Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 360. Desa Kabut (I)


__ADS_3

Setelah bergerak selama hampir tiga jam, akhirnya kelompok Weng Lou keluar dari Hutan Kabut.


Namun meskipun berhasil keluar, ekspresi wajah mereka semua tampak kusut, terutama Lin Mei dan Man Yue.


Kereta kuda mereka saat ini sangatlah kotor karena ditutupi oleh cairan lengket berwarna hijau di bagian atapnya. Pakaian yang dikenakan oleh Weng Lou, Weng Ying Luan, dan juga Shan Hu yang sedang duduk di atas atap kereta pun dalam kondisi yang sama.


"Aku bersumpah tak akan melewati tempat ini lagi sampai kapan pun juga...." ucap Lin Mei dengan raut wajah gelap.


Di sisi lain, Man Yue hanya diam dan mengepalkan tangannya dengan erat.


Sebelumnya, ketika mereka selesai melawan beberapa bandit yang ada di dalam Hutan Kabut, secara mendadak puluhan laba-laba raksasa menyerang mereka dari balik kabut tebal.


Laba-laba itu bergerak sangat cepat sehingga sangat sulit bagi Weng Lou untuk menghadapinya seorang diri, oleh sebab itu dirinya pun dibantu dengan Weng Ying Luan dan juga Shan Hu, menghabisi semua laba-laba yang menyerang mereka.


Meskipun kekuatan dari laba-laba ini hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 11 sampai ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 saja, namun nyatanya mereka bertiga tetap kerepotan mengurus mereka, sehingga beberapa laba-laba berhasil lolos dari pengawasan mereka dan menyerang ke arah kereta.


Lin Mei yang melihat itu pun tanpa pikir panjang langsung menghabisi laba-laba yang berhasil lolos itu. Tapi, tanpa dia ketahui ternyata laba-laba itu mampu menembakkan sangat lengket, sehingga membuatnya panik.


Bukan panik karena takut akan bahayanya benang-benang tersebut melainkan takut karena benang-benang itu terlihat menjijikan. Terlebih, ketika laba-laba itu dihancurkan cairan kehijauan muncrat keluar dari dalam tubuh laba-laba tersebut yang tidak lain adalah darahnya dan mengenai seluruh tubuhnya.


Akhirnya Lin Mei berakhir dengan menjerit histeris hingga tidak menyadari bahwa ada laba-laba lainnya yang bergerak ke arahnya. Man Yue yang melihat itu pun berniat untuk menolongnya, tapi tanpa dia sangka drinya juga terkena muncratan darah laba-laba yang menutupi sekujur tubuhnya.


Keduanya pun berakhir dengan berteriak histeris sementara Weng Lou, Weng Ying Luan, dan Shan Hu berusaha secepat mungkin menghabisi semua laba-laba yang menyerang mereka.


Setelah selesai menghabisi semua laba-laba, Lin Mei dan Man Yue pun pergi membersihkan tubuh mereka dari benang dan darah laba-laba yang ada pada tubuh mereka.


Karena tak mau membuang waktu, Weng Lou, Weng Ying Luan, dan juga Shan Hu memilih untuk tidak membersihkan diri mereka.

__ADS_1


Setelah Lin Mei dan Man Yue selesai membersihkan diri, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka dengan suasana berbeda.


Lin Mei sepanjang sisa perjalanan memaki dan mengutuk Weng Lou, Weng Ying Luan, dan juga Shan Hu yang merasa tidak becus dalam menghadapi laba-laba sebelumnya sehingga mereka sampai terkena muncratan darah laba-laba.


Ketiganya pun hanya bisa mendengar semua itu sambil menahan diri untuk tidak memaki balik, karena jujur, Weng Lou dan Weng Ying Luan nyatanya bermain-main dalam menghadapi laba-laba yang menyerang mereka.


***


Sekitar satu kilometer dari Hutan berada, terdapat sebuah desa kecil yang ditutupi oleh kabut disekitarnya dan membuat orang-orang yang melewatinya kebanyakan akan melewatinya karena tidak melihatnya.


Kereta kelompok Weng Lou bergerak ke arah desa tersebut setelah Weng Lou, Weng Ying Luan, dan Shan Hu membersihkan tubuh mereka dan mengganti pakaian yang mereka pakai.


