Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 593. Bekas Luka & Menghilang


__ADS_3

Satu malam lainnya terlewati, Weng Lou menemukan dirinya telah berada di atas lantai kamarnya ketika dia bangun dari tidurnya.


Tatapannya penuh dengan rasa bingung saat melihat ke sekeliling nya dan melihat Weng Ying Luan dengan nikmatnya sedang tidur di atas tempat tidurnya. Wajah Weng Lou seketika berubah kesal, bisa-bisanya dia yang memiliki kamar malah tidur di lantai sementara Ying Luan yang hanya menumpang malah tidur di atas tempat tidurnya!


Weng Lou pun segera bangkit berdiri, akan tetapi rasa sakit yang luar biasa menyerang kepalanya. Tubuhnya linglung dan terjatuh kembali ke lantai.


Ingatan kejadian semalam pun muncul di dalam kepalanya yang seketika itu juga membuat Weng Lou mengumpat semakin kesal dan buru-buru merubah posisinya menjadi duduk bersila dan langsung memulai meditasinya menggunakan Teknik Pembersih Jiwa.


Semalam, ketika mereka hampir selesai menghabiskan makanan yang telah mereka pesan, Weng Ying Luan meminta beberapa jenis pil kepada Weng Lou yang langsung dikabulkan olehnya tanpa banyak tanya. Dia tidak yakin sebelumnya apa yang ingin dibuat oleh rekannya tersebut, tapi pil yang diminta darinya bukanlah pil-pil yang cukup berharga jadi Weng Lou merasa tidak keberatan.


Weng Ying Luan yang menerima beberapa pil itu langsung memperlihatkan pada Weng Lou apa yang ingin dia lakukan. Dia menghancurkan pil-pil itu menjadi bentuk bubuk dan mencampurkannya ke dalam sebuah kendi berisi arak yang memiliki rasa sangat kuat.


Pada awalnya Weng Lou bingung dengan apa yang dilakukan oleh Weng Ying Luan, tapi ketika melihat dia meminum arak itu, dia mulai merasa sahabatnya ini sudah mulai mabuk dan tidak bisa berpikir jernih.


Setelah meminum arak yang dicampurkan beberapa jenis pil tersebut, Weng Ying Luan secara mengejutkan melemparkan kendi arak yang dia minum ke arah Weng Lou. Untungnya Weng Lou bisa dengan sigap menghindari nya dan hendak mengutuk Weng Ying Luan yang melempari nya. Akan tetapi wajahnya berubah kaku ketika tau bahwa dia ternyata sudah mabuk dan wajahnya benar-benar berubah merah setelah meminum arak yang sudah dia campur beberapa pil itu.


Weng Ying Luan yang mabuk membuat Weng Lou merasa khawatir. Bukan tanpa sebab, pasalnya Ying Luan yang telah mabuk itu malah mengambil arak lain dan meminumnya, membuatnya semakin mabuk.


Karena tau hal ini pasti berujung kepada masalah yang tidak dia inginkan, akhirnya Weng Lou pun membawa pergi Weng Ying Luan ke kamarnya dan menempatkan nya ke atas kasurnya. Dia berpikir Weng Ying Luan akan diam dan tidur dengan tenang, tapi yang terjadi adalah sebaliknya.


Dia meronta dan ingin kembali menikmati araknya sambil berteriak pada Weng Lou kalau dia sangat iri kepada Weng Lou yang bisa melakukan petualangan hebat ketika dalam perjalanan menuju Kota Tiesha. Dia juga meracau tidak jelas mengenai ibunya yang terus-menerus menyiksanya ketika dia masih kecil dengan latihan-latihan tidak masuk akalnya.


Namun meski begitu, Weng Ying Luan pada akhirnya menangis seperti anak kecil dibawa pengaruh arak yang dia minum. Akhirnya setelah berusaha keras, Weng Lou pun berhasil membuat Weng Ying Luan tertidur dengan cara memberikannya sebuah pil tidur yang berdosis tinggi.


Seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa seperti Weng Ying Luan hanya mempan dengan pil berdosis tinggi seperti itu.


Karena kelelahan mengurus Weng Ying Luan, Weng Lou berakhir tertidur di atas lantai dan baru bangun setelah empat jam berlalu dan matahari sudah akan terbit di langit timur,


Di atas tempat tidur, Weng Ying Luan yang tertidur pulas mendadak mengorok dan membuat Weng Lou tersenyum jengkel. Dia pun langsung menghentikan meditasinya dan dalam satu kali ayunan tangan mendorong jatuh Ying Luan dari atas tempat tidur.


