Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 377. Induk Siluman Serigala (I)


__ADS_3

Weng Lou yang melihat ekspresi dari wajah Weng Wan, berusaha sebisa mungkin untuk tidak menahan tawanya.


Raut wajah dan juga getaran pada tangan kanannya yang berusaha menahan berat dari palu yang diberikan oleh Weng Lou kepadanya itu sangatlah lucu jika dilihat dari sudut pandang Weng Lou.


"Lou sialan....paku apa ini?!" seru Weng Wan dengan panik.


Palu di tangannya bisa lepas kapan saja jika dirinya melemaskan sedikit saja otot tangannya.


Weng Lou kemudian menghela napasnya, lalu kemudian mengambil kembali palu tersebut dari tangan Weng Wan. Dia melemparkan palu tersebut keatas lalu dengan lembut menangkapnya sambil memasang senyum tipis pada wajahnya.


"Ini adalah palu yang aku pakai untuk berlatih hingga mendapatkan kekuatan fisik yang luar biasa seperti saat ini. Dengan mengayunkannya puluhan ribu kali, otot-otot milikku ditempa kembali dan menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya," jelas Weng Lou kepada Weng Wan.


Weng Wan tampak tak percaya dengan yang dia lihat saat ini. Sebelumnya dirinya perlu mengangkat palu itu dengan sekuat tenaganya, sedangkan di hadapannya, Weng Lou bahkan tampak seperti tidak ada beban sama sekali mengangkat palu itu.


Ketika dia mendengar perkataan Weng Lou tentang dirinya yang sudah mengayunkan puluhan ribu kali palu tersebut, Weng Wan merasa itu bukanlah omong kosong sama sekali.


Dia tau betul tentang sifat Weng Lou, dia tidak akan berbohong akan sesuatu seperti itu, paling tidak bukan kepada sahabatnya sendiri.


"Ambil palu ini, letakkan selalu di pinggang mu jika tidak kau pakai, maka itu akan menjadi bahan latihan yang sangat berguna untuk mu."


Weng Lou menyerahkan kembali palu itu kepada Weng Wan.


Menatap palu itu dan Weng Lou secara bergantian, Weng Wan kemudian menarik napas dalam, lalu mengambil palu tersebut dengan kedua tangannya.


Berbeda dengan sebelumnya, kini dia sudah siap, dan palu tersebut sanggup ia angkat tanpa harus terlihat menyedihkan.


Namun meski begitu berat dari palu itu adalah nyata, meski sudah memakai kedua tangannya, palu itu tetap terasa sangatlah berat.


"Ayo kita turun," ucap Weng Lou sambil menepuk pundak Weng Wan.


BUCK!


Tanpa Weng Lou duga, pijakan kaki Weng Wan berdiri yang merupakan genteng dari tanah liat kering sudah longgar, yang mana ketika Weng Lou menepuk pundaknya, itu langsung membuat genteng itu tergeser, dan langsung membuat Weng Wan harus terjatuh ke bawah tanah.

__ADS_1


"Sialan kau Lou!!!"


Terdengar seruan jengkel dari Weng Wan dari bawah, dan membuat Weng Lou hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf maaf! Aku tidak sengaja!"


Tap....


Dengan ringan Weng Lou melompat turun di depan Weng Wan.


Tampak Weng Wan sedang berusaha menarik palu yang diberikan oleh Weng Lou dari dalam tanah. Saking beratnya palu itu, sampai setengahnya tertancap kedalam tanah.


Weng Lou menggelengkan kepalanya melihat itu, dan kemudian menghentakkan kakinya ke tanah.


Track.....


Seketika itu juga, tanah yang menyangkut pada palu itu terbuka dan mempermudah Weng Wan mengangkat palu itu kembali.


"Ayo ikut aku, kita akan pergi berburu sebentar." Setelah mengatakan itu, Weng Lou langsung melangkahkan kakinya pergi menuju ke luar desa.


Tak mau lebih lama berpikir, Weng Wan pun segera melangkahkan kakinya dan menyusul Weng Lou. Akan tetapi palu di tangannya sangatlah berat, hingga membuatnya terpaksa mengerahkan lebih dari setengah kekuatannya untuk bisa menyusul Weng Lou yang berjalan cepat.


