
Lautan Mati, siapa penduduk Kepulauan Huwa yang belum pernah mendengarnya?
Lautan yang menjadi sarang dari banyaknya binatang buas lautan ini sangat terkenal karena telah banyak memakan korban jiwa. Para pelaut yang melewatinya hampir bisa dinyatakan seratus persen akan mati dan menghilang bersama kapal yang mereka pakai. Hanya orang tidak waras atau percaya diri pada kekuatan yang mereka lewati saja yang berani untuk lewat di lautan ini.
Orang-orang yang berhasil berlayar dan melewatinya pun pasti tidak akan mau jika ditawari untuk melewatinya sekali lagi. Oleh sebab itulah, dibuat sebuah rute khusus untuk melewati Lautan Mati ini. Tapi bahaya dan tantangan dari rute ini tetap memiliki bahaya yang mampu membuat seseorang di ranah Pembersihan Jiwa menjadi kesulitan.
Kapal yang dipakai pun bukan sembarang kapal. Kapal yang biasa dipakai untuk mampu melewati semua rintangan di rute khusus tersebut paling tidak harus cukup kuat menerima terjangan ombak besar, tiang-tiang nya haruslah kokoh saat menghadapi badai, serta mampu menahan bobot dari seekor binatang buas lautan yang terkenal akan keganasan dan besarnya tubuh mereka.
Bahkan Choi yang terkenal karena kegilaannya tidak pernah berpikir untuk menciptakan sesuatu yang bisa melewati Lautan Mati tanpa melewati jalur khusus.
"Apa? Bukannya kau seorang jenius yang bisa menciptakan barang-barang ajaib? Atau jangan-jangan kau hanya membesar-besarkan kemampuan mu itu?" Weng Lou bertanya dengan nada meragukan namun tampaknya Choi tidak terpancing sedikitpun.
"Dengarkan Kakak ini, meski kapal sekuat apapun yang diciptakan untuk menahan serangan binatang buas, tetap akan hancur berkeping-keping jika tidak bisa kabur dari kejaran para binatang buas. Bahkan jika itu adalah kapal perang terkuat sekalipun, ketika berhadapan dengan ratusan binatang buas sekaligus, maka hanya kehancuran saja yang menunggu kapal tersebut," ucap Choi dengan serius dan menganggap Weng Lou tidak tau apa-apa sama sekali.
Choi yang merasa hanya membuang-buang waktunya di situ pun segera beranjak pergi kembali ke kota sementara Weng Lou telah mengeluarkan sebuah cetak biru yang disimpannya dengan baik dan memanggil Choi kembali.
"Lalu bagaimana jika aku mengatakan, bahwa aku memiliki sesuatu yang mampu mengimbangi, bahkan melampaui laju para binatang buas itu? Apa kau masih tidak percaya?"
Langkah kaki Choi berhenti dan berbalik dengan wajah tertariknya. Harus dia akui, pembicaraannya dengan Weng Lou telah membuat rasa penasaran dan ingin tahunya yang besar menjadi bersemangat. Bahkan sebenarnya dia ingin pulang dan memikirkan lebih jauh masalah hal ini, tapi perkataan Weng Lou itu menghentikannya.
Tangan Weng Lou melemparkan cetak biru di tangannya dan segera ditangkap oleh Choi, lalu segera di bukanya.
Begitu dia membuka cetak biru itu, kebingungan pun segera muncul pada wajahnya, namun bercampur dengan rasa ingin tahu dan penuh minat yang tinggi. Dia melihat dengan perhatian penuh setiap detail gambar yang ada di cetak biru itu dan setelah beberapa saat dia pun menutupnya kembali.
"Apa nama barang ini? Bagaimana cara kerjanya? Kenapa menggunakan air?" tanya Choi yang sangat penasaran.
Dia adalah seorang penemu yang tentu saja akan dengan secara alami merasa tertarik dengan sesuatu yang dianggapnya baru. Dia haus akan pengetahuan dan segala hal yang terkait dengan penemuan-penemuan baru.
