Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 706. Kehancuran Kepulauan Huwa (II)


__ADS_3

Laut Mati. Sebuah wilayah lautan yang sangat luas dan dihuni oleh binatang buas lautan yang tak terhitung jumlahnya.


Kekuatan terkuat binatang buas lautan di Laut Mati yang diketahui oleh banyak orang adalah ranah Penyatuan Jiwa, karena memang para binatang buas lautan dengan kekuatan ini mendominasi hampir semua binatang buas lautan di dalam Laut Mati.


Namun sebenarnya, ada beberapa binatang buas lautan yang melebihi ranah Penyatuan Jiwa yang tinggal di dalam Laut Mati.


Mereka ada penguasa sebenarnya dari Laut Mati, namun tidak pernah menampakkan diri selama ratusan tahun. Bahkan mereka tidak perlu repot-repot untuk bergerak dari wilayah kekuasaan mereka untuk mencari makan. Makanan sendiri yang mencari mereka.


Biasanya, para binatang buas lautan ini hanya akan bergerak jika ada yang berani mengancam wilayah kekuasaan mereka, namun saat ini situasinya sedikit berbeda.


Mereka semua sedang melarikan diri dari sesuatu yang membuat mereka semua ketakutan setengah mati dan berlari demi menyelamatkan hidup mereka masing-masing.


Tidak jauh dari wilayah tengah Laut Mati, sebuah bayangan besar menutupi pinggiran wilayah Laut Mati di arah timur.


Bayangan itu berasal dari ribuan duri berwarna putih menyerupai tulang yang bergerak sangat cepat menuju Laut Mati dan menghujani wilayah tersebut.


*SHHUUUU-PAM!! BAMM!!!*


Ribuan duri itu menghantam lautan dan menyebabkan riak-riak tak berkesudahan.


Duri-duri meluncur masuk ke dalam laut dan menusuk para binatang buas lautan yang tidak sempat beraksi terhadap datangnya duri-duri tersebut.


Perlahan, lautan segera berubah warna menjadi merah.


Namun kemudian, warna merah dari darah para binatang buas lautan itu menghilang terserap oleh duri-duri yang menusuk tubuh mereka. Apa yang lebih mengejutkan adalah, duri-duri tersebut kembali bergerak naik ke permukaan laut, kemudian terbang dengan kecepatan tinggi dan bergabung dengan tubuh Unknown God.


"Meskipun kalian menghentikan ku untuk menyentuh pulau itu, bukan berarti aku tidak bisa menyerap kehidupan makhluk hidup lainnya! Lautan sangatlah luas, dan para binatang buas di lautan sudah cukup untuk memulihkan beberapa kekuatan ku!" Unknown God berbicara dengan nada dingin.


Semua duri yang ditembakkan dari tubuhnya kini telah kembali padanya. Darah dari para binatang buas lautan yang dibunuhnya kini memasuki tubuhnya. Pusaran di dadanya berubah menjadi merah dan sebuah aliran energi muncul dari pusaran tersebut, yang menyebar ke seluruh tubuhnya.


Zhi Juan mendecakkan lidahnya saat menyaksikan hal ini. Dia bisa menghentikan Unknown God menuju ke Kepulauan Huwa, namun menghentikan Unknown God membunuh binatang buas lautan adalah hal yang berbeda.


Terutama di Laut Mati ada terlalu banyak binatang buas lautan, tempat itu sama seperti ladang gandum yang bisa dipanen kapan saja olehnya, mustahil menghentikannya.


Kecuali dia lebih dulu memusnahkan para binatang buas lautan itu, tidak ada cara lainnya.


"Hei, apa kau yakin masih mau mempertahankan pulau-pulau itu? Akan lebih bagus bagi kita untuk mengosongkan seluruh tempat ini dari kehidupan apapun. Bajingan itu tidak akan bisa memulihkan kekuatannya jika tidak ada energi kehidupan yang bisa dia serap," ujar Zhi Juan sambil menoleh pada Weng Lou yang tampak menatap dengan datar pada arah Kepulauan Huwa.


Dia seperti sedang menatap sesuatu di kejauhan dan kemudian menghela napas panjang setelah beberapa saat hanya diam.


"Haaah....baiklah, beri aku waktu sebentar," kata Weng Lou yang kemudian melesat sangat cepat menuju Kepulauan Huwa.