"Hei! Hei tunggu aku! Kau tau ini sangat berat!" rengek nya.


"Sudah ikut saja. Kita akan memburu sesuatu yang jauh lebih besar dan ganas dari anak-anak anjing ini," ucap Weng Lou yang tersenyum penuh makna kepada Weng Wan.


Tanpa disadari, Weng Wan menelan ludahnya sendiri mendengar hal itu. Anak-anak anjing? Para siluman serigala ini? Mungkin Weng Lou saja yang memanggil para siluman serigala seperti itu.


Tapi satu yang mengganggunya adalah sesuatu yang dimaksud oleh Weng Lou. Dia mengatakan bahwa itu jauh lebih besar dan ganas dibandingkan dengan siluman serigala, lalu apakah itu.


Weng Wan hanya bisa menahan rasa penasarannya itu dan terus berjalan mengikuti Weng Lou sambil membawa palu yang beratnya 1 ton itu bersamanya.


Keduanya terus berjalan keluar desa tanpa menyadari bahwa Weng Tie telah mengamati mereka berdua sedari tadi.

__ADS_1


Dengan sembunyi-sembunyi, dia pun mengikuti mereka sambil terus berusaha untuk tidak disadari oleh mereka berdua, tanpa mengetahui bahwa Jian Qiang bisa mengetahui gerak-gerik semua orang yang ada di desa ini menggunakan kekuatan jiwanya, begitu juga dengan Weng Baohu Zhe.


Dia bisa mengetahui bahwa Weng Lou dan Weng Wan sedang keluar dari desa dengan Weng Tie yang mengendap-ngendap mengikuti keduanya.


Weng Baohu Zhe berniat untuk mengikuti mereka namun kemudian kekuatan jiwa milik Jian Qiang segera menimpa tubuhnya, dan membuatnya hampir kehilangan kesadarannya. Sepertinya mengikuti Weng Lou dan lainnya adalah ide buruk, pikir Weng Baohu Zhe. Dengan rasa takut pun ia pergi menuju ke atap bangunan yang ada di pinggir desa.


Dirinya akan jauh lebih mudah mengetahui keberadaan ketiganya dari atas situ.


***


Di dalam Hutan Kabut, Weng Lou dan Weng Wan telah berada di kedalaman hampir dua ratus meter.


Bisa terdengar suara beberapa binatang buas yang saling bertarung satu sama lain serta beberapa suara binatang yang menyerukan wilayah kekuasaan mereka.


"Hei Lou......apakah masih jauh? Palu ini benar-benar sangat berat......" Weng Wan kembali merengek.


"Sedikit lagi, seharusnya dia ada di sekitar sini," balas Weng Lou tanpa menoleh ke arah Weng Wan sedikit pun.


Weng Wan tampak kesal, dia ingin sekali melempar palu ditangannya pada kepala Weng Lou, tapi sayangnya dia tidak sanggup melakukan hal itu.


Di saat masih kesal, dirinya tak menyadari bahwa Weng Lou yang berada di depannya sudah berhenti melangkah, yang mana malah membuatnya menabrak belakang Weng Lou.


"Ada apa? Apakah binatang itu sudah kau temukan?" tanya Weng Wan sambil mengerutkan keningnya.


Dirinya sedikit tidak senang karena Weng Lou yang berhenti di depannya secara mendadak.


"Yup, dan sepertinya dia sedang makan-makan saat ini."


Alis Weng Wan terangkat mendengarnya, dia pun berjalan ke samping Weng Lou, dan melihat apa yang ada di depan.


Napasnya langsung tertahan, begitu melihat seekor siluman serigala setinggi lima meter, sedang memakan tubuh singa raksasa yang besarnya melebihi siluman serigala itu.


Pada saat itulah Weng Wan baru menyadari maksud dari perkataan dari Weng Lou mengenai binatang buas yang ia cari, dimana Weng Lou mengatakan bahwa yang ingin ia buru adalah sesuatu yang lebih besar dan ganas dibandingkan para siluman serigala.

__ADS_1


Yaitu induk dari siluman serigala itu sendiri.


__ADS_2