Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 560. Lorong


__ADS_3

Sementara para penonton sedang membicarakan mengenai kematian murid laki-laki yang diterkam dua ekor macan, Weng Lou yang telah mulai maju kini berhadapan juga dengan binatang buas kesekian kalinya.


*Buk!!*


Tinju Weng Lou yang memiliki kekuatan seperti makhluk raksasa itu sukses meremukkan tubuh beberapa serigala berbulu putih di hadapannya dan langsung membuat nyali serigala lain langsung ciut. Mereka segera berlari menyelamatkan nyawa mereka begitu tau kekuatan yang dimiliki oleh Weng Lou. Tapi apa Weng Lou akan melepaskan mereka begitu saja?


Dia saat ini membutuhkan sesuatu yang benar-benar bisa membuatnya menjadi mencolok diantara para Peserta Tes lainnya. Dan dia telah memikirkannya beberapa saat yang lalu. Menurutnya, jika dia bisa membunuh semua binatang buas dan siluman yang berpapasan dengannya, itu bisa sedikit memberinya reputasi meski tidak terlalu besar.


*Prak!!*


"Tangkap ini!" Weng Lou melemparkan beberapa batu yang dia ambil dari dinding labirin dan dengan telak mengenai tubuh para serigala yang telah lari menjauh darinya.


Itu bukan sekedar lemparan batu biasa. Ketika salah satu batu tersebut mengenai tubuh seekor serigala yang berada paling depan, tulang serigala tersebut langsung hancur berkeping-keping dan lubang yang berukuran sama besarnya dengan batu tersebut tercipta pada tubuhnya.


"AUUUUU!!!!!" Lolongan kesakitan dilepaskan oleh serigala itu, namun tak berlangsung lama karena batu lainnya telah datang dan menghancurkan kepalanya seperti sebuah balon yang pecah berkeping-keping.


Nasib yang sama mendatangi serigala yang tersisa. Batu-batu yang dilemparkan oleh Weng Lou juga mengenai mereka satu persatu hingga akhirnya tidak ada lagi yang tersisa dari para serigala berbulu putih itu. Para penonton yang melihat kejadian ini bisa tau dengan jelas bahwa itu adalah pembantaian sepihak yang dilakukan oleh Weng Lou.


Weng Lou tidak membuang-buang waktunya dan langsung melanjutkan perjalanannya sambil melewati tubuh para serigala yang kini sudah tak bernyawa lagi.


***


Waktu berlalu dan kini hari sudah gelap, namun tidak ada tanda-tanda bahwa para penonton akan pergi meninggalkan kursi mereka. Justru terlihat ekspresi pada wajah mereka sedikit lebih bersemangat dari sebelumnya.


Mereka semua adalah Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 11 ke atas yang mana bisa tahan tanpa makan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu, oleh sebab itu mereka bisa menonton Ujian Labirin ini dari awal hingga akhir tanpa beranjak dari tempat duduk mereka sedikitpun terutama mereka yang berada di ranah Pembersihan Jiwa dan Penyatuan Jiwa.


"Harusnya sebentar lagi akan dimulai," ucap Tetua Meigui yang menonton dari kursi yang terletak di tempat khusus untuk para Tetua Inti Sekte.


Tetua-tetua yang lain mengangguk-angguk mendengar ucapan Meigui, mereka paham apa yang dimaksudkan olehnya. Tak berapa lama, ketika matahari persis tenggelam di barat dan kegelapan malam mulai tiba, suara lolongan dan raungan mengerikan bergema dari dalam labirin yang bisa membuat bulu kuduk semua orang berdiri.


Senyum dan wajah antusias mulai terlihat dari para penonton yang mendengarnya, saat-saat yang mereka tunggu akhirnya tiba.


Di dalam labirin, secara mendadak serangan dari para binatang buas mulai berkurang seiring hari semakin gelap. Namun hal ini tidak membuat para Peserta Tes menjadi senang atau lega, malahan mereka sepertinya terlihat semakin khawatir dibandingkan sebelumnya.


