
Menarik napas pelan, Weng Lou menatap satu persatu sosok Weng Wan, Weng Hua, dan juga Weng Ning.
Dia mengubah kedua tangannya menjadi terkepal, siap untuk memukul.
Tidak terlihat Qi yang dia keluarkan untuk melapisi kedua kepalan tangannya itu. Hanya dia buah kepalan tangan biasa.
Namun meski begitu, Weng Wan, dan yang lainnya tidak menurunkan kewaspadaan mereka sama sekali, justru sinyal-sinyal bahaya dari seluruh tubuh mereka seakan menyala dan memberitahukan pada mereka bahwa sebentar lagi akan ada bahaya besar yang menghantam mereka.
Dan benar saja, sedetik setelah sinyal bahaya itu muncul, sosok Weng Lou yang sebelumnya berdiri cukup jauh dari mereka, kimia hanya tinggal satu meter saja tepat di depan mata ketiganya.
"Mundur!!" teriak Weng Wan.
Dia mengepalkan tangannya, dan cahaya Qi mulai melapisi kedua tangannya.
Dia menyambut pukulan dari Weng Lou begitu saja, tanpa mengetahui resikonya sama sekali.
BAMMMM!!!!! BRACKKK!!!!!
Tubuh Weng Wan langsung terlempar begitu saja, dan langsung menabrak pepohonan di belakangnya dengan sangat keras.
Weng Hua, segera bereaksi. Dia menarik tubuh Weng Ning mundur, dan menghentakkan kakinya mundur dengan cepat.
Fhuuuuussshhh!!!!
Jarak antara keduanya dengan Weng Lou langsung melebar kembali. Tapi itu tak bertahan lama, sedetik kemudian, Weng Lou kembali menghilang dari pandangan mereka dan muncul tepat di atas kepala Weng Hua dengan kaki kanannya yang terangkat tinggi, siap menendangnya dengan tendang murni tanpa Qi sama sekali.
SHAAAA- BUMMM!!!!!
Mendadak Weng Wan yang sebelumnya terlempar di pepohonan sudah muncul di depan Weng Ning, dan menahan tendangan keras dari Weng Lou.
Bagai sebuah paku yang dipukul dengan palu, tubuh Weng Wan langsung terdorong masuk ke tanah karena menahan tendangan itu.
"Hua!!! Aku akan menjadi perisai, kalian berdua menyerangnya! Jangan takut! Kita pasti bisa!!! Kota sudah berjanji padanyaa!!!"
Meski kondisinya saat ini sedang tidak baik, namun Weng Wan masih memiliki rasa optimis yang membara.
Dia menyadarkan Weng Hua dan Weng Ning dari lamunan keduanya.
Mungkin pada saat-saat mereka masih bersama dengan Weng Lou dulu, Weng Wan tidak akan terlalu memaksakan dirinya dalam pertarungan, namun semenjak Weng Lou banyak sekali membantunya, dan dirinya menjadi murid di Keluarga Leluhur Weng, Weng Wan sudah memutuskan tujuannya berlatih beladiri, itu adalah untuk bisa melampaui Weng Lou!!
Api semangat mendadak berkobar di dalam hati Weng Hua dan Weng Ning, keduanya saling menatap satu sama lain, sebelum kemudian mengangguk bersama.
Mereka menatap Weng Lou yang ada di depan mereka, dan langsung melesat serangan mereka padanya.
"Kalian tidak berpikir aku akan membiarkan kalian berdua menyerang ku begitu saja, bukan?"
Weng Lou berniat untuk melakukan serangan tendangan lainnya, tapi kemudian dia menyadari kakinya pada saat ini sedang digenggam erat oleh Weng Wan yang tertancap di tanah.
"Kau tidak berpikir bahwa aku juga akan membiarkan mu menyerang kedua sahabatku, bukan?!" teriak Weng Wan.
Bukannya menjadi takut, senyuman pada wajah Weng Lou justru menjadi semakin lebar mendengar teriakan dari Weng Wan.
Sahabatnya ini telah menunjukkan tekadnya dalam pertarungan yang sesungguhnya! Inilah yang ia inginkan untuk dimiliki oleh mereka dengan bergabung menjadi murid dari Keluarga Leluhur Weng!
__ADS_1
SHUUU!!! PHHAA!!!
Tendangan kuat mendarat pada perut Weng Lou, dan sebuah serangan tapakan yang mengeluarkan hawa sangat dingin mengenai dadanya.
Fhuuusshhh-!!!! BAMMMM!!!!
Bruack!!
Tubuh Weng Lou langsung terbang dengan sangat cepat dan menabrak batu besar dua puluh meter di belakangnya, dan langsung menghancurkannya berkeping-keping.
Tidak berhenti sama disitu saja, Weng Hua mengaktifkan teknik pernapasan yang telah diajarkan oleh Weng Lou padanya, dan langsung melesat sangat cepat ke arah tempat Weng Lou mendarat.
"Tendangan Kuda Langit!!!"
SSRRRTTT......PRAAACKKK!!!!
Tubuh Weng Lou menerima tendangan itu dengan telak, dan membuatnya terlempar tinggi ke atas udara.
Tap!!!
Menendang kan kakinya ke tanah, Weng Hua pun melesat tinggi dan sampai di hadapan Weng Lou Qi pada kaki kanannya memadat dan cahaya biru tua dan hijau tampak mulai bergabung, dan dalam sedetik kemudian dua cahaya itu berubah menjadi warna biru muda yang mengeluarkan hawa dingin.
"Tendangan Badai Salju!!!" seru Weng Hua.
