Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 534. Penyelesaian


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat. Tiga minggu telah berlalu semenjak ketibaan Weng Lou di Pulau Gui.


Kini dia telah resmi menjadi penguasa mutlak dari Kepulauan Huwa. Tapi ini hanyalah sebatas nama dan gelar saja. Dia tidak berminat untuk benar-benar memimpin orang-orang yang tinggal di Kepulauan Huwa.


Tapi tetap saja, statusnya sebagai penguasa ini sukses menggemparkan seluruh Praktisi Beladiri yang ada di Kepulauan Huwa, bahkan beberapa orang Praktisi Beladiri yang sebelumnya telah mengasingkan diri dan sama sekali tidak diketahui oleh Perguruan Iblis Merah muncul satu persatu untuk bertamu dengan Weng Lou. Dan mereka semua memiliki kekuatan yang setara atau bahkan lebih kuat dari Hong Mugui, tapi tetap tidak ada yang berada di ranah Penyatuan Jiwa diantara mereka.


Pada dasarnya, mereka sama sekali tidak akan berminat untuk berurusan dengan permasalahan duniawi, dan hanya mengejar kekuatan saja, berbeda dengan Hong Mugui yang juga mengejar kekuatan namun lewat cara menjadi pemimpin dari Perguruan Iblis Merah yang berpengaruh di seluruh Kepulauan Huwa.


Namun situasinya sekarang berbeda, meski Hong Mugui terkesan seperti sangat berkuasa di Kepulauan Huwa, tapi dia tidak pernah menyatakan dirinya sebagai penguasa Kepulauan Huwa. Weng Lou di sisi lain, dengan metode kekerasan yang bahkan menyebabkan banyak sekali kematian, dia menundukkan beberapa pemimpin dari organisasi-organisasi para Praktisi Beladiri yang ada di Kepulauan Huwa dan menyatakan dirinya sebagai penguasa Kepulauan Huwa.


Dengan deklarasi ini, secara otomatis semua Praktisi Beladiri yang tinggal di dalam Kepulauan Huwa merupakan bawahan dari Weng Lou, dan tentu saja para Praktisi Beladiri yang tidak tau apa-apa ini akan menolak dengan keras deklarasi sepihak dari Weng Lou tersebut.


Para Praktisi Beladiri ini pun tidak sedikit yang kemudian menantang Weng Lou untuk bertarung dan sudah jelas sekali hasil apa yang mereka dapatkan. Lebih dari setengah dari jumlah para Praktisi Beladiri yang menantangnya mengalami cidera parah dan kebanyakan mengalami patah tulang atau terluka organ dalamnya. Tentunya setelah hal ini, tidak ada lagi yang berani menentang Weng Lou menjadi penguasa di Kepulauan Huwa.


Bahkan lima kekaisaran dari lima pulau selain Pulau Fanrong di Kepulauan Huwa telah ikut menyatakan kesetiaan mereka, dan mendukung posisi Weng Lou. Mereka semua telah mendapatkan kabar bahwa Weng Lou yang secara misterius muncul di Kepulauan Huwa telah menundukkan semua Praktisi Beladiri yang ada sehingga mau tak mau mereka juga ikut melakukan sesuatu agar mereka tidak menerima murka dari Weng Lou.


Setelah semua kejadian itu, kini situasi di Kepulauan Huwa telah kembali seperti semula, seakan tidak pernah ada sesuatu yang serius terjadi sebelumnya.


Saat ini, lembah tempat lokasi Perguruan Iblis Merah berdiri. Weng Lou terlihat dengan santainya memeriksa berkas-berkas kusam yang ada di depannya.


Semua berkas ini berisikan informasi-informasi tentang seputar wilayah sekitar Kepulauan Huwa. Di antara kertas-kertas yang berserakan, sebuah kertas lebar diletakkan di atas kertas-kertas itu oleh Weng Lou. Kertas itu merupakan sebuah peta yang menggambarkan lokasi Kepulauan Huwa yang terletak di tengah-tengah sebuah lautan luas yang bernama 'Lautan Mati'.


Weng Lou mengamati dengan teliti daerah yang berada di luar Lautan Mati itu dan terpaku pada tulisan Kekaisaran Agung Ryuan pada ujung peta yang merupakan sebuah pulau kecil yang tidak lain adalah pulau perbatasan dari kekaisaran tersebut.


