
Bersamaan dengan kata-katanya, aura membunuh dan tekanan yang sangat kuat keluar dari tubuh Weng Lou. Aura itu menyelimuti seluruh lingkungan sekitar Weng Lou dan membuat wajah wanita utusan Kaisar ini sedikit melangkah mundur.
"Kau berniat melawanku?" tanya wanita itu dengan sedikit terkejut.
"Melawanmu? Tidak tidak, aku berniat membunuhmu!"
Weng Lou menghentakkan kakinya, dan sebongkah tanah besar terangkat ke depannya.
*Buck!* Pukulan dilepaskan pada bongkahan tanah itu yang kemudian melesat cepat ke arah wanita tersebut.
"Ck! Dasar sombong! Jangan melebih-lebihkan dirimu sendiri!"
Layaknya memotong tahu, batu besar itu terbelah hanya dengan tebasan tebasan dari tangan kosong wanita tersebut.
Matanya dengan marah melihat di balik batu, namun tidak menemukan sosok Weng Lou. Pada saat yang bersamaan, dari sampingnya sebuah tendangan berkecepatan tinggi bergerak ke arah bahunya dan mengenainya dengan telak.
*Bam! Shuuuu-Prak!!!*
Sosok wanita tersebut melesat menabrak sebuah batu besar dan membuat batu itu langsung hancur berkeping-keping.
"Kheck.....hanya ini yang kau punya?!" Bangkit kembali berdiri, wanita itu meludahkan darah dari mulutnya.
Dia memasang kuda-kudanya dan menatap Weng Lou dengan tajam. Emosinya sudah kembali stabil, dia terlalu terbawa suasana sebelumnya sehingga sedikit ceroboh, tapi sekarang dia sudah bisa bertarung dengan pikiran lebih jernih.
*Huft.... * Weng Lou membuang napasnya dan bersiap kembali menyerang.
*Whussh!*
Dalam sepersekian detik, sosok Weng Lou telah melesat ke arah wanita itu dan segera disambut olehnya.
*Buck! Pack!* Keduanya saling bertukar serangan. Weng Lou melancarkan pukulan-pukulan cepat kepada lawannya itu, tapi semuanya berhasil ditangkis dengan baik.
Sebagai balasan, wanita yang menjadi lawan Weng Lou kemudian merubah pola kakinya. Dia bergerak kesamping, lalu melepaskan sebuah serangan tapak yang mengandung Qi murni.
Mata Weng Lou menatap serius tapak tersebut, dia segera memposisikan kedua tangannya untuk menahan serangan tersebut, akan tetapi serangan yang dia pikir akan datang itu ternyata hanya sebuah tipuan.
Pukulan yang terasa sangat berat mendadak mengenai dada Weng Lou dan membuat mulut Weng Lou terbuka karena napasnya terasa sesak. Lawannya memanfaatkan kesempatan tersebut dengan melancarkan serangan lainnya.
"Tinju Naga Besi, Deru Penghancuran!"
"Back! Buck! Pack!*
Tiga buah pukulan yang dilepaskan hampir dalam waktu bersamaan mendarat di tiga titik pada tubuh Weng Lou. Satu di pundak kirinya, satu di atas dadanya, dan satunya lagi tepat di tengah-tengah perutnya.
"Khoack!!"
Tubuh Weng Lou langsung terlempar dengan telak dan menghantam beberapa pepohonan. Tubuhnya kemudian berhenti begitu menabrak pohon ke sepuluh dan dengan tak berdaya Weng Lou terkapar di tanah.
Napasnya tampak tak beraturan dan darah mengalir keluar dari bekas pukulan di tubuhnya. Weng Lou menoleh dan melihat sosok wanita itu kini telah melesat ke arahnya dan sebuah pedang Qi kini terhunus ke arahnya.
"Bertarung melawan Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa memang cukup sulit tanpa Qi sedikitpun," gumam Weng Lou.
Secara ajaib, luka ditubuhnya mulai sembuh dan darah mulai berhenti mengalir. Lawannya tidak memperhatikan hal ini dan tetap menyerang Weng Lou.
Pedang Qi berwarna keemasan bergerak menusuk ke dada Weng Lou, saat kemudian kaki Weng Lou segera menendang tepi pedang itu dan membuatnya hancur berkeping-keping.
"Hmm???!!!" Keterkejutan bisa terlihat pada wajah wanita itu saat melihat pedang Qi di tangannya telah hancur.
Tapi keterkejutannya itu tak berlangsung lama, dia segera melancarkan serangan lainnya, yaitu sebuah tendangan yang dilapisi dengan Qi ke arah kepala Weng Lou.
