Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 458. Serangan Penentuan! Unsur Angin Melawan Unsur Petir!


__ADS_3

"Ledakan Petiirrr!!!"


CTAARRRR!!!! BUUUMMMMM!!!!!!


Teriakan dari Wudi Ge disusul dengan petir dalam jumlah besar yang menggelegar dari tubuhnya dan menghantam seisi bagian arena yang ada di dalam kubah pembatas ciptaan Zu Zhang.


Petir-petir itu menghantam segala yang ada di sekitar Wudi Ge, bahkan Zu Zhang yang sedang menonton dari atas arena pun ikut jadi sasaran amukan petir-petir tersebut.


Namun meski begitu, Zu Zhang sama sekali tidak menghiraukannya dan membiarkan petir-petir itu menyambar dirinya.


Di sisi lain, Weng Lou yang sedang berhadapan dengan Wudi Ge harus menghindar dari semua petir yang bergerak ke arahnya


Pernapasan Keempat membuatnya mampu menggabungkan semua kemampuan dari pernapasan pertama, kedua, dan juga ketiga. Oleh sebab itu, bisa dilihat Weng Lou mampu bergerak berkali-kali lebih cepat dari sebelumnya, dan dengan mudahnya menghindari petir-petir milik Wudi Ge, bahkan dengan kondisi arena yang hancur lebur dihantam petinya.


Inilah kehebatan dari pernapasan keempat yang telah dikembangkannya selama ini.


Tapi, setiap kekuatan hebat pasti memiliki kekurangan, begitu juga dengan pernapasan keempat nya ini. Weng Lou tidak bisa memakainya terlalu lama karena sangat membebani tubuhnya. Pernapasan Keempat membuat segala organ tubuh miliknya bekerja semaksimal mungkin pada waktu bersamaan, inilah yang membuatnya tidak bisa berlama-lama menggunakan teknik ini.


Selang sepuluh detik sejak petir-petir menyambar keluar dari tubuh Wudi Ge, gerakan Weng Lou terasa mulai melambat seiring waktu. Urat-urat nadi yang muncul di seluruh tubuhnya juga secara perlahan mulai menghilang.


"Kau sudah mencapai batas mu, berhenti menggunakan teknik pernapasan itu!" seru Ye Lao yang melihat Weng Lou tetap berlari meski pernapasan keempat nya sudah pada batasnya.


"Cih! Petir-petir ini sangat menggangu sekali!" Weng Lou berbicara dengan suara jengkel.


Dia mendadak berhenti berlari dan kemudian menyentuh keningnya. Cahaya kehijauan pun keluar dari keningnya yang mana disusul dengan hembusan angin kencang di sekitarnya.


"Perubahan Unsur Angin!" Weng Lou berseru dengan suara serius, namun sambil memasang senyumnya.


SHUU-


Whuuuussshhhh!!!!


Angin kencang berputar dengan luar biasa di sekitar Weng Lou. Bersamaan dengan itu, petir-petir milik Wudi Ge yang mengejar Weng Lou sebelumnya, dengan keras menghantam angin kencang yang mengelilingi tubuh Weng Lou itu.


Begitu petir-petir itu menghantam angin kencang tersebut, kekuatannya pun melemah hingga akhirnya menghilang begitu saja.


Tapi, tidak hantaman petir tidak berhenti di situ begitu saja. Lebih dari sepuluh petir lainnya dengan ganas menghantam angin kencang yang telah mengelilingi Weng Lou.


Weng Lou yang ada di dalam angin kencang tersebut tertawa pelan dan menghela napas panjang.


"Angin menang melawan petir. Ini adalah salah satu hukum unsur yang harus kau ingat dengan baik, Wudi Ge!!!" seru Weng Lou.


Selang dua puluh detik kemudian, petir-petir yang sebelumnya keluar dari tubuh Wudi Ge akhirnya menghilang.


Terlihat di tengah arena, sosok Wudi Ge berdiri dengan kokoh dan menatap Weng Lou yang telah menghilangkan angin kencang yang sebelumnya menutupi tubuhnya.

__ADS_1


Napas keduanya sedikit tersengal-sengal, sementara sosok Zu Zhang yang terlihat tidak terluka sama sekali setelah dihantam lebih dari dua puluh petir dari tubuh Wudi Ge menonton mereka berdua.


"Sudah akan berakhir kah?" gumamnya dengan pelan.


Tap....


Weng Lou melangkahkan kakinya dan berjalan mendekati Wudi Ge. Angin bertiup di sekelilingnya seakan sedang mengiringinya.


Mata Wudi Ge sedikit menyipit melihat angin-angin itu sebelum akhirnya menatap sosok Weng Lou dengan wajah serius.


"Kau bukan Praktisi Beladiri yang memiliki Qi berunsur, bagaimana caramu merubah Qi menjadi unsur angin?" tanya nya dengan wajah serius.


"Setiap orang memiliki rahasianya sendiri, Wudi Ge. Bahkan ibumu juga pasti memiliki rahasia yang ditutupinya darimu," balas Weng Lou dengan santai.


Wudi Ge menarik napasnya dengan pelan, lalu membuangnya perlahan.


Tangannya terkepal, dan petir-petir kecil mulai keluar dari tubuhnya. Dia mengangkat kakinya, lalu mulai melangkah maju ke arah Weng Lou sama seperti yang Weng Lou lakukan.


Mereka berdua dalam diam berjalan mendekat ke arah satu sama lain.


Semakin mendekati Wudi Ge, angin di sekitar Weng Lou semakin berhembus kencang, begitu juga dengan sebaliknya. Petir-petir kecil yang sebelumnya keluar dari dirinya mulai tampak semakin banyak, dan perlahan berubah menjadi petir-petir yang berukuran besar seperti sebelumnya.


