
Pusat Perguruan Iblis Merah terletak di sebuah lembah tersembunyi yang terletak di dekat pegunungan yang terkenal di Pulau Gui.
Daerah di sekitar pegunungan itu ditinggali oleh banyak sekali binatang buas, mulai dari yang lemah hingga yang memiliki kekuatan hampir setara dengan Hong Mugui. Mereka semua ditempatkan oleh Hong Mugui sendiri agar bisa menjadi pertahanan pertama dari Pusat Perguruan Iblis Merah yang dibangun olehnya.
Meski hanya berjarak lima ratus meter dari ibukota, namun tidak ada jalur lurus yang menghubungkan antara ibukota dengan Pusat Perguruan Iblis Merah tersebut, karena dihalangi oleh pegunungan besar. Yang mana Pusat Perguruan Iblis Merah terletak dibaliknya. Ketinggian dan cuaca ekstrem yang terdapat di pegunungan tersebut juga menjadi alasan khusus kenapa tidak ada jalur lurus untuk mencapai Pusat Perguruan Iblis dari ibukota.
Saat ini, kelompok Weng Lou sedang melesat laju melewati lebatnya pepohonan di malam hari. Dengan bermodalkan insting dan juga cahaya bulan, Kera Hitam Petarung berlari dengan kencang tanpa ada masalah sedikitpun. Tubuh besarnya bukanlah halangan baginya untuk bergerak diantara pepohonan hutan.
Hong Mugui yang ada di punggungnya, memberikan dia arahan dengan tubuhnya tampak tegang.
"Hei, apa benar ini adalah arah menuju ke Pusat Perguruan Iblis Merah kalian? Aku bisa merasakan bahwa jalur yang sudah kita lewati membentuk banyak sekali belokan." Kera Hitam Petarung mendengus sambil terus berlari.
"Be-Benar! Ini adalah jalurnya! Di sekitar Pusat Perguruan Iblis Merah dipasangi dinding pertahanan ilusi agar mencegah binatang buas yang ada di sekitar tidak masuk ke daerah perguruan. Jalur yang kita lewati adalah jalur yang tidak terdapat ilusi di dalamnya," jelas Hong Mugui dengan gugup. Intimidasi dari Kera Hitam Petarung sudah cukup mengerikan baginya, dia tidak berani membuatnya marah.
Namun mendadak, Kera Hitam Petarung itu berhenti berlari, dan segera menoleh ke arah Hong Mugui punggungnya. Dengan tatapan mata yang sedikit menunjukkan emosinya, dia mendengus sekali lagi, "Sial, sudah kukatakan beritahu saja arah lurusnya! Kau pikir ilusi yang dibuat oleh kalian bisa berpengaruh bagiku?! Bahkan ilusi yang dibuat oleh Praktisi Beladiri Ranah Pembersihan Jiwa tahap 9 puncak tidak mempan kepadaku!"
"Hei, pelankan suaramu! Du Zhe sedang istirahat, jangan buat dia bangun!"
Weng Lou menepuk tubuh Kera Hitam Petarung dengan sedikit kuat, dan seketika membuatnya terdiam. Kera Hitam Petarung menoleh sedikit lebih jauh dan melihat Du Zhe yang tidur sambil menggenggam erat rambut pada tubuhnya itu. Wajahnya pun kembali santai dan dia tidak lagi memasang ekspresi marah.
"Hm, cepat beritahu aku arah lurusnya." Kera Hitam Petarung berbicara dengan pelan kepada Hong Mugui.
"I-Itu! Jika dari sini, kita hanya perlu lurus lewat jalan ini!" jawab Hong Mugui dengan cepat.
Kera Hitam Petarung tidak berbicara lagi, dia segera melesat kembali namun dengan tubuh yang stabil, agar Du Zhe yang tidur tidak terganggu.
Sementara itu, Hong Mugui hanya bisa mengutuk dalam hati karena Kera Hitam Petarung mengambil jalan lurus menuju ke tempat tujuan mereka, Pusat Perguruan Iblis Merah. Rute yang diberikan nya memang bukan rute yang biasanya dipakai oleh para anggota biasa, namun rute ini juga bukanlah rute yang salah.
