Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 481. Bentrokan Pertama, Weng Ying Luan Melawan Yang Guang (II)


__ADS_3

Begitu Weng Ying Luan meninggalkan Weng Lou dan Lin Mei, dia langsung tanpa basa-basi melesat ke arah dimana lokasi kera berukuran raksasa sebelumnya berada.


Sementara Weng Lou dan Lin Mei menghela napas mereka melihat punggungnya yang sudah tak terlihat lagi di kejauhan karena lokasi mereka yang berbukit.


"Lalu, apa yang aku lakukan? Kau tidak akan menyuruh ku untuk bertarung melawan Ying She kan?" Lin Mei bertanya pada Weng Lou sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Tentu tidak, kau akan kuberikan tugas yang lebih penting. Aku ingin kau menjinakkan 2 ekor binatang buas, yaitu si rusa dan gajah raksasa," balas Weng Lou sambil tersenyum ke arahnya.


"Apa kau ingin aku mati?" tanya Lin Mei yang seperti salah dengar.


"Tidak, mana mungkin aku mau kau mati. Aku paham betul kekuatan mu itu, dengan garis darah keturunan milikmu, kau bisa dengan mudah menjinakkan binatang buas lainnya.


Secara derajat, Phoenix bisa dibilang salah satu raja dari para binatang buas yang ada. Maka para binatang buas juga akan tunduk padamu jika kau menggunakan garis darahmu itu," jelas Weng Lou.


Lin Mei tampak berpikir selama beberapa saat setelah mendengarkan penjelasan dari Weng Lou.


Memang benar apa yang dikatakan oleh Weng Lou, Phoenix memiliki kedudukan yang tinggi diantara para binatang buas, tapi tidak ada jaminan mereka akan tunduk padanya. Malah mungkin dirinya akan langsung diserang begitu dia memakai garis darah Phoenix nya itu.


Setelah menimbang-nimbang selama kurang lebih satu menit penuh, Lin Mei pun membuat keputusannya.


"Baiklah, aku terima tugas ini. Tapi dengan satu syarat."


Weng Lou hanya tersenyum mendengarnya, lalu mendengarkan dengan baik apa syarat dari Lin Mei.


"Aku ingin minta kue milikmu itu," ucap Lin Mei.


Berkedip beberapa kali, Weng Lou kemudian memiringkan kepalanya seolah baru saja salah dengar.


"Bi-Bisa kau ulangi?" tanya Weng Lou dengan perasaan khawatir


"Aku minta kue milikmu itu, yang sering kau makan secara sembunyi-sembunyi itu. Kau pikir aku tidak tau kalau kau masih memiliki nya? Hah, jangan anggap bodoh diriku ini. Jika bukan karena aku yang sudah pernah memintanya waktu itu, aku pasti sudah memintanya lagi!" Lin Mei berbicara dengan nada kesal.


"Tapi ini kan kue milikku!!! Aku yang memiliki hak untuk memberikannya atau tidaknya!!!" jerit Weng Lou dalam hatinya.


Ekspresi wajahnya sudah berubah jelek. Meski dia sangat menyayangi kue miliknya akan tetapi misi nya adalah nomor 1.


Dia pun mengeluarkan bungkusan berukuran sedang dari dalam ruang penyimpanan miliknya dan menempatkannya di hadapan Lin Mei. Akan tetapi, Lin Mei tampak tidak mempedulikan bungkusan tersebut dan tetap menatap Weng Lou.


"Aku tau kau masih memiliki banyak, keluarkan setengahnya," kata Lin Mei.

__ADS_1


"Ini perampokan!!"


Weng Lou berteriak di dalam hatinya. Dia hanya memiliki 3 bungkusan saja yang tersisa setelah tinggal selama 3 minggu di Kota Hundan ini, dan sekarang Lin Mei meminta setengahnya, bagaimana dia tidak panik?


"Sudahlah berikan saja, itu hanyalah kue!" Ye Lao berseru di dalam kepala Weng Lou.


"Benar muridku, apa kau lebih memilih kue dibandingkan misi mu?" Qian Yu ikut berbicara pada Weng Lou.


"Si-sialan....."


Menggigit bibir bawahnya, Weng Lou pun dengan rasa terpaksa mengeluarkan sebungkus kue lainnya dari dalam ruang penyimpanannya.


Dengan rasa enggan dia meletakkan kue itu di depan Lin Mei.


Bagai kilat, Lin Mei pun bergerak dan mengambil dua bungkusan kue itu dan meletakkannya di dalam ruang penyimpanannya.


"Terima kasih banyak, Lou!" serunya dengan bahagia.


Lin Mei pun bangkit berdiri dan segera berjalan pergi meninggalkan Weng Lou seorang diri yang sedang meratapi nasibnya sendiri karena telah kehilangan dua bungkus kue berharganya.


"Haahhh....aku harus belajar membuat kue itu sepertinya, atau jika tidak aku tidak akan bisa memakannya lagi sampai kembali ke Sekte Langit Utara." Weng Lou berbicara dengan lesuh.


