
Semua orang yang ada di kota terkejut dengan perkataan Weng Lou.
Mereka masih tidak mengerti maksud dari dirinya yang mengatakan bahwa dia akan mengambil alih kota mereka, terutama sang pemimpin prajurit yang terbaring di tanah.
Dia melihat ke arah Weng Lou dan menatapnya dengan tatapan tak percaya. Baru kali ini dia melihat orang segila Weng Lou seumur hidupnya.
Tidak ada orang normal yang akan mengatakan hal itu, karena mengambil alih kota sama dengan menyatakan perang kepada kaisar sendiri dan hukuman yang akan diberikan pada orang yang berani melakukan hal seperti itu adalah hukuman gantung di depan seluruh rakyat, bersama dengan sanak saudara yang lain.
"He-Hei?! Apa kau mengerti apa yang baru saja kau katakan?! Apa kau ingin menyatakan perang dengan Kekaisaran Fanrong, huh?!" seru pemimpin prajurit tersebut.
Weng Lou menoleh dan menatapnya dengan sebelah alurnya terangkat.
"Siapa namamu?" tanya Weng Lou balik padanya.
"A-Aku.....namaku...." Pemimpin prajurit itu tergagap, dia tidak menduga rasa ketakutannya pada Weng Lou sangat membekas pada dirinya sendiri.
"Sial....aku sebaiknya memberitahu nya saja, daripada aku harus mati."
"Namaku Wuyong," ujarnya sambil mencoba mengalihkan pandangannya dari Weng Lou.
"Wuyong? Nama yang lucu, hahaha.... Wuyong, biar aku katakan padamu satu hal, aku tidak peduli dengan peraturan yang ada, dan tidak takut dengan kekaisaran yang kau bilang itu, karena aku sama sekali tidak berasal dari pulau ini.
Kau mengatakan bahwa aku ingin menyatakan perang dengan Kekaisaran Fanrong? Yah, kota lihat saja, jika memang itu diperlukan agar aku bisa pulang maka aku akan melakukannya," kelas Weng Lou.
Dia kemudian melemparkan tubuh Wuyong ke tengah-tengah para para budak yang sedari tadi hanya menonton dirinya. Mereka semua segera memberi ruang bagi Wuyong, sebelum kembali mendekatinya.
"Kalian semua, orang-orang yang telah dijadikan budak. Aku tidak tau apa yang menyebabkan kalian sampai harus dipaksa bekerja di tempat seperti ini, tapi ada yang ingin aku katakan pada kalian.
Mulai sekarang, akulah yang akan memimpin tempat ini, semua orang berada di bahwa pengawasan ku, dan tidak ada yang boleh pergi dari sini selain tanpa izin ku. Jika kalian mengerti dengan hal ini, maka aku akan membebaskan kalian dari status budak kalian itu, bagaimana?"
Weng Lou bertanya pada mereka semua sambil memasang senyum kecilnya.
Para budak pun saling pandang satu sama lain. Ada sedikit keraguan di mata mereka semua dengan tawaran Weng Lou yang akan membebaskan mereka, akan tetapi mereka tidak bisa begitu saja melepaskan kesempatan yang telah mereka tunggu selama bertahun-tahun ini begitu saja.
Setelah saling berdiskusi satu sama lain, akhirnya mereka kembali menghadap ke arah Weng Lou.
"Sebelum kami memberi jawaban, apa kau bisa memberi kami jaminan bahwa kau tidak akan memperlakukan kami sama halnya dengan para prajurit ini?"
Salah seorang dari para budak berjalan maju dan bertanya pada Weng Lou. Dia adalah pria tua yang sama dengan yang memukul Du Zhe kemarin malam saat dia berada di dalam tenda.
Mendengarnya, Weng Lou pun berpikir sejenak sambil mengusap dagunya. Namun setelah beberapa saat, dia tidak menemukan apa pun yang dia bisa jadikan sebagai jaminan yang diminta oleh pria tua itu.
"Aku tidak tau jaminan seperti apa yang bisa aku berikan, bagaimana jika kalian yang mengatakannya saja? Mungkin aku bisa mengabulkannya jika menurut ku itu mungkin," ucap Weng Lou pada pria tua itu.
Pria tua itu pun segera menoleh ke belakang, dan mengangguk bersama kepada para budak lainnya.
