Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 549. Keputusan


__ADS_3

"Hmmm mereka semua sepertinya masih tetap berdiam diri meski beberapa jam telah berlalu. Apakah mereka memang sedang menunggu seseorang?" Weng Lou bergumam seorang diri saat melihat wanita yang dipanggil dengan nama Nuan sedang duduk membaca di kamar penginapannya lewat jendela kamar.


Saat ini baru sudah sore, dan Weng Lou tidak berhenti untuk mengawasi kelompok dari Sekte Bambu Giok serta lingkungan sekitar pelabuhan.


Lokasinya yang berada di tempat tinggi membuat dia bisa dengan mudah mengawasi seluruh pelabuhan tersebut, dia bahkan bisa mengawasi Du Zhe serta para awaknya yang masih tinggal di pelabuhan ini. Itu sebabnya dia tidak terlalu khawatir akan sesuatu yang terjadi pada muridnya itu sementara untuk Kera Hitam Petarung, Weng Lou sudah mengirimkan beberapa awaknya untuk membawakan dia banyak makanan yang cukup untuk dirinya selama beberapa hari jadi dia harusnya tidak akan melakukan apapun.


Selama waktu itu, Weng Lou juga melihat sebuah kapal milik Pasukan Penjaga Pulau Perbatasan yang berlabuh di pulau itu, dan mencari dirinya dengan membagi-bagikan selembaran berisi gambar wajahnya yang mengenakan topeng. Tapi tentu saja mereka tidak mendapatkan hasil sama sekali karena tidak ada yang tau identitas asli dari pemuda dengan topeng itu selain para awaknya dan Kera Hitam Petarung.


Kelompok itu pun mau tidak mau harus pergi dengan tangan kosong, sementara Weng Lou hanya mengawasi mereka dari atas tanpa melakukan apapun.


Ketika Weng Lou sedang melamun memikirkan rencana, mendadak mata Weng Lou menangkap pergerakan mencurigakan dari Nuan yang didatangi oleh sosok yang mengenakan mantel hitam gelap di depan pintunya. Sosok ini adalah orang yang sama dengan yang dilihat oleh Weng Lou sebelumnya saat dia keluar dari restoran.


Sosok ini terlihat berbicara beberapa hal kepada Nuan dan kemudian memberikannya sebuah gulungan kertas yang terlihat masih sangat baru. Setelah memberikan gulungan itu, dia pun pergi begitu saja. Nuan tidak mempermasalahkannya sama sekali dan segera membaca gulungan kertas yang diberikan padanya tersebut.


Wajahnya perlahan berubah seiring dia membaca isinya, hingga akhirnya dia pun menutup gulungan kertas itu lalu segera mengubah pakaian yang digunakannya dan kemudian pergi keluar. Anggota kelompoknya kemudian mulai dikumpulin dan setelah memberikan beberapa informasi penting yang baru saja dia dapatkan, Nuan dan kelompoknya pun pergi menuju ke luar dari pelabuhan.


Weng Lou segera bergerak mengikuti mereka secara diam-diam dari atas bangunan, dengan melompat dari satu bangunan ke bangunan yang lain. Dia terus mengikuti mereka hingga sampai di sebuah area rawa yang ditumbuhi oleh rumput-rumput yang tinggi.


Di tengah-tengah rawa itu, sebuah kelompok lain terlihat membangun tenda yang didirikan di atas tanah yang agak janggal. Sepertinya ada seseorang yang telah menggunakan teknik perubahan unsur tanah untuk membuat tanah kering yang dijadikan sebagai landasan tenda tersebut.


Dengan naik di atas sebuah pohon yang cukup tinggi, Weng Lou bisa melihat kelompok baru ini adalah sekelompok penjahat. Terlihat dari beberapa senjata yang dipenuhi dengan bekas noda dara yang ada bersama orang-orang di tenda tersebut, serta beberapa orang yang diikat bersama di tengah-tengah tenda.


Kelompok Sekte Bambu Giok yang sepertinya telah mengetahui keberadaan kelompok ini bergerak secara mengendap-endap ke arah mereka. Dengan dipimpin oleh Nuan, mereka bisa melewati rumput-rumput yang tinggi di rawa tersebut tanpa menghasilkan bunyi sedikitpun.


