
Di tengah lautan luas, kapal uap berlayar dengan kecepatan yang tetap. Langit siang hari tanpa awan membuat langit biru tampak sangat indah.
Beberapa kawanan ikan terlihat melompat di atas air dekat kapal yang terus bergerak maju. Di atas kapal, beberapa orang yang sebelumnya direkrut oleh Weng Lou sedang menikmati makan siang mereka sementara Du Zhe tampak sibuk berlatih di atas geladak kapal dengan bertelanjang dada.
"Ha!!" Du Zhe memukul ke depan sekuat tenaga saat kemudian sebuah telapak tangan dengan lembut mendorong wajahnya mundur dan terjatuh ke lantai.
*Buck...* Bokong Du Zhe yang menyentuh lantai kapal itu menyebabkan bunyi pelan, sementara dia mengangkat kedua tangannya, "Aku menyerah."
"Hahahaha......Kau sudah semakin baik, Du Zhe. Teruslah berlatih dan tak lama lagi kau akan bisa merasakan Tenaga Dalam yang ada di tubuh dan lingkungan sekitar mu," ucap seorang pria yang terlihat berusia tiga puluhan di hadapan Du Zhe. Sebelumnya dia menjadi lawan tanding bagi Du Zhe yang sedang berlatih.
Pria ini adalah seorang Praktisi Beladiri yang direkrut oleh Weng Lou dalam perjalanan ini. Prestasi beladirinya tidak terlalu hebat, tapi kepekaan nya terhadap lingkungannya membuat dia bisa mengambil tindakan dengan cepat. Kemampuan semacam ini yang Weng Lou butuhkan dari orang yang berlayar bersamanya.
Weng Lou tidak membutuhkan orang-orang yang kuat untuk ikut dengannya, tapi dia lebih membutuhkan mereka yang memang cocok dalam perjalanan nya kali ini. Dengan kekuatannya dan Kera Hitam Petarung, Weng Lou cukup yakin bisa melindungi semua awak kapal yang bersamanya.
Sudah seminggu semenjak mereka mulai berlayar dari Kota Rengu, dan saat ini mereka hampir tiba di wilayah Lautan Mati, tempat hidup banyak binatang buas lautan.
Pada umumnya, jika mereka memakai kapal layar, mereka akan baru sampai jarak yang telah mereka tempuh ini sekitar dua minggu, tapi karena kecepatan kapal uap ciptaan Weng Lou, mereka bisa memotong waktu sampai setengahnya. Ini membuktikan bahwa kapal uap memang merupakan sesuatu yang sangat mempengaruhi waktu pelayaran di lautan. Jika bukan karena besarnya kapal ini mereka pasti sudah memasuki wilayah Lautan Mati satu atau dua hari yang lalu.
"Hei, jika kalian sudah selesai makan segera kembali bekerja! Kita sebentar lagi akan tiba di perbatasan Lautan Mati!"
Dari rungan kendali, Weng Lou keluar dan berseru pada para awak kapal yang sedang berkumpul di geladak bersama dengan Du Zhe. Mendengar perintah tersebut, mereka semua langsung bubar dan buru-buru menuju ke tempat mereka masing-masing. Bahkan Du Zhe juga ikut pergi, latihannya sudah cukup hari ini dan dia tampaknya memang tidak berniat melanjutkan latihannya lagi.
Lautan Mati, semua awak kapal yang ada di sini tau betapa mengerikannya wilayah laut ini. Tidak ada dari mereka yang berpikir bahwa bahaya dari Lautan Mati hanyalah candaan karena mereka tau dengan baik seberapa kuatkah binatang buas lautan itu. Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang sanggup mengalahkan seekor binatang buas lautan.
Weng Lou diam melihat mereka semua yang sudah bubar, dia kemudian masuk kembali ke dalam kapal dan mengamati sebuah peta yang dipajang di atas meja. Dia menatap wilayah lautan yang diberi warna merah dengan luas yang bahkan jauh lebih luas dari wilayah keseluruhan Kepulauan Huwa. Sebuah gambar tengkorak digambar di tengah-tengahnya dan membuat wajah Weng Lou tampak serius.
