Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 490. Du Zhe


__ADS_3

Dimensi Asal Mula.


Ribuan kilometer dari Pulau Pasir Hitam, terdapat sebuah pulau yang luasnya sedikit lebih kecil dibandingkan dengan Pulau Pasir Hitam, namun tetap saja memiliki luas wilayah yang sangat luas.


Pulau ini bernama Pulau Fanrong, dan memiliki kondisi iklim yang hampir sama dengan Pulau Pasir Hitam, kecuali untuk beberapa aspek, pulau ini bisa dibilang adalah kembarannya.


Dengan jutaan orang yang tinggal di dalamnya, pulau ini memiliki sistem pemerintahan yang merupakan sebuah kekaisaran. Seorang kaisar memimpin seluruh pulau yang makmur ini, dan membuat nama Pulau Fanrong menjadi sangat terkenal hingga ke pulau-pulau tetangga. Kekaisaran ini bernama Kekaisaran Fanrong, dan Kaisar yang memimpinnya bernama Kaisar Shengshi Huangdi yang sangat terkenal karena kebaikannya.


Tapi apakah semakmur itu Pulau Fanrong ini? Setiap sisi terang pasti ada sisi gelap, begitu juga Pulau Fanrong.


Di samping kejayaan kekaisaran yang membuat Pulau Fanrong menjadi sangat terkenal, ada sisi lain dari pulau ini yang disembunyikan oleh kekaisaran dari mata orang-orang di luar pulau.


Sisi lain ini adalah perbudakan yang merupakan sistem yang ditetapkan langsung oleh sang Kaisar, Shengshi Huangdi sendiri. Dia membagi sebuah wilayah khusus yang menjadi sebuah tempat kumuh yang dikhususkan untuk mereka yang tidak layak menjadi rakyatnya, dan mereka yang tinggal di dalamnya akan dipekerjakan sebagai budak dengan paksa untuk mengerjakan berbagai macam kerjaan secara percuma.


Lalu apakah mereka yang tinggal diluar wilayah kumuh menerima sistem ini? Ya....bisa dibilang mereka menolaknya, tapi mereka juga tidak bisa menepis kenyataan bahwa dengan adanya sistem perbudakan ini, pulau tempat mereka tinggal menjadi semakin makmur, terkecuali di wilayah kumuh yang merupakan tempat tinggal para budak.


Di wilayah kumuh ini, tinggal seorang bocah berumur delapan tahun yang tidak lain merupakan seorang budak.


Dia hidup sendiri di tempat ini karena merupakan seorang yatim piatu. Dulunya dia merupakan rakyat biasa yang tinggal di luar wilayah kumuh ini, namun semenjak kedua orang tuanya meninggal karena dibunuh oleh pamannya sendiri setahun yang lalu, dia pun dilemparkan ke tempat ini karena dijual oleh pamannya.


Untung baginya, orang-orang yang tinggal di wilayah kumuh ini mau merawatnya dan membantunya dalam melakukan pekerjaan. Entah itu pekerjaan kasar atau lainnya, pasti ada saja yang mau menolongnya jika dia kesusahan selama dia satu tahun di tempat ini.


Bulan ini dia genap setahun di sini, dak Du Zhe telah bisa bekerja secara mandiri menyelesaikan pekerjaannya.


Fisiknya yang masih anak-anak telah ditempa di tempat ini, dan membuat dia berhasil menjadi seorang praktisi Beladiri secara mandiri tanpa melakukan latihan beladiri apapun.


Ini membuktikan bahwa dia memang berbakat sejak lahir, tapi meski begitu, pencapaiannya itu harus terbuang sia-sia karena dia saat ini hanyalah seorang budak yang akan terus melakukan pekerjaan kotor selama sisa hidupnya.


***


Di sebuah gudang penyimpanan makanan yang terletak di salah satu kota yang ada di wilayah kumuh.


Terlihat sosok Du Zhe menyelinap diantara kotak-kotak kayu yang tidak tersusun rapi dan masuk ke dalam gudang itu.