Mereka terus bergerak hingga kemudian mereka semua telah mengepung kelompok tersebut. Dengan arahan dari Nuan, salah seorang pria bertubuh paling besar dari kelompok Sekte Bambu Giok bergerak mendekat ke arah perkemahan. Salah seorang yang diikat di tengah tenda kelompok penjahat itu melihat kedatangan pria bertubuh besar dari antara rerumputan.


Matanya bergerak menatap pria itu, lalu kemudian pura-pura untuk tidak melihatnya sambil membisikkan mengenai kedatangan pria itu kepada teman-temannya yang diikat bersamanya.


Saat pria bertubuh besar itu sudah mencapai batas perkembangan, dia membentuk sebuah segel tangan lalu bola-bola air pun terbentuk di atas tenda kelompok tersebut. Tidak ada dari orang di kelompok itu yang menyadari hal ini selain mereka yang dijadikan sebagai tawanan di tengah tenda. Weng Lou yang menonton di kejauhan menatap dengan penuh minat pada bola-bola air itu saat kemudian bola-bola air itu membentuk bilah-bilah tajam yang meluncur ke bawah dan mengenai orang-orang di tenda tersebut, kecuali para tahanan.


"Serangan!!! Kita di serang!!!" Seorang pria yang memegang sebuah gada besar di tangannya berseru panik saat bilah-bilah air meluncur dari langit dan menghujani kelompok nya.


Dia melihat salah satu rekannya yang tidak sempat bereaksi terhadap serangan itu, tewas seketika saat sebuah bilah air memotong lehernya ketika dia sedang tidur. Nasibnya sendiri cukup beruntung karena bilah air hanya berhasil menyayat bahu kirinya ketika dia sedang berkeliling.


Namun, nasib beruntungnya tidak berlangsung lama karena sebuah serangan yang lebih besar datang kepada mereka semua.


Nuan dan anggota kelompok Sekte Bambu Giok yang telah mengelilingi perkemahan kelompok tersebut, segera beranjak keluar dari persembunyian dan melancarkan serangan pada kelompok di perkemahan tersebut. Nuan melemparkan pisau-pisau kecil dari balik lengan bajunya dan menancap di kepala serta leher orang-orang di perkemahan itu.


"Agh!!! Sekte Bambu Giok!! Itu Sekte Bambu Giok!!! Lepaskan kembang api peringata-!!" Seruan dan jeritan kesakitan terdengar dari perkemahan itu saat orang-orang di situ satu persatu mati karena serangan mendadak oleh kelompok Sekte Bambu Giok.


Ketika hampir semua orang di perkemahan itu mati, seorang pria dengan tubuh yang jauh lebih besar keluar dari dalam sebuah tenda yang berdiri sendiri diantara tenda lain Nyang berukuran lebih besar. Pria itu memiliki wajah dengan sebuah bekas luka panjang di dadanya dan memiliki aura membunuh yang sangat kental pada dirinya.


Ketika pria itu muncul, Nuan segera memerintahkan agar anggota kelompoknya menjauh dari pria tersebut, sementara dia dengan cepat melesat ke arah pria tersebut.


"Dasar para kutu dari Sekte Bambu Giok! Ini adalah terakhir kalinya aku berbaik hati dengan membiarkan orang-orang kalian tetap hidup! Matilah di sini, dan jadilah pupuk bagi rumput-rumput di sini!"


Di tangan pria itu, sebuah pedang besar dan panjang di ayunkan ke arah Nuan yang bergerak ke arahnya. Mata Nuan memantulkan kilatan cahaya ketika pedang besar itu akan mengenainya. Sebuah pisau berwarna keemasan ditarik keluar olehnya dari balik bajunya, dan dengan mudahnya memotong pedang besar itu.


"Ti-Tidak mungkin?! Bagaimana bisa kutu kecil seperti dirimu!" Pria besar itu berseru dengan tidak percaya.


Tenaga Dalam pada dirinya melonjak keluar dan segera membentuk baju zirah untuk melindunginya dari pisau milik Nuan yang masih bergerak ke arah dadanya.


