Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 578. Hiu Darah


__ADS_3

Hiu, binatang laut yang selalu berada di puncak rantai makanan di lautan. Ketika menjadi seekor binatang buas, hiu bisa memiliki beragam jenisnya tergantung lingkungan dan bagaimana cara pertumbuhannya.


Hiu Putih Darah, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hiu Darah adalah spesies hiu yang beraktivitas di malam hari dan selalu bergerak dengan kawanan besarnya. Kekuatan rata-rata seekor Hiu Darah adalah ranah Pembersihan Jiwa tahap 8 dan tahap 9. Pemimpin kawanan biasanya berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1.


Ketika mereka berburu mangsa, mereka akan menyebabkan gelombang besar dilautan karena besarnya tubuh mereka. Sering kali kapal manusia menjadi korban keganasan mereka. Seperti saat ini, sebuah pusaran laut yang berada tepat di depan kapal uap kelompok Weng Lou terus berputar cepat dan menarik mereka ke dalamnya.


Para hiu di dalamnya jelas menyadari kapal mereka, sehingga pusaran itu menjadi semakin dan semakin besar, hingga akhirnya kapal mereka pun mulai masuk dalam radius pusaran air tersebut. Weng Lou hanya bisa mendecakkan lidahnya menyaksikan hal itu. Dia sudah tau mereka akan menghadapi kawanan hiu ini, namun dia tidak tau bahwa hiu ini bisa sangat pintar meski bergerak secara sekawanan besar.


"Li, atur mesin kapal dan kemudi. Yang lain, berikan bahan bakar lebih banyak, kita harus keluar dari pusaran ini, apapun yang terjadi," ucap Weng Lou pada awak kapalnya.


Seorang awak kapal yang ada di ruangan kendali mengangguk dan buru-buru memegang kemudi kapal. Awak kapal yang ada di dalam lambung segera melakukan perintah Weng Lou. Mereka membuka semua drum batu baru dan segera memasukkan sedikit demi sedikit batu bara ke dalam dalam tungku.


Asap mengepul di atas kapal dan mulai melaju lebih cepat. Umumnya, para pelaut akan membalikkan layar agar kapal bisa keluar dari pusaran, namun Weng Lou tidak ingin melakukan hal seperti itu. Dia memiliki caranya sendiri dalam mengatasi masalahnya.


*Shu...*


Dengan ringan kakinya berdiri di bagian ujung depan kapal dan memegang kedua pedang kembarnya yg sekarang sedang dalam mode busur.


"Kalian sekawanan ikan kecil, kalian beruntung karena memiliki Kristal Darah pada diri kalian," ucap Weng Lou yang mengambil sebuah anak panah dari Kalung Spasial nya dan mulai menarik busurnya.


Kristal Darah merupakan sebuah bahan mineral yang berguna untuk pembuatan obat pembersih darah. Biasanya kristal ini bisa di dapat dari tempat-tempat yang memiliki aura kematian sangat besar. Kristal ini tercipta dari menyerap darah dalam jumlah besar sehingga disebut sebagai kristal darah.


Hiu Darah sendiri, memiliki sesuatu seperti kristal yang menjadi sirip di atas tubuh mereka. Kristal ini terbentuk dari darah santapan Hiu Darah selama berburu dan terus membesar seiring semakin banyaknya mangsa yang mereka bunuh.


Fungsinya juga sedikit berbeda dengan Kristal Darah yang biasa. Kristal ini lebih cocok untuk pembentukan tulang dan membantu membentuk otot seseorang. Di mata Weng Lou, kawanan Hiu Darah di depannya ini hanyalah setumpuk bahan mineral langka saja.


"Seandainya waktu itu aku bisa menggunakan Kalung Spasial, tubuh binatang buas lautan yang sudah kubunuh pasti akan ku bawa. Tapi sekarang aku sudah bisa menggunakannya kembali, kalian semua tidak akan kubiarkan tersisa sedikit pun!" seru Weng Lou yang kemudian melepaskan panahnya dan melesat ke arah bagian tengah pusaran.