Bisa dikatakan, cetak biru yang ada di tangannya ini telah melebihi segala hal yang pernah dibuatnya sebelumnya, bahkan ini kemungkinan adalah hal terhebat yang pernah dia ketahui!
"Hehehe.....bagaimana? Apa kau tertarik dengan permintaan ku?" Pertanyaan Weng Lou itu segera membuat Choi tersadar kembali.
Dia termenung dan kembali menatap cetak biru di tangannya.
"Jika menurut apa yang dituliskan di cetak biru ini, maka kecepatan dari sebuah kapal akan menjadi sangat cepat hingga menjadi sesuatu yang baru. Tapi aku perlu membuktikan apakah benda ini memang memiliki fungsi seperti itu," ucapnya dengan serius dan melihat reaksi dari Weng Lou.
Kedua bahu Weng Lou diangkat dan dia pun melangkah melewati Choi yang ada di depannya sambil tertawa ringan, "Kalau begitu apa yang kau tunggu? Ayo kita buktikan saja."
Weng Lou melambaikan tangannya dan berjalan ke arah Kota Rengu. Choi terpana sejenak, sebelum kemudian segera mengikuti Weng Lou yang dengan cepat meninggalkan hampir sepuluh meter jauhnya.
"Hei tunggu aku! Memangnya kau sudah tau letak bengkel ku? Hei! Aku bilang tunggu!"
Choi pun akhirnya berlari demi bisa mengejar Weng Lou yang hanya dengan langkah ringannya sudah meninggalkan jauh dibelakang.
***
Di bawah Kota Rengu, terdapat sebuah bengkel kecil yang dipenuhi dengan berbagai macam alat-alat aneh berserakan di lantai.
__ADS_1
Bengkel ini adalah bengkel milik Choi yang mampu diatur ketinggian letaknya sesuka hatinya menggunakan sebuah katrol khusus yang menjadi salah satu karya terbaiknya.
Bengkel ini terletak tepat di bawah kediamannya, tepatnya dibawah bengkel milik ayahnya. Hanya sedikit orang yang mengetahui tentang bengkelnya ini, karena Choi tidak mau merasa terganggu saat sedang mengerjakan alat-alat ciptaannya.
"Hm....dengan lokasi seperti ini, seharusnya bengkel ini tidak akan bertahan lama. Kenapa kau membuatnya menggantung? Bukannya lebih bagus jika kau menaruhnya di atas bengkel ayah mu saja? Atau membuatnya secara permanen berada tepat di bawah bengkel ayahmu agar lebih kokoh?" tanya Weng Lou yang merasa sedikit tertarik.
"Itu karena aku terkadang suka berenang di laut, jadi aku membuatnya bisa sampai menyentuh di permukaan air laut. Ayahku juga sudah menyarankan hal yang sama seperti kau katakan, tapi aku menolaknya. Bagiku, yang ku lakukan adalah apa yang memang aku sukai, aku tidak mau membuang waktu dengan sesuatu yang bahkan tidak bisa membuatku tertarik," jelasnya tanpa menoleh sedikitpun saat mengukur tali di tangannya.
Mereka berdua saat ini sedang bergerak turun menggunakan sebuah lift sederhana menggunakan katrol yang terhubung di bengkel ayah Choi.
*Tap....* Papan yang dinaiki oleh mereka berdua akhirnya sampai di bengkel milik Choi dan segera disambut dengan pemandangan yang cukup....menarik.
Sebuah kincir angin kecil terlihat terus berputar tertiup oleh angin. Seutas tali terikat pada roda kayu itu dan tersambung pada roda kecil di bawahnya yang juga tersambung pada roda lain sampai mengelilingi bengkel kayu milik Choi itu.
Mata Weng Lou kemudian tertuju pada sebuah capit dari besi yang berbentuk seperti tangan manusia di lantai. Dia mengambilnya dan memperhatikannya, lalu mencoba mengambil satu barang acak di dekatnya menggunakan capit itu.
