Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 547. Kelompok Sekte Bambu Giok


__ADS_3

Weng Lou tidak perlu waktu lama untuk selesai membereskan para pasukan penjaga Pulau Perbatasan. Dengan kekuatan mengerikan yang dia miliki, semua prajurit di markas tersebut tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti padanya.


Tepat ketika dia selesai menghajar pemimpin para prajurit tersebut, Kera Hitam Petarung datang ke situ dan memberitahu bahwa dia telah selesai mengurus para penjaga di menara penjaga dekat pantai. Dia dan Weng Lou memang membagi tugas sebelumnya, Weng Lou mengurus para penjaga di sini sementara Kera Hitam Petarung mengurus penjaga yang masih tersisa di menara penjaga.


Setelah selesai, mereka pun mulai mengumpulkan informasi dari menara dan markas para pasukan penjaga Pulau Perbatasan ini. Hanya memerlukan waktu beberapa jam saja untuk mereka selesai mengumpulkan ingin yang mereka butuhkan, dan mereka pun meninggalkan Pulau Perbatasan itu yang telah mereka buat menjadi porak poranda.


Pinggir pantai Pulau Fenshu.


Kapal kelompok Weng Lou sedang berlayar pelan ke arah sebuah hutan bakau yang cukup lebat. Mereka masuk ke sebuah jalur cukup besar untuk kapal mereka masuki dan berlayar kecepatan minimum. Dengan kecepatan tersebut, Weng Lou bisa dengan mudah menghindari pohon-pohon bakau.


Terkadang, beberapa monyet berekor panjang terlihat bergelantung dari satu pohon ke pohon yang lain di dekat kapal mereka sambil mengamat-amati apakah ada sesuatu yang bisa mereka lakukan untuk mengganggu kelompok Weng Lou.


Di atas atap ruangan kendali, Du Zhe duduk dengan tenang bersama Kera Hitam Petarung sambil sibuk memperhatikan sekitar mereka.


"Tuan Kera Hitam, apakah tempat tinggal mu dulu seperi ini? Bersama keluarga mu, kau hidup di hutan dan bergelantungan bersama?" tanya Du Zhe dengan wajah penasaran.


"Pft-! Ahahahaha....pertanyaan yang bagus Du Zhe, Kera Hitam pasti dulunya sangat bahagia bisa memanjat pohon-pohon bersama dengan teman-temannya," celoteh Weng Lou sambil tertawa lepas dari dalam ruang kendali.


Kera Hitam Petarung menatap Du Zhe dengan tatapan menyelidiki tapi dia hanya bisa menemukan wajah tanpa dosa dan penuh rasa ingin tahu yang besar. Dia hanya bisa menghela napas panjang dan mengelus dengan pelan kepala Du Zhe.


"Tentu saja tidak. Aku dan keluargaku lebih suka menghabiskan waktu dengan bersantai menikmati hari. Namun karena beberapa gangguan dari para 'Praktisi Beladiri Jahat',


kami harus bisa bertarung untuk bisa terus mempertahankan hidup kami tiap harinya." Balasan dari Kera Hitam Petarung membuat tawa Weng Lou berhenti sementara Du Zhe mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti arti dari ucapan sang Kera Hitam Petarung itu.


Kapal uap mereka terus memasuki hutan, hingga akhirnya mereka sampai di tujuan mereka, yaitu sebuah pelabuhan yang sangat terpencil dan tertutup oleh pepohonan bakau yang lebat.


Ketika mereka memasuki wilayah pelabuhan, beberapa pasang mata segera menatap mereka dari pelabuhan. Terlihat wajah permusuhan sekaligus penasaran pada tatapan mereka ketika melihat kapal kelompok Weng Lou tersebut. Bukan karena apa, kapal tanpa layar satupun merupakan sesuatu yang tidak akan kau lihat di manapun di lautan, kapal uap Weng Lou adalah kapal pertama dan satu-satunya saat ini sehingga jelas mereka penasaran.


*Ssshhh.....* Kapal segera mencapai pelabuhan dan segera diberhentikan oleh sekelompok pria yang memiliki wajah galak dan dipenuhi dengan luka begitu mereka akan turun dari kapal.


"Siapa kalian? Darimana kalian mengetahui pelabuhan ini?" tanya seorang pria yang mengenakan cakar besi di tangannya. Dia menatap dengan serius wajah awal kapal Weng Lou yang baru akan menurunkan papan dari kapal.


