
Di atas kapal itu, sosok Weng Lou berdiri dengan tenang diantara tubuh-tubuh tak bernyawa dari para bajak laut yang telah dia bunuh.
Matanya menatap ke arah tiga kapal yang mendekat ke arahnya. Dengan satu gerakan, seluruh wilayah disekitar tempat itu pun diselimuti oleh Kekuatan Jiwa. Para bajak laut di ketiga kapal lain terkejut karena ada sesuatu yang melewati mereka namun tidak bisa mereka lihat.
Berbeda dengan beberapa awak yang berada di ranah Pembersihan Jiwa dan ketiga kapten di ketiga kapal, mereka bisa tau bahwa yang baru saja melewati tubuh mereka adalah kekuatan jiwa dan saat ini, mereka semua berada dalam radius kekuatan jiwa tersebut.
"Berhenti!!! Hentikan kapal sekarang!!!" Saudara tertua dari empat kapten bajak laut itu segera berseru kepada semua awak di ketiga kapal.
Dengan cepat mereka mengendurkan tali layar kapal dan menurunkan jangkar. Ketiga kapal bajak laut itu pun berhenti tepat sebelum mendekat lebih jauh ke kapal adik mereka yang telah menjadi kapal mati.
Sosok Weng Lou yang ada di atas kapal itu menarik perhatian semua orang, termasuk ketiga kapten lain. Mereka saling berpandangan sebelum akhirnya memilih untuk langsung turun tangan. Ketiganya dengan mudah melompat dari kapal mereka menuju kapal adik keempat yang dimana Weng Lou berada di atasnya.
Tangan kapten yang merupakan saudari kembar dari kapten yang Weng Lou bunuh terkepal ketika dirinya dan dua kakaknya tiba di depan Weng Lou yang sama sekali tidak takut dengan mereka bertiga. Malah dia memasang senyuman polosnya pada ketiganya.
"Siapa kau? Dan apa alasan mu datang ke wilayah ini?"
Kakak tertua mereka segera bertanya pada Weng Lou. Dia tampaknya menahan amarahnya, terlepas dari apa yang Weng Lou telah lakukan pada adiknya. Ini adalah wilayah Kepulauan Doulou yang dikuasai bajak laut. Seseorang yang berani macam-macam di perairan ini menandakan dirinya pasti sangat kuat dan memiliki suatu tujuan tertentu.
Dia harus menyampingkan urusan pribadinya karena dia adalah bagian dari para bajak laut yang tinggal di Kepulauan Doulou.
"Hm? Wajah mu terlihat mirip dengan orang itu, apakah kau saudaranya? Ah, tapi dia terlihat jauh lebih mirip dengannya, namun dia adalah perempuan sedangkan orang itu adalah laki-laki," ucap Weng Lou yang menghiraukan pertanyaan dari kapten bajak laut yang bertanya padanya.
Wajah marah dan merah bisa dilihat pada sang kapten, namun dia tetap menahan emosinya. Mau bagaimanapun, dia tau dirinya tidak akan bisa mengalahkan Weng Lou, bahkan jika kedua saudaranya dan seluruh awak kapal bergabung. Dia sangat yakin Weng Lou berada di ranah Penyatuan Jiwa dan hal itu membuat mereka tidak akan bisa melakukan apapun padanya.
Weng Lou menyeringai ketika melihat kapten yang bertanya padanya itu hanya diam di tempatnya dan mengepalkan tangan dengan keras hingga berdarah. Dia sudah cukup menguji orang-orang ini, pikirnya.
"Nama ku Weng Lou, aku datang ke sini untuk melakukan transaksi dengan pemimpin kalian," kata Weng Lou dengan suara tenang.
Mendengarkan jawaban dari Weng Lou membuat kemarahan kapten sebelumnya sedikit berkurang, dia menghela napasnya dan berbicara, "Aku adalah pemimpin Bajak Laut Empat Bersaudara. Transaksi apa yang kau inginkan dari kami?"