"Huuuu.....Pengerasan....." ucap Weng Lou dengan tenang.
__ADS_1
Dia mengangkat kedua tangannya, dan menahan tendangan itu.
*Fhusshhh!!!!*
Angin bertiup kencang, dan tanah disekitar Weng Lou segera membentuk kawan begitu dia menerima tendangan tersebut. Namun wajah Weng Lou tidak menunjukkan kepanikan, dia dengan tenang mendorong kaki lawannya itu dan membuat dia terdorong mundur beberapa langkah.
"Haaah.....meski semua serangan mu itu cukup mematikan, namun aku bisa merasakan bahwa kau tidak berada dalam kondisi puncakmu, bukan?" Weng Lou bertanya sambil tersenyum penuh makna.
Wanita itu hanya mendengus sebagai balasan atas pertanyaan Weng Lou. "Bagaimana denganmu? Kau bahkan sepertinya tidak menggunakan Qi milikku sedikitpun? Apa kau meremehkan ku atau bagaimana?" Dia bertanya dengan dingin.
Sebagai sesama Praktisi Beladiri yang berada di ranah Penyatuan Jiwa, merupakan hal yang mudah untuk memindai kekuatan lawannya. Dia mengetahui bahwa semenjak awal pertarungan, Weng Lou tidak menggunakan Qi nya sedikitpun untuk melawannya sehingga dia merasa sedikit terhina.
"Qi? Hahaha....jika aku memilikinya kau pasti sudah lama mati di tanganku," ucap Weng Lou acuh tak acuh. Bukannya merasa puas, wanita tersebut malah merasa semakin terhina mendengar jawaban Weng Lou.
"Jadi kau ingin mengatakan bahwa jika kau menggunakan Qi, kau bisa membunuhmu, huh?!"
"Bukannya aku sombong, tapi itu adalah fakta." Weng Lou mengangkat kedua bahunya seperti tidak bersalah sama sekali. Mau bagaimana pun, Weng Lou merupakan petarung puncak dengan Qi miliknya. Dia tidak akan membuang waktunya melawan seseorang jika seandainya bisa melawan atau membunuhnya dengan cepat.
"Bagus, bagus sekali. Maka gunakan Qi mu itu dan kita liat apakah kau bisa membunuh ku!!!"
Seperti orang gila, lawan Weng Lou itu melesat kembali ke arah Weng Lou.
Tangan kanannya bergerak menusuk dada Weng Lou tapi segera ditangkap oleh Weng Lou yang menatap wanita itu keheranan, "Sudah ku katakan, aku tidak memiliki Qi. Kau ini bodoh atau apa?"
*Buck!*
"Hm! teruslah mengatakan omong kosong seperti itu, dan aku akan membunuhmu tanpa kau ketahui..." Dengan lincahnya wanita itu melepaskan diri dari tangkapan Weng Lou. Qi kemudian mengalir keluar dari dalam tubuhnya, lalu berubah menjadi sebuah tombak logam yang dipenuhi dengan duri.
*Tap...* Tombak itu digenggamnya erat, dan kemudian menusuk ke arah leher Weng Lou.
!!!
Weng Lou merasakan sinyal bahaya saat melihat tombak itu. Dia segera memusatkan kekuatannya pada kakinya dan melompat mundur sejauh mungkin dari situ. Tombak di tangan wanita itu pun meleset dan meluncur menancap ke tanah tempat Weng Lou berdiri sebelumnya.
Tepat sedetik setelah tombak tersebut menancap ke tanah, puluhan duri logam muncul dan menusuk ke berbagai arah dari dalam tanah. Wanita itu mendengus jengkel saat melihat Weng Lou yang berhasil menghindar tepat waktu.
"Aku ingin melihat seberapa lama kau bisa menghindari serangan ku!"
*Shua! Phu!!!* Seperti peluru yang ditembakkan, wanita itu melepaskan serangan tusukan dalam kecepatan yang mengerikan.
Dengan gesitnya Weng Lou menghindari satu persatu tusukan yang diberikan padanya itu. Duri-duri logam pun sedikit demi sedikit mulai memenuhi sekitar area pertarungan mereka hingga akhirnya tidak ada lagi tempat bagi Weng Lou untuk menghindar dan sebuah serangan tusukan yang jauh lebih kuat diarahkan padanya.
"Matiii!!!" seru wanita tersebut. Kesabarannya sudah habis, dan dia tidak bisa terus menerus bertarung melawan Weng Lou karena Qi miliknya sudah hampir habis.
