Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 667. Dewa Pemusnahan


__ADS_3

Di istana di dalam Kediaman Keluarga Lin, Du Zhe terlihat sedang berlatih menggunakan palu yang diberikan oleh Weng Lou padanya.


*Shuuu....*


Dengan bersusah payah Du Zhe mengayunkan palu yang dipegang menggunakan kedua tangannya.


*Tssrrrrr......*


Kaki Du Zhe sedikit terseret ke depan karena menahan beban berat dari palu. Meski begitu, dia berusaha sekuat tenaga agar palu itu tidak terlepas dari genggamannya.


Menarik napas dalam, Du Zhe menarik sekali lagi palu itu hingga berada di belakang kepalanya. Kedua kakinya membentuk kuda-kuda yang kokohnya agar tubuhnya bisa menahan dengan baik beban palu tanpa harus membebani tubuhnya.


*Shuuu.....*


Sekali lagi palu diayunkan ke depan.


Setelah mengayunkan palu untuk kesekian kalinya, akhirnya Du Zhe meletakkan palu dengan pelan di atas lantai yang memiliki banyak sekali retakan.


"Haaaah....." Du Zhe menghela napas panjang.


Kera Hitam Petarung yang menontonnya dari samping mengangguk melihat Du Zhe menyelesaikan latihannya.


"Kerja bagus, Du Zhe. Kau sudah menyelesaikan latihan mengayunkan palu sebanyak lima puluh kali. Jika beberapa hari ke depan kau masih bisa terus menambah banyak ayunan sebanyak satu kali tiap harinya, maka seharusnya dalam dua bulan kau akan menyelesaikan seratus ayunan. Setelah itu, kita akan memulai latihan mu mengayunkan palu menggunakan satu tangan," katanya pada Du Zhe.


Du Zhe yang mendengarnya mengangguk dan mengelap keringat di dahinya. Sudah lebih setengah tahun lamanya dia latihan seorang diri tanpa Weng Lou menemaninya.


Kera Hitam Petarung telah menggantikan Weng Lou untuk memberikan arahan latihan kepadanya dan hasilnya tidak kalah dibandingkan dengan saat Weng Lao yang melatihnya. Meskipun Kera Hitam Petarung tidak bisa memberikan contoh sebaik Weng Lou, namun untungnya Weng Lou sudah memberikan dasar-dasar yang cukup untuk Du Zhe yang akan bisa dia pakai dalam beberapa bulan latihannya ke depan.


"Aku merasa perkembangan kekuatan tubuhku sudah sangat berkembang dibandingkan beberapa bulan lalu. Sekarang kekuatan fisik ku sudah setara dengan Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 5 puncak. Hanya sedikit lagi aku akan memiliki kekuatan Dasar Pondasi tingkat 6 yang sesungguhnya," ujar Du Zhe.


Dia mengepalkan tangannya. Dadanya terasa menggebu-gebu.


"Hanya Dasar Pondasi tingkat 6 belaka, apa spesialnya? Kau harus menetapkan tujuanmu setinggi mungkin. Contohnya, mencapai ranah Pembersihan Jiwa dalam dua tahun. Jika kau bisa mencapainya, aku yakin kau akan menjadi bakat paling luar biasa yang pernah ada di dunia beladiri. Bahkan bocah Lou itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mu." Kera Hitam Petarung berbicara dengan nada mengejek.


Du Zhe segera menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak mungkin jauh lebih berbakat dibandingkan dengan Guru. Pada kenyataannya, semua perkembangan ku adalah karena Guru. Jika seandainya Guru tidak mengangkat ku sebagai muridnya, aku mungkin masih menjadi bocah miskin terlantar yang tidak dipedulikan oleh siapapun."


Kera Hitam Petarung hanya diam mendengar kata-kata Du Zhe. Bagian itu tidak bisa dia sangkal. Karena mau sehebat apa bakat seseorang dalam beladiri, apabila tidak dilatih dengan benar, maka bakat itu akan terbuang sia-sia, itu yang akan terjadi pada Du Zhe jika tidak bertemu dengan Weng Lou.


Berjalan ke pinggir taman, Kera Hitam Petarung menatap dengan tenang pada rumah-rumah beragam bentuk Yanga dan di bagian dalam dari Kediaman Keluarga Lin. Ada banyak orang yang berlalu lalang, mereka adalah anggota dalam dari Keluarga Lin. Banyak yang terlihat seusia dengan Du Zhe, dan mereka semua terlihat sedang berlatih mengikuti arahan dari guru pribadi mereka.

