
Kirin adalah binatang yang tidak masuk dalam spesies binatang buas karena memiliki kecerdasan sejak lahir, sama halnya dengan Naga Tanah dan Phoenix.
Ketiganya masuk dalam jajaran binatang yang spesial yang sudah mulai berkurang jumlahnya, entah itu di Pulau Pasir Hitam atau pun di tempat lainnya. Untuk Pulau Pasir Hitam, bahkan Kirin telah punah karena perburuan besar-besaran yang pernah terjadi di masa lalu, jauh sebelum Weng Lou lahir.
Kirin, Phoenix, serta Naga Tanah dilihat sebagai sumber daya yang berharga oleh para manusia, sehingga jumlah mereka terus berkurang seiring waktu. Padahal, mereka memiliki garis darah keturunan yang sangat padat dan murni, namun karena jumlah mereka yang tidak seberapa membuat mereka mustahil untuk bisa bertahan dari serangan dalam jumlah yang berkali-kali lipat dari populasi mereka.
Di hutan Wilayah Kumuh.
Suasana yang mencekam dapat dirasakan pada lingkungan sekitar Weng Lou saat ini. Tekanan yang sangat besar menimpa tubuh Weng Lou, dan membuat tubuh Weng Lou bergetar selama beberapa saat, sebelum akhirnya berhenti dan tampak biasa saja.
Sosok Kirin di depan Weng Lou menatapnya dengan sepasang mata tajam berwarna merahnya, napsu membunuh tanpa segan dilepaskan olehnya kepada Weng Lou. Tekanan yang dia lepaskan setara dengan berat setengah ton, dan dalam sekejap mata semua pohon dan tumbuh-tumbuhan yang lain terkena dampak tekanan ini dan hancur seketika.
Melihat Weng Lou yang tampak biasa saja, membuat Kirin tersebut mulai memahami kekuatan yang dimiliki oleh Weng Lou, dan alasan mengapa dia sangat sombong dan begitu percaya diri berhadapan dengannya.
Weng Lou menatap balik Kirin itu dengan senyuman yang masih ada pada wajahnya sambil berbicara, "Kau hanya berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 menengah. Dengan kekuatan mu itu setidaknya kau bisa melihat besarnya perbedaan kekuatan diantara kita. Menyerahlah tanpa melakukan perlawanan, aku janji tidak akan memukulmu jika kau mau melakukannya."
"Hmp! Betapa sombongnya! Bahkan diantara para Praktisi Beladiri hebat yang sudah pernah berhadapan dengan ku, kau adalah yang paling tidak tau batasan mu sendiri!" Kirin itu mendengus, dan asap mengepul dari kedua lubang hidungnya yang besar.
Gertakan dari Weng Lou hanya dianggap seperti angin lalu, sama sekali tidak dihiraukannya.
Pengalaman hidupnya membuat Kirin itu bisa memahami sifat alami dari manusia. Keserakahan! Bahkan manusia paling polos sekalipun pasti memendam sifat ini jauh di dalam dirinya. Pencurian, pembunuhan, peperangan, semua hal itu disebabkan oleh sifat keserakahan manusia dan tidak ada yang bisa membantah hal ini!
Sementara itu, Weng Lou sedang memperhatikan lingkungan sekitar mereka dan memahami bahwa lingkungan tempat tinggal Kirin di depannya ini memiliki sesuatu yang cukup spesial untuk membuat seekor Kirin yang memiliki harga diri tinggi untuk tinggal di sini.
'Seekor Kirin pada dasarnya adalah mahluk paling penyendiri dari antara kedua makhluk spesial yang lainnya. Mereka memerlukan sumber kehidupan yang spesial yang sesuai dengan unsur bawaan mereka. Hal ini membuat mereka tidak pernah bisa hidup secara berkelompok karena harus pergi mencari sumber kehidupan milik mereka sendiri-sendiri.' Weng Lou bergumam pelan.
Kirin bisa hidup lama karena sumber kehidupan mereka ini. Dari apa yang dilihat Weng Lou, Kirin di depannya haruslah Kirin dengan unsur elemen tanah yang memerlukan sumber kehidupan berunsur tanah sama layaknya dengan Naga Tanah.
"Tenanglah, aku tidak mau sampai melukai mu. Aku membutuhkan esensi darahmu itu, jadi menyerah saja," ucap Weng Lou dengan suara tenang nya.
"Esensi darahku?! Kau....aku akan membunuhmu!!!"
