Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 537. Kapal Uap dan Kedatangan


__ADS_3

"Melewati Lautan Mati?! Uhuk!! Uhuk!!!" Ayah Choi langsung terbatuk darah mendengarkan ucapan Weng Lou.


Darimana datangnya Weng Lou yang memiliki kegilaan melebihi anaknya ini?! Bahkan Ayah Choi merasa nyawanya hampir saja menyebrangi jembatan kematian begitu mendengarkan kata-kata nya!


"Kau...uhuk! Kau bercanda bukan, nak?!" Meski sudah mendengar kata-kata Weng Lou, tapi dia merasa bahwa dirinya lah yang salah dengar, karena mau bagaimana pun Weng Lou hanyalah seorang anak yang belum berusia 17 tahun.


Weng Lou menggelengkan kepalanya sebelum berbicara dengan enteng, "Aku tidak bercanda. Satu-satunya alasanku ke sini adalah untuk meminta kalian membuatkan ku sebuah kapal yang memenuhi standar untuk melewati Lautan Mati. Tentu saja, mesin uap ini akan ditambahkan pada kapal tersebut sehingga menjadi kapal uap pertama di dunia ini!"


Bukannya membaik, kondisi Ayah Choi justru tambah parah. Napasnya terasa sesak dan dia menatap Choi yang ada di sampingnya. Wajah Choi tampak khawatir, tapi di sisi lain kedua matanya menunjukkan bahwa dia sudah tau mengenai keinginan Weng Lou ini.


"Aku memiliki cetak biru dari kapal cocok untuk hal tersebut. Kita bisa merubahnya sedikit untuk menyesuaikan dengan mesin uap ini," ujar Choi sambil mengelap darah di mulut ayahnya lalu menatap Weng Lou dengan serius.


Senyum kecil tampak pada sudut bibir Weng Lou. Dia pun mengeluarkan sebuah permata berwarna biru langit dari balik bajunya dan melemparkan permata itu pada Choi. Dengan panik Choi menangkapnya. Permata itu hampir saja jatuh ke sela-sela lantai dan berakhir di laut dalam. Untung saja Choi memiliki refleks yang cukup bagus.


Kilau dari permata di tangannya terpantul ke matanya dan membuat permata itu tampak sangat berharga. Choi hanya bisa menelan ludah ketika membayangkan berapa harga dari permata ini jika dijual dalam bentuk koin emas.


"Pakai itu untuk membeli bahan yang kau butuhkan, dan jika kurang bicara saja padaku. Akan kuberikan yang lainnya untukmu," ucap Weng Lou sambil berbalik dan melambaikan tangannya.


"Eh?! Kau mau pergi? Tapi bagaimana jika aku malah membawa kabur permata berharga ini darimu? Apa kau tidak takut?!"


Jika seharusnya Weng Lou yang takut jika permata itu dicuri, tapi saat ini Choi lah yang merasa takut. Dia tidak tau batas dari pemikirannya yang mungkin akan membuatnya berbuat jahat dengan permata di tangannya ini.


Weng Lou menoleh dan tertawa pelan mendengar itu, "Takut? Aku tidak takut sedikitpun. Bagaimana pun, aku bisa menemukanmu kemana pun kau kabur."


Tangan kanan Weng Lou mencengkram erat palu yang seluruhnya terbuat dari logam itu, lalu membentuknya menjadi sebuah bola logam utuh yang kemudian digelindingkan nya di lantai pada Choi.


Mulut Chou terbuka lebar melihat itu, dia baru sadar bahwa remaja di depannya ini ternyata adalah seorang Praktisi Beladiri! Di sisi lain, ayah Choi yang sudah mengetahui bahwa Weng Lou adalah seorang Praktisi Beladiri terkejut karena hal lainnya.


'Dia meremukkannya! Palu dari Baja Hitam yang sangat kuat dan tahan panas itu dibuatnya menjadi sebuah bola logam biasa hanya dengan tangannya!' Ayah Choi sampai tak bisa mengatakan apapun.


Dia juga seorang Praktisi Beladiri karena telah menjadi seorang Tukang Kayu yang sangat lama. Bisa dibilang pengetahuannya tentang dunia beladiri cukup luas, dan dia tau seberapa mengerikannya kekuatan yang ditunjukkan Weng Lou tersebut.


Meski sudah bertahun-tahun menjadi Tukang Kayu, tapi dia hanya berhasil menjadi Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 3. Dia tidak bisa naik tingkat lebih jauh karena tidak mengerti cara menyerap tenaga dalam alam dan mengubahnya menjadi tenaga dalam miliknya. Tapi kekuatan fisiknya bisa dibilang sudah jauh melampaui Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 3 pada umumnya sama halnya seperti Weng Lou.