PAAAMMM!!!!!
Dia menendang kan kanannya itu dengan sekuat tenaga ke arah Weng Ning berdiri di atas tanah.
Kedua telapak tangan Weng Ning memancarkan cahaya biru pucat yang sangat dingin dan menusuk.
"Salju Pembeku Abadi!!!"
Begitu tubuh Weng Lou yang terlempar hanya tinggal beberapa kaki saja darinya, Weng Ning langsung melepaskan semua hawa dingin yang telah ia tahan di kedua telapak tangan.
WHHUUUAASSSHHHH!!!!!
Sebuah pusaran angin dingin langsung terbentuk dan menghantam tubuh Weng Lou begitu saja. Tubuhnya terdorong kembali ke atas, namun tidak setinggi sebelumnya.
"Itu belum semuanya, sialannn!!!!"
Tanpa aba sama sekali, Weng Wan menggabungkan kedua tangannya, dan mengepalkannya.
Qi berkumpul, dan membentuk seperti sebuah bola padat pada kedua tangannya yang menyatu itu.
"RASAKAN INIIIII!!! TINJU PRNGHANTAM GUNUNG!!!"
BAAMMM!!!!!
Pshhh-BRACKKKK!!!!
Bagai sebuah peluru, tubuh Weng Lou pun terbentur ke tanah dengan sangat kuat, hingga membuat sebuah kawah dengan diameter mencapai lima meter. Debu pun mengepul dengan tinggi, menutupi kawah tersebut, serta tubuh Weng Lou yang menghantam tanah.
Setelah menerima semua serangan itu, Weng Lou tidak mengeluarkan suara sama sekali. Dia seperti sebuah boneka latihan yang tidak bisa merasakan apapun yang diterimanya.
__ADS_1
Saat debu itu menghilang, terlihatlah sosok Weng Lou yang terbaring di atas tanah dalam kondisi pakaian yang compang-camping setelah menerima semua serangan yang diberikan oleh mereka bertiga.
Matanya terpejam, dan membuat Weng Wan berpikir bahwa serangan mereka telah berhasil mengalahkan Weng Lou seutuhnya.
"Tadi itu cukup sakit..." Mendadak Weng Lou berbicara dan membuka kedua matanya, membuat mereka semua terkejut bukan main.
Sekarang, rasa putus asa mulai muncul dalam hati Weng Wan dan yang lainnya.
Baru kali ini ada seseorang seperti Weng Lou yang mampu menerima semua serangan gabungan mereka.
Krack.... krack....
Sendi-sendi tulang Weng Lou berbunyi renyah, dan kemudian dia bangkit berdiri, dan menggerak-gerakkan seluruh tubuhnya.
Bunyi khas dari tulang yang kaku berbunyi dari sekujur tubuhnya.
Tadi seperti sebuah pemanasan ringan bagi Weng Lou, itulah yang dipikirkan oleh Weng Wan saat ini.
Weng Lou kemudian sedikit menundukkan tubuhnya, dan kemudian pun menghilang dari pandangan semua orang sekali lagi.
Dia pun muncul tepat di depan Weng Hua yang baru saja mendarat kembali di tanah.
Weng Hua tidak bisa bereaksi sama sekali, dia tidak siap akan gerakan tiba-tiba dari Weng Lou itu.
Menggerakkan tangannya, Weng Lou pun menarik kaki kanan Weng Hua, dan mengayunkan tubuhnya dengan sekuat tenaga ke arah Weng Ning berada.
Weng Ning yang melihatnya langsung buru-buru menangkap tubuh Weng Hua
Tapi kemudian sebelum dia bisa menangkap tubuh Weng Hua, sosok Weng Lou sudah jauh lebih dulu muncul di depannya.
Dia melakukan hal yang sama, dan segera menangkap kaki kanan Weng Ning, dia juga segera menangkap kembali kaki Weng Hua.
Mengayunkan tubuh mereka, Weng Lou pun melemparkan keduanya ke arah Weng Wan berada.
Tidak mau berakhir sama dengan kedua sahabatnya, Weng Wan memilih untuk langsung maju dan menangkap tubuh mereka berdua dengan sempurna, dan meletakkan keduanya di atas tanah.
PAAMMM!!!!
Bersamaan dengan itu, sebuah tinju dari Weng Lou mendarat di wajahnya, dan mendorong tubuhnya jatuh ke tanah dengan sangat keras.
Tubuh Weng Wan langsung lemas begitu saja menerima serangan telak itu, tidak ada perlawanan lagi dari dirinya. Semua yang ia bisa telah ia kerahkan untuk melawan Weng Lou.
Weng Ning dan Weng Hua juga sudah tidak memiliki semangat bertarung lagi saat ini.
Menyaksikan itu Weng Lou pun merasa bahwa semua ini sudah tidak diperlukan lagi. Dia menggerakkan tangannya, dan sebotol pil pun keluar dari dalam ruang penyimpanannya.
Dia meletakkan itu di depan wajah Weng Wan yang masih terbaring tak berdaya di atas tanah.
"Aku pikir kalian bertiga sudah berkembang dengan sangat baik. Bukankah begitu itu, teman-teman?" ucap Weng Lou sambil tersenyum.
Kali ini bukan senyum menantang seperti sebelum-sebelumnya, ini adalah sebuah dengan tulus dari seorang sahabat yang sudah lama tidak saling berhubungan sama sekali.
Melihat senyuman itu, mendadak mata Weng Hua melebar dan tanpa sadar air matinya mengalir.
__ADS_1
"Lou....."