"Kau? Pemimpin? Hahaha....jangan bercanda dengan ku. Kau hanya seorang bawahan dari penguasa salah satu pulau di Kepulauan Doulou. Bawa aku menuju ke pemimpin kalian yang sebenarnya, atau akan ku habisi kalian semua saat ini juga," ancam Weng Lou.
Nada bicaranya tampak berbeda. Napsu membunuhnya sedikit dia keluarkan, dan aura membunuh yang tersimpan di tubuhnya melayang-layang di sekitar ketiga kapten tersebut.
Mereka bertiga hanya Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 dan 9. Tekanan yang diberikan Weng Lou kepadanya mereka bertiga membuat mereka merasa seperti sedang dicekik oleh tangan yang tidak terlihat.
Bahkan jika Weng Lou sedikit saja membuat tekanan pada Kekuatan Jiwa nya, bisa dipastikan mereka bertiga akan mengalami luka dalam yang parah atau bahkan mati seketika.
Ya, seperti itulah besarnya perbedaan seorang Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa dengan ranah Penyatuan Jiwa. Bahkan jika dia berada di Pembersihan Jiwa tahap 9 puncak, dia tidak akan bisa apa-apa dengan yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 awal.
__ADS_1
*Buk....Pak.....tuk....*
Ketiga kapten bersaudara itu jatuh berlutut sambil memegangi leher mereka. Wajah mereka pucat pasi karena tidak bisa bernapas sedikitpun. Mata kapten tertua itu menatap Weng Lou dengan enggan, namun dia menoleh ke kedua adiknya yang kondisinya jauh lebih buruk darinya.
Wajah mereka dipenuhi keringat dingin dan mata mereka nyaris putih seutuhnya. Jelas mereka hampir pingsan namun tetap memaksakan diri untuk tetap sadar.
"Ba-Baik!!! Akan ku lakukan!!! Tolong hentikan!!!" Akhirnya sang saudara tertua pun bersedia melakukan apa yang Weng Lou inginkan.
Weng Lou mengangguk puas, aura dan napsu membunuhnya segera ditariknya kembali, membuat ketiga bersaudara itu akhirnya bisa bernapas dengan normal. Kekuatan Jiwa yang dia sebarkan juga ditariknya kembali ke dalam tubuhnya sebelum kemudian dia melompat naik ke kapal uapnya, meninggalkan ketiga kapten bajak laut bersaudara yang masih berusaha memulihkan diri.
"Aku tidak akan memberi kalian banyak waktu. Cepat urus semua tubuh para bajak laut di kapal itu, lalu segera bawa aku ke pemimpin kalian," ucap Weng Lou dari atas kapal uapnya.
Ketiganya mengangguk mengerti. Mereka segera memanggil para awak kapal mereka dari tiga kapal yang lain untuk mengurus tubuh para awak kapal adik keempat mereka. Setelah beberapa saat, semua tubuh mereka pun selesai diurus.
Para awak kapal yang tidak memiliki kerabat atau rekan diantara para bajak laut lain mayatnya dilemparkan ke dalam laut dan menjadi makanan bagi para binatang buas lautan. Sementara mereka yang memiliki teman, atau pun keluarga, mayatnya dimasukkan ke dalam cincin penyimpanan. Untuk adik keempat dari kapten bajak laut bersaudara, mayatnya diurus secara spesial dan di masukkan ke cincin penyimpanan yang belum pernah terpakai. Rencananya tubuhnya akan dimakamkan di daratan.
Beberapa awak kapal yang dimiliki oleh ketiga kapten bajak laut kemudian dipilih untuk mengendalikan kapal milik adik mereka dan mereka semua pun mulai berlayar menuju ke Kepulauan Doulou, dimana markas para bajak laut berada.
Pulau Karang Bintang, salah satu dari 11 pulau utama di Kepulauan Doulou dan dikuasi oleh sebuah kelompok bajak laut yang namanya cukup terkenal di Daratan Utama.
Bajak Laut Karang Hitam, sebuah kelompok bajak laut yang terkenal sangat menakutkan. Bukan karena kekejaman mereka, atau aksi perampokan yang mereka lakukan, akan tetapi kelompok ini memiliki pertahanan kapal yang sangat luar biasa kokoh dan tahan dari segala macam serangan orang-orang yang berusaha mengejar mereka.