CTAARRR!!!!


Sshuuu.....


Pssshhh!!!!


Bilah-bilah angin berterbangan di udara, dan melesat ke segala arah. Petir-petir milik Wudi Ge menghilang satu persatu terkena bilah-bilah angin tersebut.


Tepat ketika jarak keduanya tinggal 5 meter saja, Weng Lou berhenti melangkah dan kemudian mengeluarkan hampir setengah Qi miliknya yang kemudian merubahnya menjadi unsur angin yang kemudian dengan kontrolnya dia kendalikan untuk berputar di sekitarnya.


Di sisi lain, Wudi Ge juga ikut berhenti melangkah, dan dia pun mengerahkan semua Qi yang tersisa di dalam tubuhnya lalu kemudian merubahnya menjadi petir yang terkumpul di tubuhnya.


Berbeda dengan Weng Lou yang memiliki Qi tanpa unsur, Wudi Ge memiliki Qi dalam jumlah terbatas, dia tidak bisa seenaknya menyerap Tenaga Dalam yang ada di lingkungan sekitarnya dan mengubahnya menjadi Qi miliknya. Hanya mereka yang terlahir dengan Dantian tanpa unsur yang bisa melakukan hal itu.


Oleh sebab itu, pada saat ini, Wudi Ge akan memberikan semua yang ia punya dalam satu serangan terakhirnya. Dia tidak berharap terlalu besar untuk bisa menang, karena sejauh pertarungan ini berlangsung Weng Lou bahkan belum bertarung dengan benar-benar serius, pikirnya.


Jika ada orang yang pantas disebut Pemuda Terkuat di seluruh Pulau Pasir Hitam, maka Weng Lou lah yang cocok menyandang sebutan tersebut. Itulah yang Wudi Ge yakini saat ini. Matanya kini terbuka lebar, bahwa lawan yang telah ia hadapi selama ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Weng Lou. Bahkan dia yakin bahwa Weng Lou jauh lebih kuat dari Yang Guang.


Namun pada saat ini, dia hanya ingin memberikan semua yang ia punya dalam pertarungan nya melawab Weng Lou. Kekalahan ataupun kemanangan tidak lagi ia pikirkan.


"HAAAA!!!!! LOUUU!!!!"


Wudi Ge berteriak nyaring dan petir yang ada di seluruh tubuhnya kemudian dia kumpulkan pada tangan kanannya.

__ADS_1


Dirinya pun segera melompat sekuat tenaga ke arah Weng Lou dan bersiap memberikan serangan terakhirnya.


Sementara itu, Weng Lou yang masih berdiri di tempatnya menatap dalam-dalam Wudi Ge yang sedang mengarah padanya. Dia menarik napas pelan, dan kemudian angin yang ada di sekitarnya mulai ikut dia kumpulkan pada tangan kirinya.


PSSSSHHHH......


Angin yang berputar dengan kecepatan luar biasa itu mulai menyelimuti tangan kiri Weng Lou, dan detik berikutnya Weng Lou sudah ikut melesat ke arah Wudi Ge.


Keduanya dengan semangat bertarung di dalam diri mereka, berusaha mendominasi satu sama lain. Tepat ketika mereka berjarak dua meter, Wudi Ge mengepalkan tangannya dan meninju ke arah Weng Lou.


Weng Lou yang melihat itupun membuka telapak tangan kirinya, lalu mendorongnya ke arah pukulan Wudi Ge tersebut.


""HOOAAAAA!!!!!""


Ssssyyttt- CTAARRRR!!!!!


Whuuuussshhhh!!!!!


Suara ledakan besar dan angin kencang berhembus, membuat arena yang berada di dalam kubah menjadi porak-poranda.


Di tengah ledakan tersebut, dua sosok pemuda saling beradu kekuatan mereka satu sama lain.


Selang beberapa saat kemudian, pemenang dari pertarungan tersebut pun bisa terlihat. Sosok Wudi Ge yang sedang memberikan tinjunya, sedikit demi sedikit dirinya terdorong mundur.


Sementara Weng Lou yang memberikan serangan tapaknya, berdiri kokoh dan terus mendorong tangannya.


"Kau adalah kawan yang tangguh, Wudi Ge! Aku mengakui mu sebagai lawanku!" seru Weng Lou.


Wudi Ge yang mendengarnya pun tersentak kaget dan tertawa pelan, ''Hahahaha.....jika ada lain kesempatan, aku ingin kita bertarung sekali lagi seperti saat ini...."


"Tentu! Kau bisa mengunjungi ku kapan saja di Sekte Langit Utara! Aku akan melayani mu jika kau ingin menantangku bertarung!"


Selesai percakapan singkat tersebut, tubuh Wudi Ge pun akhirnya terhempas mundur dan kemudian menabrak kubah pembatas.


Angin kencang dari telapak tangan kiri Weng Lou terus mendorong tubuhnya selama beberapa saat, hingga tubuhnya pun kembali seperti sebelumnya.


Melihat tubuh Wudi Ge yang telah berubah normal kembali, Weng Lou pun menarik kembali tangan kirinya, dan angin kencang yang menghempaskan tubuh Wudi Ge pun menghilang.


Buck....


Tubuh Wudi Ge terjatuh ke tanah, dan terlihat tidak sadarkan diri. Sementara itu, Weng Lou masih diam berdiri di tempatnya, dan menoleh ke arah Zu Zhang yang ada di atasnya.


Zu Zhang terlihat tersenyum kecil melihat akhir dari pertarungan keduanya itu lalu kemudian mengumumkan pemenang dari pertarungan itu.


"Pemenang, pertarungan keempat, Lou!"

__ADS_1


__ADS_2