__ADS_1
Tanpa peringatan apapun, Kirin di hadapan Weng Lou secara mendadak mengamuk ke arah Weng Lou berada. Mulutnya terbuka lebar dan siap menelan Weng Lou utuh-utuh.
Ekspresi terkejut tampak dari wajah Weng Lou, jelas dia tidak mengira Kirin di hadapannya ini akan menyerangnya dengan brutal. Qi mulai menyelimuti tubuh Weng Lou, dan secepat kilat dia terbang mundur menghindari terkaman sang Kirin.
Weng Lou mendecakkan lidahnya, "Apa-apaan?! Tak kusangka Kirin yang terkenal dengan harga diri tingginya akan menyerang lawannya yang bahkan belum siap sedikitpun."
"Diam!!! Kau manusia, berani sekali menghinaku dengan menginginkan esensi darahku, sang Kirin Yang Agung! Dasar tidak tau malu! Kupastikan kau mati hari ini!!!" Mulut Kirin itu kembali terbuka. Sebuah energi yang sangat besar mulai berkumpul di dalam mulutnya, dan beberapa saat kemudian seluruh isi mulutnya tampak mengeluarkan cahaya yang sangat terang dan menyilaukan.
Sinyal bahaya langsung muncul dari sekujur tubuh Weng Lou. Dia bisa merasakan bahwa apa yang akan dilakukan oleh Kirin ini bisa melukainya dengan parah, dan bahkan mungkin membunuhnya.
'Sebenarnya apa yang dipikirkan Kirin ini?! Aku tidak mengatakan sesuatu yang menyinggung dirinya, kan?' cibir Weng Lou dengan jengkel.
'Jelas kau sudah menyinggungnya, bodoh! Esensi darah seekor makhluk spesial merupakan harta karun yang melambangkan kebanggan dari seekor makhluk spesial seperti Kirin. Meminta esensi darahnya sama saja dengan tidak menghargainya sebagai seekor makhluk yang spesial!' Di dalam kepala Weng Lou, Ye Lao membalas cibiran Weng Lou dengan cibiran yang lebih merendahkan.
Weng Lou hanya diam mendengarnya, dia sudah mulai melatih kesabarannya terhadap ucapan yang keluar dari mulut Ye Lao. Beberapa kata yang keluar dan mengejeknya tidak bisa membuatnya tersinggung semudah itu seperti dulu.
'Ah, pantas saja. Sepertinya memang harus memakai kekerasan. Sayang sekali, padahal aku juga membutuhkan tenaganya untuk rencana lainnya, tapi ya sudahlah. Aku hanya bisa berharap dia bisa bertahan hidup setelah ini.'
Weng Lou mengangkat kedua tangannya ke depan, Qi dalam jumlah besar berkumpul di depannya dan tampak ukurannya terus membesar. Pada saat ini, cahaya pada mulut Kirin yang ada di depan Weng Lou telah menghilang, dan sang Kirin tampak seperti sedang menelan sesuatu.
Serangan itu melesat sangat cepat dan segera menghantam Weng Lou hanya dalam hitungan detik. Namun sebelum serangan itu bisa mengenai tubuh Weng Lou, Qi yang sebelumnya dikumpulkan oleh Weng Lou kini sudah berubah bentuk seperti kerucut dan menangkis serangan energi yang datang pada Weng Lou. Menyaksikan itu, sang Kirin hanya mendengus pelan dan terus mengeluarkan serangan energi dari mulutnya.
Sedikit demi sedikit tubuh Weng Lou terdorong mundur, dan Qi yang telah dikumpulkan nya kini mulai tampak retakan disegala sisinya. Meski begitu, eskpresi wajahnya tidak berubah dan membuat perasaan Kirin yang masih terus menyerangnya menjadi tidak enak. Dia seperti merasakan firasat buruk tentang ekspresi wajah Weng Lou.
Dan benar saja. Setelah beberapa saat, Qi berbentuk kerucut yang Weng Lou ciptakan telah mencapai batasnya dan kemudian hancur berkeping-keping. Namun Qi yang hancur itu tidak menghilang di udara, melainkan mulai bergerak dan kemudian melapisi tangan kanan Weng Lou hingga membentuk sebuah tameng raksasa. Dalam satu sapuan tangan, Weng Lou menangkis serangan yang terus bergerak ke arahnya menggunakan tangan kanannya.
Dia menendang udara, dan sosoknya kini telah melesat dengan sangat cepat ke arah sang Kirin. Tangan kanannya terkepal, dan tameng dari Qi sebelumnya kembali berubah dan memadat di tangan Weng Lou.
