Menuju Keabadian

Menuju Keabadian
Ch 566. Ghoul


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, di pintu masuk menuju pusat labirin.


Sesosok monster raksasa bermata merah menatap dengan penuh napsu membunuh ke arah seorang peserta tes. Dia memiliki mulut yang besar dan dihiasi oleh gigi-gigi yang runcing. Sisik-sisiknya tebal dan berwarna gelap serta mengeluarkan suhu panas, seolah-olah tubuhnya telah dibakar hingga mencapai suhu yang sangat panas dan membakar apapun yang disentuhnya.


Peserta Tes tersebut menelan ludah dengan berat dan tampak ketakutan melihat sosok monster tersebut. Tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar ketakutan menatap kedua mata merah darah sosok itu, dan tanpa sadar dia pun terduduk ke tanah.


"Ti-Tidak mungkin kami bisa mengalahkan monster seperti ini.....i-ini bukanlah tes masuk ke dalam jajaran Murid Inti, melainkan sebuah tes berdarah! Sialan.....aku tidak mau mati di tempat ini!!!"


Peserta Tes itu berbicara dengan penuh rasa putus asa. Dia melihat monster di hadapannya tersebut membuka mulutnya yang besar, dan dirinya pun langsung masuk ke dalam mulutnya dalam satu gerakan. Kematian langsung mendatangi dirinya begitu sang monster menelannya bulat-bulat.


"Jiiiiiiiiii........" Monster itu mengeluarkan suara aneh dan menutup kedua matanya, lalu mulai tidur.


***


Beberapa tikungan dari pusat labirin, sosok Weng Lou dan Qianren sedang beristirahat di dekat sebuah api unggun yang dibuat Qianren. Gaouji yang bersama mereka masih juga tidak sadarkan diri, namun Qianren tidak peduli lagi dengannya dan memilih untuk menyibukkan dirinya pada barang-barangnya di dalam cincin penyimpanan nya.


Sementara itu, Weng Lou sedang bermeditasi dengan tenang dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


Mereka sedang menunggu matahari terbit sebelum kemudian mulai melanjutkan perjalanan mereka. Karena Weng Lou mengatakan bahwa mereka sudah akan tiba di pusat labirin, Qianren bisa sedikit lebih santai dan beban di pundaknya menjadi sedikit ringan.


Beberapa hari lainnya mereka menjelajahi labirin, dan Weng Lou telah menghabisi beberapa binatang buas dan siluman yang memiliki kekuatan diatas kemampuan Qianren untuk menanganinya. Jadi Weng Lou yang terus melawan mereka semua.


Kelompok mereka juga beberapa kali menemukan rute khusus berisikan Roh Jahat dan Roh Pendendam yang sangat kuat dan membuat mereka menjadi kesulitan. Pasalnya, karena hanya Qianren seorang yang bisa memakai Qi, dia harus mampu menahan tiap serangan mengerikan dari para Roh tersebut, sementara Weng Lou yang menyerang.


Beberapa kali mereka nyaris mati karena dirinya yang tak kuasa menahan serangan mengerikan dari para Roh Jahat. Namun Weng Lou yang bertugas menyerang terus menerus memberikannya arahan, yang mana membuatnya semakin terampil dalam menggunakan Qi miliknya.


Sebelum mereka beristirahat disini, mereka berhadapan dengan sebuah Roh Jahat yang hampir berubah menjadi Ghoul, dan kekuatannya benar-benar hampir membuat Qianren kehilangan kesadarannya. Untungnya Weng Lou tidak membiarkan pertarungan berlangsung lama. Dia langsung serius dari awal pertarungan, sehingga mereka mampu membunuh Roh Jahat yang depenuhi dengan kejahatan pada dirinya itu.


Weng Lou kembali mendapatkan Inti Ghoul lainnya dari mengalahkan Roh Jahat tersebut. Selama beberapa hari Weng Lou telah mengalahkan banyak Roh Jahat dan Roh Pendendam, dan mendapatkan sepuluh lebih Inti Ghoul dan menyerap Kekuatan Jiwa di dalamnya setelah membantu mendamaikan kesadaran yang dimiliki oleh Roh di dalamnya.


Pada saat ini, Weng Lou memilih untuk bermeditasi karena telah menyerap sedikit kekuatan jiwa yang ada di dalam Inti Ghoul yang baru saja dia dapat. Kali ini dia telah merasakan perubahan pada dirinya, karena telah menyerap beberapa Kekuatan Jiwa selama beberapa hari ini.


