
Sementara Weng Lou dan Weng Ying Luan yang muncul di dua pulau yang sangat jauh dari Pulau Pasir Hitam, jauh dari Pulau Pasir Hitam juga, tepatnya jauh dari pulau-pulau lainnya, terdapat sebuah pulau yang tak terjamah oleh manusia.
Di pulau ini, tumbuhan dan hewan semuanya tumbuh dan berkembang dengan baik, dan bahkan hampir tidak ada perselisihan yang terjadi antar binatang buas yang tinggal di dalamnya.
Tidak ada manusia yang tinggal di dalam pulau ini, menciptakan sebuah situasi yang sangat damai. Mungkin perkataan bahwa manusia lah yang selalu membuat segala kerusakan dan kehancuran bisa dibuktikan di pulau ini dimana tanpa adanya manusia, pulau ini menjadi pulau tempat tinggal semua binatang dengan damai.
Di tengah-tengah pulau, terdapat sebuah gunung api raksasa yang memiliki kawah yang sangat luas dan lahar panas yang akan selalu meletus setiap beberapa minggu sekali. Letusan ini tidaklah besar, dan cukup aman, sehingga tidak menggangu kehidupan hewan ataupun tumbuhan di pulau ini.
Sementara para hewan menikmati kehidupan damai mereka tersebut, di dalam kawah gunung berapi, muncul sebuah cahaya biru terang yang membuat gunung berapi tampak seperti mengeluarkan cahaya jika dilihat dari luar.
Para binatang yang ada di luar gunung mulai ribut karena hal tersebut. Lolongan dan auman dari para binatang buas menggema di seluruh pulau. Mereka mengira bahwa ada bencana yang sebentar lagi akan terjadi, yang tidak lain adalah letusan gunung berapi.
Tapi nyatanya bukan seperti itu.
Tepat ketika cahaya biru itu menghilang, dua sosok bayangan terjatuh dari atas kawah, dan terjun bebas ke dalam kawah gunung yang penuh dengan lava panas.
Sosok kedua bayangan itu adalah seorang gadis bersama dengan seekor binatang buas berbentuk rusa raksasa. Keduanya dalam kondisi tidak sadarkan diri, dan saat jarak mereka tinggal beberapa puluh meter, keduanya pun tersadar karena terkena hawa panas dari lava yang ada di dalam gunung berapi.
Sosok gadis yang tidak lain adalah Lin Mei membuka matanya pertama kali, dan langsung menjerit kaget karena dirinya sedang terjun bebas ke dalam sebuah gunung berapi.
"Aahhhh!!!! Ibuuu!!!!!! Putrimu akan mati!!!" jeritnya yang tanpa sadar menciptakan sepasang sayap api di punggungnya, dan dia pun berhenti bergerak turun.
Di sisi lain, si rusa raksasa, Jiaolo masih terjun ke dalam gunung. Dia saat ini tidak tau apa yang sedang terjadi, tapi yang diketahui bahwa nyawanya sedang dalam bahaya.
Dari bawah keempat kakinya, sebuah angin kencang pun bertiup kencang, dan membuat dia melayang di udara.
Keringat mengucur deras pada dirinya, saat melihat bahwa jarak dirinya dengan lava yang ada di gunung itu hanya tinggal 5 meter saja. Suhu panas dari lava dapat dia rasakan dari tempatnya saat ini.
Dia pun menoleh ke atas, dan melihat sosok Lin Mei yang melayang menggunakan sayap di punggungnya.
"Si gadis Phoenix....," gumamnya.
Tak berapa lama, dia pun mengingat apa yang terjadi sebelumnya di arena pertandingan. Saat cahaya terang menutupi mereka, yang dia tau kesadarannya mulai memudar, dan tau-tau saat bangun kembali dia malah hampir mati tertelan oleh lava.
Saat sedang berpikir mengapa dia bisa berada di tempat ini, sosok Lin Mei terlihat bergerak turun ke arahnya dan berhenti di sampingnya.
"Hei, kita ini ada dimana?" tanya Lin Mei.
"Bagaimana aku bisa tau? Bahkan aku hampir mati beberapa saat yang lalu, mustahil aku tau tempat apa ini," balas Jiaolo sambil menahan rasa kesalnya.
Darah Phoenix pada Lin Mei memaksanya untuk tetap tunduk kepadanya. Jika bukan karena itu, dia pasti sudah menendang bokong Lin Mei, dan membuatnya tenggelam di lahar panas.