'Setidaknya kekuatan yang ditunjukkannya itu berada di Dasar Pondasi tingkat 6 atau lebih. Seorang anak muda dengan kekuatan sebesar itu, dia pasti merupakan seorang jenius dari organisasi besar yang sering terdengar itu,' pikirnya dengan tenang.


Dia telah melupakan penyakitnya yang kambuh dan segera bangkit berdiri dan dengan cepat mengambil permata di tangan Chou tanpa peringatan apapun.


"Ayah?!" Choi jelas terkejut dengan ini dan dia berniat mengambil permata itu kembali tapi segera menerima sebuah jitakan keras di kepalanya.


"Aku yang akan membeli semua bahan pembuatan kapal itu, mempercayakan benda seberharga ini padamu adalah resiko besar yang tidak mau aku ambil," ucapnya yang segera meninggalkan Choi yang masih mengelus kepalanya yang terasa sakit.


"Bukannya aku akan membawa kabur permata itu..." gumananya dengan jengkel namun bisa terdengar oleh telinga ayah Choi.


"Aku akan percaya jika kau bisa menuliskan semua daftar bahan dan alat yang dibutuhkan untuk membuat kapal ciptaan mu itu!" seru ayahnya tanpa menoleh sedikitpun.


Choi sudah akan kabur saat itu, karena berpikir ayahnya akan memarahinya lagi. Tapi mendengar ucapan ayahnya tersebut membuatnya merasa sedikit senang. Dia pun buru-buru berlari menuju gudang bengkel yang menjadi tempat kerjanya sambil mengambil cetak biru yang memiliki gambar desain dari kapal yang telah dia katakan sebelumnya.


***

__ADS_1


Keesokan harinya, Weng Lou datang kembali dan segera disambut oleh pemandangan yang cukup menakjubkan.


Semua bahan dan alat untuk membuat kapal sudah dikumpulkan oleh ayah Choi dan hanya tinggal menunggu Weng Lou untuk mulai membuat kapalnya. Perlu Weng Lou akui, penilaiannya terhadap ayah Choi ini mungkin telah salah sebelumnya.


'Tidak heran dia bahkan menjadi pemimpin dari semua Tukang Kayu di kota ini. Dia sudah sangat ahli dalam pekerjaan seperti ini dan memiliki cara pandang yang jauh lebih ke depan daripada kebanyakan Tukang Kayu lainnya.' Weng Lou memuji pekerjaan Ayah Choi dalam hatinya. Walau umurnya sudah tidak muda lagi, namun tidak ada yang bisa dibandingkan dengannya.


"Ah, anda sudah di sini. Aku dan anakku sedang memodifikasi desain kapal agar cocok dengan mesin uap anda." Ayah Choi keluar dari dalam gudang peralatan saat dirinya melihat kedatangan Weng Lou. Dia sedikit membungkuk hormat pada Weng Lou saat memberinya salam.


Sikapnya sedikit berubah setelah melihat kekuatan Weng Lou kemarin. Sudah rahasia umum bahwa hanya yang kuat saja yang akan dihormati di dunia ini. Dan Weng Lou sudah membuktikan bahwa dia memang layak untuk menerima penghormatan darinya, maka wajar saja dia bersikap seperti itu.


"Ah, kau! Kemarilah! Coba berikan komentar mu pada desain kapal ini!"


Tak berapa lama, Choi juga keluar dari dalam gudang sambil membawa cetak biru berisi desain kapal yang dia sudah modifikasi itu. Weng Lou segera berjalan ke arahnya dan melihatnya.


Dalam diamnya, dia mensimulasikan pembuatan kapal itu. Kepalanya mengangguk ketika kerangka kapal dari logam sutuhnya itu telah selesai dibuat didalam kepalanya. Tapi kemudian, dahinya mengernyit saat ketika badan kapal mulai dibuat, sebuah kesalahan besar terjadi ketika dia mensimulasikan pembuatannya dan membuat Weng Lou merenung selama beberapa saat.


Tanpa berbicara apapun, dia berjalan ke dalam gudang dan meletakkan cetak biru itu di meja, lalu mulai merubah struktur dan komponen dari badan kapal. Choi cukup terkejut menyaksikan ini, begitu juga dengan ayahnya.


Weng Lou dengan lincahnya mencoret kesalahan-kesalahan pada desain kapal, dan menggambarkan perbaikan yang jauh lebih baik. Hanya dalam waktu lima menit, Weng Lou sudah selesai mengubah sebagian desain kapal itu sementara Choi yang ada di situ sibuk memperhatikan desain kapal yang telah diperbaiki oleh Weng Lou itu.