*Krack! Tsk!* Pisau tersebut dengan mudahnya menembus Tenaga Dalam pria itu, dan menusuk tepat ke jantung pria itu.


"Urgh! Mustahil....."


"Berhentilah merengek, dan matilah. Ini adalah hadiah yang kau dapatkan karena berani macam-macam dengan anggota Sekte Bambu Giok kami," ucap Nuan dengan suara dingin. Dia menarik sedikit pisau di tangannya, sebelum kemudian menusuk lebih dalam ke jantung pria itu hingga membuatnya menghembuskan napas terakhirnya.

__ADS_1


"Buk...." Tubuh besar pria itu terjatuh ke tanah, dan Nuan mencabut pisaunya dari tubuh pria itu. Dia mengelap darah yang menempel pada pisaunya menggunakan sebuah kain putih dari balik bajunya, lalu memasukkan kembali pisau itu ke dalam lengan bajunya.


"Terima kasih, Senior Nuan! Jika bukan karena bantuan kelompok anda, kami pasti akan berakhir dijual menjadi budak!" Pria yang sebelumnya telah lebih dulu menyadari kedatangan kelompok Nuan memberikan hormatnya pada Nuan sambil berterima kasih karena telah membebaskan mereka dari kelompok yang telah menangkap mereka.


Nuan hanya mengangguk sebagai balasan. Dia kemudian menyuruh untuk memeriksa barang milik kelompok yang telah mereka habisi itu, lalu membawa kembali kelompok mereka ke pelabuhan setelah menyembuhkan anggota baru mereka yang sebelumnya ditawan.


"Pisau yang digunakan olehnya paling tidak merupakan Senjata tingkat 3 rendah. Seorang anggota sekte dengan senjata tingkat tinggi seperti ini.... sepertinya Senior Nuan ini memiliki semacam hubungan dengan petinggi Sekte Bambu Giok, atau jangan-jangan dia adalah anak salah seorang tetua tingkat tinggi sekte itu. Menarik....sangat menarik, ini membuatku semakin ingin mengikuti mereka." Weng Lou tersenyum dari kejauhan sambil mengamati kelompok Sekte Bambu Giok yang telah keluar dari rawa.


Dia dengan tenang melompat dari atas pohon dan pergi kembali ke pelabuhan dengan diam-diam mengikuti kelompok Sekte Bambu Giok dari balakang.


***


Di atas hutan yang mengarah ke pelabuhan tempat kelompok Weng Lou berlabuh, dua sosok mengenakan pakaian hitam bertudung melesat terbang dengan cepat.


Keduanya adalah dua sosok yang sama dengan yang berhadapan dengan Kaisar Chizi Ryuan. Dengan arahan langsung dari sang Kaisar, keduanya mengetahui lokasi dimana orang yang diinginkan oleh kaisar mereka itu berada.


"Hei, menurut mu sekuat apa orang itu?" Salah satu satu dari mereka berbicara kepada rekannya yang lain. Dari suaranya dia adalah seorang wanita.


Sosok lainnya diam sebentar sebelum menjawab rekannya itu, "Kemungkinan dia berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 3 atau 4, atau mungkin lebih tinggi lagi. Tapi Kaisar mengirim kita berdua, yang berarti orang itu tidak mungkin berada di tahap 5. Paling kuat dia berada di tahap 4 puncak. Kaisar paham betul dengan kekuatan gabungan kita berdua, dan tidak mungkin dia mengirimkan kita jika orang itu memiliki kekuatan yang melebihi kekuatan kita berdua.


Penjelasan dari rekannya membuat wanita itu menggangguk mengerti. Keduanya adalah bawahan kepercayaan dari sang Kaisar yang telah banyak menyelesaikan misi yang diberikan langsung olehnya. Telah berpasangan selama lebih dari sepuluh tahun, telah membuat mereka membentuk sebuah tali hubungan spesial yang hanya bisa keduanya pahami.