"Kalau begitu, kami ingin agar kau membiarkan kami untuk bisa menuliskan surat kepada keluarga kami yang ada di luar wilayah kumuh ini, dan membantu kami agar bisa mengirimkannya. Jika kau mengabulkan nya maka kami semua, para budak yang ada di kota ini akan menerima mu sebagai pemimpin baru kami," ujar pria tua itu.
"Hmmmm....jika hanya itu sepertinya cukup mudah, tapi apa kalian yakin hanya itu saja? Kenapa kalian tidak meminta sesuatu seperti membiarkan kalian memakai senjata, atau yang lainnya?" Weng Lou bertanya dengan bingung.
Menurutnya hanya membiarkan mereka menulis surat sangatlah tidak sebanding dengan yang akan dia lakukan setelah menjadi pemimpin dari kota ini.
Pria tua itu terlihat menghela napas panjang mendengar saran dari Weng Lou dan menggelengkan kepalanya.
"Kami semua yang ada di sini kebanyakan sudah berumur, dan satu-satunya keinginan kami adalah bertemu kembali dengan keluarga kami yang ada di luar wilayah kumuh ini. Tapi kami tidak mungkin meminta hal seperti itu padamu, jadi kami rasa dengan mengirimkan surat dan memberitahukan kondisi kami pada mereka sudah sangat cukup," jelas pria tua itu yang tersenyum pada Weng Lou.
Mata Weng sedikit bergetar mendengar perkataannya. Dia mendadak sedikit rindu dengan keluarganya yang ada di Pulau Pasir Hitam. Sudah hampir setengah tahun dia tidak bertemu dengan mereka, dia mulai penasaran sudah sejauh mana perkembangan mereka.
Weng Lou pun memejamkan matanya, dan tertawa pelan, lalu membalikkan badannya.
"Baiklah kalau begitu, jika itu yang kalian inginkan. Aku akan mencari cara untuk mengirimkan surat kalian pada keluarga kalian, jadi sebaiknya segera tulis surat-surat yang ingin kalian kirimkan," ucap Weng Lou lalu berjalan ke arah Du Zhe.
Pria tua itu mengangguk dan kembali kepada para budak lainnya. Terlihat wajah bahagia mereka semua setelah permintaan mereka diterima oleh Weng Lou.
Mereka semua segera kembali ke tenda besar mereka, dan buru-buru menuliskan surat yang akan mereka kirimkan pada keluarga mereka di luar sana.
Untuk orang-orang yang tidak bisa menulis dan membaca, yang lainnya akan membantu mereka. Ini adalah berkat dari kebersamaan mereka selama bertahun-tahun di tempat ini sehingga mereka sudah sangat terbiasa untuk saling tolong menolong.
Sementara hampir semua budak berbondong-bondong kembali ke tenda untuk menulis surat, ada beberapa orang pria yang masih berdiri di tempat mereka dan diam melihat punggung Weng Lou yang berjalan menjauh.
"Bisakah.....bisakah kami mengganti permintaan untuk menulis surat dengan belajar beladiri darimu???"
Salah seorang pria yang berdiri berseru kepada Weng Lou dan membuat langkahnya terhenti. Weng Lou tidak berbalik dan berbicara kepada mereka, "Aku pikir satu permintaan dalam keputusan bersama. Jika permintaan mu berbeda, itu bukan masalahku."
Weng Lou pun melanjutkan langkahnya. Samar-samar dia tersenyum dan beberapa saat kemudian pria-pria itu segera berlutut di tanah dan kembali berbicara kepada Weng Lou.
"Kami mohon! Tuan! Tolong ajari kami beladiri! Kami akan melakukan apapun! Kami akan menjadi pesuruhmu, atau pelayan mu! Tolong ajari kami beladiri!" seru mereka bersama.
__ADS_1
Sekali lagi langkah kaki Weng Lou terhenti, dan kali ini dia pun berbalik menatap mereka yang ternyata saat ini telah berlinang air mata. Namun Weng Lou sama sekali tidak kaget melihat itu, dia sudah bisa menduga hal ini dengan mendengar dari suara mereka saja.
"Sepertinya kalian lupa akan satu hal. Aku di sini bukan sebagai penyelamat kalian, tapi karena Du Zhe telah membantuku maka aku memberikan sebuah kesempatan untuk bebas dari belenggu budak yang ada pada diri kalian.
Tidak ada keuntungan apapun yang aku terima dengan mengajarkan kalian beladiri, bahkan mungkin saja malah merugikan ku. Jadi hentikan itu dan pergilah ke tenda kalian jika tidak ada orang yang ingin kalian kirimi surat," jelas Weng Lou dengan suara dingin.