"Sial, bisa-bisanya kita malah terlempar ke tempat seperti ini. Ini sudah pasti ulah Lou!" ucap Lin Mei kesal.
Di saat dia masih berbicara, mendadak di atas kawah gunung, beberapa binatang buas terlihat menjulurkan kepala mereka, dan melihat Lin Mei dan Jiaolo yang ada di dalam gunung.
"Ah, itu sang Phoenix! Sang Phoenix telah kembali!!"
Salah satu dari binatang itu berseru, dan membuat perhatian Lin Mei dan Jiaolo segera terarah padanya.
"Hm? Apa yang dikatakannya?" Lin Mei tampak kebingungan.
Di sisi lain, para binatang buas lain ikut berseru menyebut Lin Mei sebagai 'Sang Phoenix', dan secara mendadak berlutut hormat ke arah nya.
"Ah! Sang Phoenix yang abadi! Kami sudah sangat lama menanti kedatangan mu kembali! Kami, para jendral mu sudah siap untuk melakukan pertarungan hidup dan mati bersama mu seperti dua ratus tahun yang lalu!"
"Sungguh berkah dari dewa kami dapat melihat anda lagi, Sang Phoenix!"
Mendengar merem, Lin Mei pun memasang wajah aneh, dan saling menatap satu sama lain dengan Jiaolo di sampingnya.
"Kau...tau mereka kenapa?"
***
Pulau Fanrong.
Pagi hari setelah kemunculan Weng Lou di pulau ini, kondisi dirinya sudah pulih seperti semula berkat pil miliknya yang telah dia persiapkan jauh hari sebelum Turnamen Beladiri Bebas dimulai.
Terlihat dia sedang berendam di sungai, dibawah air terjun sementara Du Zhe menatapnya dengan mata penasaran dari pinggir sungai.
__ADS_1
"Hei, apa kau seorang Praktisi Beladiri?" tanya Du Zhe dengan wajah polosnya.
Weng Lou yang setengah kepalanya berada di air mengangguk, mengiyakan pertanyaan Du Zhe.
Tatapan Du Zhe pun langsung berubah dan dia tersenyum lebar mendengar jawaban Weng Lou.
"Jadi apa kau menghancurkan gunung dan membelah lautan? Atau memanah bintang? Atau kau bisa menghidupkan orang yang sudah mati?!"
Mendadak Du Zhe bertanya dengan bersemangat kepada Weng Lou. Mendengar pertanyaan itu, Weng Lou tanpa sengaja tersedak oleh air sungai yang mana langsung membuatnya hampir mati karena itu.
Dia pun melompat kembali ke darat, dan memuntahkan air yang telah tanpa sengaja dia telan, lalu menatap Du Zhe dengan aneh.
"Dari siapa kau mendengar Praktisi Beladiri bisa melakukan itu semua?"
"Bibi-bibi di perkemahan menceritakannya padaku! Mereka bilang seorang Praktisi Beladiri sejati bisa menghancurkan gunung dalam satu pukulan, dan sanggup membelah lautan dengan sapuan tangannya! Aku....aku juga dengar kalau ada Praktisi Beladiri yang bisa menghidupkan kembali orang yang telah mati, jadi...aku...."
"Ok ok, cukup sampai di situ. Untuk menghancurkan gunung dalam sekali pukul itu jelas hanya bisa dilakukan oleh mereka yang telah berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 7 ke atas. Sedangkan untuk membelah lautan, itu bahkan mustahil dilakukan oleh mereka yang berada di ranah Penguasaan Jiwa.
Untuk menghidupkan kembali orang yang sudah mati, aku rasa kau salah bertanya. Itu jelas hanya bisa dilakukan oleh dewa," jawab Weng Lou yang mengeringkan tubuhnya menggunakan Qi nya.
Terlihat raut wajah kecewa dari Du Zhe setelah mendengarnya, dia pun bangkit berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Weng Lou.
"Hei, kau mau kemana??? Di sini banyak binatang buas, kau akan dimakan oleh mereka jika masuk ke hutan loh."
"Aku sudah setahun di sini, dan belum pernah diserang oleh satu binatang buas pun melewati jalan ini!"
Du Zhe melambaikan tangannya dan menghilang di kejauhan.
Weng Lou hanya menatapnya sejenak, lalu menyibukkan dirinya dengan mengganti pakaiannya yang sangat kotor.