__ADS_1


"Hei, apa kau tidak berniat berjalan-jalan keluar, Du Zhe? Aku melihat beberapa anak yang usianya tidak jauh berbeda dengan mu, akan bagus jika kau bisa berteman dengan mereka. Atau paling tidak, kalian bisa saling bertarung untuk melihat sejauh mana perkembangan mu," ujar Kera Hitam Petarung.


Mendengar itu membuat Du Zhe terdiam untuk sesaat, namun kemudian dia segera menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tertarik. Lebih baik aku berlatih dengan baik, jika guru datang nanti aku tidak mau sampai mengecewakannya."


"Haaah....kau ini keras kepala sekali. Memangnya bagaimana kau bisa tau seberapa kuatnya dirimu tanpa mencoba mengukur kekuatan anak-anak seusiamu? Pertarungan adalah wujud latihan yang sebenarnya. Semua makhluk hidup yang mengikuti jalan kekuatan ini, semuanya telah melewati pertarungan yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan diriku, ketika masih mengejar kekuatan, aku telah bertarung setiap harinya." Kera Hitam Petarung menjelaskan.


Namun sekali lagi Du Zhe menggelengkan kepalanya. "Lalu bagaimana sekarang? Apakah Tuan Kera masih mengejar kekuatan itu?"


Pertanyaan itu membuat Kera Hitam Petarung diam seribu bahasa. Dia tidak yakin harus menjawab apa pada Du Zhe.


"Semua orang memang mengejar kekuatan, namun ambisi menjadi kuat diperlukan agar kita bisa fokus mengejar kekuatan tersebut. Ambisi yang ada padaku adalah untuk menjadi murid yang membanggakan bagi Guru ku. Aku yakin Guru tidak terlalu peduli apakah aku mengalami pertarungan dalam mencapai kekuatan ini atau tidak, selama aku bisa memenuhi ekspektasi nya, dia akan senang."


Kera Hitam Petarung tidak bisa menyangkalnya. Namun dia juga menatap Du Zhe dengan tatapan aneh. Di dalam hatinya, Kera Hitam Petarung hanya bisa menghela napasnya.


Meski ucapan Du Zhe memang benar, namun ambisinya agar bisa membanggakan Weng Lou terdengar tidak masuk akal jika dia hanya ingin berlatih tanpa mengalami pertarungan.


Seorang Praktisi Beladiri pada dasarnya berlatih beladiri untuk bertahan dalam pertarungan! Sudah menjadi takdir seorang Praktisi Beladiri untuk mengalami apa yang disebut dengan pertarungan. Mau atau tidak, Du Zhe akan mengalaminya cepat atau lambat. Untuk saat ini, Kera Hitam Petarung akan membiarkan Du Zhe dengan pemikirannya itu.


Namun ketika tiba saatnya nanti, dia akan membantu Du Zhe agar mengerti lebih baik lagi apa itu dunia beladiri.


Dalam dunia beladiri, kelemahan hati adalah cacat pada diri seseorang. Kelemahan hati hanya menyebabkan seseorang mati dengan mengenaskan. Kera Hitam Petarung sudah banyak melihat pemandangan seperti itu.


Kau terlahir dengan bakat beladiri terkuat, Du Zhe. Kau akan menyadarinya, bahwa sebuah bakat yang begitu besar akan datang bersama dengan tanggung jawab besar. Terlebih dengan menjadi murid dari seseorang seperti bocah monster itu, takdir mu sudah lama diputuskan.


Kau akan berjalan dalam jalan yang penuh dengan darah dan kematian.


***


Di dalam Kastil Kediaman Keluarga Lin.


Lin Nushen duduk sambil memejamkan matanya di atas tahta miliknya.


Matanya terbuka saat dia merasakan beberapa gejolak yang terjadi di perbatasan wilayah Keluarga Lin.


"Jadi orang-orang itu sudah datang. Kedatangan mereka ke sini pasti ada hubungannya dengan bocah yang bersama monyet besar itu," gumam Lin Nushen.


Kedua putrinya segera muncul di samping kiri dan kanannya. Keduanya hanya diam menunggu keputusan dari Lin Nushen.

__ADS_1


"Ayo kita lihat mereka," katanya.


Dengan begitu, ketiganya segera menghilang dan kemudian muncul kembali di atas langit.


Di sisi lain, kapal kayu melesat terbang dengan sangat cepat melewati daerah-daerah kekuasaan Keluarga Lin.