Meski terdengar mengancam, lima orang pria yang berusia mulai dari pertengahan dua puluh hingga akhir tiga puluhan yang berlutut kepada Weng Lou tetap berada pada tempat mereka. Malah, mereka berlima mulai bersujud dan menempelkan kepala mereka pada tanah.
"TOLONGLAH!!! KAMI MOHON AJARI KAMI BELADIRI!!!! TUAN!!! KAMI AKAN MENYERAHKAN HIDUP KAMI PADAMU JIKA ANDA MAU MENGAJARI KAMI!!!"
Seruan mereka mulai menarik perhatian orang-orang. Prajurit yang masih diam di tempat mereka terlihat sedikit mencibir kelakuan lima pria itu.
Di berikan kebebasan dari statusnya sebagai budak, seharusnya mereka semua sudah sangat bersyukur, tapi sekarang lima orang pria itu malah meminta sesuatu yang bisa saja menyinggung Weng Lou.
Mereka semua sangat jelas melihat betapa besarnya kekuatan Weng Lou yang sanggup menumbangkan pemimpin mereka dalam sekali pukul, jelas sekali Weng Lou adalah Praktisi Beladiri yang berada pada tingkat yang sangat tinggi. Dari pengalaman mereka, semakin kuat seorang Praktisi Beladiri, maka semakin tinggi juga harga dirinya.
Mengajari seorang mantan budak beladiri, jelas itu akan dianggap sebagai hinaan bagi kebanyakan Praktisi Beladiri.
Sementara itu, di depan kelima pria yang bersujud di hadapannya, Weng Lou terdiam.
Dia bisa merasakan ketekunan pada hati mereka berlima. Namun baginya, ketekunan saja belumlah cukup untuk dia mengajari beladiri pada mereka berlima. Dia ingin sesuatu yang jauh lebih lagi.
Weng Lou pun mendapatkan sebuah ide.
"Du Zhe, kemarilah," panggil Weng Lou.
Du Zhe yang sejak tadi hanya berdiri diam, tersentak kaget saat namanya dipanggil oleh Weng Lou. Dia linglung sejenak, tapi kemudian buru-buru berlari ke samping Weng Lou.
"Ya-Ya...ada apa?" tanyanya dengan gugup.
Weng Lou tidak mengatakan apapun, dan menyentuh pundak Du Zhe dengan pelan. Sensasi hangat pun mendadak keluar dari tangan Weng Lou yang kemudian masuk ke dalam tubuh Du Zhe.
Terlihat wajah Du Zhe sedikit kaget karena hal itu, tapi Weng Lou segera mengatakan padanya untuk tetap tenang.
Tak lama, sekujur tubuhnya mulai terasa panas, namun tidak sampai membuatnya merasa kesakitan. Rasa panas yang ada pada tubuhnya itu terasa seperti sedang mengalir di dalamnya, dan membuatnya merasa nyaman.
Tiga puluh detik kemudian, Weng Lou mengangkat kembali tangannya dari pundak Du Zhe. Dan selang beberapa saat, terdengar suara retakan pada sekujur tubuh Du Zhe. Du Zhe panik karena itu, tapi kemudian dia menyadari bahwa dirinya tidak apa-apa, dan malah kekuatan pada tubuhnya terasa bertambah.
Mulutnya menganga, dan segera menoleh ke arah Weng Lou di sampingnya.
"Terima kasih! Terima kasih banyak!" serunya dengan bahagia.
"Jangan senang dulu, aku akan menguji mu. Kalahkan mereka berlima, dan jika kau bisa menang maka kau akan diajarkan beladiri," ujar Weng Lou padanya.
Mata Du Zhe yang polos tampak bersinar, dia seperti baru saja mendengar kata-kata terindah seumur hidupnya.
"Kalian berlima, siapapun yang bisa bertahan melawan bocah ini sampai aku kembali, kalian juga akan kuajari beladiri."
Weng Lou menoleh pada kelima pria yang masih bersujud di depannya. Kelima pria itu pun mengangkat kepalanya dan menatap Weng Lou Dnegan sungguh-sungguh.
"Be-Benarkah itu?! Apa kau serius?!" tanya salah seorang dari mereka.
"Tentu, aku tidak pernah berbohong selama hidupku. Jika kalian berlima bisa bertahan, aku akan memberikan kalian masing-masing satu teknik beladiri."