Mereka sanggup saling mendukung satu sama lain untuk menyelesaikan misi mereka dan membuat nama keduanya sangat terkenal di kalangan para bawahan sang Kaisar Ryuan tersebut. Oleh sebab itu, dengan mendapatkan misi khusus ini, keduanya tampak bersemangat karena jika mereka bisa menyelesaikannya, maka pangkat mereka pasti akan naik dengan tinggi. Tentu saja, keduanya memiliki keyakinan untuk menangkap dan membawa Weng Lou hidup-hidup, meski sebenarnya Weng Lou akan menertawakan keduanya karena mustahil mereka berdua bisa menemukan Weng Lou.


Saat ini di dalam kapal uap milik Weng Lou. Kera Hitam Petarung sedang duduk sambil berpikir dengan keras. Di depannya, Weng Lou berdiri dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kera Hitam Petarung.


Sebelumnya, dia telah memberitahukan rencananya untuk pergi ke Sekte Bambu Giok karena yakin bahwa dia akan menemukan jawaban akan masalah dirinya yang tidak bisa menggunakan Kekuatan Jiwa. Kera Hitam Petarung pada dasarnya akan menolak mentah-mentah rencana ini, karena semua tanggung jawab awak kapal dan Du Zhe pasti akan diberikan kepadanya. Sedangkan dia sama sekali tidak bisa keluar dari kapal ini karena akan menarik perhatian orang banyak.


Karena itu, Weng Lou memberinya saran untuk membawa kapal dan para awaknya bersama Du Zhe, pergi ke sebuah titik yang telah ditentukan oleh Weng Lou. Titik yang dia berikan adalah lokasi yang sangat tersembunyi, namun cocok sebagai tempat persembunyian jangka panjang. Dia tidak tau berapa lama dia akan pergi, oleh sebab itu untuk menghindari masalah, lebih baik mereka semua pergi ke tempat yang jauh dari deteksi musuh mereka.


Sarannya itu langsung ditolak oleh Weng Lou tanpa perlu dia pikirkan terlebih dahulu, "Tidak boleh. Dari informasi yang kudapatkan, seorang anggota Sekte Bambu Giok akan terikat dengan sekte itu hingga menjadi bagian keluarga. Apa bila ada yang nekat keluar dari sekte itu, maka dia akan mendapatkan hukuman mati. Jika hanya aku sendiri, aku sangat yakin bisa keluar dari sekte itu hidup-hidup, tapi dengan Du Zhe, aku meragukan bisa membawanya dalam keadaan utuh."


Kera Hitam Petarung terdiam mendengarnya dan dia pun menghela napas panjang.


"Baiklah, tapi lebih baik kau memberitahu sendiri rencananya ini pada mereka. Akan sulit mengontrol mereka jika aku yang memberitahunya."


"Tenang saja, mereka pasti akan mengerti." Weng berjalan pergi dan menuju ke atas kapal, dimana dia telah mengumpulkan semua awak kapalnya yang memilih untuk tetap tinggal dengannya, juga ada Du Zhe di tempat itu dan sedang menunggu Weng Lou.


Mereka semua berdiri dengan tegak begitu Weng Lou datang dan menunggu dengan perhatian apa yang akan Weng Lou katakan pada mereka.


"Baiklah, semuanya. Tidak perlu terlalu tegang seperti itu, santai saja, aku tidak akan memakan kalian," ucap Weng Lou sambil melambaikan tangannya.


"Sebelum aku mengatakan alasan aku mengumpulkan kalian, pertama-tama katakan kepadaku alasan kalian mau untuk tetap bersama di kapal ini. Tidak perlu menyembunyikannya, katakan saja yang sejujurnya."


Semua awak kapal saling pandang satu sama lain dan akhirnya salah satu dari mereka memberanikan diri untuk berbicara lebih dulu.


"Emm....aku akan jujur pada mu, kapten. Sebenarnya aku memilih untuk tetap di sini adalah karena berharap bisa menemukan keberuntungan agar aku bisa memiliki teknik beladiri dari melihat pertarungan mu selama ini," ucapnya dengan agak malu. Namun Weng Lou hanya mengangguk mendengarkan nya lalu membiarkan awak lainnya untuk memberitahu alasannya.


