
Pulau Gui memiliki luas wilayah yang hampir sama dengan Pulau Fanrong yang berdekatan dengannya.
Kondisi iklim, geografis, dan juga sistem pemerintahan semuanya sama. Pemerintah pusat dari pulau ini adalah Kekaisaran Gui yang dibangun oleh Keluarga Gui. Kaisar Wong Gui, adalah kaisar yang memimpin kekaisaran saat ini. Sementara untuk Perguruan Iblis Merah, mereka bukan bagian dari Kekaisaran Gui.
Mereka bisa dibilang kelompok yang tidak tergabung dalam kelompok pemerintah apapun, namun status mereka melebihi kekaisaran di keenam pulau di Kepulauan Huwa. Status spesial ini dimiliki oleh mereka karena kekuatan yang dimiliki oleh Hong Mugui.
Mereka mampu secara aktif atau pun pasif ikut mengambil bagian dalam perencanaan yang dilakukan oleh pemerintah, dan kebanyakan tidak akan ada pertentangan yang terjadi karena mereka sadar bahwa menolak saran dari Perguruan Iblis Merah sama dengan cari mati.
Adapun kelompok-kelompok lain yang diceritakan oleh Hong Mugui kepada Weng Lou, kedudukan mereka selalu ditekan oleh Hong Mugui, sehingga perkembangan mereka tidak bisa melebihi Perguruan Iblis Merah. Tapi tetap saja, menekan begitu banyak kelompok seorang diri bukanlah sesuatu yang mudah. Telah banyak terjadi peperangan untuk menjatuhkan kekuasaan yang dimiliki oleh Perguruan Iblis Merah di Kepulauan Huwa, namun selalu gagal karena Hong Mugui selalu dapat menyelesaikan masalah-masalah itu seorang diri dan tepat waktu.
Tentu saja, faktor seperti Weng Lou sama sekali tidak diperkirakan oleh Hong Mugui sebelumnya, sehingga dia akhirnya berhasil di kalahkan dengan telak tanpa bisa melakukan perlawanan sedikitpun.
Pelabuhan Besar Qin. Pelabuhan utama Kekaisaran Gui ini dibangun dengan megah di atas batu karang besar sama seperti pelabuhan yang sebelumnya dipakai oleh kelompok Weng Lou untuk menaiki kapal. Yang membedakan adalah kondisi dari pelabuhan besar yang sebentar lagi menjadi tempat berlabuhnya kapal yang ditumpangi oleh kelompok Weng Lou ini terlihat sedikit tidak terawat.
Bisa terlihat dari tiang-tiang besi penyangga atap yang telah sangat berkarat terkena air dan angin laut. Lumut juga tampak menutupi separuh dinding pelabuhan itu yang menghadap ke arah laut.
"Walau Pulau Fanrong dan Pulau Gui memiliki sistem pemerintahan yang sama, namun keadaan di dalamnya jauh berbeda dengan Kekaisaran Fanrong yang saat ini telah diambil kembali oleh Kaisar Liu Ning, Putri Kaisar sebelumnya," jelas Hong Mugui seakan mengetahui arti tatapan Weng Lou pada pelabuhan di depan mereka.
"Aku bisa menduga itu, tapi itu seharusnya tidak ada hubungannya dengan ku, bukan? Kita akan menuju ke pusat Perguruan Iblis Merah milikmu, bukan ke istana Kekaisaran Gui." Weng Lou berbicara tanpa peduli sedikitpun pada penjelasan Hong Mugui.
Dia berbalik dan segera masuk kembali ke kapal, dan masuk ke kamar mereka dimana terlihat barang-barang mereka telah siap untuk diangkut keluar begitu kapal mereka berlabuh di pelabuhan. Du Zhe yang sedang membaca kitab teknik beladiri di atas tempat tidurnya mengalihkan pandangannya pada Weng Lou dan menutup kitab di tangannya.
"Apakah kita sudah sampai?" tanya Du Zhe dengan bersemangat.
"Ya, kita sudah sampai. Bersiap-siaplah, kapal akan segera berlabuh," balas Weng Lou yang kembali keluar.
Dia kembali berdiri di atas dek kapal dan melihat sebuah kobaran api besar di dekat pelabuhan yang sebentar lagi mereka akan pakai untuk berlabuh.
