Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 654. Domain Lin Mei


__ADS_3

*DUAAARRR!!!!!*


Ledakan besar terjadi. Angin menjerit, tanah terkoyak, pohon-pohon berterbangan ke segala arah.


Sebuah badai berwarna emas dan hijau tercipta. Di tengah-tengah badai adalah Kambing Petapa dan Naga Ular Hijau yang saat ini sedang beradu serangan. Badai itu terus melebar hingga mencapai radius satu kilometer dari keduanya.


Cekungan besar dari tanah yang hancur tampak sangat dalam. Angin yang berhembus menerpa para binatang buas yang sedang bertempur.


Entah itu dari pasukan binatang buas Lin Mei, atau pun ular-ular bawahan Naga Ular Hijau, mereka semua terlempar dan porak-poranda karena angin yang menerpa mereka.


Kekuatan dari dampak serangan Kambing Petapa dan Naga Ular Hijau hanya bisa dideskripsikan dengan satu kata.


Mengerikan!


"Suruh mereka semua mundur! Jangan ada yang berada di dekat badai itu!" Lin Mei berseru nyaring saat dia memukul kepala seekor Ular Tiga Taring hingga hancur berkeping-keping.


Elang raksasa yang mendengarnya segera memekik nyaring. Dia mengirimkan pesan kepada semua binatang buas yang berada dalam kelompok mereka lewat telepati. Semua binatang buas yang menerima pesan langsung mengikuti instruksi nya dan buru-buru mundur.


Pasukan ular milik Naga Ular Hijau yang melihat ini hendak ikut menjauh dari badai, namun kemudian sosok Lin Mei terbang dengan cepat di belakang pasukan binatang buas miliknya.


"Kalian yang menginginkan pertarungan ini, jadi jangan salahkan aku karena menghabisi kalian semua hingga tak bersisa!"


Setelah mengatakan itu, tubuh Lin Mei mendadak ditutupi oleh cahaya merah dan jingga. Cahaya itu terwujud menjadi kobaran api yang kemudian membentuk sepasang sayap di punggung Lin Mei. Yang satu di kiri berwarna merah padam, sedang yang di kanan berwarna jingga terang.


"Terbakar dan jadi debu, kalian semua! Lautan Api Phoenix!!!"


Sayap di punggung Lin Mei mengepal dan mengirimkan ratusan bola api yang kemudian menghantam semua ular yang hendak mundur.


Ketika mereka terkena bola api, api segera menjalar ke seluruh tubuh mereka dan membakar mereka hidup. Dengan cepat, seluruh ular-ular itu terbakar dalam Api Phoenix milik Lin Mei, yang membentuk seperti lautan api.


Ular-ular yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 5 kebawah langsung berubah menjadi abu, sementara ular-ular yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 6 ke atas berhasil melarikan diri dengan terbang ke udara sebelum api mengenai mereka.


"Bunuh manusia itu!!!! Aku yang akan bertanggung jawab dan memberikan alasan kepada ayahku nanti. Habisi dia, jangan membiarkan dia hidup lebih lama lagi!"


Seekor Naga Ular Hijau yang memiliki tubuh jauh lebih kecil dibandingkan dengan Naga Ular Hijau yang sedang bertarung Kambing Petapa berseru marah.

__ADS_1


Kekuatan Penyatuan Jiwa tahap 9 puncak meledak dari tubuhnya. Sosoknya melesat terbang ke arah Lin Mei dan diikuti oleh lebih dari sepuluh ular lainnya yang berada di Penyatuan Jiwa tahap 7, 8, dan 9.


Melihat ini, Lin Mei mendengus. Sayap di punggungnya terbuka lebar dan memancarkan hawa panas yang sangat menusuk. Cahaya merah memenuhi sekitarnya.


"Kalian akan menjadi batu loncatan yang sempurna bagiku, untuk memamerkan kemampuan baru yang telah berhasil aku latih setelah melakukan sekian banyak percobaan."


Cahaya merah terus melebar dan kemudian mencapai radius dua ratus meter dari Lin Mei. Ketika mencapai radius tiga ratus meter, cahaya jingga berubah menjadi kobaran Api Phoenix yang membara.


"Domain!"


Lin Mei menepuk tangannya dan menunjuk ke arah ular-ular yang datang padanya.


"Bakar mereka semua!"


Kobaran api berubah menjadi gelombang setinggi lima puluh meter, yang kemudian menghantam dan mengenai Naga Ular Hijau Penyatuan Jiwa tahap 9 puncak dan rekan-rekannya.


Mereka langsung melakukan teknik-teknik yang mereka punya untuk tidak terbakar oleh api, namun teknik yang mereka lakukan hanya bisa menahan api sementara saja, sebelum kemudian api membakar seluruh tubuh mereka.


Naga Ular Hijau Penyatuan Jiwa tahap 9 puncak adalah satu-satunya yang masih bertahan dari kobaran api. Cahaya hijau bersinar di sekujur tubuhnya saat sisik-sisik di tubuhnya berdiri dan membentuk seperti gundukan-gundukan sisik yang tajam.


"Tubuh Naga!" seru Naga Ular Hijau Penyatuan Jiwa tahap 9 itu.