Kekuatan ilusi yang digunakan sebagai penghalang menuju ke perguruan pada dasarnya hanya mempu menahan kekuatan mereka yang berada di ranah Pembersihan Jiwa, dan kekuatan yang dimiliki oleh Kera Hitam Petarung jelas melebihi itu. Jika makhluk sekuatnya memaksa melewati kekuatan ilusi yang dipasang tanpa melewati jalur khusus, maka kekuatan penghalang akan hancur dan pertahanan yang digunakan untuk menahan para binatang buas akan terlepas.
Oleh sebab itu dia menuntun Kera Hitam Petarung melewati jalur khusus, meski jalur tersebut sedikit lebih jauh dari jalur lurusnya, tapi jalur itu aman dan kekuatan ilusi tidak akan terpengaruh oleh dampak kekuatan yang dimiliki oleh Kera Hitam Petarung.
'Ambil sisi positifnya, Mugui. Setidaknya para tua bangka itu akan merasakan tekanan dari kekuatan monster ini. Mereka pasti akan merasa terintimidasi dan tidak akan melakukan hal yang macam-macam,' pikir Hong Mugui.
***
Di atas sebuah menara tinggi yang berada di sebuah pegunungan.
Seorang pria sedang mengamati lembah di bawahnya yang dikelilingi oleh hutan lebat. Di lembah itu, terdapat beberapa bangunan yang berdiri megah berwarna merah terang. Sebuah bangunan yang jauh lebih besar dan jauh lebih mega dari bangunan-bangunan lain tampak mencolok dibandingkan yang lainnya.
Pria itu dengan teropong di tangannya memindai secara perlahan hutan yang gelap di luar lembah. Saat masih memindai, mendadak sesuatu terjadi di dalam hutan dan segera menarik perhatian dari pria itu.
*Bum!* Suara gaduh terdengar, dan sebuah pohon terbang dari antara lebatnya hutan. Pohon itu terbang beberapa meter di udara sebelum kemudian jatuh di dekat gerbang besar yang menjadi batas bangunan-bangunan yang ada di lembah.
"Serangaaaannnnn!!!!! Ada serangaaannn dari musuuuhhh!!!!!"
*Klanggg!!!!! Klanggggg!!!! Klaanggg!!!!!* Dengan sekuat tenaga, pria itu membunyikan lonceng besar yang terdapat di sampingnya. Lonceng ini adalah lonceng peringatan yang memang sengaja ditempatkan di atas menara tersebut. Suara dari lonceng menggema di seluruh lembah, dan mulai membangunkan orang-orang yang ada di bangunan-bangunan yang terdapat di lembah tersebut.
Saat ini, di dalam sebuah kamar di salah satu bangunan di lembah, seorang pria paruh baya membuka kedua matanya, dia terbangun dari semedinya begitu mendengar suara lonceng yang menggema di seluruh lembah. Dia segera bangkit berdiri dan secepat kilat melesat keluar dari bangunan yang tidak lain adalah kediamannya.
*Shua!* Sosoknya muncul di atas atap bangunan yang paling besar di situ dan menatap ke arah hutan dimana terjadi keributan besar. Orang-orang terlihat berlalu lalang dan berkumpul di depan gerbang masuk lembah dengan persenjataan lengkap.
"Orang gila mana yang berani menyerang Perguruan Iblis Merah malam hari begini?! Apa para binatang bau itu tidak bisa menghadangnya?!" Pria itu memaki dan tampak ekspresi tak senang di wajahnya.
Satu tangannya terangkat ke atas, dan bola-bola energi berwarna putih terang terbentuk, lalu mulai menjadi satu dan membentuk sebuah bola cahaya raksasa yang menyinari seluruh lembah tersebut.
Pada saat ini, kondisi yang seharusnya gelap karena malam hari, sekarang telah berubah menjadi seterang saat siang hari karena bola cahaya raksasa yang diciptakan oleh pria itu.
Saat itu juga, terlihat di dalam hutan sebuah kepulan debu yang melaju dengan kencang ke arah gerbang, serta beberapa pohon besar tampak sedang berterbangan di udara dan mengarah ke arah yang sama. Wajah pria itu segera berubah menjadi buruk, dan dia pun langsung turun dari tempatnya. Tenaga dalam mulai dialirkan pada kedua kakinya, dan dia berlari secepat kilat ke luar dari lembah dan tiba di depan orang-orang yang saat ini sedang berkumpul bersama.
Tampak orang-orang menjadi terkejut karena kemunculannya, sementara pria itu telah berdiri dengan wajah seriusnya.