Kapten mereka adalah seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 menengah, dan mengkhususkan diri dalam ilmu pertahanan diri. Dengan kepemimpinannya, mereka selalu bisa lolos dari segala macam gempuran musuh-musuh mereka. Bahkan sesama bajak laut segan terhadap mereka.
Ukurannya yang lumayan besar dan terbuat dari logam membuat perhatian beberapa bajak laut di situ teralihkan pada kapal itu. Bentuknya yang bisa dibilang sangat jauh berbeda dari kebanyakan kapal serta tidak adanya layar membuat kapal itu semakin menarik perhatian.
Di dermaga, empat kapten bajak laut bersaudara turun dari kapal mereka masing-masing dan segera diikuti oleh Weng Lou yang sedang menatap dengan penuh minat pada pulau dan orang-orang yang ada di pulau tersebut, serta kapal-kapal yang sedang bersandar di dermaga.
Semua kapal itu terdapat bendera bajak laut yang memiliki beragam bentuk di atasnya. Weng Lou bersiul kagum ketika matanya menatap sebuah kapal bajak laut yang terbuat dari logam sama seperti kapal miliknya. Namun kapal itu terbuat dari seratus persen logam dan ukurannya nyaris dua kali lebih besar dari milik Weng Lou.
Bendera hitam dengan gambar batu karang putih berkibar di atas tiang layarnya.
Ketika dia masih asik memeriksa keseluruhan kapal itu menggunakan Teknik Pembersih Jiwa nya, sosok seorang pria bertubuh besar, tidak, bertubuh sangat besar berjalan keluar dari kapal logam besar itu dan menghadap ke arah Weng Lou serta ketiga kapten bersauda yang bersamanya.
Mata pria itu menyipit menatap Weng Lou dan ketiga kapten bersaudara itu selama beberapa saat, sebelum kemudian menoleh ke belakang dan seperti berbicara kepada seseorang. Dia tampak menganggukkan kepalanya, lalu kembali menghadap ke arah kelompok Weng Lou.
"Bajak laut bersaudara, apa yang kalian inginkan dengan datang hari ini? Kalian memiliki tugas berjaga di pemakaman kapal selama satu minggu sebelum bergantian dengan yang lain, apa ada masalah yang terjadi?" tanya pria besar itu dengan suara yang cukup mengejutkan bagi Weng Lou.
Pasalnya suaranya sangatlah melengking seperti anak perempuan berusia lima sampai tujuh tahun yang sedang berteriak.
__ADS_1
Weng Lou bahkan hampir tertawa, namun dia tidak melakukannya karena baginya ada suara orang yang lebih lucu dari suara pria itu.
Ketiga kapten bersaudara saling tatap satu sama lain. Mereka bingung ingin mengatakan apa pada sang Wakil Kapten dari Bajak Laut Karang Hitam. Sementara mereka bertiga masih ragu, Weng Lou yang berdiri sedikit dibelakang ketiganya pun tanpa ragu segera berjalan maju dan berdiri sambil menatap santai pada pria besar itu.
"Apa kau pemimpin di sini?" tanya Weng Lou dengan santainya.
Tiga kapten yang masih diam itu menjerit dalam hati mereka ketika Weng Lou sudah mendahului mereka bertiga. Orang di depan mereka adalah Wakil Kapten Bajak Laut Karang Hitam, orang yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 puncak. Kekuatannya sendiri sudah cukup untuk menekan semua bajak laut di pulau ini, namun Weng Lou baru saja membuat mereka bertiga ikut masuk dalam mulut singa.
"Hm? Siapa anak ini? Apa dia anak buah kalian yang baru?" tanya pria tersebut dengan wajah tidak senangnya pada ketiga kapten bersaudara.
*Glek....* Ketiganya menelan ludah. Habislah mereka, pikir ketiganya.
"Hei! Pria besar, aku bertanya padamu! Apa kau pemimpin di sini? Kenapa kau menghiraukan ku?"
