Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 557. Pil Jiwa


__ADS_3

Di dalam kawah.


Kedatangan Weng Lou menarik perhatian banyak orang, terutama mereka yang juga berada di dalam kawah itu.


Pertama, Weng Lou tidak mengeluarkan gelombang Tenaga Dalam atau pun Qi dari dalam tubuhnya, sehingga orang-orang yakin bahwa dia adalah manusia biasa. Yang kedua, Weng Lou saat ini berada di paling jauh ketiga dari ujung kawah, dengan seorang murid perempuan dan laki-laki yang berada satu dua meter di depannya.


Mereka menatap Weng Lou dengan bingung dan penasaran, kemunculannya itu benar-benar menarik minat semua orang, bahwa tak lama kemudian kedua murid yang ada di depan Weng Lou juga menoleh untuk melihat Weng Lou sekilas sebelum kembali bermeditasi.


*Tap....Tap....* Weng Lou melompat pelan, dan merasakan tarikan sangat kuat ketika dia tidak menyentuh tanah. Segera, beberapa retakan muncul di tanah begitu dia mendarat kembali ke tanah.


"Hoo....jadi gaya gravitasinya tetap berlaku di udara ternyata. Pantas saja sekujur tubuh ku bisa merasakan gaya gravitasinya," ucap Weng Lou sambil menatap retakan yang ada di tanah.


Tanpa berbasa-basi, dia pun mulai melepaskan bajunya dan bertelanjang dada. Aksinya ini semakin membuat orang-orang yang ada menjadi tertarik dengannya. Mereka penasaran apa yang ingin Weng Lou lakukan dengan melepaskan pakaiannya.


"Baiklah! Mari kita mulai dengan push up biasa seribu kali!"


Weng Lou pun menurunkan badannya, dan mulai melakukan push up. Meski hanya push biasa tanpa batu yang dijadikan bebannya, namun push up ini jauh lebih membuat Weng Lou merasa bersemangat. Sekujur tubuhnya seperti sedang dipaksa untuk tetap bergerak dalam keadaan dimana dirinya berada dalam tekanan gaya gravitasi besar.


Hasilnya, otot-otot nya secara otomatis harus bekerja dengan keras, yang mana membuatnya semakin dan semakin kuat.


"Anak itu sudah gila, dia benar-benar melakukan push up di dalam kawah itu!"


"Sialan! Darimana datangnya bajingan sombong itu?! Aku ingin sekali mematahkan tulang-tulangnya itu! Beraninya dia pamer di depan banyak orang dengan melakukan push up seperti itu?!"


"Sudahlah, hentikan semua omong kosong kalian, dia memang kuat, itulah faktanya. Lagipula mustahil kalian bisa bertahan di jarak seperti itu. Bahkan di jarak dua puluh meter saja sudah membuat kalian semua merasa sesak napas," ujar Kuai Pao yang telah sampai di tempat itu setelah Liang Lu.


Dia saat ini berdiri beberapa meter dari tempat Liang Nu dan kakaknya berada, namun segala perhatian yang dia berikan pada gadis itu kini telah teralihkan pada sosok Weng Lou yang ada di dalam kawah.


"Orang itu...dia tidak hanya cepat, tapi juga memiliki kekuatan yang luar biasa. Hanya saja, kenapa dia tampak seperti manusia biasa di mata ku?" Kuai Pao bergumam sambil mengelus dagunya.


Saat ini, aksi Weng Lou yang sedang melakukan push di dalam kawah telah menjadi perhatian dari banyak murid dan bahkan beberapa tetua yang sedang melintas di dekat kawah.


Saat ini, di sebuah menara yang memiliki ketinggian mencapai tiga puluh meter. Seorang pria tua sedang duduk dengan tenang berhadapan dengan Tetua Meigui yang berlutut di hadapannya. Pria tua ini, menatap dalam diam Tetua Meigui lalu menghela napasnya.


"Tetua Meigui, ku harap kau mengerti apa yang kau lakukan ini," ucap pria tua itu dengan tenang tanpa menunjukkan ekspresi apapun.