"Tetua kedua!" "Salam Tetua!" "Tetua kedua ada di sini!" Wajah tegang dari orang-orang yang ada di situ mulai sedikit santai melihat kemunculan pria itu dan rasa khawatir mereka sedikit berkurang.
Pria yang dipanggil sebagai Tetua Kedua itu mendengus dan menoleh kepada orang-orang itu, "Semuanya! Dengarkan aku! Saat ini Ketua sedang tidak ada di sini, jadi aku yang akan mengambil alih kepemimpinan sementara!"
Tetua kedua dari Perguruan Iblis Merah itu berseru kepada semua orang. Suaranya dapat terdengar di seluruh perguruan, dan membuat semua anggota yang sebelumnya panik mulai tampak sedikit tenang. Jelas kemunculan Tetua Kedua ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi mental mereka.
Sebagai Tetua Kedua, pria ini memiliki kekuatan hanya dibawah Hong Mugui, dan juga Tetua Pertama yang telah dibunuh oleh Weng Lou. Dia juga memiliki kekuatan di Dasar Pondasi tingkat 12 puncak, setengah langkah menjadi Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa.
"Jika itu Tetua Kedua, maka kami akan mempertahankan hidup kami kepada anda!"
"Benar! Beri kami perintah! Kami akan memusnahkan penyusup tidak tau diri itu!"
"Hidup Tetua Kedua!!"
Para anggota perguruan yang telah berkumpul berseru dengan bersemangat, mereka menampilkan kesetiaan mereka yang rela untuk berkorban demi perguruan mereka.
__ADS_1
Tetua Kedua itu mengangguk dan cukup puas dengan kesetiaan orang-orang di hadapannya ini. Dengan satu perintahnya, dia kemudian meminta mereka bersiap untuk menyambut datangnya musuh mereka.
Di dalam hutan, sosok Kera Hitam Petarung tampak tidak mengurangi kecepatannya sedikitpun. Dia terus berlari dan menerobos pohon-pohon yang menghalangi jalannya.
Sementara itu, sosok Weng Lou mendadak berdiri di atas kepala Kera Hitam Petarung dan mengeryitkan dahinya. Gelombang kedatangan para anggota dari Perguruan Iblis Merah telah dirasakannya. Meski tidak memiliki Qi atau pun Kekuatan Jiwa lagi, namun insting dan nalurinya tetaplah ada, karena itu merupakan sesuatu yang dia dapatkan dari usahanya sendiri sehingga tidak ikut diambil oleh Zhi Juan.
"Kau merasakannya?" Kera Hitam Petarung seakan mengerti dengan tindakan dari Weng Lou itu. Dia sebagai binatang buas tingkat tinggi tentu saja bisa merasakan orang-orang itu juga.
Weng Lou tidak berbicara dan hanya mengangguk. Hong Mugui yang juga ada di situ seakan mengerti dengan pembicaraan yang dilakukan oleh Weng Lou dan Kera Hitam Petarung. Dia dengan panik mengeluarkan pedangnya dan segera terbang dengan kecepatan penuh. Tampak wajah panik dan pucatnya saat dia pergi meninggalkan Kera Hitam Petarung yang sedang berlari di belakangnya.
Kera Hitam Petarung mendegus dan mulai kembali berbicara dengan Weng Lou, "Bagaimana? Apakah kita menggunakan cara yang kasar atau halus?"
"Terus saja bergerak, aku akan memutuskan tindakan selanjutnya begitu melihat reaksi yang dilakukan oleh orang-orang dari Perguruan Iblis Merah dan orang-orang yang sedang mengikuti kita itu," balas Weng Lou sambil menunjuk ke belakang dengan jempolnya.
Ya, dia sudah mengetahui keberadaan orang-orang yang sebelumnya memata-matai kelompok mereka di pelabuhan sejak pertama kali keluar dari pelabuhan. Namun dia membiarkan orang-orang itu mengikuti kelompok mereka karena dia memiliki suatu rencana di dalam kepalanya yang akan melibatkan orang-orang terkuat di Kepulauan Huwa ini.
Seluruh rencana Weng Lou saat ini sedang disimulasikan di dalam kepalanya, hanya tinggal melihat bagaimana tindakan yang akan diambil oleh orang-orang yang masuk dalam rencananya sebelum memutuskan rencana apa yang akan dia lakukan nantinya.
***
*BOOMMM!!!!*
Sebuah batu raksasa terbang dan melesat dengan kecepatan tinggi ke arah Tetua Kedua dan menghantam tubuhnya dengan telak.
