Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 516. Penaklukan (II)


__ADS_3

Di dalam ibukota saat ini terjadi kepanikan dimana-mana. Jeritan yang memekakkan telinga keluar dari mulut beberapa perempuan yang melihat kondisi para prajurit yang telah mati di dekat mereka.


Kepanikan itu segera menyebar hingga ke istana kaisar. Para prajurit yang sedang berjaga di gerbang dan tembok istana melihat kekacauan yang terjadi di dalam kota dan segera mengirimkan beberapa orang untuk memeriksanya.


Tak berapa lama, orang-orang yang dikirim itu kembali ke dalam istana. Keringat dingin mengucur deras dari tubuh mereka dan dengan ketakutan mereka memberikan laporan mereka pada atasan yang mengirim mereka.


Wajah tak percaya muncul dari wajah atasan mereka, begitu mendecakkan laporan dari orang-orang yang telah dia kirim. Hal ini cukup wajar, lagipula siapa yang akan begitu saja percaya saat mendengar bahwa 900 orang lebih telah meninggal dalam 1 hari dan tidak diketahui penyebabnya.


"Hei kau, jangan bercanda denganku. Kau tau aku bisa memecatmu saat ini juga, bukan?" pria yang merupakan atasan para prajurit itu berbicara dengan suara dingin kepada 3 orang prajurit di hadapannya.


Ketiga prajurit itu tersentak dengan kaget dan masih tetap ketakutan, "Ti-Tidak kapten! Mana mungkin kami berani berbohong pada mu!" Salah satu prajurit itu segera berbicara.


"Lalu laporan macam apa yang kalian berikan padaku ini?! Kau menyuruhku untuk percaya bahwa semua prajurit yang ada di ibukota saat ini telah mati, huh?!"


"Tapi memang itu yang terjadi, kapten!"


"Sudah! Pergi kalian, aku akan memeriksanya sendiri!"


Kapten prajurit itu segera mendorong prajurit yang berada di depannya, dan berjalan pergi menuju ke ibukota di luar istana. Para prajurit itu tidak berusaha menghentikannya dan hanya bisa menelan ludah.


Tak lama, kapten itu pun tiba di luar gerbang istana, dan melihat kepanikan yang telah terjadi dimana-mana. Jaritan ketakutan bisa terdengar di seluruh kota.


Dia mengerutkan dahinya, dan kemudian berjalan cepat ke sebuah kerumunan orang yang berada tidak jauh dari tempatnya saat ini. Tidak perlu waktu lama untuk dia mencapai kerumunan itu dan melihat apa yang sedang dikelilingi oleh orang-orang tersebut.


Tapi kemudian, ekspresi wajahnya berubah menjadi kosong saat melihat potongan-potongan tubuh manusia yang saat ini tergeletak di tanah. Tangan, kaki, kepala, dan bahkan organ-organ tubuh tampak berhburan dan membuat siapa saja yang melihatnya akan menjadi mual, bahkan kapten itu saat ini sedang menahan diri untuk tidak memuntahkan sarapan nya yang dia makan dua jam yang lalu.


"I-Ini....apa yang dikatakan oleh prajurit-prajurit itu sebenarnya memang benar?! Ti-Tidak....tidak mungkin. Kau pasti bercanda...."

__ADS_1


Kapten itu, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa apa yang terjadi dan dia lihat saat ini tidaklah nyata, sebelum kemudian dia mulai memperhatikan sekitarnya dan melihat beberapa kerumunan lain yang ada hampir di seluruh jalan kota.


Ada satu kesamaan dari beberapa kerumunan itu, yaitu mereka semua tampak kebingungan dan ketakutan. Kapten prajurit itu tidak perlu memeriksa mereka semua untuk mengetahui apa yang saat ini mereka sedang lihat.


Sebagai seorang Kapten dari pasukan yg dia pimpin, dia merupakan seorang Praktisi Beladiri yang sangat sensitif terhadap aroma darah. Dia bisa dengan mudah mencium bau darah dari penjuru kota hanya dalam beberapa detik berada di dalam kota.


"Hm? Sepertinya para prajurit yang ada di istana sudah menyadari situasinya. Apakah kita langsung saja memulainya di tempat ini?" Beberapa meter dari kapten itu, sosok Ye Lao berbicara berbicara kepada Qian Yu dan Weng Lou yang berjalan bersamanya.


Mendengar saran Ye Lou, Qian Yu segera menolak tersebut, "Tidak perlu, orang-orang di dalam kota sudah cukup merasa panik dan ketakutan saat ini. Jika kita memperparah keadaan, mereka semua pasti akan berhamburan di seluruh kota dan akan menyusahkan kita jika seandainya ada beberapa prajurit yang kabur keluar kota. Lagi pula, dia hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 4. Mau sejauh apapun dia kabur, Kirin yang kita tugaskan di luar kota bisa menanganinya dengan mudah."


Ye Lao tidak berbicara lebih jauh. Meskipun Qian Yu selalu mengkritiknya, namun dia tidak bisa marah atau pun merasa tidak senang. Terkurung di dalam Kitab Keabadian selama beribu-ribu tahun membuat cara berpikir Ye Lao terkadang terlalu brutal, dan berbicara tanpa berpikir terlebih dahulu secara matang.