"Itu adalah sinyal untuk memberitahu bahwa kita boleh berlabu. Biasanya tanda itu dipakai di malam hari seperti ini untuk mempermudah kapten kapal memperkirakan jarak kapal dengan pelabuhan." Hong Mugui menjelaskan tanpa menunggu Weng Lou bertanya.
"Serius? Kau tidak perlu menjelaskan semuanya, aku tau itu apa dan fungsinya apa. Kau pikir aku belum pernah melihat pelabuhan sebelumnya? Belum pernah naik kapal?" Weng Lou tampak jengkel dengan tingkah Hong Mugui yang sangat patuh.
Meski dia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu, namun tindakannya seakan membuat Weng Lou tampak seperti orang udik yang belum pernah menaiki kapal sebelumnya. Bahkan dia curiga, bahwa Hong Mugui akan menjelaskan tentang apa itu laut, kapal, dan ikan kepadanya jika bukan karena aura mengancam dari tubuh Weng Lou.
"Mo-Mohon maaf, Tuan! Saya telah menyinggung anda!" Hong Mugui buru-buru meminta maaf. Dia tidak mau sampai Weng Lou marah karena kebodohan yang dia buat.
Rasa sakit yang diberikan Weng Lou padanya masih terbayang-bayang di ingatannya sampai saat ini, meski semua lukanya sudah sembuh semua..
*Traangg!!!! Traangg!!!! Trangggg*
Suara lonceng kapal memecahkan keheningan, dan membuat perhatian semua orang yang saat ini berada di atas dek tertuju pada pria paruh baya yang berdiri di bagian depan kapal.
"Perhatian, semuanya!!! Kapal akan berlabuh sebentar lagi, harap mengecek semua barang bawaan kalian. Jangan sampai ada yang tertinggal! Kehilangan atau pencurian bukan tanggung jawab kami, jadi harap memeriksa barang kalian semua!" Pria paruh baya itu berseru nyaring. Suaranya bisa terdengar di seluruh lantai kapal oleh para penumpang dan awaknya.
Beberapa orang penumpang yang saat ini berada di atas dek segera masuk dan mengecek barang-barang mereka, sementara Weng Lou dan Hong Mugui masih tetap di atas dek kapal. Mereka sudah membereskan barang mereka satu jam yang lalu, jadi mereka tidak perlu buru-buru saat kapal itu akan berlabuh.
Tak berapa lama kemudian, kapal mereka pun sampai di pelabuhan. Beberapa awak kapal segera melemparkan tali dan kembali orang-orang yang berada di atas pelabuhan menangkapnya, dan mengikatkannya pada sebuah batangan logam raksasa yang berfungsi mencegah kapal terbawa oleh ombak.
"Turunkan papan!" "Turunkan papan!"
Para awak kapal segera bergegas menurunkan sebuah papan kayu besar begitu kapal bersandar sepenuhnya. Jangkar jugabikut dilepaskan dan dibiarkan masuk ke air.
Saat papan telah diletakkan, para penumpang yang sudah menunggu dan bersiap untuk turun langsung berebut untuk turun. Beberapa dari mereka segera menuju ke pelabuhan, sementara yang lain tetap menunggu di bawah karena menunggu barang mereka untuk dikeluarkan.
__ADS_1
Kelompok Weng Lou tidak terburu-buru. Mereka menikmati waktu dan turun paling terakhir bersamaan dengan diturunkannya barang mereka, yaitu Kera Hitam Petarung yang saat ini berada di dalam kurungan logam.
"Ayo cepat pergi dari sini, aku sudah hampir gila berada di dalam kurungan sempit ini. Bahkan hanya bersandar sedikit saja kurungan ini akan langsung hancur, sialan!" Suara Kera Hitam Petarung terdengar sangat pelan, dan membuat Weng Lou tersenyum masam.
Dia meminta sebuah kurungan yang paling kokoh dan kuat yang dimiliki oleh Kekaisaran Fanrong sebelumnya pada Liu Ning, dan ini adalah kurungan dengan kualitas terbaik yang mereka punya. Bukan salah kurungan ini Kera Hitam Petarung tidak bisa bersandar, namun salah Kera Hitam Petarung karena memiliki tubuh yang terlalu besar.
