
Weng Lou yang dalam kondisi marah itu langsung terbang ke udara dan melesat cepat tanpa bantuan pedangnya untuk pijakan. Weng Ying Luan mengikutinya dari belakang.
Keduanya menarik perhatian banyak orang ketika terbang melintasi Kota Tiesha. Beberapa penjaga kota yang terpencar di berbagai sudut kota melihat mereka berdua segera terbang dan hendak menghentikan mereka, akan tetapi Weng Ying Luan segera menoleh dan mengangkat satu jarinya, lalu menunjuk ke arah para penjaga itu.
Seketika itu juga, tekanan besar menimpa tubuh mereka semua dan membuat mereka terjatuh ke tanah dalam keadaan menyedihkan. Keduanya pun terus terbang di atas kota dan mengarah ke sebuah kastil berukuran sedang yang terletak di bagian tengah kota, dekat dengan Aula Pusat.
Setibanya di depan kastil itu, Weng Lou dan Weng Ying Luan hanya terbang melayang sambil menatap kastil tersebut.
Beberapa prajurit segera terbang ke luar dari dalam kastil menggunakan pedang sebagai pijakan kaki mereka. Jelas semua prajurit itu hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa saja. Weng Ying Luan hendak memberikan tekanan juga pada mereka, akan tetapi Weng Lou dengan cepat menghentikan nya.
Ada yang ingin dia katakan pada mereka, jadi tidak perlu menangani mereka begitu cepat.
"Siapa kau?! Beraninya terbang melintas di atas kota!" Seorang prajurit yang berdiri di depan prajurit lainnya menghunuskan pedang dan menunjukkan nya pada Weng Lou.
"Kalian hanya para prajurit yang dipekerjakan oleh Keluarga Lin, tidak layak untuk menanyai apapun pada ku. Cepat panggil keluar Pasukan Pengejar Keluarga Lin, aku tau dia ada di kota ini!" jawab Weng Lou sambil menatap acuh tak acuh pada mereka semua.
Melihat sikap Weng Lou tersebut membuat para prajurit yang ada di situ pun tersulut emosi. Mereka mencabut senjata mereka dan menatap Weng Lou dengan tatapan permusuhan.
"Karena kau tidak mau menjawab pertanyaan ku, maka kami akan menangkap mu dan memberikan hukuman yang setimpal atas perbuatan mu! Semuanya, tangkap dia!" Prajurit di depan itu berseru dan semua prajurit lainnya pun segera terbang ke arah Weng Lou dan Weng Ying Luan.
Weng Lou hanya mendengus melihatnya, dia tidak memiliki niat untuk menyerang para prajurit lemah seperti mereka sama sekali, tapi karena mereka hendak berniat jahat padanya maka dia harus menunjukkan siapa yang sedang menjadi lawan mereka saat ini.
"Haahh.... sesekali orang-orang seperti kalian ini harus lebih tau kapan harus maju dan kapan harus mundur," ujar Weng Lou.
Tangan kirinya, terangkat, dan dalam satu ayunan ke bawah, Kekuatan Jiwa nya bergerak keluar lalu memukul semua prajurit tersebut hingga terpental dan menabrak dinding kastil. Weng Lou bahkan hanya mengeluarkan sedikit Kekuatan Jiwa nya dan mereka sudah seperti itu.
Tanpa melihat para prajurit yang sudah terkapar karena sedikit dorongan darinya, Weng Lou menatap ke arah dalam kastil seolah-olah bisa melihat isi di dalamnya.
"Keluar kalian!" Weng Lou berseru untuk ke sekian kalinya, namun kali ini suaranya dia fokuskan pada kastil di hadapannya.
Tak perlu waktu lama, akhirnya sekitar tujuh orang bergerak keluar dari dalam kastil. Mereka melesat sangat cepat ke udara dan muncul tepat di atas kastil. Ketujuh orang itu mengenakan pakaian dengan lambang yang sama, yaitu lambang Phoenix berwarna merah bercahaya. Lambang pada pakaian mereka itu seakan-akan hidup.