Kapal mereka pun terus berlayar, tak lama langit yang sebelumnya cerah tanpa awan, mulai menjadi mendung dan angin kencang bertiup dari depan kapal.
"Angin kencang, huh? Sayangnya ini bukan kapal layar yang akan menghadapi masalah saat ada angin sekencang ini," cibir Weng Lou yang kemudian segera menyuruh Du Zhe untuk memasukkan lebih banyak bahan bakar ke dalam mesin.
*Shuusshh....* Kapal menerjang ke arah ombak setinggi lima meter dan melewatinya tanpa masalah. Saat ini, hujan gerimis mulai turun dan membuat geladak kapal menjadi basah.
Mata Weng Lou menyipit saat menyaksikan kumpulan awan di langit yang semakin lama semakin tebal dan mulai berubah menjadi hitam saking tebalnya. Sambaran-sambaran petir keluar darinya, dan menciptakan bunyi gemuruh guntur yang nyaring tanpa henti.
"Mereka datang...." ucap Weng Lou yang memperhatikan lautan di samping kapal yang tampak janggal.
"Segera ambil kemudi!" Weng Lou berseru pada seorang pria yang ada di luar ruangannya dan kemudian pergi menuju ke atap.
Di atas, dia bisa melihat dengan baik, tiga lintasan di air yang sedang mengarah ke kapal mereka dari belakang. Weng Lou mendecakkan lidahnya seakan telah mendapatkan firasat buruk.
__ADS_1
"Harusnya aura tubuh Kera Hitam Petarung sudah berhasil ditekan hingga semaksimal mungkin. Jadi kenapa para binatang buas ini langsung mendatangi kami secepat ini?" tanya Weng Lou dengan sedikit bingung.
Dari cerita-cerita yang dia dengar, meski Lautan Mati sangat berbahaya, tapi biasanya para binatang buas yang tinggal di dalamnya tidak akan menyerang begitu saja. Mereka akan menunggu selama setengah jam atau lebih sebelum melajukan serangan. Akan tetapi saat ini mereka baru sepuluh menit memasuki Lautan Mati dan sudah dikejar oleh tiga binatang buas lautan di belakang kapal mereka.
Weng Lou tidak mengetahui bahwa semenjak wanita yang merupakan utusan Kaisar itu berhasil lolos dari Lautan Mati, para binatang buas dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa menyuruh semua bawahan mereka untuk memperkuat penjagaan mereka dan menyerang siapa yang berani masuk ke teritori mereka.
Alasan ini karena sebelumnya wanita itu telah berhasil memberikan sebuah serangan yang membuat para binatang buas tingkat raja yang dilawannya terluka parah dan menyebabkan kebencian bagi mereka semua.
Sialnya, kelompok Weng Lou datang melewati tempat ini ketika mereka semua masih dalam keadaan marah.
"Du Zhe, terus pertahankan kecepatan, para binatang buas itu harusnya tidak akan berani masuk ke bagian lebih dalam dari lautan mati. Meski ini adalah tempat hidup mereka, tapi tetap ada pengelompokan berdasarkan kekuatan di sini. Yang lemah akan tinggal di bagian pinggiran, sedangkan mereka yang kuat akan tinggal di bagian lebih dalam," perintah Weng Lou dengan suara nyaring.
Du Zhe yang ada di dalam kapal bisa mendengar dengan jelas suara Weng Lou. Dia segera melakukan seperti yang diperintahkan oleh Weng Lou. Kapal mereka terus bergerak maju sementara para binatang buas di belakang mereka terlihat semakin lama semakin mengurangi kecepatan mereka sampai kemudian mereka benar-benar berhenti mengejar kelompok Weng Lou.
Para awak kapal tampak sedikit lega melihat itu sementara Weng Lou di sisi lain justru tampak semakin serius ketika mendadak lautan menjadi tenang dan angin kencang yang sebelum juga telah menghilang namun awan tebal masih menutupi langit.
