Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 555. Resmi Bergabung


__ADS_3

Jiu De, murid tertua yang dimiliki oleh Meigui. Dia memiliki bakat yang sangat rata-rata dibandingkan dengan para murid lain yang dimiliki oleh Tetua Meigui tersebut.


Jika dibandingkan dengan Liang Lu, bisa dibilang Jiu De bukanlah apa-apa. Namun, dia adalah murid yang paling bekerja keras dibandingkan semua murid lainnya. Demi bisa menyeimbangi bakat beladiri murid-murid lain, dia menyelesaikan banyak misi dari sekte untuk bisa membeli banyak sumber daya serta teknik beladiri tingkat tinggi.


Dengan semangatnya itu, dia mampu naik hingga berada di ranah Pembersihan Jiwa tahap 4 puncak dan sedang bersiap naik ke tahap 5.


Dari sudut pandang para murid lain, mungkin Jiu De terlihat seperti seorang Senior yang ingin mendisiplinkan Weng Lou dengan kekuatannya tersebut. Weng Lou hanya manusia biasa yang memiliki kekuatan fisik luar biasa, tapi hanya itu saja. Tidak mungkin dia bisa mengalahkan Jiu De meski memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat hingga diakui oleh guru mereka.


"Apa kau siap Junior? Jika kau tidak waspada, mungkin aku tanpa sengaja mematahkan tulangmu!" Jiu De berbicara dengan ringan.


Dia tidak terlalu menganggap Weng Lou dengan serius dan hanya sedikit berjongkok untuk memasang kuda-kuda yang tidak kokoh.


"Tenang saja Senior, aku tidak akan ceroboh. Akan kupastikan tidak ada tulangmu yang patah," balas Weng Lou sambil tersenyum kecil.


Kaki Weng Lou melangkah ke depan dan tubuhnya pun menghilang seketika dari tempatnya berada. Jiu De terkejut menyaksikan itu. Weng Lou menghilang dari pandangannya dan detik berikutnya, angin sepoi bertiup di belakang lehernya. Mendadak, dia merasa sesuatu yang mendorong kepalanya dan tubuhnya bergerak jatuh ke tanah.


"A-Apa-"


*BUKKK!!!*


Tangan Weng Lou mendorong dengan telak kepala Jiu De hingga membentur tanah dan menyebabkan lubang kecil yang tercipta dari tabrakan kepala Jiu De tersebut. Dirinya tidak sempat melakukan perlawanan sama sekali hingga dia pada akhirnya kehilangan kesadarannya dan pingsan begitu saja.


Semua itu terjadi begitu saja dan sangat cepat. Para murid lain tidak bisa mencerna hal yang terjadi di depan mereka hingga akhirnya mereka tersadar bahwa Senior mereka telah kalah dengan telak oleh Weng Lou dalam satu gerakan. Sementara itu, Meigui tersenyum kecut menyaksikan muridnya yang paling tua, Jiu De dikalahkan oleh Weng Lou tanpa ampun sedikit pun.


Untungnya dia telah memberitahu Weng Lou untuk tidak terlalu berlebihan menghadapi Senior barunya tersebut. Bisa dibilang, meski dia tidak tau batas kekuatan Weng Lou, namun Meigui tau dengan jelas bahwa dia lebih kuat daripada Jiu De dan oleh sebab itu dia lebih mengkhawatirkan murid tertua nya itu dibandingkan dengan Weng Lou.


"Terima kasih telah menahan diri, Lou. Baiklah semuanya, karena kalian sudah menyaksikan kekuatan Junior kalian, maka semuanya sudah jelas. Dia akan menjadi bagian dari kalian dan tidak ada lagi dari kalian yang boleh memperlakukannya berbeda dengan para Praktisi Beladiri lain.


Sekarang, kalian boleh bubar. Lou dan aku akan pergi mengurus beberapa hal terkait dirinya yang sekarang menjadi murid ku juga seperti kalian dulu," jelas Meigui lalu pergi bersama Weng Lou meninggalkan para muridnya yang masih terdiam di tempat mereka sambil menatap satu sama lain.


Ketika mereka berdua telah pergi, baru lah terdengar suara dari murid perempuan yang menanyakan mengenai Tenaga Dalam milik Weng Lou sebelumnya.