"Sialan, malam akhirnya datang juga! Aku tidak bisa tetap di tempat ini, terlalu banyak mayat binatang buas di sini!" Seorang peserta laki-laki mengumpat panik ketika dia buru-buru beranjak pergi dari tempatnya yang mana terdapat banyak sekali binatang buas yang telah mati karena dibunuh olehnya.


Akan tetapi, langkah kakinya segera terhenti ketika dirinya merasakan sensasi dingin yang menusuk dari belakang lehernya.


Tanpa berbalik sedikitpun, dia dengan tergesa-gesa berputar ke samping dan menghindari sebuah cakar panjang yang sedetik yang lalu baru saja menebas dimana lehernya berada sebelumnya. Keringat dingin segera mengucur dengan deras dari dahinya ketika dia melihat sosok pelaku yang baru saja menyerangnya. Itu adalah sosok seekor Siluman Serigala Angin yang terkenal dengan langkah ringan dan secepat anginnya.


"Serigala Angin! Aku memang sial!" Peserta itu mengumpat sembari meratapi nasibnya yang sangat sial itu.


Diantara sekian banyaknya Siluman yang terkenal di dalam Ujian Labirin ini, Serigala Angin bisa dibilang menjadi salah satu yang paling terkenal karena telah banyak membuat para peserta tes harus gugur dari ujian.

__ADS_1


Siluman yang berasal dari binatang buas Serigala Angin ini bisa dibilang merupakan pembunuh yang sangat hebat dalam melakukan serangan diam-diam. Dan korbannya kebanyakan tidak akan tau kehadirannya sampai dia melakukan serangannya.


Mata Siluman tersebut menatap tajam peserta laki-laki itu dan sedetik kemudian dia sudah menerkam maju. Jelas dia tidak ingin menunda-nunda untuk menyantap makan malamnya.


"Hmp! Kau pikir aku tidak memiliki persiapan sedikitpun untuk menghadapi mu?! Rasakan ini!!"


Lima buah jimat yang memiliki pola yang sama dilempar keluar oleh peserta itu dari balik bajunya yang kemudian segera mengeluarkan cahaya merah terang dan kobaran api besar pun segera membakar sang Siluman Serigala Angin hingga berubah menjadi abu.


Keberhasilannya dalam membunuh Siluman tersebut hampir membuat peserta laki-laki itu bersorak gembira, akan tetapi tatapan tajam dari balik bayang-bayang segera menghentikannya. Terlihat beberapa pasang mata bercahaya tertuju ke arahnya. Peserta itu langsung mendapatkan firasat buruk karena hal ini dan dia pun segera kabur dari situ.


"Aaauuuuuu!!!!!!!" Lolongan serigala terdengar dari belakang peserta tersebut.


Dari balik bayang-bayang, beberapa sosok hitam melesat dengan sangat cepat. Dalam hitungan detik, sosok-sosok itu berhasil mengejar sang peserta laki-laki dan langsung segera melompat ke udara untuk menerkamnya.


Peserta itu, dalam detik-detik terakhirnya berbalik dan melihat empat sosok Siluman Serigala Angin yang berada di atasnya.


*Shuuusshh-!!!! Karggh!!!*


Salah satu siluman telah mencapai dirinya lebih dulu dan langsung memasukkan seluruh kepala peserta itu ke dalam mulutnya, yang seketika itu juga membunuh sang peserta laki-laki itu begitu saja.


Darah bercipratan kemana-mana, dan tubuh peserta itu pun mulai disantap dengan lahap oleh para Siluman yang tampaknya sangat kelaparan. Kejadian ini membuat beberapa penonton menghembuskan napas pelan karena telah menyadari bahwa seharusnya hal seperti itu tidak terjadi pada saat ini.


Lewat gelombang Kekuatan Jiwa yang dikirimkan kepada Patriak Sekte Bambu Giok, sebuah suara panik dan kebingungan terdengar di kepala sang Patriak tersebut.


Mendengar ini, Patriak itu hanya menguap dan segera menjawab seadanya, "Aku hanya 'sedikit' menaikkan tingkat kesulitannya saja, tidak lebih."