Semalam dia sudah cukup mendapatkan informasi mengenai tempat dia berada saat ini berkat informasi dari Du Zhe. Anak itu, tampak sama sekali tidak takut padanya meski ada Kera Hitam Petarung berbadan super besar bersama dirinya.
Dia juga yang membawa Weng Lou seorang diri tadi malam ke tempatnya yang berada di balik air terjun. Weng Lou cukup terkesan saat tau bahwa anak itu bisa menjadi seorang Praktisi Beladiri tanpa berlatih beladiri sedikit pun.
"Pulau Fanrong kah.... sepertinya aku tidak bisa pulang dalam waktu dekat," ucap Weng Lou yang menglap napasnya.
Dia bangkit berdiri dan kemudian menghentakkan kakinya di tanah. Weng Lou melompat tinggi di udara, dan melihat lokasi dimana Kera Hitam Petarung berada. Dengan gesit Weng Lou menendang udara dengan bantuan Qi nya, dan dia pun segera bergerak ke arah kera tersebut.
Weng Lou tidak tau apakah ini ulah Yang Guang atau Weng Ying Luan, yang jelas kondisi kera ini benar-benar buruk.
Patah tulang, memar, dan juga luka bakar, benar-benar kombinasi yang sangat sempurna untuk membuat seseorang merasa tersiksa. Dia dapat merasakan apa yang di rasakan oleh Kera Hitam Petarung ini.
"Oi, bangun. Ini sudah pagi," kata Weng Lou yang menepuk-nepuk dada kera itu.
Tak lama kera itu terbangun, dan menatap sosok Weng Lou di atas tubuhnya.
"Manusia...haah.....apa yang terjadi....dimana?" Kera itu berusaha berbicara kepada Weng Lou dengan semua tenaga yang ia punya saat ini.
"Tempat kita berada saat ini bernama Pulau Fanrong, apa kau mengetahui tentang itu?"
"Pulau Fanrong...?"
Kera itu menggeleng, dia baru kali ini mendengar nama itu. Dia telah tumbuh dan besar di Pulau Pasir Hitam, jadi dia sama sekali tidak mengetahui apa-apa tentang dunia luar.
"Hah, jadi kau juga tidak tau yah? Ya sudahlah, tidak apa-apa."
Meski Weng Lou mengatakan seperti itu, namun ekspresi wajahnya benar-benar berbanding terbalik. Dia terlihat sangat kecewa karena kera itu tidak tau apapun tentang Pulau Pasir Hitam.
Hening, Weng Lou kemudian mengeluarkan sebuah pil yang berukuran cukup besar dari dalam ruang penyimpanannya, lalu melemparkan masuk ke dalam mulut kera itu, yang secara reflek langsung ditelan olehnya.
Gleek....
"Apa tadi itu?"
"Pil penyembuh khusus untuk binatang buas. Aku membelinya di Rumah Obat, harganya lumayan mahal, tapi syukurlah berguna juga. Aku sempat berpikir membuangnya karena memakan tempat di cincin penyimpanan ku," ucap Weng Lou.
Kera itu pun tertegun sejenak, dia tidak mengerti kenapa Weng Lou memberikan pil itu padanya.
Tak berapa lama kemudian, khasiat pil itu bisa dirasakan oleh kera tersebut, sensasi hangat muncul dari perutnya, dan perlahan luka-luka pada tubuhnya mulai sembuh satu persatu.
__ADS_1
Tulang nya yang patah juga sepertinya mulai tersambung kembali. Tak sampai setengah jam, kera itu pun bisa berdiri kembali dan dengan takjub menatap ke arah Weng Lou.
"Pil ciptaan manusia memang hebat, bahkan semua luka pada tubuhku sembuh semua seperti aku tidak pernah terluka sebelumnya."
"Bukan apa-apa, anggap saja hadiah dariku karena kami malah memburu kalian di Turnamen Beladiri Bebas kemarin. Aku berpikir hadiah utama dari turnamen itu di sembunyikan pada diri kalian, tapi aku melihat hadiah itu berada di dalam cincin penyimpanan, sepertinya tebakan ku telah salah." Weng Lou mengangkat kedua bahunya, laku berjalan pergi meninggalkan kera itu sendiri.
"Kau sama sekali tidak salah nak, kami memang bagian dari hadiah turnamen itu. Zu Zhang, bajingan itu telah memberitahu kami jauh hari sebelum Turnamen Beladiri Bebas itu diselenggarakan.