Keberadaan Qian Yu yang menjadi partnernya untuk membantu Weng Lou membuat Ye Lao bisa merasa lega karena Qian Yu memahami kondisi Ye Lao tersebut. Dia sendiri sering seperti itu ketika terlalu lama dalam kesendirian.


"Jadi, siapa saja yang akan kita bunuh?" tanya Weng Lou begitu mereka melewati kapten prajurit yang masih terbengong di pinggir jalan.


Ketiganya terus berjalan menuju ke gerbang istana.


"Hmm....bagaimana jika membuat mereka semua tak sadarkan diri, termasuk Kaisar Shengshi Huangdi itu? Kita bisa membagi tugas dan melakukan semuanya dengan cepat." Ye Lao kembali memberi sarannya.


Kali ini Qian Yu tidak langsung menolak saran dari Ye Lao tersebut. Dia tampak berpikir sejenak sebelum kemudian mengangguk setuju, "Itu ide bagus. Kalau begitu biar Lou yang melumpuhkan para pelayan dan pekerja yang lain, dan aku yang akan menangani para prajurit."


"Oke, biar aku yang mencari kaisar itu. Kuharap dia belum kabur cukup jauh setelah mendengar tentang terbunuhnya para prajurit di ibukota."


Weng Lou, Ye Lao dan Qian Yu pun tiba di depan gerbang istana. Saat mereka berjalan mendekat lebih jauh, dua prajurit yang ada di situ segera menghadang mereka dengan senjata yang mereka bawa, "Berhenti! Di sini bukan tempat umum! Ini adalah istana kaisar, selain bangsawan dan orang-orang kaisar, tidak ada yang boleh mendekat!"


Dua prajurit itu menatap dengan rendah pada Weng Lou dan yang lain. Pakaian yang dikenakan oleh ketiganya memang tampak biasa saja, tidak seperti yang dikenakan oleh para bangsawan atau orang-orang kaya lainnya sehingga memicu tatapan menghina dari para prajurit yang berada di situ.

__ADS_1


"Jadi, siapa yang mau memulainya?" tanya Ye Lao dengan senyum tipis kepada prajurit di hadapannya.


"Biar aku saja, aku ingin sedikit mengasah kembali kemampuanku," ucap Qian Yu yang segera melangkah maju.


Melihat tindakan dari Qian Yu itu, dua prajurit yang menghadang mereka merasa Qian Yu memprovokasi mereka, dan tanpa segan mengayunkan senjata di tangan mereka padanya.


Qian Yu tidak panik, dia dengan tenang mengeluarkan seutas benang berwarna biru terang dari telapak tangannya. Benang biru itu bergerak bagai cambuk dan langsung melilit tubuh dan senjata prajurit di hadapannya.


Pergerakan dua prajurit itu langsung terhenti, begitu juga dengan serangan yang mereka arahkan pada Qian Yu. Benang biru itu kemudian terus melilit tubuh dua prajurit itu hingga kemudian menutupi seluruh tubuh mereka seutuhnya.


"Benang Kematian."


*Plash!* *Tsh!*


*KRAACKK!*


Benang itu pun terhentak dan langsung melilit dengan kuat tubuh dua prajurit itu. Suara tulang yang patah bisa terdengar dari dalam lilitan benang biru tersebut, dan darah kemudian menyembur keluar dari sela-sela lilitan benang itu.


Pada saat ini, lilitan benang itu tidak lagi membentuk tubuh manusia, melainkan sebuah gumpalan daging. Gumpalan daging itu pun perlahan menghilang, dan ketika lilitan benang itu ditarik kembali oleh Qian Yu, tubuh dua prajurit yang sebelumnya telah hilang tak bersisa.


"Ah, mereka bahkan tidak memiliki tenaga dalam sedikit pun dala. tubuh mereka." Qian Yu berbicara sambil mendecakkan lidahnya.


"Ya, mau bagaimanapun mereka hanya prajurit biasa. Ada cukup banyak prajurit di dalam sana yang mungkin bisa mengisi Qi untuk ku."


Qian Yu pun membuka kembali tangannya dan sebuah pedang yang berbentuk mirip dengan Pedang Naga Malam muncul di tangannya. Pedang itu berwarna biru terang seperti benang yang sebelumnya dia ciptakan. Pedang ini dibuat menggunakan Mana miliknya yang berasal dari Qi yang telah dia rubah.


Tidak jauh dari mereka, prajurit lain yang menyaksikan apa yang dilakukan oleh Qian Yu segera memanggil rekan-rekannya dan mengelilingi Qian Yu, dan yang lain.

__ADS_1


"Angkat tangan kalian, dan buang senjata yang ada di tangan mu! Kami akan membunuh kalian jika tidak mau melakukannya!" Salah satu prajurit berseru pada kelompok Weng Lou.


"Hahaha...mereka sangat pengertian. Aku bahkan tidak perlu mencari mereka satu persatu. Sekarang....siapa yang mau mati lebih dulu?"


__ADS_2