Weng Lou segera berjalan ke depan para awaknya itu dan menatap kelompok pria tersebut sambil tersenyum kecil. Dari informasi yang didapatkan olehnya di Pulau Perbatasan, pulau ini adalah salah satu pelabuhan tersembunyi yang dipakai oleh para bajak laut dan penjahat lainnya untuk keluar masuk dari Pulau Fenshu.


Prajurit di Pulau Perbatasan berencana untuk menyerang dan memudahkan pelabuhan ini, namun pemimpin mereka langsung menghentikan tindakan mereka semua itu karena pelabuhan ini memiliki kegunaan yang tidak diketahui oleh prajurit biasa.


Dari luar, mungkin pelabuhan ini seperti sarang dari kejahatan yang perlu dibinasakan, namun sebenarnya tempat ini memiliki nilai kegunaan yang Kaisar Chizi Ryuan sendiri akui sehingga mendapatkan perlindungan khusus oleh para petinggi yang bertugas di wilayah perairan perbatasan.

__ADS_1


Karena Weng Lou telah membereskan semua pasukan penjaga Pulau Perbatasan, dia tentu saja sudah mendapatkan informasi mengenai hal ini dan nyatanya informasi ini tidaklah sulit untuk didapatkan olehnya. Terdapat satu lemari besar berisikan kertas yang merupakan bukti penjualan senjata ilegal dari pelabuhan ini dengan orang di Pulau Perbatasan, yang pastinya dilakukan oleh seorang petinggi atau bahkan pemimpin pasukan penjaga Pulau Perbatasan.


"Kami? Hahaha....kami dikenalkan oleh Pak Tua Beo Hitam tentang tempat ini. Kami memerlukan tempat beristirahat dan juga beberapa jalur khusus untuk memasuki wilayah Gubernur Zhonglie," ucap Weng Lou sambil melemparkan kantong kecil berisikan koin emas.


Mendengar nama Pak Tua Beo Hitam dari mulut Weng Lou membuat kelompok itu sedikit gelisah. Salah satu pria menangkap kantung tersebut dan memeriksa isinya, dia melihat koin emas yang dia kenali sebagai mata uang tertinggi yang digunakan di Kekaisaran Ryuan. Dia segera memasukkan kantung tersebut ke dalam bajunya. Dia mengangguk kepada Weng Lou dan segera membiarkan awak kapalnya untuk menurunkan papan dan mereka pun turun dari kapal.


Kelompok itu kemudian membawa para awak kapal bersama Weng Lou dan Du Zhe menuju ke sebuah penginapan di pelabuhan tersebut. Penginapan ini adalah penginapan terbaik di sini, dan juga memiliki restoran di lantai bawahnya sehingga Weng Lou dan yang lain bisa makan di tempat yang sama.


"Jika tidak ada yang anda butuhkan, kami akan pergi. Jalur yang anda minta akan kami bawakan besok pagi ke sini," ucap pemimpin kelompok itu yang merupakan pria yang menangkap kantung uang pemberian Weng Lou sebelumnya.


Weng Lou membiarkan mereka pergi sementara dia segera memesan kamar untuk semua orang yang bersamanya dan pergi untuk beristirahat.


Semua orang mendapatkan kamarnya sendiri-sendiri, bahkan Du Zhe sekalipun sehingga membuat Weng Lou memiliki waktu tenang di ruangan kamarnya. Untungnya Kera Hitam Petarung mau untuk tetao berdiam di dalam kapal setelah Weng Lou janjikan beberapa hal kepadanya, jika tidak dia akan kerepotan untuk membawanya ke sini.


"Hah.... yang terpenting adalah bagaimana caraku untuk memiliki Dantian kembali, atau paling tidak cara agar aku bisa menggunakan kekuatan jiwa ku. Aku bisa merasakan bahwa kekuatan jiwa ku masih tersimpan di suatu tempat di dalam tubuh ku tapi aku tidak bisa mengeluarkannya atau mengendalikannya sama sekali. Untuk membuat Dantian yang baru, aku belum pernah mendengarnya sama sekali sebelumnya, tapi seharusnya menggunakan kekuatan jiwa tanpa Dantian seharusnya masih bisa karena kekuatan jiwa langsung terhubung dengan jiwa itu sendiri."