*Sshhhh.....* Tusukan dari tombak tersebut mengarah dengan sangat cepat ke arah Weng Lou. Kedua mata Weng Lou sedikit bercahaya saat melihat tombak yang terbuat sepenuhnya dari logam itu menghujam ke arah kepalanya.
*Plash...* Tangan kiri Weng Lou bergerak dengan cepat dan menahan tombak itu. Duri-duri pada tombak itu segera menusuk telapak tangannya dan menembusnya membuat darah mengalir keluar dan mengotori tombak logam yang berkilau tersebut dengan warna merah darah.
"Hah! Mati kau!" Bersamaan dengan seruan itu, duri-duri pada tombak yang ditahan oleh Weng Lou mulai memanjang dan menusuk ke mata Weng Lou.
Pada saat ini, seluruh gerakan yang ada di sekitar Weng Lou tampak melambat dan duri yang mengarah pada mata Weng Lou seakan berhenti saking lambatnya gerakannya.
"Teknik Pembersih Jiwa. Mata Elang." Weng Lou mengaktifkan Teknik Pembersih Jiwa dan Mata Elang miliknya, dan mulai memindai sekitarnya dalam kurun waktu sepersekian detik.
Setelah selesai memindai, dia pun mensimulasikan apa yang akan terjadi jika dia hanya diam saja, atau bagaimana jika dia menahan diri yang sedang bergerak ke matanya.
"Aku mengerti, jadi dia tidak merubah seluruh Qi yang dia keluarkan sebelumnya menjadi tombak ini, melainkan menyimpannya pada bagian dalam tombak sehingga menjadi penyimpanan Qi sementara. Dia tidak perlu lagi mengaliri Qi yang ada di tubuhnya dan mengontrol perubahan tombaknya langsung dari tombak itu sehingga gerakan duri-duri ini sangat cepat sekaligus memiliki ketahanan yang sangat besar."
"Akan tetapi, yang dia lakukan ini termasuk sesuatu yang sangat beresiko. Karena jika dia kehilangan kendali pada Qi yang tersimpan pada tombak, maka tombak itu akan langsung meledak dan melukainya. Hehehe..... untungnya aku bisa melihat itu."
Dia pun menghentikan Teknik Pembersih Jiwa nya, dan gerakan duri yang mengarah padanya kembali seperti semula. Weng Lou tidak terlihat ingin menghentikan duri tersebut dan hanya memiringkan kepalanya untuk menghindar seminimal mungkin.
__ADS_1
*Tsh-* Duri itu menggores pipinya dan membuat darah mengalir keluar, tapi itu tidak dihiraukannya.
Tangan Weng Lou kemudian terkepal, dan dia segera memukul duri tersebut hingga mematahkannya. Tangan kirinya segera ditarik keluar dari duri yang menusuknya, dan secepat kilat dia segera melepaskan tendangannya ke arah tangan wanita itu yang memegang tombak logamnya.
"Kha!" Wanita itu mengerang kesakitan ketika jari-jarinya terkena tendangan berat dari Weng Lou. Dia bisa merasakan tulang jarinya gemetar karena terkena tendangan itu dan dia pun tanpa sengaja melepaskan genggamannya dari tombak yang dia buat.
"Sial!"
*KABOOM!!!*
Ledakan besar terjadi, dan segera menghantam tubuh wanita itu bersama dengan Weng Lou yang baru menghindari beberapa meter dari situ. Ledakan besar itu langsung menghancurkan lingkungan dalam radius lima puluh meter dan Weng Lou jelas berada di dalam kawasan yang terkena ledakan itu.
Dalam waktu yang sangat sempit sebelum ledakan mencapai dirinya, Weng Lou mengencangkan seluruh otot pada tubuhnya dan memposisikan dirinya untuk bisa menahan ledakan itu.
*Fhuuuuu-!!!!!*
Angin kencang hasil dari ledakan itu segera menerpa pepohonan di luar kawasan ledakan, dan membuat pohon-pohon itu miring karena kuatnya angin tersebut.
Suara nyaring dari ledakan itu dapat terdengar dengan jelas dari Kota Rengu, dan segera membuat para penduduk menjadi kebingungan karena tidak tau asal dari ledakan itu. Sementara itu, beberapa ratus meter dari lokasi pertarungan Weng Lou, Kera Hitam Petarung yang membawa sosok Du Zhe bersamanya berhenti berlari karena mendengar ledakan itu dan segera menoleh ke arah kepulan asap besar yang membumbung tinggi ke langit.
"Kekuatan ini.....itu adalah Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa...." gumam Kera Hitam Petarung dengan serius.
