
Weng Lou yang sudah selesai dengan 'urusannya' itu pergi meninggalkan lokasi tempatnya bertarung setelah menguburkan tubuh wanita yang menjadi lawannya sebelumnya.
Meski sebenarnya Weng Lou tidak terlalu memperdulikan mengenai wanita tersebut, tapi dia tidak bisa menutup sebelah mata mengenai identitasnya sebagai Praktisi Beladiri yang berjalan di jalan keabadian. Tubuh seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa sangatlah berharga bagi para Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa.
Diyakini bahwa hanya potongan tubuh saja dari mereka, bisa membantu terobosan menuju ke tahap yang lebih tinggi, atau mungkin naik ke ranah Penyatuan Jiwa yang dianggap legendaris bagi sebagian orang.
"Setidaknya jangan buat masalah lagi bagiku. Aku sudah menguburkan mu dengan baik, jadi tenanglah di dunia sana," ucap Weng Lou acuh tak acuh.
Perguruan Iblis Merah, tempat kediaman Weng Lou.
Sosok Weng Lou terlihat melompat tinggi dari satu batu dan mendarat tepat di lapangan latihan di atas pegunungan yang hampir menyerupai gunung. Du Zhe dan Kera Hitam Petarung yang sudah lebih dulu sampai terlihat sibuk melakukan aktivitas mereka saat Weng Lou datang.
"Guru?! Apa yang terjadi denganmu? Apa kau habis bertarung melawan seseorang lagi tadi?" Du Zhe yang melihat ketibaan Weng Lou itu kini telah berdiri di depannya dan bertanya dengan penasaran.
Weng Lou saat ini sedang tidak mengenakan baju dan bertelanjang dada. Tubuhnya juga terlihat kotor sepeti terkena setumpukan debu yang sangat kotor.
"Ahahaha....apa kau mengkhawatirkan ku, Du Zhe?" tanya Weng Lou yang baru menyadari kondisi tubuhnya itu.
"Em!" Tanpa diduga Du Zhe segera mengangguk tanpa merasa malu sedikitpun. Umurnya yang masih muda membuatnya masih memiliki pemikiran seperti anak-anak pada umumnya sehingga dia terlihat sangat polos.
"Hm...tidak perlu terlalu mengkhawatirkan diriku, lebih baik kau tetap fokus dalam berlatih saja, Du Zhe." Meski kata-katanya itu seperti menunjukkan Weng Lou tidak peduli dengan kekhawatiran muridnya, namun sebenarnya dia cukup senang ada yang memperdulikannya di tempat yang jauh dari rumahnya ini.
Du Zhe hanya mengangguk mengerti sebagai balasan dari kata-kata Weng Lou. Sebelumnya dia sedang mencoba menghancurkan sebuah batang kayu dengan teknik beladirinya untuk mencoba naik ke Dasar Pondasi tingkat 3 dan sepertinya dia tinggal sedikit lagi mampu untuk benar-benar baik.
Weng Lou pun segera menuju ke sebuah ruangan gelap berisikan banyak logam yang ditumpuk di pojok ruangan. Terdapat tungku yang tidak menyala di situ dan juga beberapa alat menempa yang tergantung dengan rapi di dinding ruangan tersebut.
Sebuah lentera yang berukuran cukup besar dinyalakan oleh Weng Lou dan dia meletakkannya di atas meja, membuat ruangan itu lebih terang dan dia mampu melihat dengan baik.
Tanpa berlama-lama Weng Lou segera menuju ke tungku perapian yang tidak ada apapun di dalamnya. Dia melemparkan batu bara kedalamnya hingga memenuhi bagian bawahnya lalu mulai menaikan suhu tungku menggunakan sebuah pompa khusus yang terdapat di pinggir tungku.
Tangan Weng Lou terus memompa sampai kemudian api di dalam tungku itu mulai berubah warna dari merah menjadi kekuningan dan suhunya kini jauh lebih panas. Bara yang ada di dalam tungku terlihat berwarna merah terang karena panasnya suhu api di dalam.
