Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 610


__ADS_3

Dalam kegelapan tak berujung. Weng Lou berdiri seorang diri, menatap kegelapan. Dia tidak merasa asing pada kegelapan ini.


Kegelapan ini adalah sesuatu yang sering dia lihat dalam beberapa momen. Namun saat ini, wajahnya tampak mengerut. Biasanya dalam kegelapan ini, dia tidak akan mendengar suara, atau merasakan apapun. Tapi sekarang, dia bisa mendengar dengan jelas beberapa suara yang tampak akrab di telinganya.


"Hei, apa kau pikir dia akan bangun?" Salah satu suara terdengar berbicara sambil sedikit terdengar nada bercanda darinya.


"A-Aku tidak tau, Paman Guru. Kita-Kita tidak seharusnya melakukan ini. Bagaimana kalau Guru bangun nanti? Kita akan dalam masalah saat itu terjadi!" Suara yang lain terdengar gelisah dan ada sedikit ketakutan saat dia berbicara.


"Kau terlalu penakut! Dengar, Paman Guru mu ini tidak pernah masuk dalam masalah apapun hanya karena hal sepele seperti ini! Jadi kau tak perlu takut dan ragu, ayo bantu aku dengan sedikit menambahkannya di bagian ini," kata suara yang sebelumnya lagi.


"Ta-Tapi...." Suara kedua ragu-ragu.


"Ah, lupakan saja! Biar aku sendiri yang melakukannya! Aku kecewa murid dari teman ku akan menjadi seorang anak penakut seperti mu. Ck ck ck.....lihat dan amati dari situ, Paman Guru mu akan melakukannya sendiri."


Setelah selesai berbicara, Weng Lou entah mengapa merasakan sensasi dingin di wajahnya, seolah-olah ada air yang menetes dan mengalir darinya. Tapi di kegelapan ini, Weng Lou tidak bisa melihat apapun.


Dia menyentuh wajahnya, dan tidak menemukan penyebab dari sensasi basah itu. Setelah berpikir sejenak, dia akhirnya paham apa yang sedang terjadi.


"Sudah selesai, ini adalah mahakarya terbaik ku! Aku menyebutnya, Naga Malam Yang Tertidur Pulas!" Suara yang sama akhirnya kembali terdengar, dan sensasi dingin yang Weng Lou rasakan akhirnya menghilang.


"Hahahaha.....Lou, teman ku, kau telah membantuku menciptakan mahakarya ku ini! Jasamu akan selalu ku ingat!"


Dalam kegelapan, tiba-tiba mata Weng Lou mengeluarkan cahaya dingin, dan dia menarik napas dalam.


Dua suara yang dia dengar, tidak lain berasal dari muridnya, Du Zhe dan juga Weng Ying Luan. Tentu saja, orang yang berbicara paling banyak tidak lain adalah Ying Luan. Sedangkan suara lainnya adalah Du Zhe.


Setelah diam sejenak, Weng Lou berusaha memfokuskan diri. Dia memaksa pikirannya untuk terbangun. Kegelapan yang dia rasakan dan lihat perlahan menjadi kabur dan buram.


"Hm? Apa yang terjadi? Aku seperti melihat kelopak matanya bergerak, atau hanya perasaanku saja? Siapa yang peduli, hari ini, aku Weng Ying Luan akan membuat karya yang bisa mengguncang langit dan bumi!"

__ADS_1


Di kenyataan, tangan Weng Ying Luan memegang sebuah kuas kecil dengan tinta tebal di ujungnya. Dia mendekatkannya pada wajah Weng Lou, hendak membuat gambar lainnya di daerah yang masih kosong. Sementara itu, Du Zhe yang tidak jauh darinya hanya bisa menahan napas dan merasa harus pergi segera dari tempat ini.


Firasatnya mengatakan, jika dia tidak segera pergi, maka akan ada hal buruk yang menimpanya.


"Guru, maafkan aku karena sudah menjadi murid yang tak berbakti," gumamnya.


"Apa maksudmu, Du Zhe? Kita tidak seperti melakukan kejahatan yang serius, hanya sedikit lelucon, oke? Lagipula guru mu bukanlah orang yang sensitif itu, dia pasti akan mengerti percayalah padaku! Aku adalah Paman Guru mu!"


Weng Ying Luan menoleh pada Du Zhe, berusaha meyakinkannya.


Namun bukannya tenang, wajah Du Zhe justru tampak sebaliknya. Wajahnya berkelebat pucat seperti tanpa darah sedikitpun. Kedua matanya terbelalak dan dia bergetar ketakutan.


Melihat hal ini, Ying Luan mengangkat sebelah alisnya, dan menoleh kembali ke arah Weng Lou yang seharusnya masih terbaring tak sadarkan diri.


Tapi bukan Weng Lou yang sedang tak sadarkan diri yang dia temukan, melainkan Weng Lou yang kedua matanya terbuka lebar dan menatap Ying Luan dengan sorot mata dingin. Tatapan matanya seolah mengatakan bahwa dia tidak akan membiarkannya lolos setelah melakukan semua ini.