Peta itu hanya menggambarkan sampai sejauh itu, dan peta ini merupakan peta satu-satu yang memiliki gambar selengkap ini. Peta-peta lain yang telah Weng Lou dapatkan hanya bisa menggambarkan sampai pertengahan Lautan Mati saja paling jauh, berbeda dengan peta di hadapannya.


*Haaah......* Sebuah helaan napas dikeluarkan oleh Weng Lou dan dia terduduk lemas di kursinya.


"Pantas saja Praktisi Beladiri terkuat di sini hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 5, untuk seorang Praktisi Beladiri yang memiliki kekuatan lebih tinggi, hampir mustahil untuk bisa melewati Lautan Mati yang dihuni oleh ratusan atau bahkan ribuan binatang buas lautan yang sangat kuat," ucapnya sambil memijat keningnya yang terasa sakit.


Harapannya untuk bisa keluar dari Kepulauan Huwa hampir sirna saat ini dan satu-satunya rencana yang bisa dia lakukan harus mengandalkan waktu, dan dia tidak tau harus seberapa lama rencana itu bisa dilanjutkan.


"Memancing sebuah penguasa dengan kekuatan tinggi memang ide bagus, sayangnya aku malah menjadi kurang percaya diri karena bahaya dari Lautan Mati. Jika Kaisar itu memang akan menaruh perhatiannya pada ku, maka dia pasti akan mengirim seseorang kepadaku, sayangnya bahaya Lautan Mati telah membuat banyak orang yang merasa enggan untuk mempertaruhkan nyawanya hanya demi mencapai lokasi Kepulauan Huwa yang terpencil ini dan sangat berbahaya ini."


Kedua mata Weng Lou menerawang langit-langit ruangan tempat dia berada dan segera memejamkan matanya untuk mendinginkan kepalanya.


Di dalam kepala Weng Lou, Teknik Pembersih Jiwa digunakan dan dia bisa merasakan beban pada pundaknya dan pikirannya mulai sedikit terangkat. Dia pun membuka kembali matanya lalu menatap sekali lagi tumpukan kertas di hadapannya.


Kedua matanya menelusuri setiap tulisan yang ada pada setiap kertas dengan teliti, sampai kemudian matanya terhenti pada selembar kertas yang terpisah dari kertas-kertas yang lainnya.


Weng Lou sendiri yang memisahkan kertas itu karena isinya tidak ada hubungannya sama sekali dengan lokasi atau pun daerah pada Kepulauan Huwa dan lingkungan di luarnya.


Tangannya bergerak cepat dan mengambil kertas itu lalu mulai membacanya lebih teliti lagi. Senyum kecil muncul di wajahnya dan dia tertawa pelan lalu mulai bangkit berdiri, lalu beranjak keluar dari ruangan tempat dia berada.

__ADS_1


*Tak....* Pintu kayu besar dibuka, dan sosok Weng Lou keluar dari ruangan sebelumnya. Pemandangan yang ada di hadapannya begitu pintu itu terbuka adalah pemandangan seluruh lembah dan bangunan-bangunan dari Perguruan Iblis Merah.


Rupanya lokasi ruangan tempat dia berada terdapat di atas pegunungan yang menjadi lokasi lembah Perguruan Iblis Merah berada. Ini merupakan ruangan khusus yang diciptakan oleh Hong Mugui secara rahasia. Tempat ini sebelumnya direncanakan olehnya untuk menjadi rute persembunyian ataupun pelarian jika seandainya Perguruan Iblis Merah diserang.


Pada akhirnya, dia tidak bisa melanjutkan lagi rute ini karena telah dikalahkan dengan telak oleh sosok Weng Lou dan dia secara sukarela memberikan ruangan tersebut pada Weng Lou sebagai ruangan dia belajar. Selain tersembunyi, tempat ini juga sangat tenang sehingga sangat bermanfaat untuk dipakai belajar atau pun bermeditasi.


Weng Lou kemudian kembali berjalan dan sampai di sebuah lapangan terbuka dimana terlihat Du Zhe sedang melatih tubuhnya. Di dekatnya, Kera Hitam Petarung terlihat dengan santai dan tanpa masalah sedikitpun berbaring malas bermandikan cahaya matahari siang hari.


"Bagaimana kabarmu, Du Zhe? Ada perkembangan?"