Weng Lou pun segera berbalik pergi dan melambaikan tangannya pada mereka berenam.
Kelima pria itu saling pandang, sebelum bangkit berdiri dan menghadap ke arah Du Zhe yang masih berada pada tempatnya.
"Du Zhe, aku harap kau mengeluarkan semua yang kau punya. Kami tidak akan menahan diri kami, meski kau anak-anak sekali pun." Salah seorang dari kelima pria itu berbicara pada Du Zhe.
Mereka jelas tau bahwa Du Zhe adalah seorang Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 2 sekarang, tapi kondisi fisiknya jelas masihlah anak-anak, mau bagaimana pun mereka pasti akan menang melawannya, pikir mereka berlima.
Di sisi lain, Du Zhe sendiri memasang raut wajah seriusnya dan segera memasang kuda-kudanya.
"Tenang saja, paman. Aku akan mengerahkan semua yang aku punya untuk melawan kalian. Ini semua demi bisa menjadi seorang Praktisi Beladiri sejati seperti Kakak Lou," ujarnya.
Kelima pria itu pun segera memasang posisi mereka, dan beberapa detik kemudian, mereka pun memulai pertarungannya.
***
Sementara Du Zhe dan kelima pria yang memohon untuk diajarkan beladiri oleh Weng Lou bertarung, Weng Lou pergi dan menghampiri Wuyong, si pemimpin para prajurit yang ada di kota.
Terlihat Wuyong masih berbaring di tanah dan menajamkan matanya saat Weng Lou tiba di tempatnya.
Dia segera membuka matanya dan melihat sosok Weng Lou yang menghampirinya. Entah mengapa dia memiliki firasat tidak enak, saat melihat wajah tersenyum Weng Lou yang diberikan padanya.
"Baiklah, sekarang aku akan menagih janjimu yang tadi. Ayo antar aku ke tempat mu, ada banyak hal yang ingin aku tanyakan." Weng Lou berbicara santai dan membantu Wuyong untuk berdiri.
__ADS_1
Meski dia menerima pukulan Weng Lou sebelumnya, dia sekarang telah hampir pulih seutuhnya karena Weng Lou membantu mengedarkan Qi nya sendiri kepada Wuyong untuk menyembuhkannya.
Mengapa dia menyembuhkan Wuyong? Itu karena dia akan sulit bertanya banyak hal jika Wuyong berada dalam kondisi kesakitan. Lagi pula, Weng Lou tidak perlu khawatir jika Wuyong menyerangnya atau pun kabur, karena dia bisa kapan saja mengembalikan kondisinya seperti saat dia terluka karena menerima pukulan nya.
Bahkan dia bisa saja membuat Wuyong mengalami sesuatu yang jauh lebih parah dari itu, seperti mematahkan kedua tangan dan kakinya.
"Se-Sebelum itu, apa yang harus aku lakukan dengan anak buah ku? Tidak mungkin aku meninggalkan mereka begitu saja di sini," ucap Wuyong.
"Nah benar, aku hampir lupa dengan itu."
Weng Lou pun menoleh dan menatap ke arah para prajurit yang saat ini masih berada di tengah-tengah kota.
"Kalian para prajurit, dengarkan aku. Mulai hari ini, kalian akan menggantikan peran para mantan budak yang telah aku bebaskan. Kalian akan melakukan pekerjaan yang mereka lakukan sebelumnya. Jika ada yang ingin melawan, kabur, atau tidak ingin bekerja, maka siap-siap dengan konsekuensinya."
Setelah mengatakan itu, Weng Lou dan Wuyong pun segera pergi dari situ, sementara para prajurit masih tampak tidak percaya dengan yang baru saja mereka dengar. Weng Lou telah menyuruh mereka, para prajurit untuk melakukan pekerjaan para budak.
Itu jelas penghinaan! Tapi mereka juga tidak bisa melawan, karena Weng Lou sangat kuat, hingga bahkan mampu mengalahkan pemimpin mereka dengan sangat mudahnya.
Satu persatu prajurit yang telah pasrah pun segera berjalan dengan lesu, dan melakukan pekerjaan yang dilakukan para budak di kota ini, yaitu mengerjakan pembuatan senjata.
***
Setelah berjalan kurang lebih seratus meter, Weng Lou dan Wuyong sampai di bangunan markas para prajurit, yang mana merupakan tempat milik Wuyong.