*Prak!* Batu besar itu hancur begitu menghantam tubuh Tetua Kedua dan membuatnya terbanting ke tanah dengan menyedihkan. Pecahan batu itu kemudian berterbangan dan mengenai para anggota Perguruan Iblis Merah yang berada di dekat situ.
Beberapa orang terlihat mati seketika dengan beberapa pecahan batu besar menghiasi tubuh mereka.
*Buk....* Seorang pemuda yang merupakan anggota biasa dari Perguruan Iblis Merah terduduk ke tanah dengan tatapan mata tak percaya saat melihat situasi yang terjadi di depannya. Rintihan, dan isak tangis memenuhi sekitarnya dan membuat wajah pemuda itu tampak pucat seperti mayat hidup.
Sesekali terdengar suara ledakan kecil, namun hal itu tetap membuat pemuda itu terdiam di tempatnya tanpa bisa berbuat apapun.
"Ya dewa....apakah kami akan musnah hari ini di tempat ini?" Pemuda itu menoleh ke sampingnya dan melihat seorang gadis yang menangis dan berbicara seperti orang gila. Sepertinya gadis itu sudah kehilangan akal sehatnya.
*Sraattt!!!* Di depan mata pemuda itu, dia melihat kepala gadis itu hancur berantakan saat terkena pecahan batu besar yang langsung membuatnya tewas seketika.
"A-Ah......ini....ini adalah kehancuran bagi Perguruan Iblis Merah. Aku hanya seorang anggota biasa dengan kekuatan Dasar Pondasi tingkat 4, tinggal menunggu waktu saja sampai aku mati." Pemuda itu sudah kehilangan semua semangatnya dan dia mulai meringkuk di tanah sambil memeluk kedua kakinya.
"LARIII!!!! SELAMATKAN HIDUP KALIANNN!!!!" Saat ini, Tetua Kedua yang sebelumnya terkena hantaman batu raksasa telah bangkit dengan kondisi seluruh tubuhnya yang terluka parah.
Sosoknya yang seperti pemuda biasa dan tak berbahaya itu nyatanya dianggap sebaliknya oleh Tetua Kedua. Pemuda itu bagai sebuah bencana berjalan yang langsung menyebabkan teror kepada semua orang yang ada di situ.
Tidak jauh dari pemuda itu, seorang pria tua berdiri dengan wajah tak berdaya dan menatap Tetua Kedua dengan perasaan campur aduk.
"Tetua Kedua! Aku perintahkan kau untuk berhenti sekarang juga! Kau hanya menyebabkan kematian bagi dirimu!" Pria tua yang tidak lain adalah Hong Mugui itu berseru kepada Tetua Kedua tersebut.
"Maafkan aku, Ketua. Tetapi sebagai anggota mula-mula dari Perguruan Iblis Merah aku lebih senang jika harus mati dari pada berada dibawah perintah orang lain selain anda!" Tetua kedua dengan susah payah berdiri dan melangkah maju ke arah pemuda yang telah menyebabkan kehancuran bagi Perguruan Iblis Merah itu.
Weng Lou menatap dengan dingin Tetua Kedua lalu berbicara dengan dingin kepadanya, "Jika memang kematian yang kalian tunggu, maka akan kuberikan kepada mu."
"Demi Perguruan Iblis Merah!!!!"
Tetua Kedua berteriak lantang dan semua Tenaga Dalam yang ada di tubuhnya melonjak keluar dan memenuhi lingkungan sekitarnya.
Semua Tenaga Dalam itu kemudian secara mendadak berkumpul dan mulai memadat menciptakan sebuah bola sebesar kepala manusia berwarna emas terang.
"Tapak Persik Emas, Hantaman Penghancuran!"
Bola emas itu mulai menyatu ke telapak tangan Tetua Kedua, dan dengan satu sapuan darinya, sebuah serangan tapak berwarna emas terang melesat ke arah Weng Lou. Mata Weng Lou memindai sejenak serangan itu dan dengan acuh tak acuh menepis serangan tersebut dengan satu tangannya.
*PAAMMM!!!* Tanpa disangka oleh Weng Lou, sebuah ledakan besar langsung terjadi begitu dia menepis tapak emas tersebut dan segera mengenai seluruh tubuhnya.
Ledakan itu cukup besar dan mencakup hingga dua puluh meter persegi dengan Weng Lou sebagai titik pusatnya. Melihat ini, Tetua Kedua pun jatuh ke tanah dengan wajah puas. Setidaknya serangan penghabisannya itu bisa membunuh lawannya.
