
Sementara para anggota Pasukan Pengejar sedang sibuk menyiapkan kapal uap Weng Lou untuk dipakai melewati danau lahar, di salah satu sudut pelabuhan, sepasang mata tajam menatap dengan tatapan penuh amarah.
"Untungnya, kita bisa mengejar mereka dengan kecepatan terbang kita selama beberapa hari ini. Tapi sekarang ini kita berada di wilayah musuh, kurasa akan sulit untuk kita mengambil kembali kapal itu. Melihat dari ukurannya, pasti kapal itu memiliki berat yang membuatnya bergerak cukup lambat. Akan mustahil untuk kabur dengannya jika kita dikepung oleh musuh."
Weng Ying Luan berbicara dengan nada tenang sambil bersandar di dinding sebuah bangunan. Di sampingnya, sosok Weng Lou yang masih mengamati kapal uapnya tidak memberikan tanggapan apapun atas ucapan Ying Luan.
Menghela napas. Weng Lou pun berjalan masuk ke dalam lorong gelap dan diikuti oleh Ying Luan yang tampak penasaran dengan apa yang sedang direncanakan oleh Weng Lou.
Setelah mereka keluar dari Kota Tiesha , Weng Lou pun menceritakan mengenai lokasi yang akan didatangi oleh Pasukan Pengejar yang dipimpin oleh Lin Bei dan wakilnya, Lin Gou. Weng Lou memutuskan untuk mengejar mereka melewati rute udara agar bisa menghemat waktu dan mengejar ketertinggalan.
Karena Du Zhe dan awak kapal Weng Lou yang lainnya tidak bisa terbang, Weng Lou dan Weng Ying Luan pun bekerja sama untuk mengendalikan sebuah benda aneh yang Weng Lou temukan di dalam cincin penyimpanan milik Chizi Ryuan.
Benda itu berbentuk seperti sebuah perahu, namun dengan dua sayap seperti burung di kedua sisinya. Menariknya, benda itu mampu dialiri dengan Qi atau pun Kekuatan Jiwa dengan mudah, tidak seperti benda-benda pada umumnya yang menandakan perahu itu dibuat dengan bahan khusus.
Weng Lou pun mendapatkan sebuah ide bagus, dimana dia dan Weng Ying Luan bersama-sama memberikan Qi dan Kekuatan Jiwa pada perahu tersebut lalu membuatnya terbang dan mengangkut semua orang.
Tidak hanya itu saja, kecepatan terbang perahu terbang itu nyatanya mampu melampaui kecepatan terbang Weng Lou ketika memakai pedang sebagai pijakan nya. Alhasil, mereka pun berhasil mengejar ketertinggalan mereka dengan kelompok Lin Bei dan sampai di Pelabuhan Phoenix lebih dulu dibandingkan dengan mereka.
Rute yang dipakai oleh kelompok Weng Lou juga adalah rute yang tidak banyak orang lewati. Dengan berbekal ingatan Lin Dan yang telah Weng Lou serap, mereka bisa sampai tanpa masalah sedikitpun.
Di dalam sebuah rumah makan, Weng Lou terlihat berjalan masuk bersama dengan Weng Ying Luan di sampingnya. Keduanya berjalan ke sebuah meja panjang dimana terlihat Du Zhe bersama dengan awak kapal Weng Lou yang lain sedang duduk dengan diam.
"Kalian semua, aku mau kalian mendengarkan ku baik-baik, ada hal penting yang harus ku beritahukan kepada kalian sebelum kita melanjutkan rencana yang sudah ku susun." Weng Lou berbicara pada mereka semua dan membuat perhatian mereka segera terarah pada Weng Lou seorang.
__ADS_1
Du Zhe menatap dengan raut wajah tegang. Dia bisa merasakan atmosfer di sekitar gurunya jauh berbeda dari biasanya, sepertinya hal yang ingin dia bicarakan benar-benar adalah hal yang serius. Menelan ludahnya, dia pun melirik ke arah Weng Ying Luan yang justru tampak santai, berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Weng Lou.
"Aku telah menemukan kapal kita, namun sayangnya orang-orang yang mencurinya masih berada di atasnya, dan sepertinya mereka hendak melewati danau lahar itu dan menuju ke tengahnya, dimana terdapat gunung berapi yang menjadi tempat berdirinya Kediaman Keluarga Klan Besar Lin. Untuk rencananya, tentu kita akan mengejar mereka, namun akan ku tanya kalian semua masing-masing, apakah kalian mau ikut atau tidak?"
"Kalian bebas memilih dan aku akan menghargai keputusan kalian. Kalian bisa memilih untuk tetap di sini, sementara aku dan Luan akan pergi mengambil kembali kapal. Tenang saja, aku tetap akan kembali dan membawa kalian begitu berhasil mengambil kembali kapal kita, jadi jangan khawatir kami meninggalkan kalian. Jadi, apa pilihan kalian?"
Weng Lou mulai menatap satu persatu para awak kapalnya itu. Dia tau mereka semua rela meninggalkan tujuan awal mereka untuk menjelajahi dunia luar, memulai kehidupan baru seusai dengan apa yang mereka impikan dan malah menjadi awak kapalnya yang terus-menerus berlayar dan melewati banyak bahaya di lautan.
Tapi pada saat ini, mereka berada di tengah-tengah markas musuh mereka, berbeda dengan sebelumnya, jika mereka ketahuan di sini maka nyawa mereka yang menjadi taruhannya.