*Bdebuck!* Kepala Weng Ying Luan jatuh lebih dulu dan menimbulkan bunyi nyaring yang menggema di seluruh kamar.


"Whoahh!!" Weng Ying Luan pun langsung bangun dan memasang ekspresi kagetnya. Dia seperti baru saja bermimpi buruk.


"Bangun juga kau, sialan." Weng Lou berbicara dengan kesal dan membuat Weng Ying Luan yang masih dalam kondisi kebingungan menoleh kepadanya dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.


"Lou? Apa yang kau lakukan di kamar ku?" tanya Ying Luan yang sepertinya ingatan semalam di kepalanya belum pulih seutuhnya.


"Kamar mu apanya?! Ini kamar ku dasar tukang mabuk! Sial, seharusnya aku tidak memberikan mu pil-pil itu, kau tampak sangat menyedihkan tadi malam, kau tau?!"


Bentakan dari Weng Lou itu membuat Weng Ying Luan terkejut dan akhirnya dia pun mendapatkan ingatannya seutuhnya tentang kejadian semalam. Wajahnya berubah seketika, akan tetapi itu bukanlah ekspresi malu atau menyesali melainkan sebuah senyum kecil yang sedikit aneh bagi Weng Lou yang melihatnya.

__ADS_1


"Bhahaha.....jangan marah begitu, lagipula aku tidak menimbulkan masalah apapun, bukan? Ayolah, kita akan pergi melihat kapal buatan mu itu. Aku penasaran seberapa hebatnya itu sampai bisa menghadapi amukan binatang buas lautan hanya dengan kecepatannya saja," ucap Ying Luan sambil turun dari atas tempat tidurnya dan membuka jendela kamar.


Udara pagi yang tidak dingin atau pun panas segera masuk dan membuat Ying Luan merasa sangat nyaman. Dia bahkan menguap kembali. Jika Weng Lou tidak membangunkannya mungkin dia akan tidur terus sampai sore nanti.


*Tsk....*


Dia membuka bajunya dan memperlihatkan tubuhnya yang terbentuk sama seperti Weng Lou. Dadanya tampak sedikit lebih bidang daripada Weng Lou karena tubuhnya lebih tinggi darinya. Weng Lou sudah sering melihat tubuh Ying Luan dan dia tidak merasa heran dengan tubuh pemuda itu yang sama sepertinya.


Weng Ying Luan meskipun tampak tidak pernah melakukan latihan fisik apapun, namun secara alami tubuhnya telah terbentuk. Kemungkinan itu ada hubungannya dengan garis darah keturunan miliknya yang misterius.


Meski demikian, perhatian Weng Lou tetap teralih pada sebuah luka panjang di dada Ying Luan. Luka itu seperti sebuah tebasan pedang dan menebasnya dari dada kiri atasnya ke perut kanan bawahnya. Weng Lou tidak akan merasa heran jika Ying Luan terluka melawan seseorang, namun yang menjadi permasalahannya adalah kenapa pemuda itu memiliki sebuah bekas luka.


Perlu diingat, Weng Ying Luan dan Weng Lou sama-sama memiliki Dantian Tanpa Unsur yang membuat mereka bisa menyerap Tenaga Dalam Alam dengan bebas. Tenaga Dalam Alam itu begitu alami dan mampu menyembuhkan luka dengan sangat cepat hingga bahkan tidak meninggalkan bekas. Juga Ying Luan memiliki garis darah keturunan, seharusnya kemampuan Garis Darah nya itu bisa membantunya meningkatkan laju penyembuhan tubuhnya.


"Hei, apa yang terjadi dengan dada mu? Darimana kau mendapatkan bekas luka itu?" tanya Weng Lou dengan penasaran.


Weng Ying Luan merespon pertanyaan Weng Lou dengan menatap bekas luka di dadanya, dia tertawa pelan sebelum kemudian mengenakan baju yang lain dan memasukkan baju yang sebelumnya ke dalam cincin penyimpanan.


