Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 375. Seorang Pahlawan


__ADS_3

Tak perlu waktu lama untuk Weng Lou mengumpulkan semua tubuh siluman serigala yang tersisa setelah dia menyerapnya untuk meningkatkan kekuatannya dan Weng Ying Luan.


Terdapat lima puluh tujuh tubuh yang telah dikumpulkan olehnya. Tidak ada tubuh yang memiliki keadaan bagus, semuanya setidaknya memiliki bekas luka besar yang menjadi penyebab kematian mereka.


Contohnya saja salah satu mayat siluman serigala di depannya ini, terdapat sebuah lubang dengan besar hampir setengah meter pada dadanya. Jelas pelakunya adalah Weng Ying Luan.


Weng Lou menggerutu melihat itu, separuh dari bagian dalam dari tubuh itu telah hancur berantakan, yang berarti harganya tidak akan sampai setengah harga aslinya jika dijual nantinya, karena harga sesungguhnya dari tubuh-tubuh siluman ini adalah jantung, dan kulitnya yang berharga.


Jika kulitnya dijual dalam ukuran utuh tanpa kurang sedikitpun, harganya saja sekitar lima ratus koin emas. Dan untuk jantungnya, itu dinilai dari usia silumannya, semakin tua semakin mahal, harga tertinggi yang dapat ditawarkan adalah seribu dua ratus koin emas.


Setelah menggabungkan semua tubuh menjadi satu tumpukan menyerupai bukit kecil, Weng Lou pun mengendalikan Qi miliknya, dan mulai melilit semua tubuh itu menjadi satu, lalu dengan satu tangan mulai mengangkat kelima puluh tujuh tubuh siluman serigala ini itu.


Terlihat urat-urat pada lengan kanannya yang mengangkat tubuh-tubuh itu.


Pada momen inilah, bisa terlihat jelas bahwa tubuh Weng Lou benar-benar berotot, tidak sebesar milik Weng Wan, namun jelas lebih berbentuk darinya.


Ini semua berkat latihan mengayunkan palunya.


Perlu diketahui, satu palu yang dia pakai latihan ketika berada di penginapan sebelumnya memiliki berat 1 ton, tanpa kurang atau lebih sedikit pun.


Tidak heran, jika ingin dikatakan bahwa besar kekuatan Weng Lou saat ini tidak lebih lemah dari mereka yang berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 sekalipun.


Tanpa Qi dia bahkan sanggup membuat, Weng Wan yang berspesialis dalam kekuatan tubuh sampai babak belur, apalagi jika menggunakan Qi.


Weng Lou melangkahkan kakinya dan berjalan dengan santai ke arah desa tempat mereka semua beristirahat.


Tak perlu waktu lama hingga dirinya sampai di desa. Namun pemandangan yang menyambutnya berbeda dengan ketika kelompok Weng Lou datang pertama kali, dimana tidak ada satupun penduduk yang terlihat diluar rumah mereka.


Tapi sekarang, lihatlah, seorang anak kecil berusia kurang dari lima tahun terlihat berlari melintas di depannya.


Dia berkedip beberapa kali, dan mengusap kedua matanya dengan tangan kirinya yang kosong. Dia seperti salah melihat apa yang ada di depannya saat ini.

__ADS_1


Semua penduduk yang sebelumnya bersembunyi dalam rasa ketakutan di dalam rumah mereka masing-masing, kini berada di luar mereka, dengan senyum bahagia dan tawa kebahagian yang tampak dari mereka semua.


"Itu Sang Pahlawan yang telah menyelamatkan Desa Kabut tercinta kita!"


Salah seorang penduduk berseru sambil menunjuk Weng Lou yang sedang mengangkat tumpukan tubuh siluman serigala di tangan kanannya hingga membuat cahaya matahari menjadi terhalang karena tingginya.


"Hormat kepada Pahlawan!!


"Hormat kepada Pahlawan!!!"


"Hormat kepada Pahlawan!!!!"


Mendadak, semua penduduk yang ada di situ berlutut ke tanah, dan menundukkan wajah mereka semua kearah Weng Lou dan membuatnya terkejut bukan main.


Apa yang terjadi di sini? pikirnya.


Dia menoleh dan melihat Weng Ying Luan yang berada di belakang para penduduk sedang menahan tawanya karena menyaksikan ekspresi wajah Weng Lou yang sedang kebingungan.


Beberapa saat setelah kembali ke desa, salah satu anak penduduk tanpa sengaja keluar dari rumahnya, dan menabrak Weng Ying Luan.


Ketika ibu itu akan masuk kembali kerumahnya bersama dengan anaknya, Weng Ying Luan segera menghentikannya, dan menanyakan kenapa dia tampak sangat takut.


