
Meminum teh mereka dalam satu tegukan, Weng Lou dan Weng Ying Luan pun tampak jauh lebih baik dari sebelumnya.
Alis mata Jian Qiang semakin naik melihat itu. Sepertinya teh yang diberikan oleh Kakek tua pemilik penginapan bukanlah teh sembarangan.
"Ah.....terima kasih banyak kakek," ucap Weng Lou sambil menghela napas lega.
Pemilik penginapan tersenyum lalu mengambil cangkir kosong Weng Lou dan Weng Ying Luan.
"Mau tambah?" tanya pemilik penginapan itu.
"Tidak, terima kasih tawarannya. Aku sudah lebih baik." Weng Lou menjawab sesopan mungkin.
"Bagaimana denganmu anak muda, ingin tambah? Aku membuat satu teko penuh di dapur, akan kuberikan semuanya jika kau menyukainya."
"Ya-ya.... baiklah akan kuterima tawaran anda," balas Weng Ying Luan sambil tersenyum canggung. Dia tidak tau bagaimana caranya menolak tawaran dari pemilik penginapan ini semuda Weng Lou.
"Bagus. Ini, habiskan."
Entah darimana, sebuah kendi sebesar kepala pria dewasa muncul di tangan pemilik penginapan.
Senyum Weng Ying Luan membeku seketika melihat kendi itu.
"Ini yang kau bilang satu teko?!"
Dengan rasa terpaksa Weng Ying Luan mengambil kendi berisikan teh hangat itu dari tangan di kakek tua pemilik penginapan.
Weng Ying Luan tanpa basa-basi langsung meminum semua teh hangat itu hingga habis tak bersisa dalam sepuluh detik, membuat Weng Lou yang melihatnya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Ugh...ahh~ Terima kasih banyak," ucap Weng Ying Luan yang mengembalikan kendi itu pada kakek tua pemilik penginapan.
"Em." Kakek tua itu membalas dengan menganggukkan kepalanya lalu berjalan pergi dari situ.
Jian Qiang terus mengamati kakek tua pemilik penginapan itu hingga dia keluar dari lorong kamar, tempat mereka berada.
Dia entah mengapa merasakan bayang-bayang kekuatan yang sangat besar dari pemilik penginapan ini, tapi di sisi lain dia merasa bahwa kekuatan ini tidaklah mengancam sama sekali. Seolah-olah kekuatan itu tidak akan dipakai untuk membunuh atau membahayakan mereka.
"*Aku tidak tau bagaimana Pang Baicha bisa kenal dengan pemilik penginapan ini, tapi sepertinya ini adalah sesuatu yang bagus. Ada terlalu banyak orang-orang yang berada di ranah Penyatuan Jiwa di Kota Hundan ini, dan tidak sedikit yang memiliki kekuatan jauh di atasku, dengan kami tinggal di sini setidaknya beban yang ada di punggungku akan sedikit terangkat.
Tapi aku tidak boleh lengah, ini adalah Kota Hundan, bahkan seorang anak kecil dengan wajah polos bisa jadi adalah seorang pembunuh berdarah dingin*," pikir Jian Qiang.
"Paman Jian, ini mungkin sudah agak terlambat, tapi bagaimana dengan Shan Hu? Dia masih berada di markas kelompok yang kami serang sebelumnya saat ini." Weng Lou membuka pembicaraan kembali setelah kepergian kakek tua pemilik penginapan.
Jian Qiang diam selama beberapa sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
Satu menit berlalu, masih tidak ada jawaban darinya, Weng Lou berpikir mungkin Jian Qiang memiliki rencana tersendiri, tapi kemudian Jian Qiang sudah membuka suara dan memberikannya jawaban.
"Tenang saja, aku akan kesana menemaninya. Ku tebak kalian pasti masih memiliki barang jarahan di tempat itu sehingga menyuruh Shan Hu untuk tetap menjaganya sampai kau kembali bukan? Barang-barang itu pasti sangat banyak sampai kalian berdua tidak bisa membawanya, mau ku bawakan sekalian?"
"Eh? Ti-Tidak perlu. Aku....aku tidak mau menggunakan barang jarahan itu atau pun menjualnya."
"Benarkah? Terserah mu saja, aku akan pergi kalau begitu."
Setelag mengatakan itu, sosok Jian Qiang pun kembali menghilang dari situ.
Weng Lou dan Weng Ying Luan saling tatap satu sama lain selama beberapa saat sebelum kemudian Weng Ying Luan berjalan mengantar Weng Lou menuju ke kamar dimana Weng Fang Di sedang beristirahat.
Krack....srtt....
Pintu dibuka dan memperlihatkan sosok Weng Wan dan yang lain sedang duduk mengitari Weng Fang Di yang terbaring di atas tempat tidurnya.
"Lou?! Kau akhirnya kembali!"
"Dari mana saja kau sialan?! Kau membuat kami semua khawatir!"
"...."
Weng Wan dan Weng Hua menyambut kedatangan Weng Lou dengan pertanyaan-pertanyaan sementara Weng Ning yang juga ada di situ hanya tersenyum melihat Weng Lou.
Ekspresi mereka semua berubah-ubah seiring dengan Weng Lou yang terus menceritakan apa yang terjadi pada mereka semua.
Weng Lou bercerita dari ketika dia dan Shan Hu menemukan ruang bawah tanah di markas Kelompok Darah yang berisikan barang-barang jarahan milik mereka dan sebuah lorong rahasia yang membawa mereka berdua ke markas utama mereka.