"Walau aku tidak menjalani petualangan seperti mu, tapi setidaknya aku mendapatkan beberapa pengalaman yang berharga. Luka ini aku dapatkan dari pertarungan melawan seseorang di Arena Pertarungan. Aku tidak tau siapa identitas nya, tapi kemampuannya sangat hebat, aku bahkan tidak berkutik melawannya. Pertarungan ku melawan orang itu....hahaha...aku bahkan malu menceritakannya pada mu tadi malam karena menurut ku itu tidak akan membuat mu tertarik," jelas Weng Ying Luan sambil mengingat-ingat kejadian yang terjadi sekitar beberapa bulan yang lalu ketika dia masih baru menjadi pertsrung arena.


Kala itu, namanya masih belum terkenal dan orang-orang yang bertaruh untuknya tidak sebanyak sekarang.


Dia pun memutuskan untuk bertarung melawan beberapa orang kuat di Arena Pertarungan demi mendapatkan uang yang banyak. Waktu itu, entah bagaimana caranya ada seseorang yang ingin bertarung melawannya dan merasa tertarik dengannya.


Meski merasa curiga, Ying Luan tetap menerimanya karena saat itu dia benar-benar telah kehabisan uang. Biaya hidup di Kota Tiesha benar-benar membuatnya menjadi gelandangan miskin. Dia tidak menyangka satu koin emas dari Pulau Pasir Hitam di sini hanya setara 100 koin perak, bukan 1.000!


Itu adalah sepuluh kali lebih rendah nilainya, bahkan harga permalam sebuah penginapan bisa menghabiskan sekantung uang berisi sepuluh koin emas. Mau tidak mau dia harus mengambil pertarungan tersebut.


Dia berpikir lawannya paling tidak berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 4 atau 5 paling tinggi tapi ternyata jauh lebih itu. Dia berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 9 awal dan entah bagaimana Weng Ying Luan berhasil bertahan melawannya selama setengah jam.


Pertarungan itu berlangsung dengan Weng Ying Luan yang hanya bisa terus-terusan bertahan dan lawannya yang terus menyerangnya tanpa memberikan waktu baginya untuk beristirahat.


Lawannya itu pun puas melihat kekuatan Weng Ying Luan setelah setengah jam itu, lalu mengakhiri pertarungan dengan sebuah serangan tebasan menggunakan tangan kosongnya. Serangannya itu berhasil melukai Ying Luan dengan sangat parah dan dengan begitu, dia pun keluar sebagai pemenang.


Weng Ying Luan nyaris kehilangan kesadarannya karena lukanya, untungnya lawannya itu membantunya untuk menghentikan pendarahan nya. Tidak bisa dia bayangkan sebuah luka yang dia terima sama sekali tidak bisa dia sembuhkan. Itu sudah hampir seperti sebuah mimpi buruk bagi dirinya.


Weng Ying Luan mengingat ucapan orang itu padanya saat dia hendak pergi. Dia menanyakan bagaimana kabar ibunya, yang mana membuat Weng Ying Luan sontak kaget dan hendak menanyakan identitas orang itu. Namun sebelum dia bisa bertanya, orang tersebut sudah menghilang tanpa jejak. Weng Ying Luan yakin, orang itu pasti mengenal ibunya.


"Haa...ayo kita pergi ke pelabuhan. Aku sudah selesai mengganti baju," ucap Ying Luan.


Weng Lou tampak masih penasaran namun dia harus mengubur rasa penasarannya itu dalam-dalam. Dia tidak ingin menyinggung perasaan Weng Ying Luan jika hanya untuk mengetahui sebuah rahasia nya.

__ADS_1


***


Di dermaga, Weng Lou dan Weng Ying Luan berjalan bersama-sama sambil melihat-lihat kapal yang mereka lewati satu persatu.


Weng Ying Luan berusaha menebak kapal mana yang merupakan kapal milik kelompok Weng Lou, tapi sejauh ini dia belum berhasil menemukannya.


Ketika mereka akhirnya sampai di tempat seharusnya kapal uap Weng Lou berada, mulut Weng Lou terbuka lebar dan dia tampak sangat terkejut. Di hadapannya, tidak ada kapal uap nya, dan hanya ada sebuah kapal layar besar yang berlabuh.


Weng Lou seketika itu juga mendapatkan firasat buruk dan dengan cepat dia melepaskan Kekuatan Jiwa nya yang kemudian menyelimuti seluruh dermaga, bahkan hingga mencapai wilayah diluar dermaga.


Gelombang Kekuatan Jiwa yang secara tiba-tiba itu langsung menarik beberapa keberadaan sosok di Kota Tiesha dan membuat kesadaran mereka turun untuk memeriksa apa yang sedang terjadi.