Kekuatan Jiwa terpancar dari anak panah yang ditembakkannya itu. Ketika mencapai bagian tengah pusaran, anak panah itu langsung meledak dan menyebabkan kekacauan pada kawanan Hiu Darah yang sedang berenang di dalam air.


Beberapa hiu terkena ledakan itu dan terluka parah, beberapa yang beruntung tampak tidak terluka sedikitpun, sementara yang berada tepat di tengah pusaran, mereka semua telah mati.


Mata Weng Lou berkilau saat melihat beberapa tubuh mengambang dari beberapa hiu di dekat tengah pusaran itu. Dia segera terbang dan pergi ke tengah pusaran tersebut sambil memegang erat busurnya.


Melihat kedatangan Weng Lou, beberapa hiu segera melompat ke permukaan, hendak menerkam Weng Lou. Akan tetapi yang sebaliknya malah terjadi, busur Weng Lou berubah menjadi dua pedang kembar yang kemudian segera melesat cepat menembus kepala hiu-hiu itu.


Hiu-hiu yang melompat ke udara itu mati seketika, dan tangan Weng Lou langsung diayunkan dan memasukkan tubuh mereka ke dalam Kalung Spasial nya. Dia tidak berhenti di situ, ketika dia sudah sampai di tengah pusaran. Hiu-hiu yang lain menatapnya dengan tatapan marah sambil menunjukkan gigi-gigi tajam mereka padanya. Namun tidak ada yang berani menyerang karena sebuah suara telah memerintahkan mereka untuk tidak melakukannya.


"Manusia, aku baru pertama kali melihatmu. Kenapa kau membunuh anak-anak ku?"

__ADS_1


Dari tengah pusaran, sebuah kepala hiu yang sangat besar terlihat dari dalam lautan dan menatap tajam ke arah Weng Lou. Aura yang dikeluarkan nya menunjukkan dia memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa. Napsu membunuh yang dipancarkannya membuat Weng Lou menyeringai.


"Kalian mencoba menenggelamkan kapal ku, jadi aku hanya melakukan tindakan balasan," ucap Weng Lou dengan santai. Kedua pedang kembarnya melayang di samping kiri dan kanannya.


Cahaya terpancar di mata pemimpin kawanan hiu tersebut. Dia menoleh ke arah kapal uap Weng Lou yang tampak sedang berlayar lurus, tanpa terpengaruh oleh daya tarik dari pusaran yang dibuat oleh mereka.


"Chizi Ryuan sudah membuat kesepakatan dengan ku, aku bebas memakan kapal siapa saja yang berani melewati perairan ini. Mereka harus menunjukkan segel kekaisaran jika ingin pergi dengan selamat." Hiu itu berbicara.


Alis Weng Lou terangkat. Jadi begitu cara Chizi Ryuan mencegah kedatangan penyusup dan mencegah orang-orang nya kabur dari wilayah kekaisaran. Sepertinya beberapa binatang buas lautan di seluruh perbatasan sudah memilih tunduk padanya agar kehidupan mereka bisa terjamin.


"Sayangnya, Chizi Ryuan sudah mati. Segala kesepakatan yang telah dibuatnya kini dibatalkan," ujar Weng Lou dengan entengnya.


"Sudah mati? Kau jangan bercanda, dia adalah manusia yang sangat kuat. Meski aku membencinya, kekuatannya adalah nyata. Tidak mungkin ada yang bisa membunuhnya!" Hiu itu tampak tidak percaya dengan yang dikatakan oleh Weng Lou.


Weng Lou tidak peduli apakah hiu itu percaya atau tidak, dia tidak peduli. Hiu Darah itu adalah incarannya jadi informasi mengenai Chizi Ryuan tidak ada gunanya karena memang dia tidak berusaha menghindari pertarungan dengan mereka.


"Percaya atau tidak, aku tetap akan membunuh kalian. Jangan menyalahkan takdir, salahkan Kristal Darah yang ada dipunggung kalian itu."