"Aku ingin melihat dunia ini lebih jauh lagi! Jika aku berpisah dengan anda, mungkin aku hanya akan bertahan hidup selama beberapa bulan saja di luar sana, tapi dengan bersama anda di kapal ini, aku pasti bisa melihat dunia yang lebih luas di luar sana!"


"Aku suka mengarungi lautan yang luas!"


"Aku senang dengan pertempuran berdarah!!"


"Aku! Aku suka saat kapal ini berlayar laju di lautan! Kecepatannya membuat hatiku merasa seperti sedang terbang di angkasa!"


"Aku...aku hanya ingin berpetualang saja, dan mungkin menemukan beberapa keberuntungan untuk naik ke tingkat yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya...."

__ADS_1


Setelah beberapa saat, mereka semua pun mengutarakan semua alasan mereka memilih untuk tetap bersama sebagai awak Weng Lou. Weng Lou mengangguk puas mendengar semua alasan mereka tersebut. Dia kemudian masuk ke ruangan kendali, dan menyuruh mereka untuk ikut masuk tapi secara bergantian.


Pria yang mengatakan alasannya paling pertama, masuk lebih dulu dan setelah beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah berseri sambil memegang sebuah buku di kedua tangannya. Dia menatap buku itu dengan wajah berseri-seri dan kemudian segera memasukkannya ke balik bajunya takut buku itu akan hilang.


Awak yang lain pun segera masuk ke dalam ruangan kendali, dan tak berapa lama dia keluar juga tapi tidak membawa apapun, namun wajahnya sangat bahagia dan puas. Satu persatu para awak kapal masuk ke dalam ruangan kendali dan setelah itu mereka keluar dengan wajah yang sama seperti yang lainnya.


Saat awak kapal terakhir keluar dari ruangan kendali, dan dia menggenggam sebuah kotak kayu kecil di tangannya. Dia memandang kotak kayu itu dengan mata berbinar-binar dan setetes air mata jatuh dari matanya saat melihat kotak kayu itu.


Tiba saat giliran untuk Du Zhe. Di dalam ruangan kendali, dia melihat Weng Lou telah duduk tenang menunggunya. Dia kemudian meminta Du Zhe mendekatinya.


"Du Zhe, kau adalah murid pertama ku dan paling aku banggakan. Aku tau kau sangat menghormati ku, tapi aku tidak bisa memberimu pelajaran untuk sementara waktu kedepannya." Weng Lou langsung membuka pembicaraan.


"Apa maksudmu, Guru? Apa kau akan pergi lagi seperti waktu itu?" Du Zhe yang memiliki kepintaran di atas rata-rata itu langsung paham saat Weng Lou berbicara seperti itu kepadanya.


"Benar. Kau pasti menyadarinya. Kekuatan ku sangat berbeda jauh saat pertama kali kita bertemu, aku sudah tidak bisa terbang ataupun mengeluarkan teknik beladiri bersekala besar seperti sebelum-sebelumnya. Oleh sebab itu, aku akan pergi sebentar dan mencari cara untuk mengatasi hal ini. Aku ingin kau dan Kera Hitam pergi dari pelabuhan ini bersama apara awak lainnya, menuju ke sebuah tempat yang sudah aku tentukan. Nantinya aku akan kembali dan saat itu tiba, kita akan kembali pergi berpetualang, dan aku juga akan kembali memberikan pelajaran padamu," jelas Weng Lou dengan pelan agar mudah dicerna oleh Du Zhe.


"Berapa lama?" Du Zhe bertanya dengan cepat. Dia tau dirinya tidak mungkin mengentikan kepergian Weng Lou, oleh sebab itu dia hanya bisa menanyakan berapa lama dia akan pergi.


"Entahlah, paling lama adalah setahun-"


"Tidak, Guru! Tolong bawa aku! Tidak mungkin aku bisa menunggu mu selama itu!" Du Zhe langsung merengek saat mendengar perkataan Weng Lou tersebut.


Bagaimana bisa dia menunggu selama setahun? Bahkan saat Weng Lou menghilang waktu itu, dia hanya bisa menunggu dalam hati yang was-was, takut bahwa Weng Lou tidak akan kembali.