Weng Lou menutup ceritanya sampai dengan ketika dia dan Shan Hu bertemu kembali dan mengumpulkan barang-barang jarahan dari kastil yang menjadi markas utama Kelompok Darah. Setelah selesai bercerita, mereka semua pun terdiam, suasana menjadi hening tanpa suara sedikitpun.
Pada saat ini, Weng Wan, Weng Hua, Weng Ning, dan juga Weng Ying Luan memiliki pemikiran yang sama. Mereka seharusnya ikut dengan Weng Lou dan Shan Hu sebelumnya.
"La-Lalu, bagaimana nasib pemimpin kelompok itu? Apa kau membunuhnya?" tanya Weng Wan yang sepertinya terbawa suasana karena cerita Weng Lou.
"Maksudmu Sha Shou? Aku tidak membunuhnya, aku menyuruhnya untuk memperbaiki seluruh bangunan kastil yang menjadi markas kelompok mereka," jawab Weng Lou cepat.
"Memperbaikinya? Untuk apa?" Weng Hua ikut bertanya.
"Hehehe...aku akan membuat bangunan kastil itu menjadi markas milik kita sendiri. Aku berniat menciptakan kelompok kita sendiri, kelompok yang berisikan para ahli beladiri, aku akan merekrut anggota-anggotanya sendiri. Ah dan juga aku berniat memakai kastil itu sebagai tempat untuk menampung anak-anak yang memiliki bakat beladiri tapi tidak memiliki cukup uang untuk belajar.
Aku sendiri akan mengajarkan mereka beladiri. Mungkin sebuah membangun sekte atau perguruan beladiri dari itu akan cukup bagus." Weng Lou menjawab sambil tersenyum kepada Weng Hua.
Mereka semua yang mendengar itu pun terdiam sekali lagi. Tidak ada satupun diantara mereka yang paham betul dengan jalan pikiran Weng Lou.
__ADS_1
Membentuk kelompok ahli beladiri, dan membangun sektenya sendiri, bahkan bagi orang dewasa sekali pun itu bukanlah sebuah lelucon. Apalagi yang menyatakannya adalah Weng Lou, orang yang tidak akan berbohong atau pun mengatakan sebuah lelucon yang tidak masuk akal. Hanya ada satu kesimpulan dari itu, Weng Lou memang serius dengan ucapannya.
Tapi meskipun begitu, mereka semua tetap tidak tau bagaimana caranya Weng Lou akan mewujudkan semua yang ia katakan itu.
"Itu adalah sebuah tujuan yang sangat besar, kau harus bekerja keras untuk bisa mewujudkannya."
Mendadak sebuah suara memecahkan keheningan yang terjadi.
Itu adalah suara pemilik penginapan. Tanpa mereka semua sadari, kakek tua itu sudah berada di dalam kamar tempat mereka berada.
""A-Anda?!""
"Tidak perlu kaget seperti itu, aku kesini karena mendengar bahwa ada yang memiliki barang jarahan," ucap kakek tua pemilik penginapan itu sambil tersenyum kecil kepada Weng Lou.
Weng Lou menelan ludahnya. Dia sama sekali tidak merasakan kedatangan kakek tua ini sebelumnya.
"Hei nak, bagaimana jika kau menjual barang-barang itu padaku? Aku akan membelinya dengan harga yang yang layak." Kakek tua itu lanjut berbicara.
Berkedip beberapa kali, Weng Lou pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia bingung harus bereaksi seperti apa atas tawaran dari kakek tua pemilik penginapan ini.
"Jual saja padanya. Aku jamin kau akan puas dengan harga yang dia tawarkan."
Pintu kamar terbuka, dan memperlihatkan sosok Pang Baicha yang berjalan masuk ke dalam kamar.
"Hm? Bagaimana kau tau?" tanya Weng Lou padanya.
"Aku selalu menjual barang-barang ku pada pak tua ini jika aku tidak bisa membayar uang menginap di sini. Dia akan membeli apapun yang berharga jika kau menawarkan padanya," jelas Pang Baicha.
Dia kemudian duduk di samping Weng Fang Di lalu memeriksa kondisinya, sementara Weng Lou diam dan menatap kakek tua pemilik penginapan.
"Jadi? Apa kau berniat menjualnya?" Pemilik penginapan itu bertanya sekali lagi pada Weng Lou.
Perlu beberapa detik bagi Weng Lou untuk memikirkannya baik-baik, sebelum akhirnya dia pun mengambil keputusan.
"Baik, aku akan melihat terlebih dahulu berapa harga yang akan anda tawarkan padaku," ucap Weng Lou.
"Hahaha....kau anak muda yang sangat penuh rasa curiga. Tapi itu bagus, jika kau menjadi orang yang terlalu mudah percaya pada orang lain, maka itu hanya akan membuatmu rugi. Meski begitu, selalu mencurigai orang lain juga tidak baik, mungkin saja kau sedang mencurigai orang yang salah anak muda."
Mendengar kata-kata itu, entah kenapa Weng Lou merasakan sinyal bahaya dari seluruh tubuhnya. Tapi kemudian, sinyal bahaya itu pun menghilang bersamaan dengan kakek tua itu berbalik dan berjalan keluar dari kamar tempat Weng Lou dan yang lain berada.
"Ayo ikut aku, kita akan lihat barang apa saja yang kau bawa bersama mu," ucap kakek tua itu yang kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar.
Weng Lou diam selama beberapa saat, sebelum akhirnya baru bereaksi dan buru-buru keluar dari kamar, lalu mengikuti kemana kakek tua pemilik penginapan itu pergi.
__ADS_1