Dari kejauhan, tampak desa itu seperti desa yang sudah mati karena tak terlihat satu pun manusia yang tinggal di sana. Namun, ketika mereka sudah sampai di dalam desa tersebut Weng Lou dan yang lainnya bisa merasakan kehadiran dari dalam rumah-rumah yang terdapat di desa ini.


Tapi mereka memilih untuk tidak terlalu memperdulikan itu dan mencari penginapan yang ada pada desa tersebut.


Mereka semua pun masuk kedalam setelah Pang Baicha memasukkan kereta dan kuda mereka pada sebuah bangunan kecil kosong yang ada di samping penginapan.


Berjalan masuk ke dalam penginapan, mereka langsung disambut oleh suasana ruangan tamu yang sangat sepi.


Weng Lou menoleh ke kanan dan ke kiri mencari pemilik dari penginapan tersebut sebelum kemudian dari dalam sebuah ruangan, keluar seorang wanita paruh baya dan menghampiri mereka dengan raut wajah murung.


Alis mata Weng Lou terangkat menatap ekspresi dari wanita tersebut, dia sepertinya menemukan hal aneh yang terjadi di tempat ini.


"Selamat datang pengunjung sekalian, apakah kalian ingin menginap, atau makan?" tanya wanita itu sambil menatap Weng Lou dan yang lainnya dengan tatapan sedikit takut.


"Kami akan menginap sekaligus makan di sini. Ada berapa kamar yang ada di sini?" Jian Qiang balik bertanya kepada wanita itu.

__ADS_1


"Kami hanya memiliki empat kamar di tempat ini." Wanita itu menjawab dengan cepat.


"Kami pesan semuanya, siapkan kami semua menu masakan yang disediakan di tempat ini, sebentar lagi kami akan makan," ucap Jian Qiang.


Wanita itu mengangguk dan kemudian mengantarkan mereka semua menuju ke kamar yang dimaksudkan olehnya.


Jian Qiang mengambil satu kamar untuknya sendiri, sementara mereka yang lain berpasangan satu kamar. Weng Lou dengan Weng Ying Luan, Lin Mei dengan Man Yue, dan Shan Hu dengan Pang Baichi.


Jian Qiang memberikan sekantung uang kepada wanita itu yang berisikan puluhan koin-koin perak di dalamnya. Mungkin terlihat sedikit di mata Weng Lou dan yang lain, namun itu merupakan jumlah yang sangat banyak bagi orang pedesaan seperti wanita penginapan ini.


Setelah itu mereka pun masuk kedalam kamar beristirahat sejenak selama beberapa menit sebelum kemudian kembali keluar dan kembali ke ruangan tamu sebelumnya yang merupakan tempat makan bagi para tamu penginapan.


Terlihat beberapa masakan sudah ada di salah satu meja yang ada di situ yang sepertinya harus aja dipanasi oleh wanita yang sebelumnya.


Tanpa ragu, Weng Lou dan yang lainnya segera ke meja tersebut dan menyantap makanan yang disediakan. Terlihat tidak ada satupun menu masakan daging diantara masakan-masakan yang disediakan itu.


Mereka tidak terlalu mempertanyakannya dan berpikir mungkin ini disebabkan mereka tidak bisa mencari daging karena Hutan Kabut yang berisikan banyak binatang buas.


Ketika selesai makan, Weng Lou meletakkan sumpit di tangannya di atas meja dan menatap serius Weng Ying Luan dan yang lain.


"Aku merasa ada yang janggal di desa ini. Sikap dari wanita penginapan ini sangat tidak normal, seakan-akan ada yang menakuti dirinya begitu pun para penduduk yang lain," ucapnya sambil menoleh ke luar penginapan.


"Aku juga berpikir seperti itu, kurasa ada masalah yang menimpa desa ini." Lin Mei memberi komentar.


"Entah apa itu, kita tidak tau. Jadi kalian jangan melakukan sesuatu yang berbahaya, amati kondisi dahulu sebelum bertindak. Masalah yang menimpa desa ini pasti bukan masalah biasa," kata Jian Qiang yang meminum arak miliknya.


Setelah mereka semua makan, mereka pun memilih untuk kembali ke kamar mereka dan berlatih. Saat ini sedang siang hari, jadi mereka harus memanfaatkan waktu untuk memperkuat diri mereka.

__ADS_1


__ADS_2