Weng Lou menjentikkan jarinya, kedua pedangnya pun segera melesat dan masuk ke dalam laut. Dengan kecepatan tinggi, keduanya meluncur dan membasmi satu persatu kawanan hiu itu, sementara pemimpin mereka terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Weng Lou.


"Manusia sialan! Kau cari mati!!!"


"Ingin beradu kekuatan, huh?! Kau memilih orang yang salah!" Weng Lou berseru nyaring.


Dia segera melesat ke arah pemimpin hiu itu dengan tangan terkepal, sementara hiu itu sudah tidak peduli apapun dan ikut menyerang Weng Lou secara langsung.


Dia membuka mulutnya lebar dan memperlihatkan gigi-giginya yang tajam dan panjang. Mulut itu sangat besar hingga Bangkan bisa menelan kapal uap Weng Lou utuh, namun Weng Lou tidak peduli akan hal seperti itu. Tubuhnya melesat, dia berbelok ke bawah dan memukul hiu itu ke atas, sehingga tubuhnya langsung terangkat dari air.


"Mencoba mencari keuntungan dengan membuatku berada di atas air? Huh, lucu sekali! Sayangnya kau tidak tau apa-apa tentang Hiu Darah! Kami mampu terbang untuk sementara di udara!!"


Entah bagaimana caranya, hiu besar itu berenang layaknya di air di udara, bahkan mulut Weng Lou terbuka lebar menyaksikannya. Dia seperti sedang bermimpi. Ikan dengan berat ratusan ton itu mampu terbang di udara bahkan tanpa sayap sekalipun.


Hiu itu segera bergerak ke arah kapal uap kelompok Weng Lou yang berada di bagian pinggir pusaran air, meninggalkan Weng Lou sendiri di tengah pusaran air. Weng Lou mendecakkan lidahnya, dia sudah menduga akan berakhir seperti ini dan buru-buru terbang kembali ke atas, akan tetapi segera dihalau oleh puluhan Hiu Darah yang berada di dalam pusaran air.


Mereka satu persatu berlompatan ke luar dari air dan mencoba mengalihkan perhatian Weng Lou, namun mereka hanya menjadi sasaran empuk dari kedua pedang kembar Weng Lou yang melesat dengan cepat menghabisi mereka satu persatu.


Mengendalikan pedang di bawah kakinya, Weng Lou pun terbang sangat cepat menuju kembali ke kapalnya, sambil sesekali mengayunkan tangan kanan nya, mengambil tubuh para Hiu Darah yang sudah dia habisi. Ketika dia sudah sampai, pemimpin Hiu Darah itu telah membuka mulutnya dan bersiap menelan kapal uap mereka.


Saat itu lah, Kera Hitam Petarung keluar dari dalam lambung kapal dan segera meloncat ke arah hiu tersebut.

__ADS_1


"Kau tidak akan makan apapun hari ini, ikan kecil!!!"


*BAM!!!*


Pukulan telak dilayangkan oleh Kera Hitam Petarung dan membuat Hiu Darah yang terbang di udara itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke bawah, tepat ke arah Weng Lou.


"Potong!!!" Tangan kanan Weng Lou terayun, kedua pedangnya segera saling menyatu dan kemudian berputar cepat ke arah hiu tersebut.


*SRINGGG!!!!!* Hiu itu terbelah menjadi dua begitu kedua pedangnya melewatinya. Weng Lou menyeringai menatap tubuh hiu besar itu, dan dia pun segera mengayunkan tangannya. Seketika itu juga, tubuh hiu tersebut menghilang di udara dan masuk ke Kalung Spasial nya.


*Bdum....* Tubuh Kera Hitam mendarat di atas kapal bersamaan dengan Weng Lou. Keduanya saling menatap satu sama lain. Kekuatan yang terpancar dari Kera Hitam Petarung tampak berbeda dan membuat Weng Lou mengangguk puas.