Dia dengan gesit mengambil beberapa kantong daging dan beberapa buah yang ada di dalam gudang, sebelum kemudian dia pun segera keluar lewat sebuah fentilasi kecil yang terdapat di bagian belakang gudang.


Dengan percaya dirinya dia mendarat di tanah dan berisiap pergi dari situ, tapi kemudian sebuah tongkat kayu segera bergerak dan memukul tubuh kecilnya hingga membuatnya menabrak dinding gudang dan menjatuhkan semua barang-barang yang telah dia ambil sebelumnya.


"Hah! Kau kali ini tidak bisa mengelak lagi bocah! Kami mendapati mu secara langsung mencuri di gudang penyimpanan ini, tidak ada lagi alasan yang bisa kau berikan pada kami!"


Terlihat seorang prajurit yang berpakaian lengkap menunjuk wajah Du Zhe yang terbaring di tanah tak berdaya karena menerima pukulan dan hantaman itu.


Meski pun dia telah menjadi seorang Praktisi Beladiri, namun dia hanya berada di Dasar Pondasi tingkat 1, dan tidak ada kemampuan beladiri satu pun yang dia kuasai, sehingga menerima pukulan dari seorang prajurit akan melukainya dengan serius.


"Du Zhe, kau selama ini selalu berlindung diantara para budak yang memiliki kemampuan beladiri sehingga kami tidak bisa menghukum mu, terlebih kami tidak memiliki bukti atas tindakan mu. Namun kali ini berbeda, kau jelas-jelas kami dapatkan telah mencuri di gudang penyimpanan yang mana membuat akan mendapatkan hukuman."


Seorang prajurit lain yang berdiri di prajurit sebelumnya ikut bebricara.


Keduanya pun segera memunguti makanan yang diambil oleh Du Zhe di tanah, lalu kemudian membawa bocah itu bersama mereka ke tengah kota dimana banyak budak yang terlihat sedang bekerja dengan diawasi oleh para prajurit yang ditempatkan di situ.


Perhatian banyak orang segera terarah pada dia prajurit itu dan juga Du Zhe yang dibawa oleh mereka.


Para budak tampak terkejut melihat sosok Du Zhe terutama para budak perempuan yang selama ini telah merawat Du Zhe.


"Du Zhe?! Hei, itu Du Zhe!" seru salah seorang budak Dnegan suara terkejut.

__ADS_1


"Apa yang kalian lakukan padanya?! Hei, lepaskan tanganmu darinya!!"


Seorang budak pria yang sudah berumur, melangkah maju dan menghadang kedua prajurit yang membawa Du Zhe.


Kedua prajurit itu menatap dengan rendah pria itu, lalu tanpa segan menendangnya dan membuatnya terlempar beberapa meter.


"Menyingkir! Kalian para budak harus tau tempat kalian! Kalian semua adalah budak yang hanya bekerja untuk sang Kaisar agar memakmurkan Kekaisaran Fanrong ini! Kalian diberi makan dan minum setiap harinya merupakan sebuah anugrah yang harus kalian syukuri!


Tapi lihat ini! Seorang bocah merupakan budak rendahan telah berani mencuri dari gudang penyimpanan! Apa karena kami belum pernah membunuh salah satu dari kalian selama setengah tahun ini makanya ada dari kalian yang mulai melupakan hukuman yang dapat kami berikan pada kalian, huh?!"


Prajurit yang membawa Du Zhe mengangkat tubuh kecilnya dan memperlihatkannya pada semua orang yang ada di situ.


"Kalian sudah terlalu banyak diberikan keringanan, hingga kalian sampai lupa bahwa kian itu hanyalah budak! Sepertinya kami perlu memperlihatkan lagi pada kalian kekejaman kami agar kalian tidak berani berbuat macam-macam lagi!"


Shu- buck.....pak....


Tubuh Du Zhe di lempar ke tanah, dan terlihat dia meringis kesakitan.


Prajurit yang sebelumnya membawanya, kini telah memegang lagi tongkat kayunya di tangannya dan dengan cepat mengayunkan nya ke tubuh Du Zhe.


PRACK!!!