Sebelumnya, Naga Ular Hijau hanya tampak seperti seekor ular karena bentuk kepala mereka yang menyerupai naga, namun sekarang, dengan perubahan seluruh tubuhnya, dia benar-benar tampak seperti seekor Naga Ular sejati, namun tetap tanpa satupun kaki.


"Hmp! Seekor cacing bermimpi menjadi seekor naga, kau akan pernah menjadi naga yang sesungguhnya karena kau hanya berusaha menirunya sepanjang hidupmu, dan membohongi dirimu sendiri!"


Lin Mei mengayunkan tangannya. Domain miliknya bergejolak saat dua kobaran api meletus dan membentuk dua pilar api yang sangat tinggi. Kedua pilar itu kemudian melengkung dan membentuk dua buah tangan api.


"Kau hanya manusia, apa yang kau tau tentang menjadi seekor naga?! SEEKOR NAGA ARTINYA MENDOMINASI! SEEKOR NAGA ARTINYA TIDAK ADA YANG BISA MENGALAHKAN MU!"


Naga Ular Hijau Penyatuan Jiwa tahap 9 meraung dan Tingkat Praktiknya langsung melonjak naik hingga menyamai kekuatan seorang Penguasa Jiwa awal.


Tubuhnya berayun dan ekornya mencambuk dengan keras pada salah satu tangan api yang mengarah padanya.


*PHAA!*

__ADS_1


Tangan api langsung hancur. Karena tangan itu hanya terbentuk dari api, tangan itu dengan cepat menyatu kembali menjadi kobaran api sebagai bagian dari Domain milik Lin Mei.


Tangan api yang lain membuka dan hendak menggenggam tubuh Naga Ular Hijau. Namun sebelum bisa menyentuhnya, Naga Ular Hijau lebih dulu bergerak dan melilit tangan api itu lalu menghancurkannya dengan mudah dalam satu tarikan.


"Api mu ini hanya membuatku merasa geli!" seru Naga Ular Hijau.


Tubuhnya bergerak dalam kobaran api dan terlihat seperti naga yang sedang berenang dalam lautan api.


Lin Mei tidak terpancing oleh kata-kata provokasi Naga Ular Hijau. Dia justru malam tersenyum mengejek melihat Naga Ular Hijau yang terbang ke arahnya sambil pamer dengan melakukan gerakan seperti berenang dalam Api Phoenix nya.


"Tentu saja api itu tidak ada rasanya sama sekali, Api Phoenix Penyembuh ku memiliki fungsi utama untuk menyembuhkan luka dan memperbaiki kondisi fisik tubuh. Itu sama sekali tidak berbahaya, malah sangat jinak. Melihat teman-teman mu yang malah mati karenanya membuatku bertanya-tanya, apakah ular-ular di dalam hutan ini memang selemah itu?"


Berbeda dengan Lin Mei yang bereaksi biasa saja terhadap kata-kata Naga Ular Hijau, Naga Ular Hijau justru langsung terpancing begitu mendengar kata-kata Lin Mei.


Dia tidak lagi melakukan gerakan pamernya dan langsung melesat ke arah Lin Mei sambil membuka mulutnya, hendak menelannya bulat-bulat.


"Kesalahan terbesar yang kau lakukan begitu memasuki Domain milikku adalah kau langsung menuju ke arahku tanpa tau apa saja yang bisa aku lakukan di dalam Domain ku ini."


Tangan kanan Lin Mei menunjuk pada Naga Ular Hijau. Cahaya jingga bersinar dari tubuhnya dan kemudian seluruh Domain miliknya. Setelah itu, lapisan api berwarna jingga terang muncul di bagian luar api berwarna merah padam.


Naga Ular Hijau tidak menghiraukannya dan tetap menyerang Lin Mei. Baginya, satu-satunya yang ada di matanya hanyalah Lin Mei yang harus dia bunuh.


"Api, musnahkan dia." Lin Mei berkata dengan tenang.


Domain miliknya menanggapi perintahnya dan kobaran api di bawah Naga Ular Hijau langsung menelannya bulat-bulat. Bukannya menelan Lin Mei, dia justru tertelan ke dalam Api Phoenix Lin Mei.


"Api remeh! Kau tidak akan bisa menahan ku untuk memakan mu!"


Dia tanduk Naga Ular Hijau melepaskan Kekuatan Jiwa yang menabrak kobaran api. Sebuah jalan langsung tercipta, dan dia pun melesat melewatinya.


Lin Mei tersenyum mengejek melihat ini. "Api remeh? Hahahaha.......coba katakan itu pada ekormu yang kau tinggalkan itu."


Naga Ular Hijau tersentak saat mendengar kata-kata Lin Mei. Tanpa sadar dia berbalik dan melihat sebuah ekor yang sedang terbakar dalam api. Dia merasa ekor itu tidak asing dan melihat pada ekornya yang ternyata telah menghilang.


Ekor yang sedang dibakar oleh api itu tidak lain adalah ekornya sendiri!

__ADS_1


Namun dia tidak merasakan apapun saat ekornya terpotong. Hal ini membuat perasaan di dalam hatinya menjadi kacau. Dia hendak melesat maju lagi, namun dia merasa ragu setelah melihat ekornya yang sekarang telah berubah menjadi abu hanya dalam hitungan detik.


"Api Phoenix Pemusnah. Ubah dia menjadi abu."


__ADS_2