"Harusnya api ini cukup panas. Aku tidak memiliki Qi untuk membantuku membuat api yang lebih panas, tapi logam yang ingin ku gunakan hanya memiliki kualitas standar, sehingga suhu api ini sudah lebih dari cukup," ucap Weng Lou.
Berjalan ke arah tumpukan logam di pojok ruangan, Weng Lou kemudian memilih beberapa logam berwarna kecoklatan dari tumpukan logam tersebut. Dia melihat beberapa kilau kristal pada logam-logam itu, dan mengangguk puas melihatnya.
Dia pun berjalan kembali ke tungku perapian, dan memasukkan logam-logam yang dibawanya ke dalam api.
*Tsshhhhh-" Logam-logam yang kini berada di dalam api itu mulai mengeluarkan asap hitam tebal dan perlahan mulai memuai dan memanas hingga berubah mejadi warna oranye terang layaknya logam panas pada umumnya.
Begitu melihat bahwa logam-logam itu sudah cukup panas, dia segera mengambilnya kembali dan memulai pembersihan logam. Palu di tangan kanannya dengan kuat mukul logam-logam panas itu dan suara dentingan logam berbunyi nyaring. Dirinya tidak berhenti di situ dan kembali mengayunkan palunya.
Kira-kira setelah hampir selama lima belas menit memukuli Logam tersebut, akhirnya terlihat perubahan pada semua logam itu. Pada awalnya semua logam itu berwarna kecoklatan, tapi sekarang logam yang sudah dingin itu berubah warna menjadi biru gelap setelah menerima pembersihan logam dari Weng Lou.
Kristal-kristal kecil yang sebelumnya ada pada logam-logam itu kini telah hancur berkeping-keping dan tersebar di seluruh bagian logam. Kini logam yang sama sekali berbeda telah muncul dan ini merupakan bahan yang diinginkan oleh Weng Lou untuk membuat senjata barunya.
"Aku memerlukan senjata jarak jauh untuk bertarung di atas kapal nantinya, tapi di sisi lain aku juga membutuhkan senjata jarak dekat untuk mampu mengimbangi lawan yang berada di ranah Penyatuan Jiwa. Kha! Ini benar-benar merepotkan. Logam ini paling banyak hanya bisa membuat dua buah belati seukuran pedang pendek, tapi aku tidak terlalu ahli menggunakan belati seperti ibu....."
__ADS_1
Weng Lou merasa dilema di dalam hatinya. Di dalam kepalanya, dia berpikir dengan cepat dan memikirkan keputusan yang harus diambilnya. Logam biru tua yang dibuatnya ini bisa dibuatnya menjadi sebuah busur panjang, atau sebuah pedang dengan panjang paling tidak satu meter lebih. Senjata yang paling dibutuhkannya saat ini adalah busur, tapi itu bukanlah senjata jangka panjang jika dia sudah sampai di wilayah Kekaisaran Ryuan.
"Haaahhh......aku tidak tau ini akan berhasil atau tidak, tapi semoga saja tidak ada masalah dengan senjata ini," ucap Weng Lou yang seperti tidak memiliki pilihan lain.
Seperti seorang tukang kayu handal, dia mulai membuat cetakan senjata yang akan dia buat. Memakan waktu sekitar setengah jam baginya untuk membuat cetakan yang ternyata adalah dua buah pedang melengkung yang sepertinya akan sangat tipis apabila sudah jadi. Kedua pedang itu adalah pedang kembar. Ada perbedaan pada kedua gagang pedang tersebut namun akan sulit terlihat oleh mata orang-orang biasa.
Dengan tenang Weng Lou kemudian melemparkan kembali logam yang sebelumnya ke dalam api. Setelah kembali memanas, Weng Lou segera mengeluarkan logam itu.
Mata Weng Lou memindai sejenak logam panas itu, dan segera menaruhnya pada sebuah wadah logam tebal. Selanjutnya, wadah itu pun dimasukkan ke dalam api, dan Weng Lou mulai kembali memompa agar suhu api naik semakin tinggi.
*Shuuaa!!!* Kobaran api di dalam tungku sampai berkobar keluar, tapi kemudian segera menjadi tenang saat api itu mulai berubah warna kebiruan dan perlahan namun pasti logam di dalam wadah mulai mencair.
