari tubuh pemuda itu dan menutup dengan keras pintu di belakang Du Zhe. Tubuh Du Zhe tersentak kaget, dan tanpa sengaja dia berlari kecil ke depan dan mendekati sosok pemuda itu.


Dia hendak berlari dari situ, akan tetapi begitu dia melihat wajah pemuda di depannya dia segera menghilangkan segala keinginannya itu dan mulutnya terbuka lebar.


"GURUUU!!!" Du Zhe berseru dengan nyaring dan segera melompat ke arah Weng Lou yang tidak lain adalah sosok pemuda di depannya.


Weng Lou tersenyum hangat pada Du Zhe. Dia membiarkan anak itu memeluk dirinya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengajaknya berbicara.


"Kita akan berangkat besok pagi, jadi kau sudah tidak perlu melakukan latihan apapun hari ini dan beristirahat saja. Aku melihat sepertinya kau sudah naik ke Dasar Pondasi tingkat 4, sangat bagus, kau memang benar muridku." Weng Lou menggosok kepala anak laki-laki itu dengan lembut, namun wajah Du Zhe segera berubah menjadi suram begitu mendengar ucapan Weng Lou.


"Dibandingkan dengan guru, aku sama sekali bukan apa-apa. Aku memerlukan hampir tiga bulan hanya untuk naik 1 tingkat, dan bahkan belum bisa menggunakan Tenaga Dalam sama sekali. Aku hanyalah aib bagi guru," ucap Du Zhe dengan merasa malu.


"Pfft- Omong kosong macam apa itu? Gurumu ini bahkan baru menjadi seorang Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 1 di usiamu! Aku bahkan jauh lebih tidak berbakat dibandingkan dengan dirimu, Du Zhe! Jangan pernah berpikir seperti itu lagi, aku sudah katakan padamu bukan, jangan! Aku benar-benar akan membuang hubungan guru dan murid dengan mu jika kau terus berpikir bahwa dirimu adalah aib bagiku! Kau dengar?!"


Du Zhe terdiam dan buru-buru mengangguk. Dia tidak mau jika hal itu sampai terjadi. Baginya, Weng Lou adalah segalanya, dan dia tidak tau harus berbuat apa lagi jika dia tidak bersama Weng Lou sebagai guru dan muridnya.


"Bagus jika kau mengerti. Sekarang ikut aku, ada sebuah tempat yang ingin aku kau lihat."


"Tempat apa itu Guru?"


Weng Lou tersenyum misterius mendengar pertanyaan muridnya itu, "Hehehe...kau akan segera tau begitu kita sampai. Itu adalah tempat paling indah di pulau ini. Tempat tinggal penguasa sejati. Tempat tinggal seorang Penguasa Jiwa, Chizi Ryuan."

__ADS_1


__ADS_2