
Waktu berlalu dengan cepat. Kini Weng Lou dan yang lainnya telah tinggal di kediaman Keluarga Lin selama dua minggu.
Selama dua minggu ini, Weng Lou tidak menginjakkan kaki di luar istana dan hanya akan berada di kamarnya atau pun taman di lantai atas. Dalam dua minggu itu, Weng Lou telah melatih Kekuatan Jiwanya dan mendapatkan perkembangan sebanyak lima persen. Bukan jumlah yang besar, tapi setidaknya dia berhasil menambah jumlah Kekuatan Jiwa nya tanpa harus meningkatkan tingkat praktiknya.
Dalam dua minggu itu juga, Du Zhe menerima latihan tanpa henti dari Weng Lou, dan hanya akan berhenti untuk istirahat malam saja.
Dalam waktu itu juga, Weng Ying Luan telah menemui Weng Lou beberapa kali, namun tidak pernah lama. Dia selalu beralasan bahwa dirinya sedang melakukan sesuatu yang sangat luar biasa dan akan buru-buru pergi jika Weng Lou bergerak sedikit saja dari tempatnya.
Dia takut Weng Lou masih akan memberikannya beberapa pukulan.
Pada saat ini, di taman di atas istana.
Du Zhe menendang ke udara dan mengenai sebuah batu besar seukuran tubuhnya yang dilemparkan padanya.
*DBUM!*
Suara ledakan teredam bisa terdengar. Batu besar itu terhenti di udara, lalu terjun ke tanah ketika kehilangan kekuatan dorongan lebih jauh. Menyebabkan lantai tempat Du Zhe berdiri bergetar pelan.
"Haaaah....."
Du Zhe menghela napas panjang. Tubuhnya ditutupi oleh keringat ketika dia berdiri di tempatnya.
"Bagus, kau berhasil menghentikan batu itu tanpa merusaknya sedikitpun. Sepertinya pelatihan mu membuahkan hasil yang cukup memuaskan," puji Weng Lou yang duduk tidak jauh dari tempat Du Zhe latihan.
Angin bertiup dan menerpa tubuh Du Zhe dan batu besar yang dia hentikan sebelumnya. Setelah angin menghilang, sebuah retakan muncul di bagian sisi batu yang telah ditendang oleh Du Zhe.
Dahi Du Zhe mengerut melihatnya dan dia menghela napasnya sekali lagi. Sudah kesekian kalinya dia gagal dalam 'latihan kontrol kekuatan' ini dan dia tampan sedikit tertekan karenanya.
"Hahahaha.....kau masih gagal lagi, Du Zhe. Kita tidak akan mengakhiri latihan ini dan masuk ke latihan selanjutnya sampai kau berhasil menahan gerakan batu itu tanpa membuat kerusakan sedikitpun padanya." Weng Lou memejamkan kedua matanya dan membiarkan Du Zhe memikirkan sendiri apa yang harus dia lakukan untuk berhenti merusak batu itu.
"Aku tidak bisa terus-terusan seperti yang ini. Aku harus memikirkan caranya......hmmmm....."
__ADS_1
Tatapan Du Zhe terarah pada batu di depannya. Sambil menatap bekas retakan yang tercipta pada batu itu, dia memutar otak, memikirkan cara bagaimana agar batu itu tidak rusak ketika dia tendang.
"Aku sudah melakukan latihan ini sejak pagi, dan sampai saat ini aku telah menendang sekitar lebih dari tiga puluh batu, dan semuanya mengalami kerusakan. Sekitar dua puluh batu mengalami kerusakan seperempatnya. Ada sepuluh batu yang rusak tidak lebih dari sepuluh persennya, sedangkan sisanya hanya memiliki beberapa keretakan saja.
Batu terakhir ini hanya memiliki retakan halus yang ada di permukaannya. Hasil ini kudapatkan setelah meminimalisir kekuatan tendangan ku sedemikian rupa hingga bahkan hampir tidak cukup untuk menahan pergerakan batu. Jika aku mau membuat batu berhenti namun tidak merusaknya, maka satu-satunya cara adalah dengan mengurangi lagi kekuatan yang kuberikan."
Du Zhe berada dalam perenungannya. Dia terus memikirkan cara yang paling tepat untuk membuat batu berhenti tanpa merusaknya.
"Guru mengatakan aku harus menghentikannya dengan satu tendangan tanpa merusak batu. Jika kaki ku terdorong mundur sedikit saja setelah mengalami kontak dengan batu, maka itu tidak akan dihitung sebagai berhasil."
Baru kali ini Du Zhe mencurahkan segala pikirannya dalam melatih kekuatan fisiknya. Dia kagum Weng Lou memiliki pikiran untuk membuatkan latihan seperti ini padanya. Perasaan bangga sebagai murid Weng Lou pun membuat tekadnya semakin bertumbuh.
Weng Lou telah membuatkan latihan ini untuknya, jadi seharusnya dia percaya bahwa Du Zhe bisa melakukannya. Jika dia tidak bisa, maka Weng Lou pasti merasa kecewa dan berekspetasi tinggi padanya. Begitulah pemikiran Du Zhe.
"Tidak, pikirkan baik-baik Du Zhe! Kau adalah murid seorang pahlawan! Jika begini saja kau tidak bisa, maka kau tidak akan layak menjadi murid Guru!"
Sementara Du Zhe larut dalam pikirannya, Weng Lou tidak jauh darinya menatap sejenak padanya dan tersenyum tipis. Dia hanya menatapnya sejenak sebelum kemudian mulai bermeditasi. Dia akan membiarkan Du Zhe memikirkan sendiri jawaban yang sedang dia cari.