Ketujuh orang itu merupakan anggota Keluarga Dalam di Keluarga Lin yang ditugaskan untuk mengurus Kota Tiesha, dan tentunya mereka bertujuh semuanya adalah laki-laki. Tidak ada seorang pun perempuan diantara mereka, hal ini karena prinsip yang dimiliki Keluarga Lin mengenai perempuan yang memiliki kasta lebih tinggi dibandingkan dengan laki-laki.
Lin Lao adalah salah satu dari ketujuh orang yang ditugaskan mengurus Kota Tiesha. Bersama dengan Lin Dan, Lin Sian Ren, Lin Heinan, Lin Bo, dan Lin Duan, mereka mengatur segala hal di dalam Kota Tiesha.
Mulai dari pembuatan hukum dan aturan di dalam kota, sampai masalah pertahanan perbatasan, merekalah yang mengaturnya.
Orang lain mungkin akan merasa sangat senang memiliki jabatan pengurus kota seperti mereka, namun bagi Lin Lao dan enam rekannya yang lain, pekerjaan mereka ini sama halnya seperti neraka.
__ADS_1
Pekerjaan yang terus-menerus datang untuk mereka kerjakan membuat mereka kesulitan untuk bisa berlatih dan meningkatkan kekuatan mereka, sehingga bisa dibilang mereka memiliki tingkat stress yang sangat tinggi dan bisa meledak kapan saja.
"Bocah, berani juga kau membuat masalah di kota kami, aku menganggap bahwa kau sudah tidak sayang lagi pada nyawa mu itu...." Lin Dan berbicara dengan raut wajah marah. Urat-urat nya bisa terlihat di dahinya dan juga lehernya. Jelas dia sangat tidak senang dengan apa yang Weng Lou dan Weng Ying Luan lakukan.
"Kau telah melakukan beberapa pelanggaran di dalam kota, jika kau berani berbuat lebih jauh lagi kami akan menindak mu!" seru Lin Bo.
Lin Sian Ren dan Lin Heinan hanya diam saja, akan tetapi keduanya juga sama marahnya seperti Lin Dan dan Lin Bo. Lin Lao yang merupakan pemimpin mereka sendiri memilih untuk memeriksa situasi nya dengan lebih jelas. Meski dia juga marah, namun sebagai pemimpin dia harus menunjukkan bahwa dia tidak sembarangan ditunjukkan untuk mengisi posisinya saat ini.
Dari apa yang dia lihat, Weng Lou dan Weng Ying Luan, keduanya sama-sama berada di ranah Penyatuan Jiwa dan ahli dalam penggunaan Kekuatan Jiwa terutama Weng Lou yang mementalkan beberapa prajurit mereka sebelumnya.
Mungkin yang dilakukan oleh Weng Lou itu terkesan biasa saja jika hanya dilihat sekilas, akan tetapi di mata seorang ahli Kekuatan Jiwa sejati seperti Lin Lao, dia bisa dengan jelas melihat apa yang sebenarnya Weng Lou lakukan pada para prajurit itu.
Kekuatan Jiwa yang Weng Lou pakai untuk membuat para prajurit itu terlempar mundur telah dipadatkan seperti layaknya Qi. Hanya mereka yang memiliki pemahaman tentang Kekuatan Jiwa serta pengalaman yang tinggi yang bisa melakukannya. Weng Lou tampak begitu muda di matanya, ada kemungkinan dirinya menyembunyikan penampilannya yang sesungguhnya dari mereka bertujuh.
"Nak, kau telah menyebabkan kericuhan di Kota Tiesha ini dan bahkan melanggar aturan yang ada di dalam kota. Aku akan berpura-pura tidak melihat ini semua jika kau segera pergi dari kota ini dan tidak kembali lagi," ucap Lin Lao pada Weng Lou.
Dia tidak tau seberapa kuatnya Weng Lou, jadi pilihan terbaiknya adalah mengambil jalur teraman dari semuanya. Masih banyak pekerjaan yang harus dirinya dan enam rekannya yang lain untuk dikerjakan segera, mereka tidak bisa membuang waktu untuk menyelesaikan urusan sepele ini.