"Emm.....bukankah kita harus merawat Kakak Senior De? Dia mungkin saja mengalami luka serius di kepalanya."


Perkataannya segera menyadarkan para murid lainnya, salah satu murid pun memeriksa kondisi tubuhnya lalu mengatakan bahwa dia hanya tidak sadarkan diri saja. Dua murid laki-laki, salah satunya adalah murid yang sebelumnya telah mengejek Weng Lou, membawa Jiu De ke kamarnya untuk dibaringkan, sedangkan para murid lainnya sibuk berdiskusi satu sama lain di lapangan belakangan.


"Kakak Senior Lu, bagaimana menurut mu tentang anak bernama Wei Lou itu? Apakah dia memang sekuat itu hingga mampu mengalahkan Kakak Senior De dalam satu gerakan?" Para murid bertanya pada Liang Lu yang masih berada di tempat itu.


Dia menatap mereka semua dengan tatapan sedikit aneh, sebelum kemudian dia menjawab, "Dari yang aku lihat, dia hanya bergerak sangat cepat sebelum kemudian mendorong kepala Jiu De ke tanah yang membuatnya langsung pingsan di tempat. Harusnya Guru tidak berbohong sama sekali tentang kekuatan fisiknya itu. Meski dia tidak memiliki Tenaga Dalam dan juga Qi, namun dia mampu menghilangkan semua keterbatasannya dengan kemampuan fisiknya tersebut. Jika boleh ku katakan, mungkin saja dia lebih kuat dariku."

__ADS_1


Penjelasan dari Liang Lu membuat mereka semua terkejut. Kakak Senior mereka ini terkenal tidak hanya diantara para murid Tetua Meigui, namun juga di dalam lingkaran murid inti Sekte Bambu Giok. Sebagai jenius yang berbakat sejak kecil, dia telah membuat reputasinya sendiri di tempat ini dan kekuatannya dikatakan adalah sepuluh besar diantara para murid inti.


Jika Weng Lou yang merupakan murid baru memiliki kekuatan di atas Kakak Senior mereka ini, maka dia akan menjadi bagian dalam jajaran sepuluh besar juga. Namun siapa yang akan percaya itu? Liang Lu dan Weng Lou bahkan belum bertarung satu sama lain, jadi banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi, dan mungkin prediksi Kakak Senior mereka ini salah dan dia yang akan menjadi pemenang jika bertarung.


Liang Lu tidak mau membahas lebih jauh mengenai masalah itu, dia pun segera pergi masuk ke dalam kediaman Tetua Meigui, dan masuk ke kamarnya.


***


Di jalanan Sekte Bambu Giok. Weng Lou dengan dipimpin oleh Meigui berjalan menuju ke pusat administrasi milik sekte, yaitu sebuah bangunan yang dibangun tepat di depan halaman depan sekte.


Weng Lou sebelumnya telah melewati tempat ini pagi tadi, tapi saat itu tempat ini masih tertutup sangat rapat, mungkin orang-orang yang bekerja di dalamnya masih tertidur pulas saat itu. Tapi sekarang telah jauh berbeda. Tidak hanya bangunan itu telah terbuka, tapi juga banyak orang yang terlihat sedang berjalan keluar masuk dari bangunan itu.


Ketika mereka masuk, Weng Lou bisa melihat beberapa murid sekte yang sedang berbaris di depan beberapa meja yang mana terdapat beberapa orang yang sedang mencatat sesuatu. Tetua Meigui membawa Weng Lou ke sebuah meja yang terlihat sangat sepi dan berbeda dari meja-meja lain di dalam ruangan itu.


Seorang pria tua terlihat dengan tenang duduk di baliknya, dan sedang membaca sebuah kertas perkamen yang sedikit usang, saat kemudian Weng Lou dan Tetua Meigui datang menghampirinya. Dia menurunkan kertas di tangannya, dan menatap Tetua Meigui sejenak, sebelum kemudian tatapannya terarah pada Weng Lou yang dengan tatapan polosnya menatap balik kepada orang tua itu.


Sebelah alis pria itu terangkat, dan dia kembali menatap pada Tetua Meigui, lalu berbicara padanya, "Dia hanya manusia biasa."