Weng Ying Luan berkedip beberapa kali, sebelum kemudian wajahnya langsung berubah menjadi tersenyum cerah, seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya. Kuas di tangannya sudah dia lemparkan sejauh mungkin.


Weng Ying Luan buru-buru berbalik dan berjalan ke arah pintu keluar dari kamar tempat mereka berada saat ini. Tepat saat tangannya akan menyentuh gagang pintu, suara di belakangnya langsung menghentikan tindakan yang hendak dia lakukan.


"Coba saja kau sentuh gagang pintu itu, dan kau akan merasakan beberapa tulang rusuk mu patah," ucap Weng Lou dengan dingin.


"Ha....hahaha....saudara ku, Lou. Kau tau, aku hanya bercanda tadi, jangan anggap serius masalah kecil seperti itu, oke?" Tangan Weng Ying Luan menggaruk belakang kepalanya, sedangkan tangannya yang lain bergerak menuju gagang pintu.


"Kita akan lihat siapa yang sedang bercanda. Sentuh gagang itu, dan kau akan mengetahuinya."


Menarik napas dalam. Weng Ying Luan menemukan dirinya sekarang berada dalam masalah besar. Namun, tekadnya sudah bulat! Dia tidak akan mundur begitu saja!


"Oke oke....anggap saja tadi adalah kesalahan ku, aku akan ganti rugi, senang?"

__ADS_1


"Tidak, kau tidak perlu ganti rugi sedikit pun. Berikan saja badanmu, dan biarkan ku patahkan beberapa rusuk mu, maka kita impas."


"Weng Lou! Aku bahkan tidak menyakiti mu sedikit pun!"


"Dua rusuk, tidak lebih."


"Omong kosong!"


Dalam satu tarikan cepat, Weng Ying Luan bergerak dan membuka pintu kamar lalu terbang dengan sangat cepat, keluar dari bangunan tempat mereka berada saat ini. Tanpa diduga, Weng Lou sebenarnya tidak bergerak sedikit pun dari tempat tidurnya. Dia hanya melihat kepergian Weng Ying Luan selama beberapa saat sebelum kemudian merubah posisinya yang sebelumnya berbaring menjadi duduk bersandar dan melihat ke arah Du Zhe yang berdiri diam di dekat pintu keluar.


Ekspresi menjadi jelek saat kedua mata Weng Lou menatapnya dalam diam.


"Guru...."


"Tidak perlu mengatakan apapun, aku tau kau tidak ada maksud untuk ikut terlibat dengan ini, Paman Guru mu yang memaksamu," ucap Weng Lou sambil menghela napasnya.


Seolah beban berat di hatinya terangkat, Du Zhe pun menghela napas lega. Dia takut dirinya juga akan ikut dimarahi oleh Weng Lou. Dirinya sadar, sebagai murid, harusnya dia lebih berani dan menghentikan Weng Ying Luan tadi.


"Du Zhe, bisakah kau keluar dan latihan sendiri hari ini? Guru merasa tidak enak badan dan ingin beristirahat."


Mendengar perkataan Weng Lou, Du Zhe dengan cepat mengangguk dan berjalan keluar dari kamar, meninggalkan Weng Lou seorang diri.


Setelah tinggal sendiri di kamar, Weng Lou akhirnya bisa lebih santai dan memeriksa tempat dia berada saat ini. Itu adalah sebuah kamar yang berukuran sangat besar. Dia tidak menyadarinya sebelumnya, tapi kamar ini persis terlihat seperti kamar seorang bangsawan, dengan banyak macam furnitur yang terpajang di seluruh kamar.


Weng Lou bisa mengatakan, bahwa ini adalah kamar termewah yang pernah dia tempati selama dia hidup. Tapi kemewahan itu berbanding terbalik dengan suasana sepi dan hampir seperti mati yang dirinya rasakan. Entah mengapa, meski sangat mewah, namun tempat ini sepertinya sudah sangat lama ditinggalkan, walau sebenarnya Weng Lou tidak bisa menemukan debu sedikit pun di dalam kamar.


Sudut matanya bergerak dan menangkap sebuah gambar lukisan Phoenix yang persis sama seperti yang dia lihat di ruangan tempat Lin Nushen membawanya sebelumnya.


Hanya saja, Weng Lou tidak merasakan kehendak pemusnahan pada Phoenix tersebut, melainkan kehendak yang memulihkan, atau mungkin lebih tepat mengatakannya itu adalah kekuatan yang meregenerasi tubuh seseorang yang sedang dalam kondisi terluka, entah itu luka ringan atau pun berat.

__ADS_1


Tubuh Weng Lou yang masih sedikit terluka terasa seperti sedang disembuhkan perlahan namun pasti. Dia bisa merasakannya dengan jelas. Hanya....dimana ini?


__ADS_2