Dengan sabarnya Weng Lou terus memompa dan akhirnya logam itu pun mencair sepenuhnya. Tangan Weng Lou tak berhenti memompa meski logam sudah mencair, dia tetap memompa sampai sepuluh menit lebih dan dilihatnya bahwa logam cair itu kini semakin menjadi cair.
"Oke.... tunjukkan keajaibanmu....ayo... tunjukkan padaku....." Setelah beberapa saat, mendadak sesuatu terjadi pada logam yang sangat cair itu.
*Fhushhh! Burrr!* Mendadak gelembung-gelembung muncul di permukaan logam cair itu muncul dan meletuskan debu berwarna ungu terang.
"Ayo....ayo....." Debu-debu itu kemudian mulai kembali berjatuhan di atas logam itu dan merubah bagian atas logam menjadi ungu terang.
Setelah memastikan bahwa seluruh bagian atas logam menjadi ungu, karena telah ditutupi oleh debu, Weng Lou buru-buru mengeluarkan wadah berisi logam tersebut dari dalam api dan mulai memasukkannya ke dalam dua cetakan pedang yang telah dia siapkan sebelumnya.
*Blurrpp....* Uap panas keluar saat cairan logam itu dimasukkan dalam cetakan. Setelah dimasukkan semuanya, Weng Lou menutup rapat cetakan itu dan mendiamkannya beberapa saat lalu segera membuka kembali cetakan tersebut.
Senyum menghiasi wajah Weng Lou saat melihat dua pedang kembar yang sangat tipis dan masih tumpul di dalam cetakan. Kedua pedang itu masih berwarna kemerahan karena suhunya yang masih sangat panas. Tanpa takut sedikitpun, Weng Lou mengambil kedua pedang kembar itu dengan tangan kosong dan langsung menyebabkan kedua telapak tangannya melepuh.
Weng Lou membawa kedua pedang itu dan memasukkannya ke dalam baskom berisi air dingin.
"Ini cukup sepasang, dengan darahku yang telah meresap masuk ke dalam logam, membuat pedang itu akan mampu digunakan secara maksimal olehku," gimana Weng Lou yang kemudian segera mengambil salah satu pedang itu dan mulai mengasahnya.
Sore hari kemudian.
Dua buah pedang kembar berwarna biru gelap dengan beberapa garis ungu terpajang rapi di atas kain di meja. Pedang tanpa bekas goresan cacat sedikitpun itu berkilauan saat terkena cahaya redup dari lentera di dekatnya. Kedua gagang pedang tersebut terbuat dari rangkaian logam yang membentuk seperti kunci yang rumit pada batasnya. Di kedua ujung pedang tersebut, terdapat sebuah lubang seukuran kelingking Weng Lou.
Weng Lou dengan tenang mengangkat kedua pedang melengkung tersebut, lalu mengayunkannya di tangannya.
*Whus.....* Suara dari tajamnya pedang itu membuat Weng Lou tersenyum puas, dia mulai melakukan beberapa gerakan dasar sebelum akhirnya berhenti.
"Keseimbangan yang sempurna, dan tidak ada rasa tidak nyaman saat menggenggamnya," ucap Weng Lou dengan hati yang cukup senang.
Dia kemudian dengan tenang menghubungkan kedua gagang pedang tersebut, dan secara ajaib kedua pedang itu menjadi satu. Weng Lou kemudian menarik keluar sebuah senar logam dari pembatas pedang dan mengaitkannya pada tiap ujung pedang itu hingga membentuk sebuah busur.
Tangan Weng Lou mengambil sebuah anak panah latihan yang ada di dekatnya dan menempatkannya pada busur yang tercipta dari dua pedang kembar itu.
Tali busur itu di tarik, dan kemudian dilepaskan. Anak panah melesat cepat dan mengenai sasaran Weng Lou yang ternyata adalah sebuah logam diantara tumpukan logam di pojok ruangan. Anak panah itu langsung membuat logam itu menjadi penyok karena dampak serangannya.