*Krrriiiikkk......* Kapal segera terangkat seakan sebuah beban besar sudah diangkat darinya begitu kurungan tempat Kera Hitam Petarung di turunkan dari kapal.
Dengan santainya Weng Lou menarik kurungan dengan roda pembantu di bawahnya itu ke pelabuhan. Du Zhe berniat membantu, namun saat dia ingin mencobanya, dia menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh Weng Lou itu sama sekali tidak bisa dia lakukan.
Weng Lou terlihat santai menarik kurungan itu, namun kenyataannya, bahkan Hong Mugui tidak bisa menarik seinci pun kurungan tersebut dengan kekuatan fisiknya.
"Tuan, saya akan memanggil kereta untuk kita." Hong Mugui menunduk dan berniat pergi mencari kereta kuda, namun segera dihentikan oleh Weng Lou.
"Kau bilang kondisi geografis Pulau Gui ini sama dengan Pulau Fanrong, bukan? Jadi seharusnya banyak hutan di sekitar. Kita jalan kaki saja, akan sulit jika harus membawa ini dengan kereta," tolak Weng Lou sambil menunjuk kurungan berisikan Kera Hitam Petarung itu.
"Beritahu dia, jika dia mau membuatku menunggu lebih lama di kurungan sialan ini, maka aku tidak akan keberatan untuk memakan daging manusia setelah sekian lamanya." Kera Hitam Petarung menggeram marah di dalam kepala Weng Lou.
"Ta-Tapi akan cukup lama jika kita harus jalan kaki, Tuan ku! Pusat Perguruan Iblis Merah terletak beberapa kilometer dari ibukota Kekaisaran Gui. Jika kita berjalan kaki dari sini, maka akan memakan waktu paling tidak sampai pagi!" Hong Mugui terlihat mencoba menolak ide Weng Lou.
Saat ini kondisi sedang malam hari, dan cahaya bulan sama sekali tidak bisa menembus sebuah awan tebal yang menutupinya. Jika mereka harus berjalan kaki di sekitar hutan, makan akan sulit untuk menghindari pepohonan. Bukan berarti Mugui meragukan kemampuan dirinya dan Weng Lou, namun banyak binatang buas di dalam hutan di Pulau Fanrong.
"Tidak ada yang perlu ditakutkan, kita akan menaiki tunggangan yang sudah aku siapkan."
"Apa kau menolak?"
"Itu jauh lebih baik daripada terkurung di dalam sini! Cepat bawa aku keluar!"
Weng Lou tidak menunggu jawaban dari Hong Mugui, dan segera menarik kurungan itu bersamanya keluar dari pelabuhan dan diikuti oleh Du Zhe di belakangnya. Hong Mugui melihat bahwa Weng Lou sepertinya tidak akan mendengarkan nya sama sekali, dan dengan terpaksa mengikutinya dengan hari mengganjal.
Kedua mata Hong Mugui terbuka lebar melihat kemunculannya dan dia langsung terduduk lemas ke atas tanah, saat merasakan aura kekuatan dari tubuhnya yang dilepaskannya.
Sebelumnya, Kera Hitam Petarung telah diminta untuk masuk ke dalam kurungan mulai dari di ibukota, sehingga Hong Mugui tidak mengetahui mengenai dirinya. Sekarang, melihat sosok perkasa dari Kera Hitam Petarung, kedua kakinya telah lemas ke tanah, dan menatap Kera Hitam Petarung seperti menatap sesosok makhluk buas yang dapat membunuhnya kapan saja dia mau.
"Aku bersumpah! Jika kau menyuruhku lagi masuk dalam kurungan, maka aku tidak akan pernah mau menerimanya lagi!" Kera Hitam Petarung mendengus kesal kepada Weng Lou di depannya sedangkan Du Zhe hanya tertawa pelan melihat Kera Hitam Petarung yang kesal. Hal itu sangat lucu baginya, karena Kera Hitam Petarung yang dia kenal selalu tampak berwibawa dan berkarisma, tentunya dalam sudut pandang seekor binatang buas, bukan sebagai manusia.
"Bukan salahku kurungan itu begitu rapuh," ucap Weng Lou sambil mengangkat kedua bahunya seperti tak bersalah sama sekali.