Tetua Meigui yang masih berlutut di hadapannya mengepalkan tangan, lalu menjawab pria tersebut, "Tentu, Patriak. Aku paham dengan betul apa yang ku lakukan. Aku telah mengambil seorang murid yang memiliki potensi luar biasa dan berniat memberikannya pil yang telah dikembangkan oleh sekte untuk membantunya dalam pengolahan jiwanya."

__ADS_1


Jawaban dari Tetua Meigui itu direspon dengan dua buah pedang panjang yang tiba-tiba muncul di lehernya.


"Lancang! Kau berani mengatakan semua itu di depan Patriak tanpa takut mendapatkan hukuman sedikitpun?! Apa yang ingin kau lakukan itu sama saja dengan mengkhianati sekte!" Sebuah suara datang dari salah satu ujung pedang yang ada di leher Meigui dan sepertinya sedang marah besar padanya.


"Meigui, meski kau memiliki hubungan dengan Kaisar di masa lalu, namun yang kau lakukan ini sudah keterlaluan. Pil Jiwa masih dalam tahap pengembangan dan tiap perkembangannya merupakan hal yang berharga bagi sekte. Kau yang ingin mencurinya dan memberikannya pada murid barumu itu adalah tindakan yang sangat bodoh. Tidak hanya murid barumu itu bisa mati jika terjadi suatu masalah, namun kau juga akan menjadi musuh dari seluruh Sekte Bambu Giok. Apa kau benar-benar telah kehilangan akal?"


Suara lain terdengar dari ujung pedang yang satunya lagi dan terdengar penuh wibawa dan kebajikan dalam kata-katanya.


Tetua Meigui hanya diam, dan menunggu balasan dari sang Patriak Sekte Bambu Giok yang ada di hadapannya. Patriak itu menghela napasnya dan segera bangkit berdiri. Segera, kedua pedang yang ada di depan leher Meigui ditarik kembali oleh dua sosok pemegangnya dan memberi jalan untuk Patriak mereka.


*Duk.....* Langkah kaki ringan pria tua itu berhenti di depan Tetua Meigui yang sedang berlutut dengan penuh rasa hormat. Matanya memandang sang Tetua itu sejenak, sebelum kemudian berjalan melewatinya dan pergi membuka salah satu jendela yang mengarah ke arah di mana kawah tempat Weng Lou berada saat ini.


"Harus kuakui, Tetua Meigui. Kau tidak pernah salah dalam memilih seorang murid. Tidak ada yang mengecewakan dari para murid-murid mu, bahkan murid baru mu itu. Aku akan mempertimbangkan untuk memberikan salah satu Pil Jiwa yang telah berhasil disempurnakan pada muridmu itu, seusai kau melakukan pemeriksaan menyeluruh padanya. Dan jika dia berhasil masuk dalam jajaran tiga besar di kalangan Murid Inti."


""Patriak?!""


Dua sosok, pria dan wanita, keluar dari bayangan di ruangan itu dan berseru kaget mendengar pernyataan Patriak mereka. Jelas mereka sangat tidak setuju dengan keputusannya itu.


Pil Jiwa, sebuah pil yang dikembangkan oleh para pembuat pil di Sekte Bambu Giok dan masih dalam tahap uji coba. Pil ini memiliki kemampuan untuk memaksa Kekuatan Jiwa seseorang bisa mengalir keluar dari dalam tubuhnya, entah sekecil atau seberapa jauh tersembunyi nya kekuatan jiwa seseorang.


Rencananya, pil ini akan dipakai oleh Sekte Bambu Giok untuk memperbanyak para Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa karena syarat utama untuk orang-orang bisa naik ke ranah itu adalah selesai membersihkan semua jiwa mereka. Maksud dari membersihkan jiwa ini sebenarnya adalah mampu mengalirkan kekuatan jiwa sendiri ke seluruh tubuh dan mengeluarkannya serta menggunakannya


Efek dari Pil Jiwa ini juga berbanding lurus dengan harga dari setiap bahan yang dipakai untuk membuatnya. Untuk membuat 1 pil yang belum sempurna saja, mereka harus mengeluarkan lebih dari seratus ribu koin emas, dan itu masih terus bertambah seiring semakin berkembangnya proses dalam pengembangan pil ini.