"Em! Sempurna!" Weng Lou mempersilahkan Choi dan ayahnya untuk melihat lebih dekat, sementara pergi keluar dan memeriksa mesin uap yang mereka ciptakan kemarin.


Dia berjongkok dan melihat sesuatu yang menyerupai rantai di sambungkan pada dua roda yang terhubung pada, "Sepertinya mereka cepat mengerti sistem kerjanya. Pembuatan rantai ini cukup baik, walau besar mesin uap ini sebenarnya bekum cukup untuk menggerakkan kapal besar."


*Sraakkk.....*


Weng Lou membuka tutup pada bagian atas mesin dan kemudian memasukkan air dalam jumlah cukup banyak. Dia kemudian menghubungkan sebuah tungku berukuran kecil yabg sudah menyala dan tak lama mesin itu pun mulai bekerja.


"Tidak ada masalah sama sekali," ucapnya. Dia pun menjauhkan kembali tungku dari mesin, dan mesin itu pun mulai berhenti perlahan.


"Kami sudah melihatnya, ini benar-benar sempurna! Ketahanan pada tekanan air yang tinggi di bagian badan dan bawah kapal sangat baik, tapi tidak mengubah massa nya. Dan juga sistem penggeraknya yang merupakan baling-baling itu, jika digerakkan dalam air sebuah kapal berukuran sedang bisa pulang pergi dari Pulau Gui ke Pulau Fanrong dalam 3 hari," ungkap Ayah Choi dengan penuh kekaguman di matanya.


"Bagus jika kalian sudah mengerti, apa kita bisa mulai membuatnya sekarang?" tanya Weng Lou yang langsung pada intinya.


"Tentu saja! Kita bisa memulainya sekarang!"


***


Delapan hari kemudian, di sebuah pantai terpencil dan tak terjamah oleh manusia.


*Syuurrr......*


Ombak di pantai bergulung dan tampak sebuah papan kayu berukuran sebesar tubuh orang dewasa terbawa oleh ombak.


Di atas papan itu, seorang wanita terbaring tak sadarkan diri. Seekor camar mendarat di samping kepalanya dan mematuk tepat di keningnya.


*Tak!*


"Whooaa!!!" Wanita itu langsung terbangun dan dia menemukan dirinya telah berada di pantai yang asing baginya. Raut wajahnya tampak kebingungan, dia memandang sekitarnya dan tidak menemukan seorang pun di situ.

__ADS_1


Ketika dia sedang berpikir, mendadak memori tentang kejadian yang membuatnya berakhir seperti saat ini mengalir deras di kepalanya dan membuatnya merasa sakit kepala, "Agh!"


Hal ini tidak berlangsung lama, perlahan napasnya tampak lega dan dia kembali berbaring di atas papan kayu tempat dia berada. Matanya menerawang langit biru yang sangat cerah. Tidak ada pemandangan yang lebih indah dari ini, pikirnya.


"Semuanya mati......bahkan kapal perang itu tidak bisa menahan amukan dari lima binatang buas lautan tingkat raja sekalipun. Aku harus bersyukur karena masih bisa selamat," ucap wanita itu sambil mengingat kembali kejadian mengerikan yang telah menimpanya.


Dia adalah urusan sang Kaisar yang memiliki misi untuk menyelidiki mengenai Weng Lou yang berhasil dilacak oleh sang Kaisar sendiri. Dengan meminjam kapal perang dari Gubernur Ho, dia berlayar mengarungi lautan menuju ke Kepulauan Huwa.


Pada awalnya, perjalanan mereka tampak cukup mudah, namun begitu memasuki perairan Lautan Mati semuanya berubah. Mula-mula, beberapa binatang buas lautan dengan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa mulai menggangu mereka, dan lama kelamaan mulai menyerang secara terang-terangan. Dengan keberadaan wanita itu di atas kapal, semua binatang buas lautan ini bukanlah masalah besar, yang menjadi masalah utama adalah ketika kapal mereka memasuki bagian dalam Lautan Mati.


Karena aksinya yang membunuh beberapa binatang buas lautan dengan kekuatan di ranah Pembersihan Jiwa, binatang buas lautan dengan kekuatan yang lebih besar menyadari kedatangan mereka. Pertama, seekor kepiting raksasa dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 awal menyerang mereka secara bagian bawah kapal secara mendadak dan hampir membuat kapal yang dinaikinya terbalik. Dan kemudian belut raksasa yang memiliki kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 1 puncak ikut muncul, lalu bersama dengan kepiting raksasa, keduanya bertarung melawan wanita itu.