Melihat tindakan Weng Lou, Weng Ying Luan tau bahwa mereka sedang mendapatkan masalah. Dan sepertinya itu adalah sebuah masalah serius karena Weng Lou sampai melepaskan Kekuatan Jiwa nya begitu saja.


"Sialan!!! Aku tidak bisa menemukan kapal ku di seluruh dermaga!" Weng Lou berseru dengan serius.


"DIMANA KAPAL KU???!!!!!!"


Suara Weng Lou bergema di seluruh dermaga, bahkan suaranya mencapai Kota Tiesha dan membuat aktivitas orang-orang terhenti karena mendengar suara nyaringnya. Weng Ying Luan yang berada di samping Weng Lou mengerutkan keningnya, Weng Lou telah marah. Dia tau bahwa yang terjadi ini benar-benar gawat karena kapal milik Weng Lou telah hilang, termasuk Kera Hitam Petarung di dalamnya.


"Tu-Tuan!!! Tolong maafkan aku, Tuan!! Pasukan Pengejar datang semalam dan menggeledah semua kapal di dermaga! Mereka membawa surat izin dari Keluarga Lin, jadi saya dengan terpaksa membiarkannya. Mereka....Mereka mengambil dengan paksa kapal anda! Saya telah menahan dan mencoba bernegosiasi dengan mereka, akan tetapi mereka mengancam akan membunuh semua pekerja yang ada di dermaga! Saya... Saya terpaksa.... tolong! Tolong maafkan saya!"


Dari arah kantor para pekerja dermaga, pria gempal yang Weng Lou kenali keluar dengan terburu-buru dan dengan raut wajah ketakutan. Dia membungkuk depan Weng Lou dan menjelaskan semuanya yang terjadi sambil memohon maaf kepada Weng Lou.


Weng Lou dengan mata tajamnya bisa melihat gerakan bibir pria itu, dan telinganya bisa mendengar tajam nada suaranya. Dari pengamatan nya sekilas saja, dia bisa menemukan pria ini telah berbohong. Dirinya jelas ketakutan ketika Pasukan Pengejar itu menemukan Kera Hitam Petarung di dalam kapalnya.


Dia tidak tau bagaimana orang-orang itu bisa menangkap Kera Hitam Petarung tanpa membuat keributan sedikitpun, tapi yang pasti harus ada seseorang dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 4 paling tidak yang ikut campur tangan dalam masalah ini.


"Hmp! Dasar rubah penakut, kau berani berbohong di hadapan seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa?! Mati kau!"


Dalam satu gerakan tangan, Weng Lou memecahkan kepala pria tersebut dan kemudian segera menghadap ke arah Kota Tiesha.


Dia menarik napas dalam, sangat dalam. Udara terlihat berputar ketika terhisap ke dalam hidung dan mulutnya. Weng Ying Luan tau apa yang hendak dilakukan oleh rekannya itu dan dia pun buru-buru melompat ke belakangnya.


"""KALIAN PARA PASUKAN PENGEJAR! ANJING-ANJING KELUARGA LIN!!!! DENGARKAN AKU!! JIKA KALIAN TIDAK MAU MENGEMBALIKAN KAPAL KU, MAKA AKU AKAN MENDATANGI KALIAN SEMUA!!! KETIKA ITU TERJADI, HANYA KEMATIAN YANG KALIAN DAPATKAN KARENA MENCURI DARIKU!!!""


Suara yang sangat dalam dan keras segera dikeluarkan oleh Weng Lou, suara itu langsung mengarah ke Kota Tiesha dan membuat seisi kota menjadi panik karena suara besarnya. Bahkan bangunan di seluruh kota bergetar hebat karena suaranya itu.


Akhirnya, beberapa keberadaan yang mengamati dari dalam kota pun segera menarik kembali kesadaran mereka begitu merasakan betapa besarnya kekuatan yang dimiliki seorang Weng Lou. Mereka tidak mau ikut masuk dalam masalah yang telah dibuat oleh Keluarga Lin.


"Ayo, Luan. Aku harus menunjukkan kepada orang-orang itu, apa yang terjadi ketika seseorang berani mencuri dari seorang Weng Lou!" Weng Lou berbicara kepada Weng Ying Luan di belakangnya sambil melihat pemuda itu memasang senyum lebarnya.

__ADS_1


Ini yang dia tunggu-tunggu, pertarungan berdarah bersama dengan Weng Lou. Itu pasti menyenangkan!


__ADS_2