Patriak Sekte Bambu Giok yang menjanjikan ingin memberikan pil ini pada Weng Lou yang bukan siapa-siapa di sekte mereka, jelas sekali merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima eh kedua orang itu. Bahkan para tetua lain di Sekte Bambu Giok juga akan bereaksi sama seperti mereka semua.


"Diam, ini keputusan ku. Aku sendiri yang akan memutuskan apa yang akan kulakukan selanjutnya. Kalian berdua boleh pergi, kau juga Tetua Meigui. Silahkan pergi dan lakukan pekerjaan mu," kata sang Patriak sambil mengayunkan tangannya dan mengusir dua orang tersebut bersama dengan Tetua Meigui.


Dua orang itu mengkertakkan gigi mereka, dan kemudian pamit undur diri. Tetua Meigui juga memberikan hormatnya sekali lagi pada pria tua itu lalu berjalan ke arah pintu keluar dari ruangan di puncak menara itu.


"Tetua Meigui, aku selama ini selalu mempercayai mu. Jangan buat masa lalu mu malah menghancurkan dirimu sendiri. Anak itu mungkin sama seperti anak mu yang dulu, sama-sama terlahir tanpa Dantian, tapi tidak ada yang tau apakah dia juga akan bernasib sama seperti anakmu. Seperti yang kau tau, sang Kaisar memiliki jalan pemikiran yang berbeda dari kita semua, jadi kuharap kau bisa berpikir dengan baik."


Tetua Meigui hanya diam mendengar itu, dan kemudian mulai menutup pintu lalu segera pergi dari situ. Patriak Sekte Bambu Giok menggelengkan kepalanya menyaksikan Tetua Meigui, lalu mulai mengalihkan pandangannya keluar jendela dan menatap lurus ke arah dimana Weng Lou berada.


"Kuharap kau bisa menunjukkan padaku keistimewaan mu yang sesungguhnya nak, karena pada dasarnya, Kekaisaran Ryuan hanya memiliki seorang penguasa, dan penguasa itu adalah seorang pria yang haus akan kekuatan."


***

__ADS_1


"Hmm....lumayan...rasanya tubuhku terus menerus ditempa setiap melakukan gerakan di tempat ini." Weng Lou berbicara dengan tenang sambil push up dengan kedua kakinya terangkat ke atas.


*Tak...* Dia bangkit berdiri dan meluruskan tubuhnya lalu mengepalkan kedua tangannya.


Saat ini sekujur tubuhnya bermandikan keringat, dan otot-otot pada seluruh tubuhnya memperlihatkan bentuk sejati dari tubuhnya yang benar-benar terbentuk secara sempurna. Beberapa murid perempuan yang menonton di kejauhan diam-diam menatap Weng Lou dengan tatapan mata yang sulit dijelaskan dan bahkan sedikit membuat Weng Lou takut.


Dia telah menghabiskan setengah jam lebih berlatih di tempat ini, dan telah banyak murid yang keluar masuk di dalam kawah tempatnya berlatih, namun tidak ada seorang pun yang masuk lebih dalam dari dirinya dan 2 orang lain di depannya yang juga masih setia di tempat mereka untuk bermeditasi.


"Hei, bolehkah aku bergabung?" Suara seseorang terdengar dari belakang Weng Lou, dan Weng Lou pun segera menoleh untuk melihat seorang murid perempuan yang tak dikenalnya sama sekali.


Weng Lou memiringkan kepalanya dan menatap dari atas sampai bawah murid tersebut, namun tetap tidak tau siapa dia.