Bunyi keras terdengar dari hentakan tongkat kayu yang menghantam tubuhnya.


Para budak perempuan semuanya tidak bisa menahan tangis mereka dan segera memohon untuk melepaskan Du Zhe tapi tidak ada satupun prajurit yang mendengarkan mereka.


Du Zhe terus dipukuli hingga kemudian tongkat kayu yang dipakai untuk memukulnya patah barulah prajurit yang memukulnya berhenti. Tapi kemudian prajurit itu malah melanjutkan dengan menendang Du Zhe yang sudah dalam kondisi mengenaskan.


Darah dari kedua hidungnya, dan juga memar memenuhi seluruh tubuhnya.


Selang sepuluh menit kemudian, akhirnya prajurit yang menyiksa Du Zhe selesai menghajarnya dan melemparkannya pada para budak lain.


"Pergi bawa dia! Tidak ada jatah makanan untuknya malam ini, jika ad ayang kedapatan memberikannya makanan, maka dia juga akan menerima perlakuan yang sama seperti bocah itu!" seru prajurit itu lalu pergi bersama rekannya membawa makanan yang telah dicuri oleh Du Zhe kembali ke gudang penyimpanan.


Para budak pun segera membawa Du Zhe untuk menyembuhkan luka-lukanya di sebuah tenda besar yang merupakan tempat tinggal para budak itu.


"Du Zhe, kenapa kau masih melakukan itu nak? Kau tidak perlu mencuri untuk kami lagi, kami sudah puas dengan jatah makanan kami tiap harinya, nak. Jangan kau sia-sia kan nyawamu demi kami ini," ucap seorang budak wanita yang berumur sekitar lima puluhan lebih.


Dia mengelap darah pada wajah Du Zhe dan membersihkan luka-lukanya.


"Benar Du Zhe, jangan lagi melakukan itu. Umur kami ini sudah tidak lama lagi, sama sekali tidak sebanding dengan dirimu yang masih belum merasakan dunia ini." Seorang budak lain ikut berbicara.


Du Zhe dalam kondisi lemah, menangis dan mengigit bibir bawahnya sambil mengepalkan tangannya.


"Kita ini hanya budak, sampai selamanya akan menjadi budak. Jika tidak melakukan perlawanan, maka kita akan terus menjadi budak yang hina dan kotor," ucapnya dengan kedua matanya yang mengkilap karena terkena cahaya.


"Jangan bodoh, Du Zhe! Kau selamat kali ini saja sudah merupakan keajaiban! Apa kau tidak tau seberapa sakit hati kami ini melihatmu dipukuli seperti tadi?! Kalau bisa, aku ingin menggantikan mu menerima semua pukulan dan tendangan itu!"


Dari arah kerumunan, seorang pria tua yang mata kanannya buta berjalan ke arah Du Zhe yang sedang dirawat.


"Tapi kakek.... kita ini juga manusia! Bukankah sudah sewajarnya untuk mendapatkan kebebasan?!"


Pria tua itu mengepalkan tangannya dan tanpa aba-aba meninju perut Du Zhe.


"Anak bodoh! Kau ini beru berumur delapan tahun! Jangan katakan apapun mengenai kebebasan kepada kami semua di sini! Untuk bisa hidup sampai saat ini juga merupakan berkah nyata dari dewa kepada kami semua!

__ADS_1


Tapi kau berbeda, Du Zhe! Kau adalah anak yang telah diberkati oleh Dewa! Kau diberikan bakat untuk menjadi seorang Praktisi Beladiri! Apa kau tau berapa banyak orang yang ingin bisa menjadi seorang Praktisi Beladiri seperti mu?! Ribuan, tidak, tapi jutaan! Tapi mereka tidak bisa karena tidak memiliki bakat!


Oleh karena itu, Du Zhe. Tolong dengarkan permintaan dari kami semua, dan berhentilah melakukan hal bodoh. Kami akan mencoba untuk membuat mu bisa terlepas dari belenggu perbudakan ini, dan berhasil keluar dari tempat kotor ini sehingga kau bisa menjadi seorang Praktisi Beladiri yang sebenernya....."