*Tak.* Capit berbentuk tangan itu secara mengejutkan mampu mengangkat benda itu dengan sempurna selayaknya tangan yang asli. Jari-jarinya menyesuaikan dengan bentuk dari benda yang dicapit itu sehingga tidak longgar sedikitpun.
"Hmmmm....menarik... benar-benar menarik!"
Weng Lou meletakkan kembali capit itu dan kemudian segera masuk ke dalam bengkel milik Choi. Di dalam, lebih banyak benda aneh bisa terlihat dan ada yang sama sekali tidak bisa dikenali oleh Weng Lou. Tapi Weng Lou menahan rasa penasarannya dan kemudian duduk di salah satu kursi dengan tenang.
"Nah, bagaimana jika kita mulai untuk membuatnya? Kita bisa mengetahui apakah yang ditulis pada cetak biru itu benar atau tidak setelah jadi."
Choi mengangguk dan meletakkan cetak biru itu di sebuah meja yang nyaris tegak. Dia membuka lebar-lebar cetak biru itu, lalu menempelkan paku pada keempat ujungnya agar tidak tertutup kembali.
Weng Lou tidak menjawab, dia mengetuk-ngetuk meja di sampingnya dengan jarinya lalu bertanya pada Choi, "Apa kau memiliki tungku untuk menempa?"
"Hm? Tungku? Kau bercanda? Tukang kayu mana yang tidak memiliki tungku pada bengkelnya?" Choi pun segera membawa Weng Lou kebagian lebih dalam dari bengkelnya itu dan memperlihatkan ruangan kerja dari seorang jenius sepertinya.
Terlihat wajah sombong Choi saat memperlihatkan ruangan tersebut, sementara Weng Lou kehilangan kata-katanya.
'Tukang kayu mana yang memiliki tungku sekecil ini? Bahkan untuk membuat senjata, tungku ini terlalu kecil. Paling-paling tungku ini hanya berguna untuk merebus air,' pikir Weng Lou tapi tidak mengatakan apapun.
Dia berjalan dan mengambil sebuah palu berukuran sedang, dan sekali lagi dia tidak bisa berkata apa-apa saat mengangkat palu itu, 'Ini bahkan tidak lebih ringan dari palu yang pakai para penempa.'
Tidak habis pikir bagaimana bisa Choi menjadi seorang tukang kayu dengan fisik selemah itu. Satu-satunya yang menjadi alasan mengapa dia masih bisa terus menjadi tukang kayu sampai sekarang hanyalah semangat pantang menyerang dan rasa ingin tahunya.
"Pantas saja semua barang yang ada di sini seperti mainan anak kecil, kau pasti tidak bisa mengerjakan alat-alat berukuran besar, bukan?" tanya Weng Lou.
"Ti-Tidak! Aku hanya tidak suka mengerjakannya di sini, itu saja!" banyak Choi yang terlihat jelas sedang berbohong.
"Haah..... sudahlah, lupakan. Aku memerlukan palu dengan berat yang lebih besar. Palu ini bahkan tidak akan bisa memurnikan sebuah logam, ini lebih layak disebut mainan anak-anak," ucapnya yang melemparkan palu di tangannya pada tumpukan barang aneh ciptaan Choi.
Choi diam sejenak, dia berpikir keras dan sepertinya sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat penting baginya. Kakinya tidak berhenti diketuknya sampai kemudian dia menatap pada Weng Lou.
"Bengkel ini tidak bisa menahan aktivitas berat sepele penempaan benda-benda besar. Jika kau memerlukan palu yang lebih berat, kita bisa melakukan penempaan di atas saja," ujarnya lalu membawa Weng Lou kembali keluar dari bengkel sambil membawa cetak biru milik Weng Lou.
__ADS_1
Saat itulah, langkah kaki Choi segera terhenti dan ekspresi terkejut tampak di wajahnya saat melihat sosok ayahnya yang kini telah berdiri tepat di depan pintu masuk bengkel miliknya itu.
"Aku pikir kau sedang berbuat apa, ternyata kau masih asik mengerjakan barang-barang tak berguna mu itu?" Ayah Choi tampak menatap anaknya dengan tidak senang.