Sebelumnya dia telah diminta Weng Lou untuk pergi bersama Du Zhe ke Perguruan Iblis Merah lebih dulu dan dirinya mengetahui bahwa ada sesuatu yang akan terjadi saat melihat tatapan mata Weng Lou di Kota Rengu. Sekarang dia mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa telah muncul dan kini bertarung melawan Weng Lou.
Melihat dari besarnya dampak pertempuran keduanya, dia bisa menyimpulkan bahwa setidaknya lawan Weng Lou ini memiliki kekuatan yang cukup merepotkan bagi Weng Lou.
"Hm...mau sekuat apapun dia, selama belum berada di tahap 3, maka mustahil untuk dia bisa memojokkan anak itu. Meski anak sialan itu hanya memiliki kekuatan fisik saja, tapi regenerasi tubuhnya sangat tidak wajar, dan kemampuan otot-otot nya itu benar-benar seperti binatang buas. Bahkan aku sendiri masih sedikit ragu untuk bertarung melawannya," gumam Kera Hitam Petarung yang kemudian melanjutkan untuk pergi.
Di tempat pertarungan Weng Lou, sebuah kawah besar terbentuk dari hasil ledakan yang terjadi sebelumnya.
Sosok manusia yang penuh luka di sekujur tubuhnya terlihat terbaring di atas tanah dan kedua matanya tampak kosong menatap langit. Dia adalah wanita utusan sang Kaisar yang sebelumnya bertarung melawan Weng Lou. Saat ledakan terjadi, dia berada tepat di tengah-tengah ledakan sehingga dampak ledakan itu mengenainya dengan telak tanpa memiliki waktu untuk menciptakan pelindung Qi atau pun dari Kekuatan Jiwa.
"Khuakk....." Darah dimuntahkannya dan dia merasakan tubuhnya yang dalam kondisi sangat parah terus melemah seiring waktu.
"Khua....aku harus mengalirkan Qi ku...." gumam wanita itu.
Qi di dalam tubuhnya pun mulai mengalir di seluruh tubuhnya, dan dengan memanfaatkan Qi nya, dia menyembuhkan beberapa lukanya yang menurutnya paling fatal.
Luka-lukanya itu mulai sembuh namun dengan kecepatan yang sangat lambat, berbeda jauh dengan kecepatan penyembuhan milik Weng Lou.
"Hoaaa....kau masih hidup!" Sebuah suara terdengar tidak jauh dari lokasi wanita itu dan sosok Weng yang yang bertelanjang dada dengan penuh luka di tubuhnya berjalan ke arah wanita itu. Mata wanita itu bergerak menatap sosok Weng Lou dalam diam, namun dalam hatinya dia telah ketakutan pada sosok anak di depannya ini.
Dengan kecepatan yang pasti, luka-luka gores pada tubuh Weng Lou mulai sembuh dan membuat wanita itu merasa semakin takut. Tepat ketika Weng Lou telah berada di depannya, luka-lukanya telah sembuh seutuhnya. Kecepatan regenerasi ini bahkan melebihi seekor binatang buas tingkat raja, pikir wanita itu.
"Kau....siapa kau sebenarnya?" tanya wanita itu dengan sisa-sisa tenaga yang dia punya.
"Aku? Sudah aku bilangkan, aku adalah penguasa Kepulauan Huwa." Jawaban Weng Lou itu membuat wanita itu semakin frustasi.
"Bunuh aku. Aku sudah kalah darimu."
"Ya, memang itu tujuanku."
.
*Splash!* Kaki Weng Lou menginjak tenggorokan wanita itu, dan langsung menghancurkannya seketika. Wanita itu mati dengan matanya yang menatap ke langit biru. Dia mati dalam pertempuran yang adil, sehingga tidak ada penyesalan baginya karena telah mati di tanga-kaki Weng Lou.
Mata Weng Lou hanya menatap dingin tubuh wanita itu dan dia segera mengambil dua buah cincin penyimpanan di tangan wanita itu lalu menggabungkannya ke dalam Kalung Spasial di lehernya.
"Hm...walau aku tidak bisa menggunakannya, tapi tidak ada salahnya membawanya," pikir Weng Lou. Dia kemudian berjalan keluar dari kawah itu dan melihat lingkungan sekitarnya yang sudah berantakan karena ledakan sebelumnya.
"Hm....kalau dipikir-pikir, aku membutuhkan senjata untuk bertarung. Pedang Naga Malam ku yang sudah diambil oleh Zhi Juan itu membuatku tidak memiliki senjata yang bisa membantu ku bertarung melawan musuh di ranah Penyatuan Jiwa."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku akan membuat sebuah senjata sebelum pergi besok."