Jawaban darinya segera membuat pemilik gelombang Kekuatan Jiwa tersebut terdiam di tempatnya berada saat ini dan tidak bisa berkata apa pun. Bagaimana bisa hanya sedikit peningkatan bisa membuat perbedaan kesulitannya sampai sejauh ini? Dia bukanlah seorang anak kecil yang mudah dibodohi begitu saja oleh orang dewasa.


Mata seorang pria tua menatap ke dalam labirin dan melihat sosok Weng Lou yang saat ini sedang mencabik-cabik tubuh lima belas siluman Anjing Hutan Buas dengan sangat mudah dan bahkan menyebabkan rasa takut dan ngeri dari para siluman yang sedang mengawasi kejadian itu.


Seperti benang yang menemukan lubang pada jarum, pria itu langsung menyadari penyebab peningkatan kesulitan pada Ujian Labirin yang dilakukan oleh sang Patriak Sekte Bambu tersebut.


"Patriak.....jangan bilang Anda melakukan ini karena murid Tetua Meigui tersebut? Bukankah yang Anda lakukan ini terlalu berlebihan untuk sekedar mengujinya? Apakah mengorbankan nyawa puluhan Peserta sebanding dengan hal itu?" Pria itu kembali berbicara lewat telepati kepada Patriak nya sambil mengepalkan dengan keras kedua tangannya hingga terlihat sedikit darah mengalir keluar darinya.


Patriak itu hanya diam dan tidak menjawab apapun, dia memilih untuk terus menonton Weng Lou tanpa mempedulikan Pria yang berbicara padanya lewat telepati itu sedang mengumpati dirinya dari belakang.


Sementara pria itu mengutuk patriaknya dengan beberapa makian, sang Patriak Sekte Bambu Giok sedang larut dalam pemikirannya sendiri yang jauh lebih penting daripada pembahasan yang dibicarakan oleh pria sebelumnya. Kemampuan dan kekuatan yang ditunjukkan oleh Weng Lou dalam menghadapi para binatang buas dan siluman sampai saat ini telah benar-benar membuatnya tidak bisa berkata-kata.


Ketepatan pada tiap serangan yang diberikan oleh Weng Lou pada lawan-lawannya itu sangat mematikan hingga membuat mereka pasti akan mati dalam satu serangannya.


Contohnya seperti saat ini, tangan Weng Lou yang dibentuk seperti cakar elang mengoyak leher para Siluman Anjing Hutan Buas yang dia hadapi dan langsung membuat mereka mati mengenaskan begitu saja setelah menerima serangan tersebut. Ada juga beberapa siluman yang terkena pada kepala mereka yang membuat isi kepala mereka berhamburan kemana-mana karena terkena serangan Weng Lou.


"Anak itu, sejauh mana kekuatan miliknya yang dia sembunyikan? Aku sangat yakin dia bahkan bisa menyelesaikan ujian ini dalam satu hari jika seandainya aku tidak menaikkan tingkat kesulitannya!" serunya dalam hati, namun ekspresi wajahnya tampak tetap tenang menonton ujian.

__ADS_1


"Untungnya Kaisar tidak ada di sini, aku masih memiliki harapan untuk menyembunyikannya jika memang anak ini bukan mata-mata yang dikirim ke sekte kami...."


Pemikiran yang begitu mengejutkan ini membuat senyum kecil tercipta di wajahnya. Mimpi lamanya yang telah dikubur sangat dalam di hatinya mendadak mulai naik kembali dan kilau harapan terlihat pada kedua matanya. Dia menatap Weng Lou seperti sedang melihat malaikat keberuntungan yang muncul dalam rupa anak remaja.


***


Di dalam labirin, tubuh Weng Lou mendadak menggigil ketakutan saat tatapan dari Patriak Sekte Bambu Giok itu tertuju ke arahnya.


Senyum masam terlihat pada wajah Weng Lou ketika dia mencibir sang Patriak Sekte Bambu Giok tersebut karena tidak berusaha menutupi sedikitpun emosi yang terarah padanya itu.


"Apa yang kau harapkan dariku pak tua sialan? Aku bahkan sedang berusaha di sini, dan kau malah mengharapkan sesuatu dariku."