Di dalam kapal, Kera Hitam Petarung yang sedang tidur membuka matanya secara mendadak dan merubah posisinya menjadi duduk. Tangannya membuka sebuah pintu besar di atasnya dan sosoknya segera keluar ke atas kapal.
"Sial, aku ditemukan!" Seru Kera Hitam Petarung itu. Orang-orang di atas kapal tampak takut dengan sosok Kera Hitam Petarung. Mereka sebisa mungkin menjauhinya karena takut dengan tubuh besar dan tampangnya yang mengerikan.
"Semuanya! Masuk ke dalam kapal!" Weng Lou memerintahkan semua awak kapalnya dengan cepat saat mendengar ucapan Kera Hitam Petarung.
Weng Lou memperhatikan bagian belakang kapal sementara Kera Hitam Petarung bagian depan kapal. Keduanya dengan teliti memperhatikan setiap perubahan kecil yang terjadi di dalam air. Terjadi keheningan saat mereka berdua hanya diam menatap lautan di sekitar mereka.
Tapi ketenangan itu segera menghilang begitu Kera Hitam Petarung berseru memperingatkan Weng Lou, "Dari timur!!!" Seruan Kera Hitam Petarung itu langsung membuat perhatian Weng Lou terarah pada sebuah capit raksasa yang mendadak muncul dari dalam lautan dan bergerak ke kepal mereka.
"Ah, sial!" Weng Lou mengutuk saat menyaksikan capit besar itu. Dia dan Kera Hitam Petarung segera maju ke depan kapal dan menyambut kedatangan capit besar itu.
Dengan tangan besarnya, Kera Hitam Petarung memegang erat pada capit besar itu, dan langsung mengangkatnya, memperlihatkan sosok pemilik capit tersebut yang ternyata adalah seekor kepiting besar yang memiliki besar tubuh hampir menyemai Kera Hitam Petarung.
*Clap!* Saat tubuhnya diangkat oleh Kera Hitam Petarung, kepiting itu langsung melesatkan capitnya yang lain untuk menangkap tubuh Kera Hitam Petarung, akan tetapi sosok Weng Lou segera tiba dan memukul dengan keras capit tersebut menjauh.
"SIAAARGGGG!!!!" Kepiting raksasa itu berteriak marah saat melihat bahwa cangkang keras dan tebal pada capitnya mengalami keretakan begitu menerima pukulan dari Weng Lou.
Pada saat yang sama, Kera Hitam Petarung dengan cepat menangkap capit tersebut dan dengan kekuatannya dia memutuskan kedua capit itu seketika itu juga.
"Sepertinya kita akan makan capit kepiting malam ini!" seru Weng Lou. Dia melompat ke atas tubuh kepiting tersebut dan melayangkan sebuah tendangan vertikal yang langsung membuat kepiting itu terkapar di geladak kapal.
Kepiting itu melakukan terus melakukan perlawanan, kaki-kakinya yang masih utuh segera dihentakkan dan menyebabkan kapal kelompok Weng Lou bergoyang.
__ADS_1
"Kepiting sialan, dia ingin membuat kapal ini terbalik!" umpat Weng Lou dengan jengkel.
Tangannya segera terkepal, dia mengambil kuda-kudanya dan kemudian sebuah pukulan keras di lepaskan pada atas tubuh kepiting itu hingga menghancurkan cangkang pada tubuh kepiting itu. Weng Lou tidak berhenti di situ, dia langsung melompat masuk ke dalam tubuh kepiting itu dan mengacak-acak isi tubuhnya hingga akhirnya kepiting itu berhenti bergerak dan mati dengan mengenaskan.
"Bwuah!" Weng Lou keluar dari mulut kepiting itu. Tubuhnya terlihat dipenuhi dengan cairan lengket yang sepertinya darah dan isi tubuh kepiting tersebut.
"Kau membuatku tidak memiliki minat untuk memakannya, kau tau?" Kera Hitam Petarung bercanda pada Weng Lou yang dibalas dengan lemparan setumpuk daging putih di tangannya.