Weng Lou melambai dan memanggil sang Wakil Kapten Bajak Laut Karang Hitam tersebut. Tatapan sang wakil kapten itu kembali terarah pada Weng Lou. Dia melangkah maju dan dengan mudah melompat turun dari kapal dan mendarat tepat di depan Weng Lou. Cahaya matahari langsung terhalang karena besar tubuhnya dan Weng Lou harus mengarah ke atas untuk bisa melihat wajahnya.
Bisa dia bilang, pria ini adalah manusia terbesar dan tertinggi yang pernah dia temui. Jelas sekali dia bukan manusia normal hanya melihat dari besar tubuhnya, pria ini pasti semacam keturunan campuran atau memiliki sesuatu seperti garis darah keturunan di dalam dirinya.
"Bocah, aku bukan pemimpin di sini, tapi aku adalah orang yang bergerak atas nama pemimpin di tempat ini. Tiap hal yang kulakukan adalah perintah dari Kapten ku, pemimpin Bajak Laut Karang Hitam. Anak kecil seperti mu yang sama sekali tidak tau sopan santun adalah yang paling dibenci olehnya. Katakan darimana asalmu dan aku akan memberikan kematian yang sedikit menyakitkan padamu," ucap pria besar itu pada Weng Lou. Tentu saja, dia mengatakan semua itu dengan suara melengkingnya dan membuat dahi Weng Lou mengerut karena telinganya merasa sakit mendengarkan suara pria itu dari dekat.
"Jika kau bukan pemimpin di sini, maka menyingkirlah, aku tidak memiliki urusan dengan bawahan seperti mu."
"Hmp! Bocah sombong, biar kulihat apa mulutmu itu sebesar kemampuan mu!"
Tangan pria itu terkepal erat, otot-otot nya mengencang saat kemudian dia memukul ke arah Weng Lou. Weng Lou tidak menghindari pukulan itu, dia malah tersenyum mengejek dan ikut mengepalkan tangannya dan memukul juga.
*BAM!!!*
Kedua tinju beradu, dan ekspresi keduanya tampak sama-sama terkejut, terutama pria besar yang merupakan wakil kapten Bajak Laut Karang Hitam. Dia tidak percaya bahwa kekuatannya dan Weng Lou seimbang, dan bahkan dia tidak mampu mendorong lebih jauh pukulannya yang sedang beradu dengan Weng Lou.
"Jadi bukan tubuh nya saja yang besar, huh? Tidak ku sangka ada garis darah yang memiliki kekuatan fisik seperti ini. Memang layak dengan namanya, Bajak Laut Karang Hitam. Kokoh dan sangat kuat," pikir Weng Lou.
"Hei, aku menyukaimu. Jadilah bawahan ku," ucap Weng Lou secara terang-terangan pada lawannya itu.
Ketika pria besar itu ingin menjawab Weng Lou, seseorang sudah lebih dulu memotongnya dan menunjukkan dirinya di atas kapal Bajak Laut Karang Hitam.
"Bukankah tidak sopan menginginkan bawahan orang lain tanpa bertanya terlebih dulu pada pemimpinnya? Akan ku hiraukan permintaan mu itu jika kau mau datang ke sini dan minum dengan ku."
Orang itu adalah seorang pria berusia tiga puluhan dan tampak biasa saja. Penampilannya tidak seperti seorang bajak laut dan dia mengenakan pakaian seperti seseorang yang berasal dari suatu sekte atau perguruan beladiri. Namun penampilannya yang biasa saja tidak bisa menutupi aura yang dipancarkannya terutama gelombang Qi dan Kekuatan Jiwa yang terpancar darinya.
__ADS_1
Weng Lou menyeringai. Dia menambah sedikit kekuatan lagi pada pukulannya, dan seketika membuat pria besar yang sedang beradu tinju dengannya itu terlempar ke belakang sejauh lima meter.
Tanpa mempedulikan pria besar itu lagi, Weng Lou segera melompat naik ke atas kapal Bajak Laut Karang Hitam tersebut dan berjalan masuk bersama pria itu yang tidak lain adalah sang Kapten dari Bajak Laut Karang Hitam.