Mendengar kata-kata Lin Lao, membuat Weng Lou mendengus kesal. Dia datang ke sini untuk mencari Pasukan Pengejar milik Keluarga Lin yang berani mengambil Kapal Uap nya serta Kera Hitam Petarung yang berada di dalamnya tanpa sepengetahuannya.
Weng Lou paling membenci orang-orang yang mencuri darinya, baginya orang-orang seperti mereka itu sengaja memprovokasinya hanya untuk menampilkan dirinya yang sebenarnya. Lalu kenapa Weng Lou tidak melakukannya? Jika mereka memang mau dirinya bertindak seperti itu, maka biarkan dia tunjukkan apa yang dia bisa lakukan pada mereka.
"Aku datang ke sini untuk mencari Pasukan Pengejar yang dimiliki oleh Keluarga Lin. Mereka telah berani mencuri kapal milik ku yang aku telah tempatkan di dermaga dalam dua hari ini. Jika kau memberikan lokasi di mana mereka saat ini, maka aku akan segera pergi. Tentunya, jika kau tidak mau memberitahukan dimana lokasi mereka, aku akan melakukan sesuatu yang tidak akan bisa kalian bayangkan." Nada bicara Weng Lou menjadi semakin dingin semakin banyak dia berbicara.
Entah karena instingnya atau apa, Lin Lao merasakan bahaya besar yang ada bersama dengan Weng Lou dan Weng Ying Luan.
Akan tetapi, harga diri sebagai bagian dari Keluarga Lin membuat dia tidak boleh tunduk pada siapapun selain orang-orang dari keluarganya. Dia menoleh pada keenam rekannya dan mereka mengangguk satu sama lain sebelum kemudian secara mendadak Qi dan Kekuatan Jiwa mereka dilepaskan bersama-sama.
"Karena kau tidak memberikan kami pilihan, maka kami akan membunuh mu disini. Pasukan Pengejar yang kau cari-cari itu tidak akan bisa kalian temui, matilah!"
Qi milik Lin Lao membentuk pola tangan dan Qi yang mereka bertujuh keluarkan pun saling beresonansi dan bersatu. Beberapa saat kemudian, Qi itu menyebar sebelum akhirnya membentuk sebuah kurungan yang mengunci Weng Lou dan Weng Ying Luan di dalamnya.
"""Api Phoenix!!!"""
Ketujuh pengurus Kota Tiesha itu berseru, dan kurungan itu pun mulai mengeluarkan cahaya kemerahan terang. Tak berapa lama, api merah terang berkobar dan menyelimuti kurungan tersebut. Kini Weng Lou dan Weng Ying Luan terkurung di dalam sebuah sangkar dari Api Phoenix.
"Mati dan terbakar lah menjadi abu! Pembakaran Api Phoenix!"
Api Phoenix pada kurungan berkobar sekali lagi. Kurungan itu mendadak mulai mengecil dalam kecepatan yang stabil. Melihat hal itu, Weng Lou dan Weng Ying Luan sama-sama mendecakkan lidah.
__ADS_1
Mereka berdua tau Api Phoenix sesuatu yang sangat merepotkan. Terutama bagi Weng Lou yang kini tidak memiliki Qi yang bisa dia pakai dengan leluasa untuk dijadikan pelindung atau pun senjata, Api Phoenix bisa menjadi bahaya nyata baginya.
Perlu diingat, Ibu Weng Lou, Weng Hai memiliki garis darah Phoenix Pemusnah dan Weng Lou sangat paham betapa mengerikannya Api Phoenix milik ibunya itu. Meski Api Phoenix milik Keluarga Lin tidak sehebat milik ibunya, namun pastinya tetap berbahaya.
Weng Ying Luan bahkan sampai harus kehilangan kesadarannya selama beberapa saat setelah terkena serangan menggunakan Api Phoenix tersebut ketika sedang melawan Lin Bei.
"Hei, kau bisa menangani ini?" tanya Ying Luan pada Weng Lou. Dia sedikit khawatir pada Weng Lou yang tidak memiliki Qi nya lagi.