Weng Lou dan Weng Ying Luan tidak perlu diragukan lagi akan bisa selamat dengan mudah meskipun mereka terkepung oleh musuh sekalipun, namun berbeda dengan para awak kapal Weng Lou yang kekuatan mereka masing-masing tidak ada yang mencapai ranah Pembersihan Jiwa, yang mana sama saja dengan mencari mati.
"Pfft-! Hahahaha.....apa yang kau tanyakan itu, kapten? Setelah melakukan perjalanan sejauh ini, kami semua sudah melalui banyak bahaya dan pengalaman yang berharga. Semuanya itu karena kapten telah mau menerima kami di kapal mu. Untuk apa kami takut mati jika kami bisa merasakan petualangan bersama mu? Kami ini selalu siap mati setiap kali kita mulai berlayar dari satu tempat ke tempat yang lainnya bersama mu, kapten!" Li tanpa banyak berpikir telah memberikan jawabannya.
"Benar, kapten. Kami tidak takut mati jika selalu bersama mu! Kami ini awak kapal mu yang telah menyerahkan nyawa kami ke tangan mu sejak awal kita berlayar bersama dari Kepulauan Huwa!"
"Hidup dan mati hanyalah sebatas dua kata yang saling berlawanan saja, pada akhirnya kita semua akan tetap mati. Namun jika aku diberikan pilihan, maka aku mau mati dengan terhormat sebagai seorang pelaut yang mati di atas kapal dan dipimpin oleh anda, Kapten!"
Mendengar semua jawaban mereka, Weng Lou tidak bisa menahan dirinya untuk tertawa pelan. Sepertinya dia hanya membuang waktu saja menanyakan sesuatu yang sudah pasti jawabannya kepada mereka. Tapi masih ada satu orang yang memberikan jawabannya, dia adalah Du Zhe.
Entah mengapa, Du Zhe hanya diam mendengarkan sejak tadi. Biasanya dia akan mengungkapkan pendapat atau jawabannya lebih dulu dari pada yang lain.
Weng Lou melihat mata Du Zhe yang sepertinya sedang memikirkan beberapa hal yang mana tatapan mata itu pernah Weng Lou lihat beberapa kali dari Du Zhe ketika mereka akan menghadapi sesuatu di lautan.
__ADS_1
"Apa kau mendapatkan firasat buruk lagi, Du Zhe?" tanya Weng Lou pada Du Zhe.
Du Zhe mengangguk pelan. Dia tau bahwa firasatnya ini mungkin terdengar berlebihan, namun Weng Lou selalu percaya dengan firasatnya sehingga membuat Du Zhe selalu berpikir bahwa firasatnya hanya membawa kesialan.
Di sisi lain, Weng Ying Luan yang juga diam sejak tadi, menatap Du Zhe dengan tatapan tertarik. Anak laki-laki itu di matanya adalah anak yang sangat menarik. Terutama tubuhnya yang membuat Ying Luan tidak habis pikir, bagaimana bisa Weng Lou menemukan permata sepertinya di tempat entah berantah.
"Kalian dengar sendiri bukan? Du Zhe mendapatkan firasat buruk lagi. Apa kalian benar-benar yakin mau ikut?"
"Firasat kah......hmm....anggap saja itu peringatan agar kami harus mengikuti mu kapten, hahaha!"
"Benar! Firasat Du Zhe mungkin tidak pernah salah selama ini, tapi bisa saja firasatnya itu untuk sesuatu yang lain."
Melihat mereka yang tetap teguh pada pendirian mereka, Weng Lou hanya bisa menghela napasnya.
"Bagaimana dengan mu, Du Zhe? Kau mau ikut atau tinggal di sini, dan menunggu sampai kami berhasil mengambil kembali kapal dan juga kera bau itu?" Weng Lou menundukkan badannya dan bertanya pada Du Zhe dengan suara lembutnya.
Mengigit bibirnya, Du Zhe segera mengangguk. Weng Lou tersenyum kecil dan mengusap kepala muridnya itu dengan pelan.
"Jadi semuanya akan ikut, huh? Ini akan cukup sulit, karena jumlahnya yang terlalu banyak. Tapi seharusnya kita tetap bisa menyusup ke gunung di tengah danau. Dari yang aku dengar, di gunung itu penjagaan nya cukup kendor, dan hanya wilayah kediaman saja yang dijaga dengan ketat oleh para prajurit. Sisanya, para binatang buas yang dilepaskan di seluruh gunung yang menjadi penjaga alaminya." Weng Ying Luan menjelaskan pada Weng Lou.
"Ya, itu cukup mudah. Namun ada satu hal yang harus kita perhitungkan juga, yaitu para binatang buas yang tinggal di dalam danau lahar. Para binatang buas yang tinggal di dalamnya telah dilatih untuk membunuh siapa saja yang berani melewati danau, dan hanya mereka yang memiliki darah Phoenix saja yang bisa menenangkan mereka, sehingga bisa dilewati." Weng Ying Luan melanjutkan.
"Kau tidak perlu khawatir tentang itu. Aku sudah mempersiapkan darah Phoenix untuk melewati danau."
__ADS_1
Weng Lou menyeringai sambil menunjukkan sebuah botol kaca berisikan darah Phoenix yang dia ambil dari tubuh Lin Dan sebelumnya. Dia sudah menduga bahwa darah itu akan berguna kedepannya, tapi siapa sangka ternyata mereka akan memakai secepat ini.
"Mari kita mulai rencana penyusupan nya."