"Maka buatlah kurungan yang lebih luas! Setidaknya buat agar aku bisa berbaring, sialan! Kau tidak tau seberapa....*kraak*........ lelahnya....*krak*....aku! Aku harus tetap duduk agar kurungan itu tidak hancur! Untung saja kurungan itu masih cukup kuat menahan beratku, jika tidak, maka kurungan itu akan patah dan hancur berkeping-keping, bahkan sebelum aku dinaikkan ke atas kapal." Kera Hitam Petarung melepaskan semua kekesalannya itu dan mulai mengutuk Weng Lou tanpa henti.
Setelah lima menit penuh dia mengoceh, akhirnya mereka pun bisa memulai perjalanan mereka. Kelompok Weng Lou naik ke atas tubuh Kera Hitam Petarung, dan dengan bimbingan dari Hong Mugui, mereka mulai melesat pergi menuju ke Pusat Perguruan Iblis Merah.
***
Beberapa menit yang lalu.
Tidak jauh dari Pelabuhan Besar Qin berada, beberapa sosok yang sedang bersembunyi diantara pepohonan menatap dengan sungguh-sungguh ke arah kelompok Weng Lou yang telah meninggalkan pelabuhan.
Aura tubuh yang dikeluarkan oleh mereka semua adalah aura Praktisi Beladiri yang telah berada di ranah Pembersihan Jiwa, paling tidak yang terlemah diantara mereka berada di tahap 1 puncak, sedangkan yang terkuat berada di tahap 3 menengah. Mereka semua dengan hati-hati menyembunyikan seminimal mungkin aura pada tubuh mereka, dan terus mengamati kelompok Weng Lou dari kejauhan.
"Orang itu jelas sekali Hong Mugui, tapi siapa dua anak yang bersamanya? Apa dia sekarang telah mengambil murid untuk dia latih sendiri?" Salah satu orang diantara mereka berbicara dengan suara sangat kecil.
"Aku tidak tau, tapi yang jelas dia saat ini harusnya berada dalam kondisi terluka! Mata-mata yang aku taruh di Pulau Fanrong mengatakan bahwa dia telah dikalahkan dengan telak oleh seorang Praktisi Beladiri yang sangat kuat dan misterius!" Seorang lainnya dari mereka segera mengatakan informasi yang diterimanya dari bawahannya.
__ADS_1
"Lalu kenapa dia terlihat baik-baik saja?! Apa Dimata kalian dia seperti sedang terluka?!" cibir salah satu dari mereka.
"Aku tidak tau, sialan! Aku hanya mengatakan informasi yang dikatakan oleh mata-mata ku! Dia tidak mungkin berbohong kepadaku!" Orang yang berbicara sebelumnya mendengus marah kepada orang yang berbicara padanya itu.
Keduanya hampir bertarung di tempat, namun aura dari seorang Praktisi Beladiri tahap 3 segera menekan tubuh keduanya dan mereka pun diam di tempat tanpa berani bergerak sedikitpun.
"Kalian.....kita di sini untuk mengkonfirmasi berita yang kita dapatkan dari masing-masing mata-mata yang kita miliki di Pulau Fanrong, jika kalian malah mengakibatkan Hong Mugui merasakan kehadiran kita, aku akan langsung menangkap kalian dan membawakan kalian kepadanya sebagai hadiah permohonan maaf." Orang yang mengeluarkan aura dari Praktisi Beladiri yang berada di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 3 itu berbicara dingin seolah tak peduli pada nyawa orang lain di situ selain dirinya sendiri.
Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari dua orang yang bertengkar sebelumnya, mereka hanya diam dan tidak berani menyinggung lebih jauh orang itu.
Perhatian mereka pun segera terarah pada kelompok Weng Lou yang telah semakin jauh dari pelabuhan, dan mereka semua segera mendekati secara diam-diam. Fokus mereka semua terarah pada kurungan yang dibawa oleh kelompok Weng Lou tersebut.
"Apa-apaan benda besar itu? Apa Hong Mugui membawa pulang sebuah hadiah berharga dari Pulau Fanrong atau apa? Untung membawa benda seperti itu secara terang-terangan, dia jelas sama sekali tidak khawatir akan terjadi masalah."