*TSAK*


Dalam satu sapuan, salah satu kepala siluman langsung terlepas dari tubuhnya begitu Weng Lou menariknya dengan 'pelan'. Kepala siluman itu kemudian dilemparkan kepada dua siluman yang melompat menerjang ke arahnya dari belakang, dan membuat tubuh kedua siluman itu hancur berantakan karena dampak dari lemparan Weng Lou tersebut begitu besar.


Tak sampai lima menit, Weng Lou sudah selesai membereskan para siluman itu dan kini dirinya tiba di persimpangan jalan yang mengarah ke dua jalan berbeda dan tampak sama di mata Weng Lou.


Weng Lou memejamkan matanya, lalu mulai menarik napas pelan. Dia mulai merasakan benda di sekitarnya, mulai dari udara, angin yang berhembus, suara napas para binatang buas dan siluman, hingga kemudian beberapa suara langkah kaki dari para peserta yang lainnya. Indra Weng Lou yang begitu mengerikan itu kemudian merasakan sesuatu di salah satu jalan di depannya dan segera membuka kedua matanya lagi lalu segera mengambil jalan dimana dia merasakan sesuatu tersebut.


Langkah kakinya begitu ringan, namun setiap langkah yang diambilnya langsung memotong lebih dari lima meter, sehingga dalam kurun waktu beberapa detik, dia telah melewati puluhan meter.


Tepat setelah dia menempuh jarak 200 meter, dirinya dihadapkan dengan sebuah lorong yang di tiap dindingnya ditanami oleh ratusan bunga yang memiliki bentuk dan warna beraneka ragam. Lorong labirin yang ditanami oleh bunga-bunga itu memiliki panjang nyaris seratus meter, dan di sekitarnya terdapat ratusan serangga yang terbang ke sana kemari menghinggapi tiap bunga.


Langkah kaki Weng Lou terhenti melihat ini, dan matanya menyipit saat menemukan bahwa udara di dalam lorong penuh bunga itu dipenuhi dengan racun yang cukup kuat.


"Apa-apaan? Mereka benar-benar berniat untuk membunuhku atau apa?"


Dengan cepat Weng Lou bisa tau bahwa lorong ini adalah salah satu rintangan Ujian ya g diciptakan khusus untuk para peserta sepertinya. Namun hal yang tidak bisa dia cerna adalah, bagaimana mungkin mereka menempatkan lorong mematikan ini beberapa kilometer dari titik mulai ujiannya.


Ketika Weng Lou sibuk memperhatikan bunga dan serangga yang ada di lorong labirin itu, matanya secara tidak sengaja terhenti pada sesuatu di ujung lorong itu yang mana terdapat sebuah tanaman bonsai yang memiliki bunga berwarna kuning terang.


Jika dilihat sekilas, tanaman tersebut tidak tampak aneh sedikitpun, tapi setelah diperhatikan baik-baik, bisa dilihat bahwa tidak ada seekor serangga pun dalam radius lima meter dari tanaman itu yang mana membuat rasa penasaran Weng Lou menjadi bangkit. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sebelum kemudian tertawa pelan.


"Hahaha.....aku pasti akan menyesali ini."


Begitu dia mengatakan hal itu, dia segera memfokuskan tatapannya ke depan. Sebuah pisau pendek dikeluarkan nya dari balik bajunya dan di genggamannya erat di tangan kirinya.


Matanya menatap satu persatu serangga di lorong itu dan bergumam tidak jelas. Aura serius mendadak dikeluarkannya, dan dalam satu tarikan napas panjang, Weng Lou langsung melesat memasuki lorong itu.


Dia tidak mengeluarkan kecepatan penuhnya melainkan hanya berlari dalam kecepatan normal yang masih bisa diikuti oleh mata manusia biasa. Hal ini dilakukan agar tidak menabrak para serangga yang berada di lorong ini.


Pasalnya, racun yang menyebar di seluruh lorong tersebut berasal dari para serangga ini, dan jika tanpa sengaja dia menabrak serangga-serangga ini, ada kemungkinan racun masuk ke dalam tubuhnya. Meski dia tidak tau apakah racun ini akan berdampak padanya, namun tidak ada salahnya untuk berhati-hati. Mau bagaimanapun, nyawanya adalah prioritas nomor satunya.

__ADS_1


__ADS_2