Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 442. Dimulainya Babak Semifinal (I)


__ADS_3

Setengah jam berlalu, kelompok Weng Lou telah selesai menyantap makanan mereka semua dan pergi berangkat ke Bangunan Arena Pertandingan bersama-sama dengan pak tua pemilik penginapan.


Hal ini pada awalnya membuat Weng Lou dan yang lain terkejut karena sebelumnya, si pak tua pemilik penginapan ini seperti tidak tertarik sama sekali untuk menonton pertarungan mereka. Dugaan ini muncul karena saat mereka menceritakan pertarungan mereka pada babak seleksi kemarin di pesta malam mereka, pemilik penginapan sama sekali tidak berminat untuk mendengarkannya. Jadi mereka berasumsi bahwa dia tidak tertarik untuk menonton pertarungan mereka.


"Aku ingin memastikan bahwa kau bisa lolos di babak semifinal ini, dan lanjut ke babak final, bocah. Aku tidak mau jika sampai kau kalah dan malah membawa kabur dua barang yang telah aku berikan pada mu sebelumnya."


Itu adalah kata-kata yang diucapkan olehnya pada Weng Lou saat ditanya kenapa dia ingin menonton pertarungan mereka kali ini.


"Lagi pula, aku juga sudah menonton pertarungan kalian kemarin di babak seleksi, jadi tidak ada salahnya untuk menonton kelanjutannya."


Mendengarnya membuat mereka semua cukup terkejut, karena pada dasarnya tidak ada yang menduga bahwa dia akan menyempatkan diri untuk menonton mereka kemarin.


"Kapan Anda datang untuk menonton kami kemarin?" tanya Jian Qiang pada pemilik penginapan.


Dia selama babak seleksi kemarin secara samar telah menyebarkan kekuatan jiwa milik ke hampir seluruh Bangunan Arena Pertandingan. Jika pemilik penginapan mengatakan yang sebenarnya, maka harusnya dia merasakan keberadaannya kemarin, pikir Jian Qiang.


"Hm? Tentu saja aku menonton kalian semua sedari dari awal. Aku tidak perlu datang ke Bangunan Arena Pertandingan untuk menonton Turnamen Beladiri Bebas. Cukup memakai kekuatan jiwa saja, sudah bisa. Tapi aku harus mengatakan bahwa kalian semua itu terlaku hati-hati.


Kemarin adalah babak seleksi paling membosankan yang pernah aku tonton. Membentuk kelompok dan mengurangi jumlah peserta dengan hati-hati? Hah, omong kosong. Jika aku yang mengikutinya kemarin, aku sudah pasti akan menjelajahi seluruh lapangan arena, dan bertarung melawan arena pada babak seleksi pertama, tidak seperti yang kalian lakukan," jawabnya dengan nada kesal.


Jian Qiang terdiam mendengar jawabannya itu, dan sadar bahwa dirinya sudah lupa bahwa pak tua pemilik penginapan ini memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat darinya.


Tapi jumlah kekuatan jiwa yang harus dipakai untuk bisa mencapai tempat penginapan mereka sampai ke Bangunan Arena Pertandingan tidaklah sedikit, karena jaraknya yang mencapai beberapa ratus meter. Perlu diingat bahwa luas dari lapangan Arena Pertandingan sendiri sangatlah luas, jadi otomatis kekuatan jiwa yang diperlukan juga jauh lebih besar. Pak tua pemilik penginapan pastinya memiliki kekuatan jiwa yang sangat besar karena sanggup menonton mereka dari penginapan.


Beberapa menit kemudian, mereka semua akhirnya telah tiba di Bangunan Arena Pertandingan.

__ADS_1


"Kita sudah sampai," ucap Weng Lou dengan memasang senyumnya.


Terlihat banyak orang yang telah berdatangan ke tempat ini. Mereka semua berasal dari semua wilayah yang ada di Pulau Pasir Hitam, entah itu dari Wilayah Timur, Utara, Barat, Selatan, atau pun Tengah.


"Baiklah kalau begitu, kami berdua akan pergi ke tempat duduk penonton, semoga beruntung. Terutama kau bocah, aku tidak mau tau, yang jelas kau harus bisa menang di Turnamen Beladiri Bebas ini." Pak tua pemilik penginapan itu berbicara pada mereka semua sambil menarik Pang Baicha bersamanya.