Akan tetapi, wajah puasnya itu segera berubah menjadi suram begitu melihat sosok seorang pemuda yang dengan kecepatan tinggi melesat di udara dari dalam ledakan itu.
"Ba-Bagaimana bisa?! Ini tidak mungkin!!!" Dengan menyedihkan Tetua Kedua meraung tak percaya melihat Weng Lou yang selamat dari serangannya.
Saat ini, Weng Lou menatap tangannya yang saat ini memiliki sebuah luka terbakar kecil dan mengeluarkan sedikit darah. Tatapannya sedikit suram saat melihat itu dan dia hanya bisa menghela napasnya.
"Dunia beladiri memang sangat luas, ada banyak teknik beladiri yang tidak aku kenali dan memiliki daya serangan yang tidak bisa diperkirakan begitu saja olehku," ucap Weng Lou dengan tenang.
*Tap....* Weng Lou mendarat dengan ringan di depan Tetua Kedua namun perhatian nya tidak diarahkan padanya, melainkan kepada para anggota Perguruan Iblis Merah yang masih ada di situ dan berencana ikut menyerangnya.
Beberapa menit yang lalu......
Kera Hitam Petarung melewati pohon terakhir yang menjadi akhir dari hutan dan mereka pun tiba di bagian terluar Perguruan Iblis Merah.
__ADS_1
Mata Weng Lou segera bercahaya saat matanya menangkap sebuah serangan perubahan unsur yang melesat dengan cepat ke mereka. Tanpa berbicara apapun, Weng Lou pun melompat dari atas tubuh Kera Hitam Petarung dan langsung menerima serangan itu dengan tangan kanannya yang dijadikan nya sebagai tameng.
*CTAARRR!!!!* Serangan itu mengenai Weng Lou dan menimbulkan sebuah suara ledakan seperti sebuah sambaran petir.
"Sebuah serangan yang cukup bagus untuk membuka sebuah pembantaian....." ucap Weng Lou dengan dingin begitu sosoknya mendarat di tanah dan menampilkan sosoknya yang tidak terluka sedikitpun.
Matanya menatap pada seorang pria yang ada di depannya dan tidak lain adalah Tetua Kedua. Dia adalah orang yang memberikan serangan barusan pada Weng Lou. Wajah Tetua Kedua menjadi terkejut saat melihat sosok Weng Lou yang muncul. Dia menerima serangan dan tampak tidak terluka, membuat Tetua Kedua semakin merasa terkejut.
"Jadi.....ini yang anda maksud bahwa mustahil kita bisa menang, Ketua?" Tetua Kedua berbicara pada sosok Hong Mugui yang tidak berada jauh dari situ.
"Benar, oleh sebab itu menyerahlah. Tuan Lou masih bisa berbaik hati pada kalian semua jika mau menyerah dan tunduk padanya," jawab Hong Mugui sambil menggigit bibirnya.
Dia telah tiba lebih dulu di tempat ini dan meminta semua orang untuk menyerah dan tidak menyerang saat Kera Hitam Petarung tiba, namun mereka semua malah menolak mentah-mentah hal tersebut. Menurut mereka, ini adalah saatnya bagi mereka untuk menunjukkan kesetiaan mereka sebagai anggota dari Perguruan Iblis Merah.
Selama ini mereka selalu mengandalkan Hong Mugui sebagai pelindung mereka, maka kali ini mereka akan membuktikan bahwa mereka juga bisa melindungi Perguruan Iblis Merah milik mereka tanpa Hong Mugui sekali pun. Tapi sayangnya kali ini tindakan yang mereka lakukan malah memancing kehancuran yang sebenarnya.
"Kau mau aku yang turun tangan, atau kau sendiri yang akan melakukannya?" Kera Hitam Petarung saat ini berjalan dan berdiri di samping Weng Lou dengan tenang.
"Cukup berdiri di sini dan jaga Du Zhe. Aku akan memberikan sedikit pelajaran berharga pada mereka, agar akal sehat mereka bisa sedikit bekerja." Weng Lou melambaikan tangannya dan mulai melangkah maju.
Tetua Kedua tampak serius menatap Weng Lou dan menarik napas panjang.
"Semuanya! Bersiap!" Seruan dari Tetua Kedua segera terdengar, dan semua anggota Perguruan Iblis Merah langsung mengangkat senjata, dan mempersiapkan serangan.
