Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 506. Penyatuan Seluruh Wilayah Kumuh (II)


__ADS_3

Weng Lou menghabiskan waktu sepanjang malam untuk mendengarkan semua cerita dan informasi dari pria yang merupakan pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah yang ada di Kota Heishin.


Tepat ketika waktu sudah menunjukkan pagi hari, Weng Lou bersama pria tersebut kembali ke lantai atas dimana terlihat lorong ruangan yang sangat sepi.


Ada beberapa orang yang berlalu-lalang yang memang bekerja di pagi hari. Contohnya adalah pria tua yang Weng Lou berikan sekantong koin perak kemarin. Dia terlihat berjalan dengan wajah senang di ujung lorong sambil membawa sapu di tangannya.


Tapi kemudian, senyumnya menjadi kaku saat melihat sosok Weng Lou yang keluar dari salah satu ruangan bersama dengan pria yang merupakan atasannya.


"Pemimpin!" serunya dengan terkejut dan buru-buru menunduk hormat pada pria itu.


Pria itu hanya mengangguk padanya, dan melanjutkan jalannya, sementara Weng Lou mengikuti dalam diam di belakangnya. Mata pria tua itu menatapnya dengan terkejut dan penuh tanda tanya, bagaimana bisa Weng Lou bersama dengan pemimpin mereka?


Namun segera dia kesampingkan pemikiran itu dan buru-buru mendekati Weng Lou.


"Tuan, terimakasih telah memberikan uang yang sangat banyak pada saya! Saya berterima kasih pada anda! Berkat uang itu....berkat uang itu aku bisa membayar tebusan putriku dari pasar budak! Aku sungguh berterima kasih pada anda!"


Langkah kaki Weng Lou terhenti, dan dia pun berbalik menatap pria tua itu. Pasar budak? Ada sesuatu seperti itu di sini? Sepertinya ada informasi yang sangat penting yang dia lewatkan dari semua informasi yang dia dapatkan 1 hari ini.


Dia menyembunyikan ekspresi terkejutnya dan tersenyum pada pria tua itu.


"Baguslah, aku sempat berpikir kau akan menghabiskannya untuk berpesta dan mabuk-mabukkan. Kalau begitu sampai jumpa lagi," ucap Weng Lou yang melemparkan sekantung uang berukuran sedikit lebih kecil dari yang kemarin dia berikan pada pria tua tersebut.


"Pakai itu dan belilah makanan untuk putrimu itu, jangan sampai dia kau buat dia masuk ke pasar budak lagi."


Weng Lou berbalik dan melanjutkan jalannya, terlihat pria yang sebelumnya berjalan bersamanya sebelumnya telah berhenti dan menunggunya di belokan lorong yang berjarak beberapa meter dari tempat Weng Lou dan pria tua itu.


"Terima kasih!! Terima kasih, Tuan!! Aku berjanji tidak akan membiarkan orang-orang dari pasar budak itu menipu dan mengambil putriku sekali lagi! Aku sudah cukup menderita saat melihat dia diambil paksa dari tanganku sebelumnya."


Tanpa berbalik lagi, Weng Lou hanya melambaikan tangannya sebagai tanggapan terhadap ucapan pria tua itu. Dia berama pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah Kota Heishin keluar dari bangunan utama perguruan.


Sesampainya di luar, Weng Lou menatap langit kuning yang sebentar lagi matahari akan menampakkan dirinya.


Tidak jauh dari tempatnya, terlihat sosok Kera Hitam Petarung yang berbaring di tengah lapangan dengan Du Zhe diatasnya. Keduanya tertidur dengan pulas yang mana membuat Weng Lou tertawa melihat mereka berdua. Sementara itu, pria yang bersamanya berdiri diam di pintu keluar, terpaku menatap sosok Kera Hitam Petarung yang sedang tertidur itu.


Dia ingat bahwa informasi nya mengatakan bahwa ada kera super besar yang mengamuk dan membantai habis pasukan penjaga di kaki gunung, Kera Hitam Petarung haruslah kera yang dimaksud tersebut.


"Oi, Du Zhe! Bangun! Kita akan melanjutkan perjalanan kita sebentar lagi!"


Weng Lou berseru dari tempatnya dan membuat suaranya bisa terdengar jelas dengan mengalirkan Qi miliknya.


Du Zhe dan Kera Hitam Petarung yang tertidur terlihat bereaksi atas kata-kata Weng Lou tersebut. Du Zhe mengucek matanya, lalu merubah posisinya menjadi duduk dan menatap ke arah Weng Lou berada saat ini.