Zhi Juan tidak menghentikannya dan justru memfokuskan diri pada Unknown God yang telah selesai menyerap darah dari binatang buas lautan.


"Kau dengar itu, aku akan melawanmu seorang diri sekali lagi. Apa kau senang?" tanya Zhi Juan pada Unknown God.


Mata Unknown God berubah menjadi merah. Berbeda dari sebelumnya, kini kedua matanya tampak layaknya sepasang mata normal pada manusia.


"Hah, tidak peduli kau sendiri atau berdua dengannya, kalian tetap akan mati di tangan ku!"


***


Di Kepulauan Huwa, sebuah ombak raksasa bergerak menuju salah satu pulau di Kepulauan Huwa.


Terlihat puluhan Praktisi Beladiri di pinggir pantai Pulau Fanrong. Mereka adalah para Praktisi Beladiri dari Perguruan Iblis Merah yang datang untuk menghentikan ombak yang datang untuk meratakan Pulau Fanrong.


Namun kondisi mereka saat ini tampak tidak baik-baik saja. Lebih dari setengah Praktisi Beladiri terbaring di atas pasir dengan tubuh kering layaknya mayat. Namun mereka semua masih hidup, hanya saja energi kehidupan mereka sangatlah lemah, hingga tampak bisa mati kapan saja.


"Semuanya, pertahankan posisi kalian!!!! Ombak selanjutnya akan segera datang!!!" Pria yang memimpin para Praktisi Beladiri Perguruan Iblis Merah berseru nyaring dari tempatnya berdiri.

__ADS_1


Dia saat ini tampak sangat kacau. Tubuhnya basah oleh keringat dan air laut. Napasnya tersengal-sengal, dan pandanganya menjadi kabur setiap beberapa saat.


Dengan dirinya sebagai inti, para Praktisi Beladiri Perguruan Iblis Merah membentuk formasi pelindung yang memanfaatkan kekuatan gabungan para Praktisi Beladiri.


Pada awalnya, formasi mereka sangat kokoh, dan penggunaan Qi dan Tenaga Dalam untuk membentuknya masih bisa mereka tanggung bersama. Akan tetapi, terjangan ombak yang tidak hentinya memaksa mereka berada dalam kondisi seperti sekarang ini.


Qi dan Tenaga Dalam mereka dengan cepat habis terpakai, sehingga mereka terpaksa menggunakan kekuatan dari energi kehidupan mereka, yang mana itu sama saja dengan bunuh diri. Hasilnya, setengah dari mereka kini telah terkulai kaku di pasir, tak bergerak sedikitpun, sementara yang tersisa dan masih bisa berdiri kondisinya juga tidak begitu bagus karena energi kehidupan mereka yang banyak terpakai.


"Pemimpin......aku.....aku sudah tidak bisa bertahan lagi." Salah satu murid Perguruan Iblis Merah berbicara dengan suara pelan. Tubuhnya terus bergetar, seolah akan jatuh kapan saja.


"Aku juga......aku sudah tidak kuat lagi."


"Kami tidak bisa bertahan lebih lama lagi, pemimpin. Setidaknya, anda harus pergi menyelamatkan diri anda. Jika seluruh Pulau Fanrong lenyap, masih ada kemungkinan untuk anda selamat," ujar salah satu murid.


Pria yang merupakan pemimpin Perguruan Iblis Merah di Pulau Fanrong itu hanya diam di tempatnya, tidak menanggapi perkataan para murid perguruannya.


Bukannya dia tidak mau kabur seperti yang dikatakan mereka, hanya saja, mustahil dia bisa selamat meskipun berhasil pergi dari Pulau Fanrong.


Hanya dengan melihatnya saja, dia sangat yakin mustahil dirinya bisa selamat dari ombak raksasa yang sedang datang menghampiri mereka.


Dia yakin, Kepulauan Huwa juga akan dimusnahkan oleh ombak tersebut. Tidak peduli cara apapun yang mereka lakukan, ombak itu tidak bisa dihentikan.


"Haaah......kalian.....sudah kukatakan, aku adalah pemimpin kalian, dan aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Jika diriku akan mati, maka biarlah aku mati di tanah yang ku perjuangkan hingga titik darah penghabisan ini," jelasnya dengan suara penuh wibawa layaknya pemimpin sejati.