Weng Lou terlarut dalam pemikirannya. Perjalanan dari Kepulauan Huwa menuju ke sini melewati Lautan Mati, membuat dirinya semakin sadar bahwa tanpa Qi atau Kekuatan Jiwa, dia akan sangat kesusahan untuk melakukan sesuatu. Para binatang buas lautan yang dia lawan dalam perjalanannya membuktikan bahwa tanpa keduanya dia hanya bisa melakukan beberapa serangan sederhana yang tidak terlalu mempan kepada binatang buas lautan.


Binatang Buas Lautan secara alami memiliki tubuh besar dan kuat yang merupakan musuh alami para petarung jarak dekat seperti Weng Lou yang berada dalam keadaan terlemahnya sekarang. Serangan menggunakan senjata atau serangan perubahan unsur adalah pilihan terbaik untuk melawan mereka karena tidak terbatas dengan ukuran tubuh mereka yang besar.


Setelah beberapa jam kemudian, Weng Lou tidak berhasil menemukan apapun dari pemikirannya dan memilih untuk tidur. Karena rasa lelah yang telah dia tumpuk selama ini, dia pun tertidur dengan cepat dan sangat terlelap.


Weng Lou tidak terlalu memikirkan mereka, dia segera memesan makanan dan makan dengan tenang di pojok seorang diri.


Ketika dia sedang menikmati makanannya, Weng Lou bisa melihat kedatangan dan kepergian beberapa orang di tempat itu. Sepertinya para penjahat dan orang biasa tetaplah manusia yang sama. Mereka mulai beraktivitas di pagi hari sama halnya dengan orang-orang biasa.


Seiring waktu, tempat itu mulai ramai hingga tidak ada lagi meja kosong yang bisa diisi.


Weng Lou sedang sibuk mendengarkan pembicaraan beberapa bajak laut yang duduk di samping mejanya saat sekelompok orang datang menghampiri dirinya dan terlihat memiliki niat buruk kepadanya. Kelompok ini memiliki pakaian yang sama yang berarti bahwa mereka berasal dari satu organisasi.


Akan tetapi, Weng Lou berpura-pura tidak menyadari kedatangan mereka dan memilih tetap duduk diam di tempatnya sambil terus menikmati kue di mejanya yang telah dia pesan seusai makanan sarapannya selesai dimakannya.


"Hei, anak kecil! Pergi dari sini, ini adalah meja kami. Kami sudah memesannya sejak beberapa saat yang lalu, tapi kau malah menempatinya!" Pemuda berusia awal dua puluh tahun yang merupakan salah satu bagian dari kelompok ini berjalan ke arah Weng Lou dan menendang pelan kursi yang diduduknya.


Seharusnya kursi itu akan sedikit tersentak jika diduduki oleh orang lain, namun ketika Weng Lou yang duduk di atasnya, kursi itu tidak bergerak sedikitpun dan malah kaki pemuda itu yang terlihat sedikit bergetar karena dampak tendangan yang dilakukan oleh nya malah kembali padanya.


Namun itu sudah cukup bagi Weng Lou, dia pun menoleh dan menatap pemuda yang berbicara dengannya tersebut dan tatapan sedikit bingung heran.

__ADS_1


"Hm? Benarkah? Tapi pamanku dan aku sudah duduk di sini semenjak restoran ini baru buka. Lalu kapan kalian memesannya? Apakah sebelum dibuka?" tanya Weng Lou dengan tatapan mata ingin tahunya.


Meski begitu, nada suaranya terdengar jelas bahwa dia sama sekali tidak tertipu oleh kata-kata pemuda tersebut dan malah membuat pemuda itu terdengar seperti seorang pendongeng. Wajah pemuda itu menjadi marah mendengar ucapan Weng Lou dan dia pun segera memegang pundak Weng Lou dengan erat.


"Dengar, aku masih berbicara baik-baik denganmu karena aku tidak ingin menyebabkan keributan di sini. Segera pergi dari sini, dan aku akan melupakan kata-kata mu barusan..." Senyum samar terlihat pada wajah Weng Lou saat pemuda itu, dia pun membalasnya dengan tatapan menantang, "Hmm? Tapi pamanku sudah datang ke sini, kau bisa mengatakan itu padanya."


Salah satu anggota awak kapal Weng Lou terlihat datang ke arah Weng Lou dengan tatapan keheranan saat dia melihat sosok pemuda yang bersamanya serta kelompok yang ada dengannya.