Terkadang, terobosan seseorang bisa didapatkan dengan mengalami pencerahan seorang diri. Jika Du Zhe bisa mendapatkan pencerahannya sendiri, maka jalan beladirinya akan terbuka lebar di masa depan dan pencapaiannya tidak akan terbatas.
Biasanya, suara dari Du Zhe yang berlatih beladiri akan terdengar tiap beberapa saat, namun saat ini dia sedang larut dalam pikirannya, sehingga menciptakan keheningan yang cukup aneh. Terlebih karena Weng Lou yang juga memilih diam tanpa bersuara, membuat keheningan itu terasa berbeda.
Setelah beberapa waktu, Weng Lou tiba-tiba membuka matanya dan menoleh ke satu arah di langit.
Dia bisa melihat sebuah titik hitam yang bergerak sangat cepat ke arah mereka saat ini. Menoleh pada Du Zhe yang masih berada dalam saat-saat penting pencerahan, dia pun memutuskan untuk beranjak dari situ, membiarkan Du Zhe sendiri dan tanpa merasakan gangguan selama dia mencari pencerahan.
Weng Lou terbang ke arah titik hitam itu, yang ternyata adalah perempuan yang sama dengan yang mendatanginya dua minggu lalu untu memberikan pesan dari Lin Nushen.
Kedatangannya saat ini membuat Weng Lou mulai bertanya-tanya, apakah Lin Nushen akhirnya ingin menemuinya kembali.
Hampir dalam sekejap mata setelah Weng Lou naik ke atas, sosok perempuan itu juga tiba dan berhenti tepat di depan Weng Lou. Keduanya saling berhadapan satu sama lain. Weng Lou memperhatikan perempuan itu, namun tidak berani menatap pada tubuhnya, dia takut akan secara tanpa sengaja menyinggung perempuan itu lagi seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Kau sepertinya menikmati tinggal di tempat ini, yah?" tanya perempuan itu.
Weng Lou berkedip. Bahkan tanpa mencari masalah, perempuan ini memang akan mempermasalahkan segala hal yang menyangkut dirinya.
Untungnya Weng Lou bukanlah orang yang akan marah hanya karena kata-kata tak berarti seperti itu.
"Aku mewakili rekan-rekan ku yang lain mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya karena telah membiarkan kami untuk bisa tinggal di tempat ini. Aku menghargai dan bersyukur pada kemurahan hati Kepala Keluarga Lin, sehingga hanya bisa tinggal dengan sebaik-baiknya di sini sebagai wujud terima kasih kami," jawab Weng Lou dengan suara terkesan sederhana.
Perempuan itu diam menatap sejenak. Dia tidak tau Weng Lou akan memiliki kepribadian seperti ini, berbanding terbalik dengan apa yang selama ini dia pikirkan tentangnya.
Tapi seperti yang orang-orang sering katakan, jangan pernah menilai seseorang hanya dengan sekali lihat, nilailah ketika kau sudah melihatnya berulang kali.
"Hmp! Aku datang kesini membawakan pesan dari Kepala Keluarga. Kau bisa melihatnya sendiri, aku tidak ada urusan lain jadi akan langsung pergi."
Dia dengan acuh tak acuh melemparkan sebuah giok merah terang pada Weng Lou, setelah itu dia tanpa mengatakan apa-apa lagi, langsung melesat pergi. Kecepatannya bergerak membuat dia seolah-olah tampak seperti berteleportasi, namun Weng Lou tau itu karena kecepatannya yang sangat cepat, sehingga membuatnya tampak seperti berpindah tempat secara instan.
Setelah kepergian perempuan itu, Weng Lou pun menatap giok di tangannya sejenak dan menoleh ke arah perempuan itu pergi.
"Aku ingin tau pesan macam apa yang diberikan oleh Lin Nushen," katanya pelan.
Dia menggenggam giok merah di tangannya dan mengalirkan Kekuatan Jiwa nya. Segera, sebuah suara terdengar di dalam kepalanya, itu tidak lain adalah suara Lin Nushen.
"Weng Lou, maafkan tindakan ku di pertemuan kita sebelumnya. Aku tidak berencana membuatmu seperti itu. Aku terbawa suasana dan tanpa sadar malah melukai mu oleh karena ini, aku akan meminta maaf sekali lagi padamu. Tujuan ku mengirimkan pesan ini sebenarnya, hanya ingin menanyakan sesuatu padamu. Jika kau mengenal gadis yang akan ku tunjukkan padamu, tolong pecahkan giok ini sehingga aku bisa tau, jika kau tidak mengenalnya, kau bisa mengabaikannya."
Setelah kata-kata itu terdengar, suara itu pun tidak lagi terdengar, namun sebuah gambaran seorang gadis tiba-tiba muncul di dalam kepalanya.
Gambar itu menunjukkan seorang gadis bertopeng merah yang sedang menunggangi seekor rusa raksasa dan memimpin pasukan binatang buas berperang melawan para Praktisi Beladiri.
Setelah melihat gambar itu, tangan Weng Lou yang sedang menggenggam giok di tangannya tiba-tiba bergetar untuk sesaat dan tanpa sadar menyebabkan giok itu retak, tapi tidak sampai hancur.
Dia terkejut melihat gambar gadis itu dan senyum pun muncul di wajahnya.
__ADS_1
"Jadi begitu.....hahahaha......jadi pengkhianat yang dimaksud oleh orang-orang Keluarga Lin adalah dia. Dia sepertinya hidup dengan baik dan menikmati hidupnya. Tapi dia memprovokasi orang yang salah dan malah melibatkan dirinya dalam bahaya. Aku harus memanggil Luan, kami harus membuat sebuah rencana untuk pergi dari sini."
Setelah memastikan sekali lagi gambar yang dia lihat, akhirnya giok merah itu pun disimpannya kedalam cincin spasialnya.