Hal ini membuat semua murid yang masih bertahan terkagum-kagum oleh sikap dan keputusan pemimpin mereka.


Perasaan putus asa yang sebelumnya menyelimuti mereka, langsung sirna sepenuhnya dan digantikan oleh perasaan bersemangat yang berkobar-kobar.


"Benar! Aku juga akan mempertahankan tempat ini sama seperti pemimpin!"


"Aku juga!"


Semuanya berseru bersemangat. Tanpa mereka sadari, dua orang sedang menonton mereka dari atas gedung Perguruan Iblis Merah.


Yang satu adalah Weng Lou, sementara yang lainnya adalah wanita yang merupakan salah satu dari kepingan jiwa milik Lin Mei.


Weng Lou menatap wanita itu. Dia memperhatikan sikap dan ekspresi wajahnya ketika keduanya saling bertatapan satu sama lain. Wanita itu tampak tak terkejut sama sekali dengan kedatangan Weng Lou, dia justru terlihat seolah memang menunggu untuk dia datang menemuinya.


"Kepingan jiwa berisi ingatan. Sudah kuduga kau memang sengaja membagi jiwa mu dengan cermat. Jadi apakah kau sudah membangkitkan ingatan mu sejak kedatangan ku beberapa tahun yang lalu?" tanya Weng Lou pada wanita itu.


"Aku sudah memiliki ingatan ini sejak aku dilahirkan dalam tubuh ini. Aku tau kau belum membangkitkan ingatan milikmu waktu kita bertemu pertama kali, tapi aku tidak menyangka kau menemukan diriku secepat itu waktu itu. Jujur saja, takdir tidak mudah untuk ditebak," kata wanita itu.


"Jadi, apa tidak masalah aku memanggilmu Mei?"


"Panggil aku senyaman mu."


"Baiklah, Mei. Aku akan terus terang padamu. Ayo ikut aku-"


"Tidak, terima kasih. Kau bisa pergi meninggalkan ku, dan jalani kehidupan mu tanpa ku. Setidaknya itu yang harus kau lakukan. Tidak kah kau sadar, aku dan dirimu tidak pernah menjalani kehidupan yang lancar selama ini di semua kehidupan? Itu karena karma yang begitu besar yang kita tanggung di setiap kehidupan. Faktanya, jika kita bersama, kau tidak akan bisa mencapai semua tujuan mu. Jadi lupakan saja aku, dan pergi dari sini," Mei berkata dengan tulus.


Tidak ada nada tidak senang dari kata-katanya. Semuanya dikatakannya dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Takdir dan karma saling berkaitan satu sama lain. Tidak ada satupun makhluk hidup yang bisa memahami keduanya dengan baik, tapi setidaknya banyak orang telah mempelajarinya dalam waktu yang tak terhitung jumlahnya.


Mei adalah salah satu orang tersebut. Dia menyadari, kehidupan Weng Lou terlalu terikat padanya, sehingga menyebabkan roda takdir miliknya sendiri menjadi kacau. Garis darah keturunan Ras Phoenix terikat pada kehendak Pemusnahan yang aman terus mengikuti setiap pemilik garis darah tersebut.


Mungkin sekarang belum terlihat efek apapun, namun saat Mei berada di ranah Absolute, karma akan mulai bekerja dan takdir akan kacau. Oleh sebab itu, Mei memutuskan, bahwa yang terbaik bagi Weng Lou adalah tidak bersamanya.


Karena dirinya membawa ingatan kehidupannya sebelumnya, maka kepingan jiwa yang lain tidak akan membawa karma buruk bagi Weng Lou, selain dirinya sendiri.

__ADS_1


Namun, bukan dia memutuskan hal tersebut saat ini. Saat ini, dahi Weng Lou mengerut. Dia jelas tidak setuju dengan pernyataan Mei.


"Omong kosong macam apa itu? Karma? Takdir? Kama kuhancurkan semuanya yang menghalangiku. Bahkan The Beginning bukanlah apa-apa. Jadi hentikan omong kosong yang kau katakan itu." Weng Lou mendengus.


"Kau tidak mengerti. Ketika karma buruk yang kubawa selama ini mulai bekerja, nasib yang sama seperti yang terakhir kali kau alami di kehidupan mu yang sebelumnya akan terjadi sekali lagi." Mei berusaha menjelaskan.