Pang Baicha hanya bisa memasang wajah pasrah saat ditarik seperti itu. Tatapannya sempat saling bertemu dengan Jian Qiang, dan terlihat mereka berdua tersenyum canggung.


Ingatan akan kejadian beberapa jam yang lalu kembali terlintas dipikiran mereka berdua selama beberapa saat sebelum kembali cepat-cepat mereka tepiskan jauh-jauh dari kepala mereka masing-masing.


Ini bukan saatnya untuk memikirkan hal itu, pikir keduanya.


"Kalian berusahalah semaksimal mungkin! Jangan biarkan lawan kalian bisa memberikan serangan pada tubuh kalian! Aku akan menonton setiap pertarungan kalian semua nantinya! Jadi jangan mengecewakan aku!" seru Pang Baicha sambil terus bergerak masuk ke Bangunan Arena Pertandingan karena terus ditarik oleh pak tua pemilik penginapan yang bersamanya.


Tampak senyum kecil tercipta di sudut bibir Pang Baicha ketika melihat itu, dia tidak tersinggung sama sekali akan ucapan Weng Ying Luan yang dilontarkan padanya. Itu karena dia bisa tau bahwa kata-kata yang diucapkan oleh Weng Ying Luan tidak mengandung maksud menghina sama sekali.


"Baguslah!" Pang Baicha melambaikan tangannya dan kemudian menghilang diantara keramaian.


Weng Ying Luan, Weng Lou, dan yang lainnya tertawa pelan sebelum kemudian mereka semua ikut berjalan memasuki Bangunan Arena Pertandingan. Mereka tidak masuk lewat ruangan yang dimasuki oleh Pang Baicha dan pak tua pemilik penginapan, melainkan melewati sebuah pintu yang tidak jauh dari arah pintu masuk ruangan tersebut.


"Kalian sudah datang juga yah? Tidak kusangka kalian akan datang sepagi ini."


Dari antara kerumunan orang-orang yang bergerak masuk ke Bangunan Arena Pertandingan, terlihat sosok seorang pemuda yang memisahkan diri dan mendekati kelompok Weng Lou


Dia adalah Yang Guang. Pada punggungnya tersarung dua buang pedang yang memiliki sarung kembar. Alis mata Weng Lou dan Weng Ying Luan terangkat melihat kehadirannya dan pedang yang dia bawa bersamanya.

__ADS_1


"Kau membawa pedang mu secara langsung?" tanya Weng Ying Luan dengan keheranan.


Pandangan Yang Guang segera terarah pada pedang di punggungnya yang sedang ditatap oleh Weng Ying Luan.


"Ini? Bukan apa-apa, aku sengaja membawanya untuk latihan pagi."


Weng Ying Luan tampak semakin keheranan mendengar jawaban dari Yang Guang, sedangkan Weng Lou mulai mengerti maksud dari Yang Guang. Dia pun berjalan mendekati Yang Guang.


"Boleh aku?"


"Hm? Tentu."


Tanpa ragu Weng Lou mengambil salah satu pedang di punggung Yang Guang beserta sarungnya. Terlihat genggaman tangan Weng Lou mengeluarkan urat-urat nya yang menandakan pedang di tangan nya itu sangatlah berat.


"Beratnya sedikit lebih ringan dari palu milik ku," ucap Weng Lou yang menimbang-nimbang pedang tersebut.


Kali ini giliran Yang Guang yang tampak keheranan, dan bertanya maksud perkataan dari Weng Lou. Tanpa menjawabnya sana sekali, Weng Lou mengeluarkan palu miliknya yang ia selalu pakai untuk melatih fisik dan otot tangannya.


Weng Wan yang tidak jauh dari situ membelalakkan matanya melihat besar palu yang ada di tangan Weng Lou. Palu itu sama persis dengan yang diberikan padanya, hanya saja ukurannya lebih besar.


"Palu?" tanya Yang Guang dengan tidak mengerti.


Tangan Yang Guang bergerak dan mengambil palu tersebut dari tangan Weng Lou, dan detik berikutnya, wajahnya berubah seratus delapan puluh derajat. Tanah yang menjadi pijakan kakinya mendadak membentuk kawah kecil, dan tangannya yang memegang palu itu terlihat sedikit bergetar.


"Hahaha.....ini gila."

__ADS_1


__ADS_2