*Tap....tap....tap.....*
Langkah kaki Weng Lou terus berjalan maju dan tidak gentar sedikitpun pada semua orang yang ada di hadapannya.
Saat jaraknya tinggal sepuluh meter dari Tetua Kedua, sebuah sinyal dikeluarkan dan rentetan serangan segera dilepaskan.
*Shuaaa!!!!* Bola api raksasa meluncur dan segera diikuti oleh berbagai macam jenis serangan perubahan unsur lainnya. Kilatan muncul pada mata Weng Lou dan dia diam-diam tersenyum dalam hatinya.
'Berada di atas kapal itu benar-benar membuat tubuhku menjadi kaku, ini bisa menjadi sedikit pemanasan untuk ku.'
*SLAAPP!!!!* Sebuah tepukan tangan dilancarkan oleh Weng Lou dan angin kencang pun berhembus dan meniup bola api raksasa yang mengarah padanya hingga padam begitu saja.
Dia melanjutkan gerakannya dengan melompat tinggi ke udara dan menghindari semua serangan lainnya.
Tetua Kedua sedikit terkejut menyaksikan itu, tapi segera dia memberikan perintah lainnya, "Pemanah!!!!"
*Whuusshh-!* Seperti sebuah awan gelap, ratusan bahkan ribuan anak panah ditembakkan dan berterbangan ke arah Weng Lou yang ada di udara.
"Hmmm..." Weng Lou menatap tajam pada semua anak panah itu. Jika dia memiliki Qi atau Kekuatan Jiwa, atau bahkan Tenaga Dalam, dia akan bisa mengatasi semua panah itu, tetapi dengan kondisinya yang sekarang, mustahil untuk menghalau panah-panah itu.
"Aku belum pernah mencoba melakukan ini sebelumnya secara nyata, tetapi ini layak dicoba," ucap Weng Lou pelan.
Weng Lou pun melakukan sikap kuda-kuda awalan dari teknik Tapak Purnama miliknya. Semua kekuatannya difokuskan pada telapak tangan kanannya. Orang-orang bisa melihat beberapa urat yang muncul pada kulit Weng Lou saat kekuatannya telah dikumpulkan.
"Purnama Hari Pertama!"
*PASSHH! FUUUHHHHH!!!!* Sebuah kekuatan tolakan pun tercipta, saat Weng Lou melepaskan serangan tapaknya dan menciptakan tiupan angin kencang yang segera menghentikan gerakan semua anak panah yang mengarah padanya.
Panah-panah itu pun terjatuh ke tanah satu persatu dan mengenai para anggota Perguruan Iblis Merah yang ada di bawah.
"Lari!!! Menyingkir dari sini!!!" Sebuah seruan terdengar dan para anggota Perguruan Iblis Merah pun berhamburan seperti sekawanan semut.
"Aghh!!!!" "Uh!" "Ti-Tidak! Tolong aku-"
Begitu semua anak panah itu terjatuh, lebih dari seratus orang mati dengan menyedihkan karena terkena hujan panah tersebut.
Bersamaan dengan itu, sosok Weng Lou telah mendarat di depan sebuah batu raksasa dan dia segera menendang batu itu dengan sekuat tenaga hingga menerbangkannya dan menghantam tubuh Tetua Kedua yang saat ini sedang terguncang karena melihat kematian anggota yang dipimpinnya.
"Aku.....seharusnya aku tidak membawa mereka ke sini. Ini semua salahku, jika waktu itu aku memilih untuk bunuh diri dari pada malah membawa monster itu ke tempat ini, semua ini tidak akan terjadi."
Hong Mugui dengan terapan penuh penyesalan melihat ke arah para anggota Perguruan Iblis Merah miliknya yang kini telah masuk ke dalam mulut buaya karena tindakannya sendiri.
Dia hanya bisa berharap, Weng Lou dengan berbaik hati mengampuni beberapa anggotanya, dan membiarkan mereka untuk tetap hidup atau jika tidak Perguruan Iblis Merah benar-benar akan dihancurkan malam ini.
***
*Words: 3164
Catatan Penulis:
Halooooo!!!!! Selamat Natal dan Tahun Baru! Author baru selesai liburan, jadi baru bisa up.
Semoga di tahun baru ini kita semua bisa memulai awal yang baru, dan masalah Pandemi bisa segera terselesaikan! Salam buat kalian semua, dan sehat selalu!
__ADS_1