Di dalam cincin penyimpanan milik Chizi Ryuan, dia mendapatkan banyak sekali sumber daya latihan. Ada yang berguna baginya, ada juga yang tidak terlalu berguna seperti beberapa tubuh binatang buas, entah itu binatang buas di darat, atau pun lautan yang pernah dibunuh oleh Chizi Ryuan. Tubuh mereka Weng Lou berikan pada Kera Hitam Petarung untuk membantunya menaikkan tingkat kekuatan nya.


Dari penjelasan Kera Hitam Petarung, seekor binatang buas bisa naik tingkat dengan cepat dengan cara memakan tubuh binatang buas yang lebih kuat darinya. Hal ini tidak bisa dijelaskan secara teori, namun telah terbukti ampuh. Sebelum mereka berangkat, Weng Lou memberikan sebuah tubuh Tikus Petir kepada Kera Hitam Petarung dan dia selama berjam-jam telah tertidur untuk menyerap kekuatan dari tubuh tikus itu.


Sekarang, kekuatan Kera Hitam Petarung sudah naik ke ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 awal, dan jika dibandingkan dengan Praktisi Beladiri, kekuatannya bisa menyamai 5 orang dengan kekuatan praktik yang sama, atau seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 menengah.


"Sepertinya memberikan mu tubuh tikus itu adalah pilihan yang tepat," ucap Weng Lou dengan santai.


"Kau berikan lagi tubuh binatang menjijikkan itu, akan ku lempar kau ke tengah laut." Kera Hitam Petarung mendengus jengkel.


Mau sekuat apapun Tikus Petir itu, tikus tetaplah tikus. Rasa mereka sama seperti kotoran bagi Kera Hitam Petarung. Dia bersumpah tidak akan pernah lagi memakan tikus menjijikan itu, walau diberi sepuluh ekor oleh Weng Lou.


"Hahaha....ya, hanya tikus itu yang kekuatannya sedikit di atas mu, sisa tubuh yang lain jauh terlalu tinggi untuk kau cerna." Weng Lou memberi alasannya. Kera Hitam Petarung tidak peduli dengan alasan Weng Lou, dia memilih masuk kembali ke dalam kapal, sementara Weng Lou tetap berada di dek sambil melihat ke pusaran air yang mulai menghilang.


Sisa Hiu Darah yang tidak dibunuh oleh nya dengan cepat membubarkan diri dan berpencar di lautan. Mereka takut Weng Lou datang dan menghabisi mereka satu persatu oleh sebab itu mereka menyerah untuk menenggelamkan kapal uap Weng Lou setelah pemimpin kawanan mereka terbunuh.


"Sayang sekali, padahal harga mereka sangat mahal di pasaran. Ya mau bagaimana lagi, aku juga tidak boleh terlalu serakah."


Jika ada orang dekat Weng Lou yang mendengarkan perkataannya, mungkin Weng Lou sudah dibuang ke tengah laut karena sangat tidak tau malu. Lebih dari setengah kawanan Hiu Darah dia habisi, dan dia bilang dirinya tidak boleh serakah, omong kosong sekali.


"Li, belok ke kiri empat puluh derajat!" Weng Lou berseru ke arah ruang kendali.


Awak kapal yang dia tugaskan itu segera melakukan seperti yang dikatakannya dan membelokkan kapal empat puluh derajat.


"Malam masih panjang, jadi sebaiknya kalian semua beristirahat. Kita tidak tau bahaya apa lagi yang akan. kita temui setelah ini!" Suara Weng Lou bergema di seluruh kapal. Semua awak kapal Weng Lou mendengarkan dan segera kembali ke kamar mereka.


"Jika kecepatan ini kami pertahankan, setidaknya dalam satu minggu kami harus mencapai wilayah Kepulauan Doulou. Semoga informasi yang dimiliki Chizi Ryuan itu benar, mengenai mereka adalah wilayah kelompok bajak laut di Daratan Utama."

__ADS_1


__ADS_2