Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 393. Bagian Luar Dari Lorong Bawah Tanah


__ADS_3

Jika pada film-film barat dimana sebuah lorong bawah tanah dibentuk dan terdapat beberapa batuan yang dijadikan penyangga agar lorong bawah tanah tidak ambruk, maka lorong yang dilewati oleh Weng Lou dan Shan Hu saat ini berbeda.


Lorong yang mereka lewati ini hanyalah sebuah lorong bawah tanah biasa yang tampak seperti sebuah lobang bawah tanah yang alami tercipta.


Meski begitu, lorong ini tetap kokoh.


Dengan tinggi hingga mencapai langit-langitnya hanya 2 setengah meter, lorong itu terus memanjang hingga mencapai satu kilometer lebih.


Tap....tap...tap...


Weng Lou dan Shan Hu berjalan masuk lorong gelap itu tanpa menciptakan alat penerangan apapun.


Bermodalkan Qi yang dialirkan pada kedua mata mereka, keduanya tanpa ragu terus menelusuri lorong tersebut. Celah-celah tanah pada lorong bisa dilihat oleh keduanya tanpa masalah sama sekali.


Yang jadi masalah adalah, mereka tidak tau seberapa jauh dan panjangkah lorong ini.


Setelah dua menit berjalan, Weng Lou dan Shan Hu mendadak berhenti berjalan ketika menyadari bahwa pada bagian tepi lorong terdapat sebuah lorong lainnya yang tidak terlihat oleh bola Qi milik Weng Lou sebelumnya.


"Bagaimana ini, tuan?" tanya Shan Hu.


Dia sudah curiga mustahil lorong sepanjang inj hanya akan ada satu jalur saja. Lorong bawah tanah seperti ini biasanya memiliki banyak sekali percabangan di setiap beberapa meter.


"Kita terus saja jalan melewati jalur ini. Lorong itu terlihat lebih kecil dari yang ini, yang berarti lorong yang saat ini kita ambil merupakan lorong utama, atau jalur utama. Ayo, kita lanjut jalan saja," ucap Weng Lou yang tanpa ragu meninggalkan Shan Hu yang sedikit bimbang.


Apa yang dikatakan oleh Weng Lou itu cukup masuk akal baginya.


Tapi tetap saja, lorong ini tidak bisa mereka hiraukan begitu saja.


"Tuan, bukan ide baik membiarkan lorong ini begitu saja. Takutnya nanti-"


Ucapan Shan Hu terhenti ketika sesuatu yang menyerupai ekor yang sangat panjang keluar dari dalan lorong yang mereka temukan dan menyerang ke arahnya.


"Hm? Ekor apa ini?"


Dengan santai Weng Lou menangkap ekor igu dan kemudian menariknya.


Tha-!!! Buck!


Sosok makhluk tertarik keluar begitu Weng Lou menarik ekor panjang itu.


Alis mata Weng Lou mengerut begitu melihat sosok apa itu. Itu adalah seekor tikus raksasa yang memiliki tubuh sebesar Shan Hu dengan dua buah taring atas yang panjang dan tajam, serta ekor yang tidak kalah panjang. Pada keempat kakinya dilengkapi dengan kuku-kuku panjang dan sedikit melengkung.


Tubuh tikus ini ditutupi oleh bulu hitam gelap yang bahkan membuatnya tidak bisa terlihat jelas dalam gelap meski sudah menggunakan bantuan Qi sekalipun.


Yang mencengangkan dark tikus ini adalah kekuatan. Itu adalah Dasar Pondasi tingkat 12!


Yah, jika harus dibandingkan dengan banyak binatang buas yang talh dilawan oleh Weng Lou selama ini, tikus ini tidak ada apa-apanya.


Tapi meski begitu, untuk sekelas tikus, memiliki kekuatan seperti itu adalah sesuatu yang benar-benar gila, pikir Weng Lou.

__ADS_1


Ciiii!!!! CIITTTT!!! CIIITT!!!


Tikus itu tersadar dari rasa terkejutnya karena ditarik oleh Weng Lou.


Dia memberontak dan berencana menyerang Weng Lou, tapi segera di tahan oleh Shan Hu dengan cara memegang kepalanya.


"Tikus kecil, berani kau macam-macam...."


Thaaa-psssh.....


Dalam satu kali gerakan, kepala tikus itu pecah bagai sebuah kaca yang sangat rapuh.


"Tikus ini cukup gila karena berani menyerang mu, Tuan," kata Shan Hu.


Weng Lou hanya diam mendengar itu dia memilih untuk menatap ke arah lorong yang baru mereka temukan sebelumnya.


Mengaliri Qi pada kedua matanya dalam jumlah yang lebih besar, Weng Lou sanggup melihat sejauh lebih dari 500 meter yabg ada di depannya dengan sangat jelas, seperti tidak berada di kegelapan sama sekali.


Tapi anehnya, raut wajah Weng Lou tampak berubah drastis begitu melihat apa yang ada di dalam lorong gelap itu.


"Apa-apaan?!"


Sedalam lorong itu, hanya ada tikus-tikus raksasa saja yang sedang diam di tempat mereka sambil menatap ke arah tempat Weng Lou. Sepertinya mereka bereaksi terhadap cicitan dari tikus yang dibunuh oleh Shan Hu.