"Kau pikir dia siapa, bodoh? Dia Hong Mugui! Praktisi Beladiri ranah Pembersihan Jiwa tahap 5! Orang bodoh mana yang mau membuat masalah dengannya secara terang-terangan?! Bahkan diantara kita, tidak ada yang berani menantangnya secara langsung!"
"Ssstt!!! Diamlah! Coba lihat itu! Dia membuka penutup benda besar itu!"
Mata mereka menatap dengan cepat pada kurungan itu, dan tak lama wajah mereka segera berubah menjadi kaku seketika dan mulut mereka terbuka lebar. Sebua aura yang sangat menakutkan terpancar keluar seketika saat penutup itu dibuka, dan sesosok makhluk yang sangat mengerikan keluar.
"Bi-Binatang bua-!!!"
Salah satu dari mereka yang panik dan ketakutan hampir saja berteriak, namun mereka segera menyumbat mulut orang itu dan menariknya kebelakang.
"Astaga! Diam, bajingan! Kau hampir membunuh kita semua!"
"Ta-Tapi.....I-Itu...binatang buas itu....di-dia... kekuatannya...." Orang itu tidak bisa berkata-kata karena merasakan kekuatan yang amat besar dari tubuh sosok yang keluar dari kurungan yang tidak lain adalah Kera Hitam Petarung.
"Hong Mugui....dia membawa seekor monster seperti itu dari Pulau Fanrong? Bagaimana bisa? Kekuatan monster itu....jelas sekali kekuatannya bahkan telah mencapai sesuatu yang bahkan tidak bisa dia kendalikan! Lalu... lalu bagaimana bisa?"
Saat ini, orang yang memiliki kekuatan di Ranah Pembersihan Jiwa tahap 3 itu tampak menatap kosong ke arah kelompok Weng Lou dan tudung yang menutup wajahnya kini terbuka dan memperlihatkan sosok wanita yang memiliki wajah mempesona. Namun warna rambutnya yang telah memutih tidak bisa menutupi usia sebenarnya yang sudah tidak muda lagi.
Pada saat ini, peristiwa yang terjadi selanjutnya adalah kelompok Weng Lou pergi melesat sangat cepat dari tempat mereka dengan menaiki punggung sosok yang keluar dari kurungan.
"Mereka pergi."
"Seperti mereka mengarah ke Pusat Perguruan Iblis Merah."
Setelah kepergian kelompok Weng Lou, terjadi keheningan yang terjadi diantara mereka semua dan mendadak wanita berambut putih yang sebelumnya segera berbalik dan menutup kembali wajahnya dengan tudung dari jubah yang dipakainya.
"Mau kemana kau?"
"Pergi dari sini. Aku harus memastikan sendiri, bahwa monster besar itu berada di bawah kendali Hong Mugui atau tidak. Jika seandainya ternyata Hong Mugui yang berada di bawah kendali monster itu, maka aku akan segera pergi dari Pulau Gui ini dan bahkan keluar dari Kepulauan Huwa," balas wanita itu tanpa berkedip sekalipun.
"Maksudmu?!"
Orang-orang yang ada di situ tampak tidak mengerti dengan maksud dari perkataan wanita tersebut.
"Dengar baik-baik, kalian semua. Monster yang dibawa oleh Hong Mugui bukanlah sesuatu yang bisa dikontrol oleh satu orangpun di Kepulauan Huwa. Kekuatannya sangat mengerikan dan tidak perlu banyak usaha untuk dia membunuh Hong Mugui. Monster itu....jika dia tidak berada di bawah kendali Hong Mugui dan malah sebaliknya, maka hanya akan ada kehancuran yang menunggu kita semua," ucapnya dengan serius pada mereka.
Dalam sekejap, dia pun melesat ke arah yang sama dimana kelompok Weng Lou saat ini tuju.
Mereka semua, yang masih ada di situ saling menatap satu sama lain selama beberapa saat, sebelum kemudian melesat pergi mengikuti wanita itu. Perasaan mereka penuh campur aduk dengan segala pemikiran di kepala mereka.
__ADS_1
Namun dari segala banyak pemikiran, tidak ada yang memikirkan, bawa sosok monster yang membuat mereka ketakutan itu sebenarnya berada di bawah kendali anak yang bersama dengan Hong Mugui.