Walau sahabatnya ini memiliki kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya, tapi tetap ada perbedaan antara Qi dengan Kekuatan Jiwa dalam beberapa aspek kegunaan.
"Tenang saja, aku bisa melindungi diriku sendiri. Lebih baik kau urus dirimu terlebih dahulu," balas Weng Lou yang mulai mengepalkan tangannya.
Weng Ying Luan tertawa mendengar balasan dari Weng Lou. Menurutnya Weng Lou terdengar sangat sombong, namun itu adalah Weng Lou yang dia kenal, dan tidak takut dengan hal kecil seperti Api Phoenix.
"Ayo berlomba, siapa yang bisa keluar dari sini lebih dulu!" Weng Ying Luan berseru dan dia pun segera mengeluarkan Qi miliknya dan menyelimuti sekujur tubuhnya.
Untuk sekejap Weng Lou melupakan kemarahannya dan ikut tersenyum sebagai balasan untuk tantangan dari Weng Ying Luan. Asap hitam keluar dari dalam tubuhnya dan mulai menyelimuti tangan kirinya.
"Yang mengalahkan lebih banyak dari ketujuh orang itu, dia pemenangnya!"
Dalam sekejap, Weng Lou dan Weng Ying Luan pun melesat ke arah kurungan Api Phoenix yang sedang bergerak ke arah mereka itu. Ketujuh pengurus Kota Tiesha itu terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh Weng Lou dan Weng Ying Luan tersebut, namun kemudian berubah menjadi tidak peduli sama sekali.
Di dalam kurungan, Weng Ying Luan yang bergerak ke Api Phoenix segera mengarahkan kedua tangannya yang diselimuti oleh Qi ke arah kobaran api. Dia mencoba berkonsentrasi dan mencoba merasakan Tenaga Dalam Alam di sekitarnya, termasuk di dalam kobaran Api Phoenix tersebut.
Kali ini dia berhadapan dengan Api Phoenix yang berkali-kali lebih menyulitkan daripada yang dia lawan kemarin. Ketujuh orang pengurus Kota Tiesha ini jelas lebih ahli dan lebih kuat dalam menggunakan Api Phoenix dibandingkan dengan Lin Bei. Perlu sedikit usaha lebih untuk bisa lolos dari kurungan ini.
"Tapi sayangnya aku sudah mulai terbiasa dengan Api Phoenix ini, meski kekuatan nya berbeda, tapi pembentukannya masih sama, yaitu Qi, dan Qi berasal dari Tenaga Dalam Alam. Aku tidak perlu lagi menggunakan Domain untuk bisa lolos dari api ini," ujar Weng Ying Luan.
Kedua tangannya bergerak seperti membuka sesuatu, dan kemudian, kobaran Api Phoenix di hadapannya terbelah mengikuti gerakan kedua tangannya. Senyum lebar menghiasi wajah Weng Ying Luan, dia pun segera keluar dari kurungan itu tanpa menoleh ke arah Weng Lou di belakangnya.
Pada saat yang sama ketika Weng Ying Luan membelah Api Phoenix, Weng Lou yang juga melesat ke arah kurungan Api Phoenix telah mengumpulkan asap hitam dari dalam tubuhnya dan menyelimutinya ke tangan kirinya hingga hitam sepenuhnya.
Tangan kirinya itu bergerak menebas ke kurungan, dan secara mengejutkan kurungan itu pun terkoyak karena tangan kirinya tersebut. Dengan cepat dia keluar dari dalam kurungan bersamaan dengan Weng Ying Luan.
"Mereka berhasil keluar?!" Ketujuh pengurus Kota Tiesha tampak tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
Dengan mudahnya Weng Lou dan Weng Ying Luan berhasil lolos dari kurungan Api Phoenix gabungan mereka bertujuh. Jika keduanya memiliki tingkat praktik yang jauh lebih tinggi dari mereka, maka mereka tidak akan heran, namun mereka dengan jelas bisa melihat bahwa Weng Lou dan Weng Ying Luan hanya berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 puncak dan tahap 4 menengah.
Mampu lolos dari Api Phoenix adalah hal yang mustahil bagi tingkat praktik seperti mereka.
__ADS_1