Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 381. Kota Hundan (III)


__ADS_3

Kota Hundan, merupakan salah satu dari 3 kota terbesar Wilayah Tengah yang berada di bagian baratnya.


Sebagai salah satu dari tiga kota terbesar, Kota Hundan jauh dari kata aman. Setiap hari kejahatan terjadi di dalamnya. Mulai dari pencurian hingga pembunuhan, setiap harinya ada saja kasus kejahatan.


Hal ini tidak terlepas dari pengaruh keseluruhan Wilayah Tengah yang memiliki peraturan jauh berbeda dengan Wilayah Barat tempat Weng Lou dan yang lainnya berasal.


Wilayah Tengah ini memiliki sistem penguasa yaitu kerajaan. Namun kerajaan ini tidaklah seperti kerajaan-kerajaan pada umumnya dimana Raja yang berkuasa biasanya dipilih secara turun-temurun tiap keturunannya raja sebelumnya, kerajaan di Wilayah Tengah tidak seperti itu.


Untuk pemilihan seorang raja, setiap beberapa tahun diadakan sebuah turnamen yang diikuti oleh semua Praktisi Beladiri yang ada di Wilayah Tengah. Hanya yang terkuat yang bisa menjadi Raja. Oleh sebab itu, orang terkuat yang ada di Wilayah Tengah adalah Raja Wilayah Tengah itu sendiri.


Untuk memperkuat pondasi sebagai raja, setiap Raja Wilayah Tengah mengundang siapa saja Praktisi Beladiri yang ada di Wilayah Tengah yang ingin menjadi bagian darinya, tanpa terkecuali. Oleh sebab itu bahkan para penjahat sekalipun bebas berkeliaran di Wilayah Tengah ini.


Tapi berbeda cerita jika penjahat itu berhasil tertangkap oleh para korbannya.


***


Tepat ketika hampir pukul sebelas, kelompok Weng Lou dan yang lain akhirnya tiba di depan gerbang Kota Hundan yang tingginya hampir mencapai dua puluh meter dan terbuat dari sejenis batuan yang sangat keras.


Kelompok Weng Lou dan juga kelompok Weng Baohu Zhe mengantri cukup panjang untuk bisa sampai di depan gerbang ini.


Sejam yang lalu, mereka sebenarnya sudah sampai, hanya saja setiap pengunjung atau pendatang yang ingin masuk ke dalam Kota Hundan ini harus memberikan identitas mereka, dan juga uang masuk sebesar sepuluh koin emas perorangnya.


Mungkin terdengar tak masuk akal untuk sebuah yang masuk, tapi mengingat bahwa hampir semua penduduk Wilayah Tengah ini adalah Praktisi Beladiri, harga itu bisa dibilang kecil.


"Tunjukkan identitas kalian!"

__ADS_1


Seorang penjaga bertubuh kekar dengan tinggi mencapai dua meter lebih dan wajah sangar dan menakutkan berbicara kepada Weng Baohu Zhe yang berjalan paling depan.


Dia mengeluarkan tablet giok dengan lambang Keluarga Leluhur Weng dari balik pakaiannya dan memperlihatkannya kepada penjaga itu.


Penjaga itu tidak langsung mengenali tablet giok itu dan memilih memanggil seseorang yang kedudukannya satu tingkat diatasnya yaitu seorang pria berumur awal tiga puluhan yang memiliki penampilan biasa saja, tampak berbeda dengan penjaga sebelumnya.


Pria yang dibawa oleh penjaga itu terpana melihat lambang Keluarga Leluhur Weng pada tablet giok yang ditunjukkan oleh Weng Baohu Zhe sebelum kemudian tersenyum ramah kepadanya.


"Aih, orang-orang dari Keluarga Leluhur Weng ternyata. Apakah kalian ingin berpartisipasi dalam Turnamen Beladiri Bebas yang diadakan di kota ini?" tanya pria itu sambil tetap memasang senyum ramahnya.


Weng Baohu Zhe mengangguk, lalu memasukkan kembali tablet giok nya dan mengambil kantung berisi koin emas dari dalam ruang penyimpanannya. Dia pun melemparkan kantung berisi koin emas itu pada pria itu.


"Itu, delapan puluh koin emas," ucapnya yang kemudian menyuruh Weng Tie dan murid Keluarga Leluhur Weng yang lain mengikutinya masuk ke dalam kota.