Dia berkedip beberapa kali, sebelum akhirnya sadar sepenuhnya dan langsung meloncat turun dari atas tubuh Kera Hitam Petarung. Kera Hitam Petarung juga segera bangkit berdiri dan menghadap Weng Lou yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Maaf membuat mu menunggu lama, Du Zhe," kata Weng Lou pada Du Zhe yang telah sampai di hadapannya.


"Tidak apa-apa, Guru! Langit malam di tempat ini benar-benar indah! Semalam aku melihat banyak sekali bintang-bintang di langit!" Du Zhe berkata dengan girang pada Weng Lou.


Weng Lou mengangguk mendengarnya. Pada waktu ini langit yang sebentar lagi akan terang juga masih memperlihatkan bintang-bintang di langit yang membuat siapa saja pasti akan merasa kagum.

__ADS_1


Saat dia masih menatap langit, mendadak terdengar suara dari perut Du Zhe, dan membuat Du Zhe tersenyum malu. Dia menundukkan kepalanya dan tertawa canggung.


"Kau pasti lapar, ayo kita cari makanan di kota," ajak Weng Lou.


"Baik, Guru!"


Keduanya pun berjalan bersama hingga keluar dari gerbang Perguruan Iblis Merah, meninggalkan sosok pemimpin cabang Perguruan Iblis Merah dan Kera Hitam Petarung yang masih berada di lapangan.


"Tunggu aku di situ, aku akan kembali setelah sarapan bersama dengan muridku," ujar Weng Lou yang kemudian menghilang di kejauhan.


Kera Hitam Petarung yang masih berdiri ditempatnya menatap dalam diam punggung Weng Lou yang telah tak terlihat lagi sebelum kemudian kembali berbaring di tanah dan memejamkan matanya, lalu tidur.


"Haa....aku bahkan tidak dia tanya sama skeali lapar atau tidak, sialan..." Kera Hitam Petarung bergumam pelan dan benar-benar tertidur beberapa detik kemudian.


***


Di jalan kota, Weng Lou menyadari bahwa ada yang berbeda dengan kota tersebut saat kemarin sore dia lewati.


Banyak barang-barang yang berserakan di jalan, dan juga beberapa cipratan darah menghiasi dinding beberapakali bangunan yang mereka lewati. Du Zhe hanya berjalan biasa tanpa menyadari itu, sementara Weng Lou mulai sibuk dengan pemikirannya.


Dia mengingat perkataan pria tua yang sebelumnya yang mengatakan bahwa putrinya telah berhasil dia tebus di pasar budak. Pasar budak membuatnya sedikit penasaran karena belum mendengar apapun mengenai hal ini dari Wuyong, Biantai, dan para pemimpin prajurit di sepuluh kota lain di wilayah kumuh.


"Hei, Du Zhe," panggil Weng Lou.


Du Zhe yang berjalan di depan Weng Lou segera menoleh ke belakang dan memasang wajah tanda tanya.


"Kau pernah dengar tentang Pasar Budak sebelumnya?" Weng Lou bertanya langsung padanya.


Mendengar pertanyaan itu, Du Zhe terdiam selama beberapa saat lalu mengangguk mengiyakan.


"Ya, aku tau apa itu." Du Zhe membalas singkat.


"Benarkah? Bisa kau jelaskan padaku?"


"Ah, em...baik. Pasar Budak, seperti namanya, itu adalah tempat dimana para budak diperjualbelikan. Tempat yang menjualnya dibuka oleh Kaisar sendiri dan ada di setiap kota di Pulau Fanrong, kecuali di wilayah kumuh. Hanya Kota Heishin yang memiliki nya karena kota ini menjadi tempat perdagangan yang sering didatangi oleh beberapa orang dari luar pulau.


Yang paling penting dari itu semua, orang yang memegang kunci utama dari Pasar Budak ini adalah kaisar itu sendiri. Dia bahkan secara khusus akan mengirimkan para budak sesuai pesanan yang diinginkan oleh kerajaan atau kekaisaran tetangga. Aku..... sebelumnya aku dijual di Pasar Budak juga oleh pamanku, sebelum kemudian dikirimkan ke Kota 3 untuk bekerja sebagai budak kekaisaran," jelas Du Zhe yang kedua matanya mulai tampak berkaca-kaca.


Itu penjelasan yang cukup rincinuntuk6anak seumurannya. Namun Weng Lou mengerti bahwa Du Zhe pastinya memiliki luka mental pada hal ini, terlihat dari wajahnya yang siap menangis kapan saja. Weng Lou sedikit merasa bersalah menanyakan hal ini padanya.


Keduanya pun hanya diam sambil melanjutkan perjalanan mereka. Setelah berjalan kurang lebih lima menit, mereka sampai di sebuah bangunan yang berukuran cukup besar yang memiliki dua tingkat.


Hanya bangunan ini yang tampak bersih dari segala macam kekacauan yang telah Weng Lou dan Du Zhe lewati.