Dengan kekuatannya yang berada di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2, dia mampu mengimbangi sang kepiting dan belut raksasa itu. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, karena secara tiba-tiba 3 binatang buas lautan dengan kekuatan di ranah Penyatuan Jiwa tahap 2 muncul secara bersamaan dan segera membalikkan keadaan.


Dengan serangan dari lima binatang buas lautan ini, kapal yang dinaikinya pun hancur berkeping-keping, dan membunuh semua awak kapal yang ikut bersamanya. Sebelum dia benar-benar kalah, wanita itu menekan Qi dan aura kekuatannya hingga seminimal mungkin lalu dia kehilangan kesadarannya.


Untungnya dia berhasil selamat dan secara ajaib terbawa menuju ke daratan seperti ini.


"Terima kasih Dewa, kau masih memberikan ku kesempatan untuk hidup...." ucapnya yang menatap kelangit itu.


Dia memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya memulihkan diri sejenak. Suara ombak bisa didengarnya dengan jelas, tiupan angin yang menyejukkan membuatnya merasa nyaman.


Ketenangan itu membuatnya merasa lebih baik, tapi tidak berlangsung lama.


*Shashhh....* Kedua telinganya menangkap suara yang tidak berada jauh darinya, dan dia pun segera bangkit lalu berdiri ke arah asal suara yang dua dengar sebelumnya.


Semak-semak yang berada sekitar lima belas meter darinya terlihat tanda-tanda pergeakan dan membuat wanita itu semakin waspada. Dia tidak tau dimana dirinya berada saat ini, sehingga dia tidak boleh lengah sedikit pun atau dia akan mati tanpa sepengetahuannya.


*Skresss....* Semak-semak itu semakin mengeluarkan bunyi yang lebih nyaring dan tak lama kemudian seorang pemuda yang terlihat berusia dua puluhan berjalan keluar darinya. Pemuda itu tampak tidak menyadari mengenai keberadaan wanita itu dan sibuk berjalan masuk ke pantai dan mengambil sedikit air untuk mencuci ikan yang dibawa menggunakan sesuatu semacam tampi di tangannya.


Ketika pemuda itu sibuk mencuci ikan, perlahan wanita itu berjalan mendekat ke arahnya dan dengan cepat tiba di belakangnya tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


*Tap....* Tangannya segera menyentuh pundak pemuda itu yang sontak membuatnya merasa terkejut bukan main. Tapi dia tidak sempat bereaksi saat sebuah kekuatan besar menimpa dirinya dan membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.


"Diam, atau aku akan membunuhmu," ucap wanita tersebut dengan dingin di telinga pemuda itu.


Pemuda itu diam dan menjatuhkan tampi berisi ikan di tangannya sambil berbicara dengan gugup, "To-Tolong jangan membunuhku.....aku memiliki seorang adik yang masih sangat kecil, dia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa ku."


Kata-kata pemuda itu penuh dengan rasa takut dan was-was. Tidak ada yang tau apa yang akan terjadi setelah kejadian ini. Apakah dia akan mati, atau tetap hidup, wanita inilah yang akan memutuskannya. Wanita yang merupakan utusan Kaisar ini memperhatikan pakaian milik pemuda ini, dan menemukan bahwa pakaiannya berbeda dengan yang dipakai oleh orang-orang di Kekaisaran Ryuan.


"Beritahu aku, dimana ini sekarang?" tanya wanita itu tanpa menurunkan sedikit pun tekanan yang dia keluarkan.


Pemuda itu sedikit bingung dengan pertanyaan nya, tapi dengan cepat menjawab, "I-Ini di pantai timur Pulau Fanrong. Tolong ampuni aku, aku akan memberikanmu apapun yang kumiliki. Tolong jangan membunuhku...."


"Pulau Fanrong?!" Wanita itu terkejut mendengarnya. Dia secara ajaib selamat dari amukan lima ekor binatang buas lautan dan bahkan telah sampai di Pulau Fanrong yang merupakan bagian dari Kepulauan Huwa!


"Dewa benar-benar sangat baik kepadaku...." gumamnya tanpa bisa di dengar oleh pemuda itu.


*Slap!* Pemuda itu mendadak jatuh pingsan begitu menerima satu pukulan ringan di belakang kepalanya. Wanita itu segera membawanya ke tepian, dan pergi meninggalkannya seorang diri.

__ADS_1


Kini dia telah tiba di Pulau Fanrong, dia tidak boleh menunda-nunda misi yang diberikan oleh Tuannya sedetikpun.


__ADS_2