Menyadari tatapan Weng Lou tersebut, murid itu pun mulai memperkenalkan dirinya sendiri, "Perkenalkan, namaku Lou Yi. Aku adalah salah satu anggota Murid Inti di sekte ini, dan sepertinya wajahmu tampak asing. Siapa namamu? Apa kau baru bergabung hari ini?"


Perempuan itu memperkenalkan dirinya dengan tenang dan tersenyum pada Weng Lou. Nama murid ini terdengar sedikit familiar bagi Weng Lou, mungkin karena nama mereka yang memiliki sedikit kesamaan.


Weng Lou mengelap keringat pada wajahnya dengan bajunya sambil menjawab pertanyaan murid itu, "Namaku Wei Lou, dan ya, aku baru bergabung hari ini. Tetua, maksud ku Guru Meigui menerima ku sebagai muridnya secara pribadi ketika aku sedang melakukan ujian penerimaan murid baru."


"Wei Lou? Nama kita ternyata sedikit mirip, hihihi....Dan gurumu adalah Tetua Meigui. Dia lagi-lagi menemukan murid yang bagus. Kalau begitu, seharusnya kau tidak lama lagi bergabung dengan murid inti, apa aku benar?" tanya Lou Yi yang sedikit mendekatkan wajahnya pada Weng Lou.


Tubuh Weng Lou sedikit mundur menjauhi wajahnya dan mengenakan bajunya kembali, lalu menatap Lou Yi yang tampaknya sedang menunggu jawabannya.


"Entahlah, aku hanya ingin memperkuat tubuhku saja. Jika dengan bergabung dalam Murid Inti bisa membuatku lebih kuat, kenapa tidak?" Weng Lou mengangkat kedua bahunya dan kemudian mulai melangkah pergi menjauh dari tengah kawah dan meninggalkan Lou Yi di tempatnya.


"Membuatmu lebih kuat? Tentu saja, dengan menjadi Murid Inti, kau akan mendapatkan beberapa perlakuan istimewa yang bisa membantumu memperkuat dirimu. Aku akan menunggumu sampai kau bergabung bersama kami," ucap Lou Yi yang melambaikan tangannya lalu pergi semakin dalam ke tengah kawah hingga melewati dua orang yang berada di depan Weng Lou.


Kemunculan perempuan itu segera membuat keduanya membuka mata dan memasang tatapan bermusuhan padanya. Lou Yi menyadari tatapan ini dan menghiraukannya dia memilih untuk duduk bersila dengan tenang di atas tanah sehitam arang dan mulai melakukan meditasi.


"Kalian berlatih saja, aku tidak akan membuat masalah pada kalian," ucap Lou Yi yang sedang menutup kedua matanya.


"Kau mengatakan itu seolah-olah kau pernah tidak melakukan sesuatu saat bertemu kami seperti ini," cibir murid perempuan yang berada di urutan ketiga paling belakang.


Lou Yi sedikit merespon mendengar perkataan namun dia menahan diri dan melanjutkan untuk bermeditasi. Menyaksikan ini, murid yang mencibir Lou Yi pun terdiam dan dia mendecakkan lidahnya lalu segera bangkit dan pergi dari situ sementara murid laki-laki yang berada tepat dibelakang Lou Yi menyaksikan semuanya dalam diam dan memilih untuk tetap diam dan melanjutkan meditasi juga.


Ketik murid perempuan itu pergi, Lou Yi memutar matanya yang terpejam dan tertawa mengejek dalam hatinya. "Aku hanya akan menahan diri untuk saat ini karena aku dalam kondisi hati yang baik. Jika saja dia berbicara lebih jauh, aku pasti akan....!"


*Krack!* Secara mengejutkan, tanah yang diduduki oleh Lou Yi muncul retakan.

__ADS_1


Suara retakan itu sedikit terdengar oleh murid laki-laki yang berada di belakang Lou Yi, dan terdengar helaan napasnya yang panjang dan akhirnya dia pun ikut pergi dari situ dan meninggalkan Lou Yi seorang diri di tempat itu.


__ADS_2