"Jangan mati!"
*BAM!*
__ADS_1
Pukulan Weng Lou dengan telak memukul kepala sang Kirin dan membuatnya terlempar kebelakang beberapa puluh meter jauhnya. Ekspresi tak percaya muncul pada wajahnya dan sedikit darah keluar dari mulutnya saat dirinya kemudian menabrak tanah dan terserah beberapa meter lagi karena besarnya tenaga yang diterimanya.
"Kaargh!!!"
Kirin itu segera bangkit kembali dan kemudian napsu membunuh pada dirinya semakin bertambah. Terlihat darah mengalir dari bekas tempat Weng Lou memukul kepalanya sebelumnya. Tapi, hanya dalam sekejap mata darah telah berhenti mengalir dan bekas luka yang sebelumnya telah hilang sepenuhnya.
Weng Lou hanya bisa memuji di dalam hatinya melihat kecepatan penyembuhan diri yang dimiki oleh Kirin dihadapannya. "Seperti yang diharapkan dari seekor makhluk spesial, daya hidupnya sangatlah besar. Tapi sayangnya aku tidak bisa terus bertarung denganmu, masih ada banyak rencana yang perlu aku jalankan. Jadi, menyerahlah...."
"Maaanuuusiaaa!!!"
Tiba-tiba, Kirin itu berteriak marah dan seluruh lingkungan di sekitarnya bergetar hebat. Gundukan-gundukan tanah mulai terbentuk, dan tanah tempat sang Kirin berpijak mulai terangkat lebih dari sepuluh meter, membuat Weng Lou yang hanya terbang rendah terlihat sangat kecil dari jauh.
"Sebagai makhluk yang agung, aku akan menghukum mu!!!"
Kaki depan Kirin itu dihentakkan dengan keras ke atas tanah, dan tanah dibawah Weng Lou langsung terbelah lalu terangkat ke udara. Dua buah gunung yabg sangat tinggi tercipta dan Weng Lou berada diantara keduanya. Dua gunung itu bergerak dan mulai mengapit Weng Lou, hingga akhirnya menutup dan menabrak tubuh Weng Lou.
Pada dasarnya, kekuatan sebesar ini akan bisa menghancurkan sebuah kota dalam satu hempasan, namun berbeda cerita jika yang menerimanya adalah orang sekuat Weng Lou. Di tengah keadaan terjepit oleh dua buah gunung raksasa, kedua tangan dan kaki Weng Lou menahan pergerakan dari kedua gunung itu, sehingga membuat dirinya tidak terkena hantaman kedua gunung itu.
Retakan sedikit demi sedikit tercipta pada bagian yang ditahan oleh kedua tangan dan kakinya. Mata Weng Lou memerah dan sebuah kekuatan fisik yang luar biasa mengamuk keluar dari dalam tubuhnya.
*KRAACKK!!!*
Dua gunung yang mengapitnya pun terbelah, lalu hancur berkeping-keping seperti sebuah kaca.
Sosok Weng Lou masih tetap melayang diantara tanah dan bebatuan yang hancur di sekitarnya. Dia menarik napas dalam, dan memasang kuda-kudanya. Tekanan yang amat besar keluar dari tubuhnya dan kemudian berkumpul pada sekitar telapak tangannya yang memancarkan cahaya keperakan terang.
"Tapak Purnama Spesial, Purnama Keheningan!"
Kedua telapak tangan Weng Lou di dorong, dan getaran yang amat besar merambat di udara, dan mengenai tubuh sang Kirin. Begitu terkena getara itu, hal yang pertama dirasakan oleh Kirin tersebut adalah....Keheningan!!
Segala macam jenis suara menghilang dai pendengaran nya, dan derik berikutnya sensasi teramat menyakitkan mulai menjalar di sekujur tubuhnya dan semua organ pada tubuhnya terasa seperti akan keluar dari dalamnya.
__ADS_1
Keempat kaki sang Kirin bergetar hebat, dan dia pun terjatuh kebatas tanah dengan tubuh yang mengerang ke sakitan. Mulutnya terbuka lebar tapi tidak ada suara yang keluar. Mata Kirin itu berubah menjadi putih, hingga akhirnya dia pun pingsan tak sadarkan diri.
Hal terakhir yang dilihatnya sebelum kehilangan kesadaran adalah sosok Weng Lou yang telah bergerak mendekati tubuhnya.