Shan Hu yang ada disitu ikut menatap ke arah lorong itu dan reaksinya juga sama terkejutnya.


Kekuatan mereka tidaklah membuat Weng Lou takut sama sekali, hanya saja jumlahnya sangatlah mengkhawatirkan. Jika ini adalah Kota Bintang Putih maka jelas semua tikus ini sanggup meratakannya dalam beberapa menit saja jika tidak ada seseorang dari ranah Pembersihan Jiwa yang menghentikan mereka.


"Tuan.... tikus-tikus ini...."


"Tidak, kita tidak akan membunuh mereka. Ini bukanlah kota yang kita kenal, dimana para penduduknya juga tidak kita kenal sama sekali.


Lagi pula, apa yang bisa dilakukan oleh tikus-tikus ini terhadap penduduk Kota Hundan yang sebagian besar merupakan seorang Praktisi Beladiri yang berada di ranah Pembersihan Jiwa?


Paling banyak mereka hanya akan bisa melakukan beberapa kekacauan sebelum kemudian mereka semua akan dilenyapkan oleh seseorang. Entah itu cepat atau lambat, tikus-tikus ini akan mati," jelas Weng Lou.


Shan Hu mengangguk setuju akan hal itu. Dia juga tidak mengenal satu pun orang-orang yang tinggal di Kota Hundan.


"Ayo lanjutkan perjalanan, tikus-tikus itu tak akan berani melakukan sesuatu kepada kita."


Selesai mengatakan itu, Weng Lou dan Shan Hu pun melanjutkan perjalanan mereka.


Selang sepuluh menit kemudian.


Weng Lou dan Shan Hu masih berjalan di lorong bawah tanah, akan tetapi mereka bisa merasakan bahwa lorong yang mereka lewati saat ini sedikit demi sedikit mengarah ke atas.


"Sebentar lagi kita sampai di ujung lorong ini," ucap Weng Lou yang mempercepat langkahnya.


Beberapa saat kemudian, benar saja mereka sudah sampai diujung lorong itu, dimana terdapat benjolan yang terbuat dari logam, sama seperti sebelumnya yang menutup lorong ini.

__ADS_1


Weng Lou meraba-raba benjolan itu sebelum kemudian menemukan benjolan kecil lain.


Srrrtttt....


Ketika Weng Lou menekan benjolan itu dinding di depan mereka bergetar dan kemudian bergerak, memperlihatkan apa yang ada di baliknya.


Cahaya matahari merengsek masuk dam membuat Weng Lou dan Shan Hu menjadi silau.


Keduanya menyipitkan mata selama beberapa saat sebelum kemudian mata mereka terbiasa dengan keterangan saat ini.


Apa yang mereka lihat sekarang adalah sebuah Padang rumput dimana terlihat pepohonan yang mengelilinginya.


"Ini benar-benar mengarah keluar dari Kota Hundan."


Ksss....


Weng Lou melangkahkan kakinya keluar dari lorong itu dan menginjakkan kakinya pada rumput setinggi lututnya.


Dia terus melangkah dan diikuti oleh Shan Hu di belakangnya. Keduanya terus berjalan sebelum kemudian berhenti di tengah padang rumput itu.


Weng Lou membalik badan dan melihat bahwa pintu lorong yang sebelumnya mereka lewati berada pada sebuah batu raksasa dan terlihat itu mengarah ke bawah tanah.


"Aku tidak tau sejauh mana kita telah pergi, tapi sepertinya kita tidak akan mendapatkan apa-apa di sini untuk saat ini." Weng Lou berbicara sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya.


"Aku juga berpikir seperti itu tuan," balas Shan Hu.


Ketika mereka berniat untuk pergi, mendadak terdengar suara gemersik semak-semak yang berada agak jauh dari mereka.


Senyum kecil terlihat dari bibir Weng Lou sebelum kemudian memberi tanda kepada Shan Hu.


Shan Hu mengangguk, dan detik berikutnya sosoknya pun menghilang dan kemudian muncul di semak-semak yang berbunyi sebelumnya dimana terlihat sosok seorang pria yang melesat ke satu arah, yang sebelumnya sedang mengawasi Weng Lou dan Shan Hu.


Sosok Shan Hu kembali menghilang, dan beberapa saat kemudian, dirinya muncul tepat di depan pria yang sedang melesat pergi itu.


!!!


Pria itu terkejut akan kemunculan Shan Hu. Tapi kemudian dia melesatkan serangan menggunakan belatinya kepada Shan Hu.


"Tenanglah."


Tck!


Belati pria itu ditahan dengan mudah oleh Shan Hu menggunakan telapak tangannya.


Rasa terkejut kembali muncul pada pria itu, tapi sebelum dia bisa melakukan sesuatu, Shan Hu sudah lebih dulu melakukan sesuatu.


Dia dengan gerakan cepat bergerak dan melakukan sebuah pukulan tepat di depan mata pria itu, yang mengakibatkan angin kejut yang membuat tubuh pria itu sampai terlempar mundur sangat jauh sebelum kemudian mendarat tepat di depan Weng Lou.


"Bagus, setidaknya aku tidak perlu repot-repot mencari mu."

__ADS_1


__ADS_2