Dengan rasa ragu sekaligus takut, ibu anak itu pun memberitahukan, bahwa mereka selalu diteror oleh para siluman serigala beberapa hari ini. Siapa saja keluar dari rumah mereka lebih dari satu jam, mereka akan terbunuh oleh serangan dari para siluman serigala.


Anehnya siluman-siluman ini tidaklah langsung memakan korban mereka yang telah dibunuh, melainkan sengaja membiarkan tubuh mereka tergelak begitu saja, dan menunggu ada orang yang datang dan berniat mengambil tubuh korban mereka, lalu membunuh orang tersebut.


Setelah mendengarkan cerita dari ibu tersebut, Weng Ying Luan pun mengerti kenapa dua layar yang sebelumnya tidak dimakan oleh para siluman serigala. Ternyata mereka ini jauh lebih pintar dari dugaan awal mereka, tidak hanya mereka menyiapkan jebakan penyergapan pada mereka, ternyata mereka juga pandai membuat jebakan lainnya yang sangat ampuh bagi para penduduk desa yang semuanya hanya manusia biasa.


Tiba-tiba sebuah ide pun terlintas pada kepala Weng Ying Luan dan membuatnya tersenyum lebar.


Dia kemudian memberitahukan bahwa siluman serigala yang meneror para penduduk telah di kalahkan oleh temannya yang tidak lain adalah Weng Lou.

__ADS_1


Awalnya ibu tersebut tidak percaya sama sekali, tapi kemudian dia mengeluarkan sebuah kepala siluman serigala yang secara sembunyi-sembunyi dia masukkan ke dalam ruang penyimpanan miliknya, yang tentunya tidak diketahui oleh Weng Lou sama sekali.


Ibu itu pun terkejut bukan main melihat itu, dan segera memanggil para penduduk lainnya, lalu memberitahukan bahwa para siluman telah dikalahkan oleh pendekar yang sangat hebat.


Tentu awalnya para penduduk hanya menganggap bahwa ucapan dari wanita itu hanyalah omong kosong belaka, tapi setelah melihat kepala siluman serigala yang ada pada Weng Ying Luan, mereka pun langsung percaya.


Semua penduduk langsung keluar dari rumah mereka dan merayakan kegembiraan itu bersama.


Tepat setelah itu, sosok Weng Lou pun sampai di desa dengan membawa tumpukan tubuh siluman serigala yang menyerupai sebuah bukit kecil dengan tangannya.


Para penduduk pun terdiam sesaat menyaksikan hal itu, sampai kemudian seorang pria tua yang tidak lain ada Kepala Desa tersebut berseru dan berlutut hormat kepada Weng Lou, yang langsung diikuti oleh semua penduduk yang ada.


Weng Lou saat ini sedang mengumpat dalam hatinya melihat senyuman pada wajah Weng Ying Luan.


"Apa yang telah dia lakukan sampai para penduduk ini berlutut kepadaku?!" jerit Weng Lou dalam hatinya.


Dia ingin sekali melempar tumpukan tubuh siluman serigala yang ia bawa pada Weng Ying Luan, namun jika dia melakukannya, maka para penduduk bisa tertimpa olehnya.


Menghela napasnya, Weng Lou pun berjalan mendekati salah seorang pria yang berlutut kepadanya.


"Berdirilah," ucap Weng Lou kepada pria itu.


Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Weng Lou sejenak, lalu bangkit berdiri kembali.


"Kalian semua juga, berdirilah!" Weng Lou berseru nyaring kepada semua penduduk itu.


Dengan cepat mereka semua pun berdiri kembali dan menatap Weng Lou dalam-dalam, sosok Weng Lou sudah seperti seorang dewa bagi mereka semua yang ada di situ.


"Pahlawan! Katakan apa yang kau inginkan pada kami, kami akan berusaha sekuat tenaga untuk bisa mengabulkannya! Anggap saja itu adalah bayaran atas jasa anda kepada kami semua!" pria yang tidak lain adalah kepala desa tersebut berseru kembali kepada Weng Lou dan membuat perhatian Weng Lou terarah padanya.


Weng Lou ingin menolaknya, namun kemudian setelah dia pikir kembali, menurutnya itu bukanlah ide buruk. Terlepas dari situasi mereka yang sebelumnya tidak bisa keluar rumah, tetapi sepertinya mereka memiliki cukup persediaan makanan.

__ADS_1


"Buat saja makanan sebanyak-banyaknya malam ini, kita semua akan berpesta untuk memperingati kebebasan kalian dari teror para siluman serigala," ucap Weng Lou dengan suara nyaring sehingga dapat terdengar oleh semua orang yang ada.


Senyum Weng Ying Luan semakin lebar mendengar itu, siapa yang akan menolak makanan? Bukan dia tentunya.


__ADS_2