Dia adalah seorang pria berusia tiga puluhan dengan tubuh sedikit kekar dan merupakan seorang Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 4 puncak yang bisa menggunakan tenaga dalam nya pada batas tertentu. Dengan Dantian berunsur angin nya, dia sangat cocok untuk memastikan cuaca ketika mereka dalam perjalanan di kapal, ini alasan dia dipilih oleh Weng Lou.


Pemuda yang bersama dengan Weng Lou menoleh dan menatap sosok pria tersebut dan mengangkat sebelah alisnya.


"Hanya seorang Praktisi Beladiri Dasar Pondasi tingkat 4? Hah, dia bahkan akan langsung memberikan tempat ini kepada kami!" ucapnya dengan sombong dan segera melangkah maju ke depan pria itu dan menghentikan langkahnya.


"Hei, aku dan kelompok ku ingin duduk di tempat mu dan keponakan mu, apa kau keberatan untuk pergi?"


Dibandingkan dengan meminta, kata-kata pemuda itu lebih mengarah seperti perintah kepada pria tersebut. Pria itu menatap pemuda di depannya ini dari atas sampai bawah, lalu menoleh kepada Weng Lou yang duduk dengan manis di pojok ruangan dan tersenyum kepadanya.


Pemuda itu memanggil Weng Lou sebagai keponakan nya, apakah dia tidak salah dengar? Dia dengan jelas tau seberapa mengerikannya Weng Lou yang mampu bertarung seorang diri melawan ratusan Praktisi Beladiri sekaligus. Senyuman yang diberikan olehnya itu tentu mengisyaratkan bahwa jika dia berani mengatakan 'iya' pada pemuda ini, maka dia yang akan mati.


Dia menelan ludahnya, aura pemuda di depannya memiliki kekuatan di Dasar Pondasi tingkat 6 menengah, dan hampir mencapai puncak, namun dibandingkan dengan Weng Lou dia hanya seperti seekor semut kecil yang bisa dibasmi kapan saja oleh Weng Lou.


Setelah menarik napas dalam, pria itu pun menatap pemuda itu dan berbicara kepadanya, "Ma-Maaf, tapi aku dan keponakan ku sudah lebih dulu di sini dan kami ingin menikmati makanan di tempat ini. Silahkan cari tempat lain dan jangan ganggu kami lagi."


Dia segera melangkah melewati pemuda tersebut dan hendak duduk bersama Weng Lou, akan tetapi tangannya segera di tangkap oleh pemuda itu dan memperlihatkan wajahnya yang tampak jelek dan jelas dia sudah sangat marah besar.


"Kau! Biar kuberi pelajaran kepadamu-"


"Hentikan itu, ayo kita pergi saja mencari restoran lain." Seorang wanita diantara kelompok yang datang bersama pemuda itu berbicara memotong pemuda tersebut. Dia mengenakan topi besar yang memiliki tudung untuk menutup seluruh wajahnya dan pakaiannya tampak sedikit berbeda dengan orang-orang yang bersamanya.


"Tapi, Senior Nuan, dia sudah kurang ajar kepada kita! Sekte Bambu Giok kita tidak pernah mentoleransi orang-orang yang tidak menunjuk kan hormat nya pada kita, apalagi kepada anda, Senior!" Pemuda itu berusaha merubah pemikiran wanita yang dipanggil dengan Senior Nuan ini.


Namun wanita itu justru menatap Weng Lou yang masih tersenyum di tempat duduknya dengan perasaan tidak enak yang mengganjal hatinya.


"Kita akan pergi dari sini, jika kau masih ingin membantah, maka persiapkan dirimu untuk menerima hukuman!" ucapnya yang langsung berbalik dan pergi keluar dari situ. Pemuda itu mengepalkan tangannya dengan keras dan menatap pria yang menjadi 'paman' Weng Lou dengan mata penuh amarah.


"Lihat saja, jika aku bertemu dengan kalian di luar, maka kalian pasti akan kuhabisi!" Setelah mengatakan itu, dia pun melangkah pergi dengan terburu-buru sementara Weng Lou hanya tertawa kecil melihat kepergiannya.

__ADS_1


"Sekte Bambu Giok? Hmmmm harusnya itu adalah salah satu dari 3 sekte besar yang ada di Kekaisaran Ryuan. Mereka seharusnya memiliki kekuatan hampir sama dengan Sekte Langit Utara, sepertinya aku langsung menemukan tujuanku di pulau ini. Mari kita berharap, apakah mereka memiliki sesuatu yang cukup berguna untuk membantu masalah kekuatan jiwa ku."


__ADS_2