"Aku penasaran apakah aku bis membuatnya atau tidak."


***


Di selatan arena, dimana lokasi kera yang keluar dari Tas Binatang Tunggangan milik Zu Zhang sebelumnya berada yang merupakan sebuah bukit yang cukup luas bagian puncaknya.


Terlihat kera dengan tubuh berwarna hitam gelap itu sedang berbaring di tanah dan memandangi langit siang hari yang saat ini sedang terhalangi oleh pembatas ciptaan Zu Zhang.


Tidak jauh darinya, sosok Yang Guang berjalan dengan santai ke arah kera tersebut.


"Seperti yang diharapkan dari Kera Hitam Petarung, kecerdasannya bahkan sudah menyamai manusia dewasa pada umumnya."


Yang Guang membuka suaranya, namun tidak ditanggapi sama sekali oleh kera itu, malah terlihat dia tidak peduli sama sekali dengan kedatangan Yang Guang.


"Astaga, jangan mengabaikan ku seperti itu! Ayolah! Aku selalu mendengar bahwa Kera Hitam Petarung menyukai pertarungan! Ayo bertarung denganku!" ucap Yang Guang dengan senyum lebarnya.


"Pergilah nak, aku tidak memiliki niat untuk bertarung sama sekali saat ini. Terkurung lama di dalam tas bau itu sudah cukup menyiksa bagiku, aku ingin menikmati udara segar ini sebelum kembali dimasukkan ke dalam tas itu."

__ADS_1


Mendadak suara berat yang terdengar sangat menyeramkan keluar dari mulut kera tersebut, dan membuat langkah kaki Yang Guang terhenti seketika.


Namun bukannya takut, justru senyuman pada wajah Yang Guang tampak semakin lebar.


"Kalau begitu bertarung lah melawanku, dan akan ku bawa kau pergi bersama ku jika aku menang, bagaimana?" ucap Yang Guang dengan percaya diri.


"Hentikanlah nak, kau pasti berpikir untuk bisa menjadi tuan ku, bukan? Itu pasti karena Zu Zhang sialan itu mengatakan bahwa kalian bebas melakukan apa saja kepada kami berempat."


"Hm...tidak juga, aku lebih tertarik untuk bertarung dengan mu sebenarnya, membawamu keluar sebenarnya hanya agar kau mau bertarung melawanku saja."


Kera itu sedikit bereaksi mendengar ucapan Yang Guang tersebut, dan dia menghela napasnya yang mengakibatkan sebuah tiupan angin kencang.


"Kau sepertinya tipe anak yang suka bertarung, itu bagus. Pengalaman mu akan terasa, dan keahlianmu akan semakin meningkat saat bertarung. Akan tetapi tidak semua pertarungan bisa meningkatkan kekuatan mu, karena mungkin saja kau akan mati dalam pertarungan itu."


Seusai mengatakan itu, kera itu pun bangkit dari tempat dia berbaring dan berdiri menghadap ke arah Yang Guang.


Tingginya yang hampir mencapai 10 meter membuat sosok Yang Guang terlihat seperti seekor semut kecil dimatanya.


Yang Guang mengangkat kepalanya dan balik menatap kera itu. Tidak ada ketakutan sama sekali dari kedua matanya, malah dia jadi seperti bersemangat.


"Kuingatkan satu hal nak, kami Kera Hitam Petarung bukanlah binatang buas yang akan berhenti sampai lawannya menyerah sendiri. Selama tekad lawannya masih ada, maka kami akan terus bertarung," ucap kera tersebut sambil sedikit menyipitkan matanya.


"Tenang saja, aku tidak akan kalah," balas Yang Guang cepat.


"Hahahaha....anak muda yang menarik, kau memiliki semangat bertarung yang tinggi. Semoga kau bisa membantu diriku untuk sedikit pemanasan di tempat ini."


***


Sepuluh menit setelah kedatangan Yang Guang di tempat Kera Hitam Petarung.


Di bawah bukit, sosok Weng Ying Luan terlihat melesat cepat melewati beberapa bebatuan besar yang berhamburan karena bukit yang tercipta.


Dia terus melesat dan kemudian sampai di atas bukit dan melihat sebuah pemandangan yang cukup mengejutkan.


Kera Hitam Petarung yang sebelumnya terlihat gagah perkasa, kini telah terbaring di tanah dengan tubuh yang dipenuhi dengan luka. Dia masih hidup, tapi sudah berada pada ujung-ujung napasnya.


Di atas tubuhnya, terlihat sosok Yang Guang yang hanya mengenakan celananya sedang duduk dan menghadap ke arah datangnya Weng Ying Luan.


Darah memenuhi tubuh dan kepalanya, tapi itu bukanlah darah miliknya, melainkan darah dari Kera Hitam Petarung yang telah dia kalahkan.

__ADS_1


"Akhirnya sampai juga kau, Ying Luan."


__ADS_2