Kapal kayu itu tanpa masalah sedikitpun melewati seratus kilometer hanya dalam hitungan beberapa waktu saja. Ketika hari sudah akan menunjukkan sore hari, kapal kayu akhirnya tiba di atas danau lava.


Kemunculan kapal kayu itu segera menarik perhatian semua orang, terutama anggota Keluarga Lin yang ada di sekitar pelabuhan dan Kediaman Keluarga Lin. Mereka menatap kapal kayu itu dengan terkejut.


Tidak ada yang berani secara sembarangan memprovokasi Keluarga Lin di wilayah kekuasaan mereka sendiri. Meskipun mereka adalah yang terlemah diantara Empat keluarga Besar di Daratan Utama saat ini, kekuatan mereka tidak bisa diremehkan begitu saja.


Lin Nushen yang ada di atas langit langsung segera menghampiri kapal kayu itu dengan diikuti kedua putrinya dan sebelas pengawalnya yang semuanya adalah Penguasa Jiwa.


Berhenti di depan kapal kayu, Lin Nushen menatap pada Weng Lao De dan orang-orang lain yang ada di atas kapal.


Matanya sedikit menyipit saat menatap Lin Ao Man. Dia terkejut melihat anggota Keluarga Lin dari Pulau Pasir Hitam di atas kapal kayu tersebut. Dia kemudian mengalihkan tatapannya pada delapan orang Kaisar Jiwa yang lainnya, dia langsung mengenali identitas mereka hanya dengan melihat pakaian yang dikenakan oleh mereka.


"Sepertinya kekuatan-kekuatan besar di Pulau Pasir Hitam benar-benar berniat memusnahkan Keluarga Ying. Cukup mengejutkan melihat sepuluh Kaisar Jiwa dari Sepuluh Kekuatan Utama Pulau Pasir Hitam ada di atas kapal kayu yang sama," ujar Lin Nushen.


Dia tidak menunjukkan tanda-tanda takut atau tertekan menyaksikan sepuluh Kaisar Jiwa yang datang ke tempatnya. Matanya kemudian bergerak dan menyipit saat melihat sosok seorang gadis cantik berambut merah terang sedang duduk bersila di bagian belakang kapal.


Tentu dia mengenali sosok Lin Mei. Dia adalah gadis yang sama yang mengambil bulu Phoenix dari dalam Kediaman Keluarga Lin.


Weng Lao De yang ada di bagian depan kapal tersenyum ramah pada Lin Nushen.


"Sebagai perwakilan dari Keluarga Leluhur Weng, aku memberikan hormat kepada Kepala Keluarga Lin, Lin Nushen." Dia memberikan hormatnya pada Lin Nushen dan menundukkan kepala padanya.


Lin Nushen berkedip. Tidak ada yang aneh dari cara Weng Lao De memberi hormat kepadanya. Hanya saja, penghormatan yang diberikan oleh Weng Lao De terasa seperti dia benar-benar menghormati sosok Lin Nushen. Hal ini membuat sembilan Kaisar Jiwa yang lain menatapnya dengan terkejut.


Dari pandangan mereka, meskipun Lin Nushen adalah Kepala Keluarga Lin di Daratan Utama, namun dia hanyalah seorang Kaisar Jiwa puncak biasa. Sosok Weng Lao De jauh lebih kuat darinya, jadi seharusnya dia tidak perlu sampai menundukkan kepalanya kepada Lin Nushen.


Weng Ying Luan dan Lin Mei yang melihat ini di sisi lain langsung merasakan sesuatu. Hanya ada satu hal yang bisa membuat Weng Lao De yang setengah langkah menjadi Dewa sampai menundukkan kepalanya kepada Lin Nushen.


Lin Nushen pasti memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dari yang terlihat!


"Sepertinya ingatan milik mu benar-benar bagus, Weng Lao De. Meskipun kau waktu itu masih seorang bocah, namun kau masih bisa mengingat dengan baik kekuatan yang kumiliki," ujar Lin Nushen.


Gejolak terjadi pada danau lava di bawah mereka. Gelombang dari lava panas muncul dan tiba di bawah kaki Lin Nushen. Begitu dia menginjakkan kaki di atas lava itu, sebuah kehendak pemusnahan yang begitu besar terpancar dari tubuh Lin Nushen.

__ADS_1


Kedua pupil Lin Nushen berubah menjadi vertikal. Dia seperti seekor burung pemangsa yang siap menaklukan mangsanya.


"Saya sekali lagi menghaturkan hormat saya pada Dewa Pemusnahan, Lin Nushen."


__ADS_2