Perhatiannya kemudian teralihkan pada sosok Weng Lou yang ada di belakangnya dan dia pun mendengus marah, "Kau bahkan membawa seorang anak untuk memamerkan barang-barang bodohmu itu? Apa kau juga mau membuatnya menjadi tukang menghayal seperti mu?!"
"A-Ayah! Bukan begitu, dia ini--!!!!"
"Cukup! Kembali ke rumah, sudah cukup hari ini aku memarahi mu."
Weng Lou yang memperhatikan kejadian itu bisa langsung tau apa yang sedang terjadi saat ini. Dari pandangannya, sikap ayahnya ini sudah sangat wajar. Melihat dari betapa banyaknya barang aneh yang ada di bengkel Choi ini, dia pasti telah banyak menghabiskan waktunya.
Bahkan ayah Weng Lou juga tidak akan senang melihat anaknya yang hanya fokus melakukan sesuatu yang menurutnya hanya membuang waktu.
Weng Lou yang sedikit merasa kasihan pada Choi pun menengahi dirinya dengan ayahnya lalu berbicara, "Kurasa ada kesalahpahaman di sini, aku datang ke sini karena meminta Tukang Kayu Choi untuk membuatkan ku sesuatu, jadi ini bukanlah kesalahannya."
Alis ayah Choi terangkat, dia seperti baru saja salah dengar dan meminta Weng Lou menjelaskan maksudnya. Weng Lou tidak berbicara melainkan segera mengambil cetak biru di tangan Choi lalu melemparkannya pada ayah Choi.
Tanpa bertanya apapun, cetak biru itu segera dibuka oleh ayah Choi, dan tak lama ekspresi dirinya tampak sama dengan Choi ketika dia pertama kali melihat isi cetak biru ini.
"I-Ini.....apakah benda seperti ini memang benar-benar ada?" ucapnya dengan tak percaya.
"Kalau begitu ayo kita membuatnya dan melihat apakah semua itu benar, ayah! Kami perlu meminjam bengkel milik ayah untuk membuatnya!" Choi merasa bersemangat melihat ayahnya yang sepertinya telah menjadi tertarik seperti dirinya.
Mata ayah Choi menatap anaknya itu lalu beralih pada Weng Lou, "Aku tidak keberatan. Aku juga akan ikut membantu membuatnya jika diizinkan."
"Tentu saja! Semakin banyak, semakin bagus! Ayo kita segera membuatnya!"
***
Sore hari di Kota Rengu.
Langit jingga di langit mulai semakin pudar dan bayang-bayang bulan mulai muncul seiring dengan tenggelamnya sang Surya.
Weng Lou tersenyum puas pada benda di hadapannya yang terlihat sama persis dengan yang ada di cetak birunya. Setelah bekerja berjam-jam akhirnya mereka berhasil menyelesaikan untuk membuatnya.
Mereka telah melakukan uji coba dan hasilnya benar-benar mengejutkan Choi dan ayahnya, bahkan Weng Lou juga sangat terkejut.
"Meski aku hanya sempat diperlihatkan sebentar mengenai barang ini oleh Ye Lao, aku tidak menyangka cetak biru yang ku buat benar-benar cocok dengan yang aku lihat waktu itu. Meski ini adalah versi sederhananya tapi, kinerjanya harusnya masih lebih dari setengah yang aslinya."
Choi dan ayahnya terpana menatap benda di depan mereka dan seperti telah melihat sesuatu yang benar-benar akan mengguncang seluruh perkembangan teknologi.
"Benda ini benar-benar bisa melakukan yang tertulis di cetak biru itu....ini....ini pasti adalah momen-momen yang bersejarah!" Choi berseru dengan gembira sementara ayah Choi hanya diam dan tersenyum puas
Dia kemudian menatap Weng Lou yang ada di depannya itu, "Jadi, apa nama benda ini?"
"Hm? Ah, benar. Kalian belum mengetahuinya. Benda ini adalah mesin uap, dan dengan mesin ini kita akan membuat kapal yang mampu berlayar melewati Lautan Mati."
__ADS_1