"Hei! Itu bau!"
Weng Lou tampak tidak peduli. Dia berjalan ke arah sebuah ember yang ada di geladak. Ember itu diangkatnya, dan air di dalamnya disiramkannya pada dirinya sendiri.
"Uegh....setelah semua ini aku akan mandi tidak peduli apapun."
Kera Hitam Petarung itu menatap Weng Lou dengan lucu. Dirinya kemudian meninggalkan Weng Lou sendiri sementara dia pergi kembali masuk ke dalam kapal lewat pintu besar di geladak sambil membawa satu capit besar milik kepiting raksasa itu yang sebelumnya dia lepaskan dari tubuhnya.
Melihat dia yang membawa satu capit kepiting itu, Weng Lou tampak protes, "Bukannya kau bilang tidak memiliki minat untuk memakannya?!"
"Aku mengatakan tentang tubuh kepiting itu, bukan capitnya! Lagipula capit ini aku dapatkan dengan usaha ku sendiri. Kau bisa mengambil yang satunya, aku hanya ingin satu saja!" Selesai berbicara, Kera Hitam Petarung pun menutup kembali pintu di geladak, meninggalkan Weng Lou yang menatapnya dengan tak percaya.
"Besar capitnya jelas berbeda! Hei?! Kau dengar aku?! Besar capit yang kau tinggalkan bahkan tak sampai setengah yang kau kurang ajar!"
"Teruslah berbicara sesukamu, aku akan makan di sini." Tidak terdengar lagi suara Kera Hitam Petarung dan Weng Lou hanya bisa mengutuknya dalam hati.
"Ck, padahal aku yang membunuhnya." Weng Lou mendengus jengkel lalu menatap ke arah tubuh kepiting raksasa yang sudah mati itu dan salah satu capitnya yang ditinggalkan oleh Kera Hitam Petarung.
Dia menghela napasnya, dan segera berjalan ke arah tubuh kepiting tersebut. Tubuh kepiting besar itu tampak sangat menyedihkan, dengan sebuah luka di atas tubuhnya dan mulutnya yang terbuka lebar dia seperti menjadi korban pembantaian yang dilakukan oleh Weng Lou.
*Back!* Kaki Weng Lou menendang tubuh kepiting tersebut hingga terlempar dari kapal dan jatuh ke dalam laut.
Tubuh kepiting itu terlalu berat dan membuat kecepatan kapal mereka sedikit melambat, sehingga Weng Lou memutuskan untuk membuangnya. Lagipula, dia juga tidak memiliki minat untuk memakan tubuh kepiting tersebut setelah melihat kondisinya yang memang bisa membuat napsu makan seseorang menjadi hilang.
Weng Lou pun berjalan sambil membawa capit kepiting yang tersisa dan menyerahnya pada orang yang sebelumnya dia minta untuk memegang kemudian kapal, "Bawa ini, masak sup atau apapun dengan itu dan jika ada sisanya buang saja, tidak perlu menyimpannya."
Pria itu segera membawa capit sebesar empat orang pria dewasa itu dengan sekuat tenaganya dan pergi meninggalkan ruangan tempat mereka berada.
Ada beberapa cerita lama yang mengatakan bahwa tubuh seekor binatang buas yang kuat dapat menarik perhatian binatang buas lautan yang lain. Oleh sebab itu, Weng Lou menyuruh anggotanya untuk segera memasak capit besar tersebut dan membuang sisanya jika ada. Dia tidak mau bertarung secara terus menerus melawan binatang buas dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa di atas lautan.
"Haaah....tinggal menunggu waktu saja sampai binatang buas lautan lain datang dan menghampiri kami. Untungnya kecepatan bergerak kapal uap ini membuat beberapa binatang buas tidak bisa mengejar kami sama sekali," ucap Weng Lou yang tampak lega.
__ADS_1
Dia merebahkan tubuhnya pada kursi di dekat kemudi kapal dan mulai kembali ke pekerjaannya.