Mendengar suara Weng Lou, Du Zhe segera menoleh dan melihat Guru nya itu sedang berjalan santai ke arahnya. Senyum pun muncul pada wajahnya dan dia segera memberi hormat pada Weng Lou.


"Salam Guru!" Dia kemudian mengangkat kepalanya dan segera berlari ringan kepada Weng Lou.


"Aku sudah bisa mengeluarkan suara keras dari Pukulan Tangan Besi saat melakukan pukulan, tapi kekuatan kerusakannya masih sedikit kurang jika dibandingkan dengan penjelasan di buku!" jelasnya dengan wajah tampak malu.


Sebagai murid dari Weng Lou, dia merasa bahwa dirinya hanya menjadi aib bagi gurunya itu yang merupakan seorang penguasa seluruh Kepulauan Huwa. Tentu saja, Weng Lou bisa memahami dengan baik pemikiran Du Zhe tersebut.


Dia menyentuh kepalanya dan mengelusnya pelan sambil berbicara padanya, "Tidak perlu khawatir. Semua itu perlu berjalan sesuai dengan waktu. Ayo, biar aku melihat caramu melakukannya."


Weng Lou dan Du Zhe kemudian berjalan ke tengah lapangan dimana terdapat sebuah boneka kayu latihan yang diletakkan di situ. Du Zhe pun langsung mengambil kuda-kuda dan menarik napas dalam.


Dia mengepalkan tangan kanannya dengan kuat, dan kemudian otot-otot pada tangannya mulai mengencang. Sedetik kemudian, dia melepaskan pukulannya dan memukul boneka latihan itu.


Melihat itu Weng Lou mengangguk seakan menemukan masalah Du Zhe.


"Kemari, dan pasang kuda-kuda mu kembali," perintah Weng Lou.


Du Zhe tanpa banyak bertanya segera melakukannya dan dia pun memasang kuda-kudanya kembali. Tangan kanan Weng Lou kemudian menepuk pinggang Du Zhe dan membuat tubuhnya sedikit terguncang namun hanya sebentar.


"Masalah mu ada pada kuda-kuda mu. Kau terlalu fokus pada cara melakukan pukulan, sampai lupa dasar paling penting dari setiap teknik beladiri adalah dasarnya, dan itu adalah kuda-kuda," jelas Weng Lou.


Tangannya dengan cepat membuat kaki Du Zhe menekuk sedikit ke bawah lagi, dan menegakkan tubuh dan bahunya.


"Bahu mu tidak boleh tegang, dan semua kekuatan hanya terfokus pada tangan kanan mu. Tapi di sisi lain kau juga harus menguatkan kuda-kuda mu. Begitu kuda-kuda mu sudah siap, maka lepaskan pukulan mu, dan- *Bam!*"


Dengan arahan dari Weng Lou, Du Zhe kembali melepas pukulannya, dan kali ini boneka kayu yang dijadikan sasaran latihannya itu berguncang kuat dan bekas pukulannya pun semakin dalam, serta muncul beberapa retakan dia sekitarnya.


Menyaksikan itu, Du Zhe tidak bisa menahan dirinya dan tersenyum lebar sambil memeluk Weng Lou erat.


"Berhasil! Aku berhasil!" serunya dengan bahagia.


"Ingat ini, setiap serangan dan cara melakukannya memang penting, tapi kita tidak boleh lupa pada hal-hal dasar yang menjadi pondasi utama dari serangan tesebut. Sebuah kesalahan kecil pada dasar serangan, bisa mempengaruhi secara keseluruhan serangan tersebut."

__ADS_1


Weng Lou pun pergi meninggalkan Du Zhe yang seperti baru saja menerima pencerahan besar dan mulai berlatih kembali seperti orang kesurupan.


Langkah kaki Weng Lou dengan santainya menuruni bebatuan yang membentuk seperti tangga dan mengarah lurus ke bawah. Jika ada orang yang takut dengan ketingga melihat apa yang dilakukan oleh Weng Lou pasti mereka akan mati karena jantungan ditempat.


Saat ini, Weng Lou berada di ketinggian lima ratus meter dari bawah pegunungan, dan jika seandainya dia salah langkah sedikit saja, maka kemungkinan dia akan langsung terjun bebas ke bawah.