Dia mengatakan akan menggunakan kami sebagai hadiah bagi para pemenang turnamen terkenal di Pulau Pasir Hitam, tapi kami tidak menyangka malah dijadikan seperti kemarin."
Langkah kaki Weng Lou pun terhenti, dan segera membalik badannya. Dia menatap kera itu dengan mata berbinar.
"Kalau begitu, kau sekarang adalah-"
"Tunggu sampai disitu, nak. Aku tidak bilang kalau aku mau menjadi tunggangan mu, aku lebih suka hubungan setara, bagaimana?"
"Ck, lebih baik tidak usah. Aku lebih suka berkelana sendiri. Mungkin saja aku akan menjadi seorang pendekar terkenal yang namanya akan menggema ke segala penjuru, dan ceritaku mungkin akan dimulai di tempat ini," ucap Weng Lou yang mendecakan lidahnya.
Dia pun kembali membalik badan, dan buru-buru meninggalkan kera itu dalam kebingungannya.
"Anak yang aneh," pikirnya.
***
Weng Lou mengikuti jalan setapak yang dilalui oleh Du Zhe, yang kemudian membawanya ke kota dimana dia sebelumnya berasal.
Karena telah diberitahu oleh Du Zhe mengenai pulau ini dan mengenai dirinya yang menjadi budak, jadi Weng Lou pun tidak dengan ceroboh menunjukkan dirinya di hadapan orang.
Dengan gesit dia pun melompat melewati tembok kota, dan mendarat di atas atap bangunan.
Tap....
Pada saat ini, suasana bagian dalam kota cukup ramai karena ini merupakan jam awal kerja mereka.
Para budak terlihat satu demi satu keluar dari tenda mereka, dan mulai melakukan pekerjaan mereka setelah mengambil dan makan jatah makanan mereka pagi itu.
Sudut mata Weng Lou melihat ke satu arah, dimana terlihat sosok anak kecil yang tidak lain adalah Du Zhe sedang berjalan diantara orang-orang dewasa. Dia memegang dua buah bakpao di tangannya yang sepertinya masih hangat dilihat dari asap yang mengepul di atasnya.
Gerak gerik dari Du Zhe sangat mencurigakan jika diamati dari posisi tempat Weng Lou berada saat ini. Tak lama kemudian, terlihat Du Zhe secara sembunyi-sembunyi keluar dari kota dan buru-buru berjalan melewati jalan setapak yang mengarah ke air terjun.
Sudut bibir Weng Lou terangkat melihat itu, dia pun kembali melompat dari atap dia berada, dan mendarat di hadapan Du Zhe.
"Wah, itu seperti nya enak sekali nak." Weng Lou berbicara sambil mengusap kedua tangannya.
Tanpa menjawab sama sekali, Du Zhe segera memberikan salah satu bakpao di tangannya pada Weng Lou.
"Ini, kau belum makan bukan? Aku mencurinya satu dari para prajurit," ucap Du Zhe dengan polos.
Weng Lou sama sekali tidak memprotesnya meski Du Zhe mendapatkan nya dari mencuri.
"Hei nak, berapa banyak kalian diberikan bakpao seperti ini tiap harinya?" tanya Weng Lou dengan penasaran.
"Hanya tiga. Pagi, siang, dan malam. Jika kami bekerja dengan baik dalam satu minggu, kami terkadang diberikan lebih."
Tiga kali sehari? Dan hanya 1 bakpao perorangnya? Bukankah itu sama saja menyuruh mereka mati secara perlahan?
Du Zhe masih anak-anak, dan jelas dia membutuhkan asupan makanan yang banyak agar bisa berkembang dengan baik. Tapi dia malah telah dijadikan sebagai budak, yang bahkan makanannya sama sekali tidak membuat kenyang.
Glep.
Weng Lou menelan potongan terakhir bakpao di tangan, dan membersihkan tangannya pada bajunya. Dia kemudian tanpa aba-aba mengangkat kera baju Du Zhe, dan segera melompat tinggi, lalu mendarat di tengah kota.
Dengan Du Zhe di tangannya, dia tersenyum pada semua orang yang saat ini tampak terkejut akan kehadiran sosoknya.
Para prajurit yang bertugas langsung bergerak dan mengelilingi Weng Lou. Jelas sekali mereka sangat terlatih, tapi itu tidak bisa membuat Weng Lou gentar sedikitpun.
Malah, senyuman nya tampak semakin lebar.
"Angkat tangan kalian, ini adalah perampokan."
__ADS_1
***********************************************
Words: 2214