'Restoran Kota Heishin.'


Hanya tiga kata itu yang tertulis pada bagian atas bangunan itu. Tanpa banyak berbicara, Weng Lou dan Du Zhe pun masuk ke dalam bangunan itu.


Di dalamnya terlihat beberapa orang pria yang sibuk mengelap meja dan menyusun kursi. Pada bagian sudut kiri depan, ada sebuah meja yang Weng Lou yakini pasti adalah meja kasir.

__ADS_1


Weng Lou menatap bagian dalam bangunan itu selama beberapa saat lalu melihat sebuah tangga yang mengarah ke tingkat dua bangunan itu. Weng Lou pun segera berjalan ke arah tangga dengan diikuti oleh Du Zhe dibelakangnya.


Saat mereka sampai di tangga dan siap naik, seorang pria yang sedang menyusun kursi di dekat mereka mendadak berdiri dan menghalangi mereka berdua.


"Mau kemana kalian?" tanyanya dengan dahinya yang sudah mengerut.


"Hm? Kami mau naik, memangnya kenapa?" tanya Weng Lou dengan wajah polosnya.


"Lantai dua hanya untuk para prajurit dan orang-orang pemerintah, serta orang-orang dari Perguruan Iblis Merah. Selain mereka orang-orang dilarang naik," jelas pria itu.


Sebelah alis Weng Lou terangkat mendengar itu. Dia mengangkat tangannya, dan sekantong uang pun muncul pada genggaman tangannya. Dnegan ringan dia melemparkan kantung uang itu pada pria tersebut.


"Jangan banyak omong kosong, buatkan kami makanan terbaik kalian. Jika rasa masakan kalian sama sekali tidak enak bagiku, maka akan kuhancurkan restoran ini hingga rata dengan tanah."


Pria itu segera menangkap kantong uang yang dilemparkan oleh Weng Lou padanya. Dia tertawa mengejek melihat kepercayaan diri Weng Lou.


Dia pun membuka kantong itu dan cahaya pantulan emas pun segera menyilaukan matanya hingga membuat dia harus menyipitkan matanya.


"Ko-Koin emas!!!!" serunya kaget.


Suaranya sangat besar hingga bisa didengar oleh orang-orang lain di dalam bangunan itu. Terlihat ekspresi tekrejut dari wajah mereka ketika mendengar seruang pria itu.


Koin emas! Apakah mereka tidak salah dengar barusan?!


Dari tiga jenis koin, jelas koin emas adalah yang paling besar nilainya dan paling berharha. Satu koin ini bisa membuat seorang pengemis lusuh dijalankan menjadi seorang pedagang kaya raya dalam semalam! Dan jumlah yang ada di kantong pemberian Weng Lou tidak hanya satu, melainkan sepuluh!!


Sepuluh koin emas! Itu adalah jumlah pendapatan setahun restoran tempat Weng Lou berada saat ini, dan Weng Lou memberikannya begitu saja.


Weng Lou yang melihat sikap pria di depannya pun segera berjalan melewatinya dan mulai menaiki tangga ke lantai dua. Du Zhe yang ikut terpaku di tempatnya buru-buru menyadarkan dirinya kembali dan segera mengikuti Weng Lou menaiki tangga.


"Tunggu aku, Guru!" ucap Du Zhe.


Sementara Weng Lou dan Du Zhe naik ke lantai dua, seorang pria bertubuh kekar dan tinggi terlihat berjalan keluar dari salah satu ruangan yang ada di lantai satu bangunan restoran itu. Terlihat wajah serius pada wajahnya dan dia berjalan menuju ke pria yang sebelumnya menghalangi Weng Lou.


Kring!


Tangannya bergerak cepat dan mengambil kantong uang dari tangan pria itu dan langsung memasukkannya ke balik bajunya.


"Bos?!" jerit pria itu kaget.


"Apa yang kau lamunkan?! Cepat kembali bekerja!" Pria bertubuh kekar itu berseru galak padanya.


Pria yang dibentak itu pun langsung segera pergi begitu menerima seruan tersebut.


"Kalian semua!!! Bekerjalah dengan sekuat tenaga, buatkan semua makanan terbaik restoran kita dan hidangkan pada Tuan Muda yang tadi di lantai dua. Buat dia merasakan apa itu nikmat dunia lewat masakan restoran kita ini!!"


""Baik Boss!!!""


Semua orang berseru bersemangat dan langsung mengerjakan apa yang diinstruksikan oleh pria kekar tersebut. Mereka akan memasakkan makanan nomor 1 yang mereka miliki di Restoran Kota Heishin tempat Weng Lou dan Du Zhe berada.

__ADS_1


__ADS_2