"Ah, aku benar-benar merasa hampa tanpa Qi milikku. Menggunakan kekuatan fisik memang bisa membuatku melakukan banyak hal seperti saat memakai Qi, tetapi ada banyak hal yang juga tidak bisa aku lakukan tanpanya," ucap Weng Lou dengan sedikit kesal.


Jika dia masih memiliki Qi atau Kekuatan Jiwa nya, dia setidaknya bisa langsung ke bawah pegunungan sekali jalan dan tidak perlu repot-repot melompat turun satu demi satu batu besar yang ada. Tapi tidak lama, dia pun menggelengkan kepalanya dan mengutuk dirinya sendiri.


"Tidak, lupakan itu, aku seharusnya sudah merasa puas Zhi Juan tidak mengambil kekuatan fisik ku juga ataupun teknik-teknik beladiri yang sudah aku pahami. Jika seandainya dia juga ikut mengambilnya, aku benar-benar tidak tau harus berbuat apa lagi dan mungkin masih terjebak di dalam ruangan sialan itu." Dia menghela napasnya, tapi kemudian dia sedikit tidak fokus dan salah menginjak saat mendarat.


Dia menginjak batu kecil yang mana langsung membuatnya tergelincir dan langsung terjun ke bawah.


"Si-Sialan, Zhi Juan!!!"


***


Di gudang Perguruan Iblis Merah, seorang remaja yang merupakan anggota biasa dari perguruan terlihat sibuk membersihkan beberapa peralatan yang sengaja dikeluarkan agar mudah dibersihkan.


Dirinya sangat serius membersihkan semua peralatan latihan yang ada di situ, saat kemudian sebuah bayangan hitam melesat cepat dari atas langit dan menabrak dengan keras atap gudang hingga membuatnya jebol begitu saja.


*Bruackk!!!!* Suara besar dan kepulan debu pun tercipta saat bayangan itu menabrak atap gudang. Remaja yang menyaksikan itu langsung buru-buru ke gudang dan melihat apa yang baru saja menabeka atap gudang itu.


Begitu masuk, dia menyaksikan sebuah kawal kecil di lantai, dan sesosok pemuda seusianya sedang terbaring di tengah kawah. Pemuda itu sedang meringis kesakitan saat kemudian remaja yang melihatnya tersentak kaget. Mulutnya terbuka lebar, dan dia pun segera lari terbirit-birit dari situ meninggalkan pemuda itu yang masih meringis kesakitan di lantai.


"Ack! Punggung ku! Sial! Kenapa batu-batu di pegunungan itu sangat mudah hancur!" Weng Lou yang berada di tengah kawah itu mengutuk dengan jengkel saat dia bangkit berdiri dan menyentuh punggungnya yang terasa sangat sakit itu.


*Krack!* Sebuah suara terdengar nyaring saat Weng Lou menundukkan tubuhnya dan perasaan lega segera terlihat pada wajahnya.


"Aku benar-benar harus mencari tau bagaimana cara menciptakan Dantian yang baru, atau jika tidak aku akan sangat kesusahan dalam melakukan segala hal!"


Weng Lou kemudian menatap sekitarnya dan segera berjalan keluar dari gudang sambil mencaritahu lokasi dirinya jatuh itu. Dengan cepat dia bisa mengetahuinya ketika dia melihat tumpukan alat latihan di luar gudang dan dia pun bernapas lega.


Seandainya dia jatuh di tumpukan senjata sebelumnya, maka dia akan dijamin mati saat itu juga. Tangan Weng Lou kemudian mengeluarkan sebuah peta kecil dari balik bajunya dan matanya menatap dengan fokus peta itu selama beberapa saat.


"Tukang Kayu Choi berada di barat Pulau Gui, agak jauh dari sini. Tapi seharusnya aku bisa sampai dalam dau jam jika mengambil garis lurus," ucapnya sambil menunjuk sebuah gambar berbentuk rumah yang terbentuk dari sebuah kapal.


Dia pun memasukkan kembali peta kecil itu ke dalam bajunya lalu melesat pergi dari situ dalam sekejap.


Pada saat ini, semua jawaban dari pertanyaan yang menjadi hambatan dari rencananya kini telah terjawab dan dia sedang bergerak menuju tempat yang akan menyelesaikan masalahnya.


"Jika aku tidak bisa menunggu kedatangan seseorang dari Kaisar itu, maka aku tinggal pergi sendiri menuju ke sana," katanya dengan entengnya.

__ADS_1


__ADS_2