"Tenanglah, dengarkan aku dulu. Aku akan pergi ke sebuah tempat yang amat bahaya, dan merupakan tempat berkumpulnya para musuh kita. Setahun adalah waktu paling lama yang aku butuhkan, dan ada kemungkinan aku akan pulang jauh lebih cepat dari itu." Weng Lou mencoba melepaskan Du Zhe yang memeluknya dengan erat.


"Tapi bagaimana jika Guru tidak kembali? Guru pasti meninggalkan ku!" Mata Du Zhe memerah dan seperti akan menangis kapan saja.


Weng Lou hanya bisa menggaruk belakang kepalanya. Dia tampak berpikir dengan keras, dan kemudian sebuah ide terbesit di kepalanya.


"Begini saja, aku akan membawakan mu sesuatu sebagai hadiah saat aku pulang nanti. Katakan apa yang kau inginkan? Guru pasti akan membawakannya untukmu."


Mendengar itu, Du Zhe mengelap air matanya dan tampak berpikir sejenak sebelum kemudian mengatakan apa yang dia mau, "Aku....aku hanya ingin Guru bisa kembali dengan selamat dan kembali mengajariku."


Weng Lou terkejut dengan jawaban Du Zhe. Dia mengenal napasnya dan tersenyum tipis lalu memeluk pelan tubuh kecil Du Zhe.


"Tenang saja, aku pasti kembali. Kau hanya perlu untuk terus berlatih dengan giat selama guru mu ini pergi. Jika saat aku kembali dan kau sudah bisa menggunakan mengalirkan Tenaga Dalam mu pada bagian tertentu di tubuhmu, aku akan membuatkan mu sebuah senjata khusus untukmu, aku berjanji."


Setelah berbincang selama beberapa saat, Weng Lou pun membiarkan Du Zhe untuk pergi keluar, sementara dirinya diam selama beberapa saat di ruang kendali sambil menatap ke arah pelabuhan yang mulai ramai karena hari sudah mulai malam. Beberapa kapal yang pagi hari tadi pergi berlayar, kini telah kembali. Ada juga yang baru berlayar di malam hari dan Weng Lou mengetahui dengan pasti siapa yang mau berlayar di malam hari seperti itu. Mereka adalah para bajak laut, perompak yang suka merampok dan membunuh di lautan.


"Sudah saatnya berkemas."


Berdiri dari tempatnya, Weng Lou pun segera pergi keluar dari kapal. Dia pergi kembali ke pelabuhan untuk membeli segala keperluannya, termasuk bekal dan beberapa senjata sederhana. Dia tidak bisa menggunakan senjata baru miliknya jika dia mau masuk ke Sekte Bambu Giok, dirinya pasti akan langsung dicurigai jika membawanya.


Sementara itu, di gerbang masuk pelabuhan, dua sosok berpakaian hitam terlihat berjalan dengan santai memasuki pelabuhan. Mata keduanya menatap dengan teliti orang-orang di pelabuhan, sambil memindai kekuatan mereka semua.


"Akan cukup sulit mencari orang itu di tempat penuh bau darah ini," ucap wanita yang mengenakan tudung hitam untuk menutup wajahnya.


Rekannya yang lain, menutupi kepalanya dengan jubah hitam berdiri diam ketika mereka masuk ke pelabuhan. "Dari yang aku tau, harusnya ada kepala bajak laut di pelabuhan ini. Dia yang mengontrol keluar masuknya kapal-kapal yang ada di sini, jadi dia harusnya mengetahui mengenai orang yang kita cari," balasnya dengan tenang.


"Kepala bajak laut? Jangan bilang-"


"Ya, dia adalah Gubernur Haidao, Gubernur yang mengontrol wilayah rawa dan hutan di sekitar sini. Dia yang membangun pelabuhan ini agar bisa dengan mudah membawa masuk senjata dari luar dengan diam-diam."


"Jika memang benar itu dia, harusnya ini akan berjalan cukup mudah."


Mereka berdua pun berjalan dengan tenang ke sebuah gang gelap, dan sosok mereka pun menyatu dalam kegelapan dan menghilang begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2