"Hm....besar serangan ini cukup memuaskan, meski hanya sebuah busur biasa tapi sudah bisa menyebabkan penyok sebesar itu pada logam. Hehehe.....aku penasaran apa yang akan terjadi pada binatang buas lautan jika terkena tembakan anak panah dengan kualitas tinggi dari busur ini."
__ADS_1
***
Keesokan harinya di Kota Rengu.
Orang-orang ramai berkumpul di depan bengkel milik ayah Choi untuk melihat sebuah kapal yang telah menggemparkan seisi kota karena kemunculannya kemarin.
"Hei, menyingkir sedikit! Aku juga mau lihat!" Seorang pria berotot berjalan dengan berdesak-desakan melewati kerumunan orang hingga akhirnya tiba di paling depan dan menatap dengan takjub sebuah kapal yang terlihat hampir terbuat seluruhnya dari logam.
"Itu benar-benar tidak memiliki layar sedikitpun! Astaga, aku pasti sedang bermimpi!" Pria itu berseru nyaring seperti orang gila. Orang-orang di belakangnya kemudian menarik tubuhnya agar mereka juga bisa ikut menyaksikan kapal uap ciptaan Weng Lou dan reaksi dari mereka sama seperti pria berotot itu.
Saat ini di atas kapal, Weng Lou sibuk menaikkan semua barang-barang dan bahan makanan ke dalam kapal. Du Zhe terlihat dengan rajin membantu Weng Lou mengangkati beberapa barang yang yang mampu dia angkat, sementara Ayah Choi sibuk melakukan pemeriksaan kapal, dan Choi sendiri sedang 'mengawasi' beberapa tukang kayu yang bekerja di bawah ayahnya yang sedang mengangkut berkarung-karung batu bara yang berkualitas tinggi.
"Hei! Jangan sampai menyentuh mesin itu! Mesin itu sangat sensitif jadi berhati-hatilah! Tidak! Bukan di situ! Letakkan di sebelah kanannya! Bagus, jangan lupa pastikan ikatan pada setiap karungnya telah terikat dengan baik!" Layaknya seorang bos, Choi mengatur tiap pekerja itu dan jelas sekali membuat merek semua merasa jengkel namun tidak berani melakukan apapun karena melihat sosok makhluk bertubuh sangat besar sedang tertidur di dalam kapal itu.
Mereka hanya bisa bekerja dengan cepat agar bisa segera pergi dari situ secepatnya, tentu tanpa menghiraukan sama sekali apa yang dikatakan oleh Choi. Setelah setengah jam kemudian, Weng Lou dan Du Zhe selesai mengangkati semua barang bawaan mereka ke atas kapal dan membantu Ayah Choi memeriksa kapal.
Segala macam persiapan mereka pun selesai setelah karung berisi batu bara terkahir di naikkan dan para tukang kayu yang saat ini berada di bengkel ayah Choi bergotong royong menurunkan kapal itu dengan bantuan rangkaian katrol.
*Plash.....* Kapal uap itu segera mencapai permukaan air dan mengapung dengan baik. Rantai yang terpasang di kedua ujung kapal dilepaskan dan ditarik oleh orang-orang yang ada di atas bengkel.
Di rantai besar yang sedang di tarik, Choi dan ayahnya memegang erat rantai dan mulai meninggalkan kapal. Keduanya memang tidak ikut dengan Weng Lou pergi. Ayah Choi merasa bahwa kondisinya sudah tidak memungkinkan untuk ikut melakukan pelayaran bersama Weng Lou. Dirinya sudah bahagia karena masih sempat hidup untuk bisa menyaksikan kelahiran kapal uap pertama di dunia dan bahkan membantu dalam proses pembuatannya.
Di sisi lain, Choi sebenarnya sangat ingin ikut dengan Weng Lou, namun dia sadar akan umur ayahnya yang sudah tidak akan lama lagi. Dia tidak mau meninggalkan ayahnya yang sudah sakit-sakitan tersebut sementara dia pergi bersenang-senang.
"Suatu hari aku akan menciptakan kapal ciptaan ku sendiri dan pergi melakukan perjalanan! Senang sekali bisa mengenal dirimu, Weng Lou!" Choi yang bergantung di atas rantai melambaikan tangannya pada Weng Lou.