"Tepatnya, manusia biasa yang memiliki kekuatan fisik diluar batas manusia biasa kebanyakan." Tetua Meigui langsung membalas cepat perkataan nya.


"Aku tidak mempercayainya, beri aku sedikit bukti dan aku akan mempercayai mu," ucap pria tua itu sambil menyipitkan matanya dengan tajam.


Pria tua itu pun diam, tak lama terlihat perubahan ekspresi pada wajahnya dan dia pun menghela napasnya sambil dengan terpaksa mengambil satu kertas kosong di mejanya dan mulai menuliskan sesuatu.


"Nama dan umurnya?"


"Namanya Wei Lou, dan untuk umurnya, aku memperkirakan dia baru akan berusia lima belas tahun beberapa bulan lagi."


"Hmmm....jadi dia belum genap 15 tahun....apa kau ingin memasukkan dia ke dalam pengajaran murid inti?" tanya pria itu sambil tetap menulis.


Namun Tetua Meigui menggelengkan kepalanya pelan, "Tidak, tidak sekarang. Aku ingin memeriksa dengan jelas asal usulnya terlebih dahulu. Ketika aku selesai, aku akan meminta rekomendasi darimu untuk memasukkan nya ke dalam murid inti. Bagaimana pun, dia tidak memiliki Dantian, jadi seharusnya dia tidak akan bisa menimbulkan masalah besar di dalam sekte."


Setelah beberapa pertanyaan lain, akhirnya pria tua itu pun selesai menulis lalu melemparkan sebuah gelang rantai berukuran kecil kepada Tetua Meigui.


"Jangan sampai dia menghilangkan nya. Itu adalah gelang khusus untuk pengawasan, apabila ditemukan sesuatu yang mencurigakan darinya, kita bisa dengan mudah menemukannya," jelas pria itu dengan serius.


Tetua Meigui pun mengangguk, dan segera berbalik dan menatap Weng Lou yang berdiri dengan tenang menunggunya. Dia pun menyerahkan gelang itu pada Weng Lou dan mengatakan beberapa penjelasan mengenai sistem di dalam Sekte Bambu Giok serta beberapa peraturan yang wajib diingat oleh para anggotanya.


Dua puluh menit menjelaskan semua mengenai hal-hal yang penting di Sekte Bambu Giok, Tetua Meigui pun selesai berbicara lalu kembali membawa Weng Lou ke kediamannya.

__ADS_1


Begitu sampai, dia pun memberikan beberapa barang kepadanya. Yang pertama adalah pakaian anggota sekte. Weng Lou menerima sepasang pakaian yang memiliki pola seperti batang-batang bambu di beberapa sisi berwarna hijau terang. Ada juga sekantung uang berisikan koin-koin emas, serta yang terakhir adalah sebuah kunci.


"Ini adalah kunci untuk membuka ruangan menempa yang ada di bawah tanah kediaman ini, kau bisa memakai apa saja di dalamnya tapi untuk bahan mineral, kau hanya bisa memakai bahan-bahan biasa untuk latihan, atau jika kau ingin menggunakan beberapa bahan khusus, maka akan ada batasan jumlah yang boleh kau gunakan.


Kau bisa melihat daftar peraturan penggunaan nya di ruangan menempa nanti. Senior mu akan membawa mu ke ruangan itu, minta saja pada mereka. Aku tidak bisa memberikan mu lebih dari ini, karena aku sendiri tidak tau apa yang kau butuhkan untuk berlatih dan memperkuat dirimu. Jika memang ada sesuatu yang kau butuhkan, beritahu saja padaku," jelas Tetua Meigui.


Setelah memberitahu nya semua itu, Weng Lou pun ditinggal sendiri sementara Tetua Meigui pergi keluar. Sepertinya dia masih punya beberapa urusan tersendiri yang harus di kerjakan nya.


Melihat dia yang telah pergi, Weng Lou menghela napas panjang dan segera pergi berjalan menuju ke kamar miliknya yang berada jauh di pojok lantai satu. Ketika dalam perjalanan, Weng Lou berpapasan dengan Liang Lu yang baru saja keluar dari dalam kamarnya yang terletak beberapa kamar dari kamar Weng Lou.


"Ah, salam Kakak Senior Lu!" Weng Lou segera menyapanya sambil menunduk hormat padanya, sementara Liang Lu hanya diam sambil mengangguk sebagai balasan.