Pria itu berterima kasih kepadanya lalu menyuruh barisan selanjutnya untuk maju, kami ini adalah kelompok Weng Lou dengan tambahan Weng Wan, Weng Hua dan Weng Ning bersama mereka. Weng Baohu Zhe tidak memprotes perilaku ketiganya, justru dia merasa cukup terbantu karena dirinya mendapatkan keuntungan tiga puluh koin emas dari mereka.


"Tunjukkan identitas kalian!" pria itu berseru kepada kelompok Weng Lou.


Dia hanya melihat Pang Baicha dan Shan Hu saja yang cuma berada di ranah Pembersihan Jiwa saja, tanpa mengetahui keberadaan dari Jian Qiang bersama mereka.


Pang Baicha tampak biasa saja mendengar pria itu yang berseru ke wajahnya, meski pria ini hanya berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 8, dirinya adalah bagian dari kerajaan Wilayah Tengah, jadi dia tidak bisa sembarangan bertindak.


Dirinya menoleh ke arah Jian Qiang yang hanya duduk diam dan memejamkan matanya, lalu berpindah menatap Weng Lou dan teman-temannya yang duduk di bagian belakang kereta sedang berbincang-bincang ringan. Pang Baicha menghela napasnya dan kemudian mengeluarkan tablet identitasnya yang merupakan tablet keanggotaannya sebagai anggota Kelompok Pendekar Naga, lebih tepatnya mantan karena Kelompok Pendekar Naga sekarang sudah tidak ada lagi.


Pria itu menatap sejenak tablet itu dan mengelus dagunya. Dia menatap tablet itu dan wajah Pang Baicha secara bergantian lalu kemudian menyodorkan tangannya.

__ADS_1


"Dua puluh koin emas perorangnya," ucapnya dengan acuh.


Pang Baicha tersedak napasnya sendiri mendengar itu. Pria ini baru saja menaikkan uang masuk dua kali lipat! Jelas itu bahkan lebih kejam dari perampokan!


Semua orang yang ada di kereta saat ini berjumlah 10 orang, dua puluh koin emas perorangnya itu berarti dua ratus koin emas, itu benar-benar lah harga yang sudah benar-benar dilewat batas!


Tapi sebelum Pang Baicha bisa melontarkan protesnya, Shan Hu sudah lebih dulu melemparkan sekantong uang kepada pria itu.


Pang Baicha terkejut melihat itu dan menoleh ke arahnya. Dari mana dia mendapatkan uang-uang itu?


Shan Hu mengerti arti tatapan itu dan menunjuk Jian Qiang yang sedang duduk diam di dalam kereta. Ketika mereka masih dalam perjalanan menuju ke Kota Hundan, Jian Qiang sudah memberikannya uang untuk biaya masuk mereka nantinya sebesar dua ratus koin emas.


Dia tidak tau bagaimana bisa Jian Qiang memperkirakan bahwa biaya masuk mereka saat ini, tapi mau bagaimana pun, itu adalah hal yang bagus, karena Pang Baicha tak perlu mengeluarkan uangnya sendiri untuk membayar dua ratus koin emas.


Pria itu menatap katung berisi koin emas yang dilemparkan oleh Shan Hu dia bisa memperkirakan jumlah koin emas di dalamnya tanpa harus membukanya. Pria itu pun memberi tanda kepada mereka untuk segera masuk ke kota.


Pang Baicha berkedip beberapa kali sebelum mengangguk, dia pun membuat kereta kembali bergerak dan masuk ke dalam kota.


Begitu mereka masuk ke dalam kota, terlihat bangunan-bangunan megah menyambut mereka ketika baru saja melewati gerbang kota.


Orang-orang berlalu lalang, suara orang-orang yang berbicara teedengar seperti suara lebah di sarangnya, saking ramainya hingga seluruh tempat dipenuhi dengan suara orang-orang.


Jika ingin membandingkannya dengan Kota Giok Merah dimana suasana disana sangatlah ramai dan penuh sesak, makan Kota Hundan ini jauh lebih ramai lagi. Hanya karena luas kotanya yang berkali-kali lebih besar dari Kota Giok Merah membuat orang-orang yang ada di dalamnya tidak sampai berdesak-desakan.


Jika seandainya luas Kota Hundan sama seperti Kita Giok Merah, maka akan banyak pertarungan terjadi di segala tempat.

__ADS_1


Ini karena lebih dari setengah penduduk kota ini adalah para Praktisi Beladiri.


Senggol mereka sedikit, maka pertarunganlah yang terjadi selanjutnya.


__ADS_2