Weng Lou tertawa pelan mendengar perkataan nya, menurut Weng Lou, Choi pasti sanggup melakukannya, bisa terlihat dari kegilaan yang ada di matanya itu. Dia pun memberikan salam perpisahan kepada semuanya, dan kemudian menyuruh Du Zhe untuk mulai menyalakan mesin kapal.
Dengan Weng Lou sebagai kapten kapal, Du Zhe yang menjadi orang yang bertugas memasukkan bahan bakar, dan Kera Hitam Petarung yang akan menjadi senjata tempur mereka jika terjadi serangan. Weng Lou telah memilih beberapa lain untuk ikut bersamanya dalam pelayarannya itu. Namun dia tidak merekrut mereka sebagai anggota kelompoknya, orang-orang yang dipilihnya ini adalah mereka yang berniat pergi ke Kekaisaran Ryuan untuk berpetualang.
Tentu saja mereka ini adalah para Praktisi Beladiri dan bukan manusia biasa. Menurut Weng Lou membawa manusia biasa dalam perjalanannya kali ini, sama saja membawa mereka kepada kematian.
Du Zhe sendiri sebenarnya sempat Weng Lou ingin tinggalkan di Pulau Gui dan berlatih di bawah bimbingan dari Hong Mugui, namun dia menghapus ide itu dari kepalanya karena masih bisa melihat kebencian Hong Mugui pada dirinya. Tidak ada yang tau apa yang mungkin Mugui lakukan pada muridnya tersebut jika seandainya Weng Lou meninggalkannya sendirian.
"Semuanya! Bersiap di posisi kalian, kita berangkat!" Dengan kata-kata Weng Lou itu, kapal uap mereka pun segera berlayar pergi dan meninggalkan lokasi mereka sebelumnya dengan cepat.
Di luar Kota Rengu, kapal uap Weng Lou yang baru saja keluar dari bawah kota segera disambut dengan berbagai macam seruan perpisahan. Mereka senang menyaksikan kapal uap yang telah dibuat oleh kelompok Weng Lou itu. Meski sebenarnya mereka tidak terlalu mengenali sosok Weng Lou.
Di atas sebuah gedung di Kota Rengu, Hong Mugui menatap kapal uap yang dinaiki Weng Lou dan yang lainnya itu dengan tatapan suram di matanya. Dia segera menghilang dari tempatnya itu dan kemudian kembali muncul di jembatan kota. Dengan tenang dia melangkah pergi dari kota, tapi tak lama kemudian sekelompok orang segera menghadangnya tepat ketika dia akan sampai di ujung jembatan.
"Hong Mugui.....setelah menyebabkan segala macam hal karena membawa dua monster mengerikan ke Pulau Gui dan memeras kami semua, apa kau berniat melarikan diri dari kami?" Seorang wanita yang tidak asing di mata Mugui berbicara di depan kelompok itu.
Wanita itu adalah seorang Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 awal yang telah dikalahkan Weng Lou waktu dia menjadi penguasa Kepulauan Huwa. Karena perbedaan kekuatannya yang tidak jauh dengan Hong Mugui, dirinya dan kelompoknya tidak luput dari aksi pemerasan yang dilakukan oleh Hong Mugui.
Lebih dari setengah kekayaan mereka habis karena telah diperas olehnya yang menggunakan nama Weng Lou sebagai tameng dan sumber ketakutan semua Praktisi Beladiri yang ada di Kepulauan Huwa.
"Melarikan diri? Hahaha....lucu sekali.....siapa yang kau pikir akan melarikan diri, huh?!"
__ADS_1
Tepat ketika mendengar ucapan Hong Mugui itu, sekitar sepuluh orang dengan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa tahap 1 muncul keluar dari bawah jembatan. Pada saat yang sama, aura dari Praktisi Beladiri di ranah Pembersihan Jiwa tahap 6 keluar dari tubuh Hong Mugui dan membuat orang-orang di situ tersedak napasnya kecuali wanita yang sebelumnya berbicara padanya.
"Kalian orang-orang tua sialan yang hanya tau bersembunyi untuk memperkuat diri, akan kubunuh kalian hari ini!"