Weng Lou dan Wuyong masuk ke dalam dan langsung menuju ke ruangan milik Wuyong berada. Weng Lou langsung mengambil tempat untuk duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan itu, sementara Wuyong diam berdiri menatapnya dengan gugup.
"Oke, kita mulai pertanyaannya. Berapa banyak kota yang ada di wilayah kumuh ini?" tanya Weng Lou sambil memejamkan matanya.
"Ah, emmm....seingatku hanya ada sebelas kota saja di wilayah kumuh ini. Aku tidak tau jika ada kota lain karena kami semua terus berada di kota yang ditugaskan oleh kami, dan hanya menerima berita setiap sebulan sekali," jawab Wuyong.
"Berapa banyak prajurit yang ada pada setiap kota? Dan seberapa kuat pemimpin-pemimpinnya?" lanjut Weng Lou.
"Kurang lebih jumlah prajurit yang ditugaskan di tiap kota adalah dua ratus sampai empat ratus prajurit, tapi ada pengecualian untuk Kota Heishin yang merupakan pusat kota di wilayah kumuh. Mereka memiliki lebih dari seribu prajurit yang ditugaskan untuk mengawasi para budak.
Para pemimpin tiap kota rata-rata memiliki kekuatan di Dasar Pondasi tingkat 5 sampai 7, dan untuk Kota Heishin memiliki pemimpin dengan kekuatan di Dasar Pondasi tingkat 10," jelas Wuyong dengan suara jelas.
Dia sepertinya mulai terbiasa berbicara dengan Weng Lou, meski masih tetap merasa gugup di dalam hatinya.
"Kota Heishin? Jadi kota-kota ini memiliki nama, huh?" ujar Weng Lou.
Sebelumnya, Du Zhe sama sekali tidak menyebutkan nama kota mereka ini, sehingga dia berpikir bahwa kota ini tidak memiliki nama sama sekali.
"Anda benar, pada dasarnya kota-kota yang ada di wilayah kumuh sama sekali tidak memiliki nama, melainkan diberi sebutan dengan angka, sesuai urutan pembangunannya. Kota tempat kita berada ini dipanggil atau dikenal dengan nama Kota 3, dengan aku Wuyong sebagai pemimpinnya, ah maksud ku, mantan pemimpinnya.
Kota Heishin sendiri merupakan kota yang memang sudah berdiri jauh sebelum wilayah kumuh dijadikan sebagai tempat untuk para budak bekerja, sehingga memang memiliki nama."
Weng Lou pun mengangguk-angguk mengerti, itu cukup masuk akal. Lagi pula memberi nama itu sangatlah merepotkan pikirnya.
"Kau saja yang tidak pintar memberi nama, jangan banyak membuat alasan," cibir Ye Lao dengan cepat saat mengetahui pikiran Weng Lou.
"Diamlah, aku sedang mendengarkan informasi saat ini."
"Cih, selalu membuat alasan."
Kerutan terlihat pada wajah Weng Lou dan urat kesal mulai timbul pada keningnya. Entah mengapa akhir-akhir ini Ye Lao mulai menyebalkan seperti dulu.
"Baiklah, Wuyong. Dari Kota 3 ini, kota apa yang terdekat?"!
"Yang terdekat? Itu adalah kota 2 jika mengikuti jalanan utama, tapi jika mengambil sebuah garis lurus yang terdekat adalah Kota 7 yang terletak di arah timur kota," jawab Wuyong dengan cepat.
Weng Lou pun mengangguk, lalu segera bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruangan itu, membuat Wuyong kebingungan sendiri.
"A-Anda mau kemana?! Tuan?!"
Wuyong segera mengikuti kemana Weng Lou pergi, tugasnya pastinya masih belum selesai, jadi dia sebisa mungkin ingin menyelesaikan ini semua dengan cepat.
"Kau tunggu saja di ruangan mu, aku akan pergi ke Kota 7," ucap Weng Lou.
"Tapi untuk apa, Tuan?!"
"Tentu saja, untuk menaklukannya seperti yang aku lakukan pada Kota 3 ini." Weng Lou pun sampai di luar bangunan markas, lalu kemudian Pisau Pencabut Nyawa segera bergerak keluar dari balik bajunya.
Dengan santainya Weng Lou melompat ke atasnya, dan dia pun terbang ke arah timur kota, menuju ke arah tempat Kota 7 berada.
************************************************
Words: 2746
__ADS_1