Karena berpikir bahwa Liang Lu tidak ingin diganggu olehnya, Weng Lou pun memilih untuk berjalan melewatinya. Namun, ketika dia sudah melewatinya, mendadak terdengar suara dari Liang Lu yang menghentikan langkah kakinya.


"Aku tau kau menyembunyikan sesuatu. Mungkin Guru tidak menyadarinya, tapi aku yakin bahwa kau merencanakan sesuatu. Ingat ini, aku tidak akan pernah membiarkan apa yang kau inginkan itu terjadi."


Senyum kecil muncul pada sudut bibir Weng Lou, 'Benar-benar insting yang luar biasa. Sayang nya, rencanaku sama sekali tidak akan membahayakan kalian dan seluruh sekte. Mau bagaimana pun, Sekte Bambu Giok belum menyebabkan masalah padaku, jadi aku tidak berencana untuk melakukan apapun pada kalian. Begitu aku menemukan cara agar bisa kembali menggunakan kekuatan jiwa, aku akan meninggalkan sekte ini seperti tidak pernah berada di sini sebelumnya.'


Weng Lou melambaikan tangannya dan kembali berjalan sambil berbicara dengan tenang, "Tenanglah, apa yang aku inginkan sama sekali tidak akan membahayakan kalian semua. Begitu aku mendapatkan apa yang aku mau, aku akan menghilang dari kehidupan kalian seperti yang kalian para murid Tetua Meigui inginkan."


"Kau-!? Jadi benar kau merencanakan sesuatu!?" Liang Lu berseru sambil berusaha mengejar Weng Lou. Namun dia tidak menyadari bahwa tiap langkah kaki Weng Lou, beberapa meter langsung terlewati begitu saja, yang mana langsung meninggalkannya jauh dibelakang tanpa bisa mengejarnya.


Ketika Liang Lu menyadari bahwa dirinya tidak bisa mengejar Weng Lou, dia pun akhirnya cuma bisa pasrah dan berhenti mengejar lalu pergi dari situ.


*Trap....* Pintu ditutup, dan Weng Lou melemparkan pakaian yang baru saja diberikan oleh Tetua Meigui padanya ke atas tempat tidur lalu pergi menuju ke jendela dan melihat beberapa murid yang sedang berlatih di lapangan belakang.


Melihat mereka yang berlatih, Weng Lou kembali teringat pada saat dirinya masih di Kediaman Keluarga Utama Weng di Kota Bintang Putih. Setiap latihan yang dia lalui, bisa dibilang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan mereka yang tidak berbakat dan tidak memiliki keberuntungan.


Weng Lou selalu berpikir, apa jadinya jika dia tidak menemukan Kitab Keabadian waktu itu. Atau bagaimana ketika dia hampir mati tiap kali mencoba sesuatu yang berbahaya dan Zhi Juan selalu datang untuk menolong nya.


Tapi dia segera menggelengkan kepalanya begitu dia mulai terlarut terlalu dalam kepada pemikirannya sendiri, "Haah...walau dia sudah memberikan banyak hal kepadaku, tapi tetap saja dia malah membuatku berakhir seperti ini. Apa yang dipikirkannya ketika membuang anak berusia 14 tahun di pulau yang sangat jauh dari rumahnya?"


Meski Weng Lou mengatakan hal ini, tapi dia jelas mengetahui bahwa dirinya yang berakhir di sini adalah kesalahannya sendiri.


"Ck, sudah lah. Aku juga butuh latihan. Sudah lama aku tidak memperkuat otot-otot ku. Kuharap masih cukup kuat mengatasi latihan fisik yang dibuat kakek tua itu," ucapnya yang kemudian mulai mengganti pakaian miliknya.


Setelah selesai mengganti pakaiannya, Weng Lou pun keluar dari kamar, lalu menuju ke lapangan di belakang kediaman Tetua Meigui.


Luas halaman ini hampir mencakup seribu meter persegi, dan banyak sekali tempat-tempat yang cocok dipakai untuk berlatih atau bermeditasi. Untuk tidak terlalu menarik perhatian dari para murid yang lain, Weng Lou pergi ke salah satu tempat yang sangat tersembunyi dan mulai melakukan latihan fisiknya.

__ADS_1


__ADS_2