Semakin lama berbicara, pria tua itu tak bisa menahan dirinya dan kemudian menangis sambil tersenyum kepada Du Zhe.


Du Zhe yang sebelumnya dipukul itu mencoba menahan rasa sakit yang dia rasakan, dan tetap diam mendengarkan perkataan pria tua itu.


Hening sejenak, dia pun kemudian mengangguk dengan lemah. Semua orang senang melihat itu.


Setelah luka-luka pada dirinya, mereka semua pun meninggalkannya dan melanjutkan pekerjaan mereka, sebelum prajurit datang dan menghukum mereka.


Du Zhe yang terbaring lemah menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada lagi orang di dalam tenda sebelum kemudian berdiri perlahan dan berjalan keluar dari tenda secara sembunyi-sembunyi.


Dia terus menatap sekitarnya dan akhirnya menyelinap keluar dari kota.


Bagian luar kota merupakan hutan yang lebat yang mana ditinggali oleh banyak binatang buas yang sengaja dibiarkan agar membuat para budak tidak ada yang berani kabur.


Pada salah satu ujung kota, terlihat sosok Du Zhe yang berjalan masuk ke dalam hutan dan mengikuti sebuah jalan setapak yang ditutupi oleh semak-semak sebelumnya.


Dirinya terus berjalan menelusuri jalan setapak sampai kemudian dirinya tiba di sebuah air terjun kecil yang kira-kira berjarak tiga ratus meter dari kota.


Du Zhe pun berjalan mengikuti jalan setapak dan membawanya ke bagian belakang air terjun dimana terlihat sebuah ruangan yang tersembunyi dimana terlihat banyak sekali barang-barang bekas di dalamnya.


Tanpa ragu dia pun masuk dan segera berbaring di atas sebuah tempat tidur di situ. Dia memejamkan matanya dan segera tertidur.


Di bagian luar, di atas sungai tidak jauh dari air terjun.


Mendadak sebuah cahaya terang muncul dan membuat lingkungan sekitar yang agak gelap menjadi terang.


Tidak lama kemudian sosok seorang pemuda bersama dengan seekor kera raksasa muncul di atas sungai tepat ketika cahaya itu menghilang, dan terjatuh ke dalam sungai.


Pemuda itu tampak tidak sadarkan diri, pada seluruh tubuhnya terlihat urat-urat nada berwarna biru terang, sementara kera yang bersama nya berada dalam kondisi yang sama buruknya. Dia memilih banyak luka pada tubuhnya.


PSHHH!!!


Air menyembur ke segala arah, dan suara hantaman tubuh kera raksasa pada air membuat sosok Du Zhe yang sedang tertidur segera kembali terbangun.


Dia berkedip beberapa kali sebelum keluar dari balik air terjun dan berjalan ke arah dimana pemuda dengan kera itu muncul.


Begitu dia tiba, mulut Du Zhe segera menganga melihat sosok pemuda dengan kera itu.


Karena tubuhnya yang begitu besar, tubuh kera itu tidak masuk sepenuhnya kedalam sungai, sementara pemuda yang bersama nya terlihat berbaring di atas tubuh kera raksasa itu.


Saat Du Zhe sampai di situ, terlihat pemuda yang tak sadarkan diri itu mulai membuka matanya, dan menoleh ke arah Du Zhe.


"Nak....katakan padaku bahwa ini masih berada di Pulau Pasir Hitam...." ucap pemuda itu dengan suara lemah.


Du Zhe terdiam mendengarnya dan membuka mulutnya.


"Pulau Pasir Hitam? Aku tidak mengerti maksud anda. Tempat ini merupakan Pulau Fanrong," balas Du Zhe.


Pemuda itu berkedip, dan memasang senyum masamnya. Dia menghadap ke langit dan membentangkan kedua tangannya. Langit yang gelap membuat bintang-bintang dapat terlihat di dengan jelas.


"Guru....kau membuat kita berteleportasi terlalu jauh sepertinya....."

__ADS_1


__ADS_2