"Sudah kubilang hentikan omong kosong itu! Karma buruk apanya, aku sendiri juga membawa karma buruk bersama ku! Seratus kehidupan ini, aku telah melakukan banyak hal-hal buruk melebihi yang bisa kau bayangkan. Kejadian yang menimpa ku adalah karena perbuatan ku sendiri, tidak ada hubungannya dengan karma buruk mu itu."


Weng Lou tampak penuh dengan pendiriannya. Mei menatapnya dalam-dalam. Dia tau Weng Lou tidak akan mendengarkannya. Weng Lou adalah orang paling keras kepala yang dia kenal dengan sangat baik melebihi siapapun.


"Apa kau tau, kau mungkin tidak akan berhasil di kehidupan ini?" tanya Mei.


"Hah.....aku akan berhasil. Tidak ada kegagalan lagi seperti sebelumnya." Weng Lou menjawab dengan penuh percaya diri.


Mei tersenyum tipis mendengarnya. "Lakukan sesuka mu. Aku tidak akan menghalangi mu."


Setelah keduanya saling berbicara, mereka pun menatap ke arah ombak besar yang sudah begitu dekat dengan Pulau Fanrong.


"Sayang sekali pulau ini akan musnah begitu saja. Padahal aku lumayan suka tinggal disini setelah hidup bertahun-tahun di kehidupan ini," ujar Mei sambil menghela napasnya.


Tanpa diduga, Weng Lou tersenyum menanggapi perkataannya.


"Siapa bilang pulau ini akan musnah?" tanyanya sambil tersenyum penuh arti.


Mei langsung mengerti begitu melihat senyuman pemuda yang dia cintai itu.


Tepat ketika ombak itu akan mencapai bibir pantai, Weng Lou mengayunkan tangannya ke arah ombak besar itu. Ombak itu langsung musnah begitu saja tanpa sisa. Tidak ada percikan air dari ombak, seolah ombak tersebut lenyap begitu saja.


Para murid Perguruan Iblis Merah di pantai Pulau Fanrong terdiam di tempat mereka saat melihat dinding air setinggi ratusan meter di depan mereka menghilang tanpa jejak.


Mereka tidak tau apa yang baru saja terjadi.


Di sisi lain, Weng Lou di atas Perguruan Iblis Merah terlihat mengayunkan tangannya sekali lagi. Kali ini sesuatu yang mengejutkan terjadi.


Pulau Fanrong dilanda gempa bumi besar. Semua orang di pulau itu panik karena gempa itu. Mereka tidak tau kenapa tiba-tiba gempa besar itu terjadi begitu saja.


Beberapa saat kemudian, Pulau Fanrong mulai terangkat naik. Orang-orang Perguruan Iblis Merah yang ada di pantai menyaksikan hal ini dengan mulut terbuka lebar.


"A-Apa yang sebenernya terjadi?!!!"


"Pulau....Pulau Fanrong terangkat ke udara!!!!"


"Ya Dewa!!!! Apakah hari kiamat akhirnya tiba?!"


Secara mengejutkan, seluruh Pulau Fanrong terangkat tinggi ke langit, keluar dari jajaran Kepulauan Huwa.


Orang-orang di pulau lain di Kepulauan Huwa juga bisa menyaksikan saat pulau itu naik ke langit.


Mereka semua berpikir bahwa mereka sedang bermimpi, namun itulah yang sebenarnya terjadi.


Dengan kekuatan Weng Lou, memindahkan sebuah pulau seperti Pulau Fanrong bukanlah hal yang sulit. Yang dia harus lakukan adalah tetap menjaga agar struktur pulau tidak hancur saat diangkat olehnya.


Weng Lou terlihat santai di tempatnya saat ini sambil menatap Mei di depannya. Mei memutar matanya saat menyaksikan yang dilakukan oleh Weng Lou. Pemuda ini masih sempat-sempatnya pamer di saat seperti ini.


Catatan Penulis:


**Hai, maaf author tidak ada kabar selama beberapa minggu. Bulan depan saya sudah akan kuliah, jadi harus mempersiapkan banyak hal. Mohon pengertiannya. **


Tenang saja, meski tertunda, saya tetap akan menamatkan cerita ini.

__ADS_1


__ADS_2