Perubahan ini yaitu Weng Lou telah berhasil merasakan Kekuatan Jiwa miliknya yang ternyata terkubur jauh di dalam dirinya selama ini. Kesadarannya berhasil menemukan Kekuatan Jiwa nya ini berkat bantuan dari Kekuatan Jiwa yang dia dapat dari Inti Ghoul.


Tiap kali dia menyerap Kekuatan Jiwa, dia bisa merasakan Kekuatan Jiwa tersebut mengalir masuk ke suatu tempat di dalam dirinya. Beberapa kali dia mencoba mengikutinya, dan kali ini dia akhirnya mendapatkan hasil.


Selama ini, Kekuatan Jiwa nya ternyata berada di dalam lokasi yang mana seharusnya Dantiannya berada. Namun karena dia tidak memiliki Dantian, Kekuatan Jiwa tersebut sama sekali tidak bisa diakses olehnya. Dantian merupakan jembatan penghubung agar Kekuatan Jiwa tersebut bisa digunakan, namun potongan puzzle tersebut tidak lengkap sehingga dia tidak bisa memakainya sama sekali atau bahkan merasakannya pada keadaan biasa


Namun, secara bertahap, Kekuatan Jiwa yang telah dia resap dari beberapa Inti Ghoul ternyata membantunya membentuk suatu penghubung antara dirinya dengan Kekuatan Jiwa nya. Dia bisa merasakan bahwa hanya sedikit lagi, jembatan itu akan selesai dan dia bisa kembali menggunakan Kekuatan Jiwanya.


Dia hanya memerlukan Inti Ghoul yang sedikit lebih besar, atau sebuah Inti Ghoul yang sebenarnya dari seekor Ghoul, maka jembatan itu akan selesai.


"Huuuu....." Weng Lou menghela napasnya dan membuka mata dengan pelan.


"Sudah selesai?" tanya Qianren yang memilih berbaring menatap langit yang mulai sedikit terang. Sebentar lagi sepertinya akan pagi, dan mereka akan kembali memulai perjalanan mereka.


Weng Lou mengangguk, dan segera bangkit berdiri, membersihkan celananya yang dipenuhi oleh debu karena duduk terlalu lama.


"Apa persiapan mu sudah selesai?" Weng Lou balik bertanya pada Qianren yang terlihat mulai memejamkan matanya.


"Em, sudah. Aku hanya sedikit mengemas beberapa barang yang tidak berada pada tempatnya saja. Juga aku mengatur beberapa barang yang kita dapatkan dari beberapa rute khusus yang sebelumnya telah kita selesaikan," balas Qianren yang melambai tangan kanannya dengan malas.


Mendengarnya membuat Weng Lou berhenti bertanya lagi dan dia memilih untuk berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Dia tidak takut meninggalkan Qianren sendirian, karena di tempat mereka ini sudah tidak ada lagi binatang buas, Siluman, ataupun Roh Jahat. Hanya tinggal satu rintang yang mereka perlu lewati, yaitu sesuatu yang menjaga pintu masuk menuju pusat labirin.


Weng Lou tidak perlu mengecek untuk mengetahuinya, dalam beberapa jam ini mereka telah tiga kali jeritan keputusasaan dari arah pusat labirin. Masih tersisa beberapa murid lain yang tersisa selain kelompok mereka, dan mereka tidak akan mendapatkan halangan untuk menuju ke sini, karena Weng Lou bersama Qianren sudah memberishkan seluruh labirin.


"Sepertinya yang menjaga pintu masuk pusat labirin itu sangat kuat. Aku akan mencoba melawannya-"


"Aku akan ikut!"


Belum selesai Weng Lou berbicara, Qianren sudah memotongnya. Dia tau apa yang akan Weng Lou katakan, dan segera menghentikan pemuda itu menyelesaikan kalimatnya. Matanya penuh dengan kesungguhan dan menatap Weng Lou tanpa rasa takut.


"Aku akan ikut dengan mu. Tolong, jangan tinggalkan aku dan bertsurng seorang diri. Aku tau bahwa aku hanya akan menjadi beban, tapi tolong biarkan aku ikut. Meski akan menyulitkan mu, tapi aku akan berusaha semaksimal mungkin tidak menjadi beban bagi mu. Aku mungkin masih bisa membantu beberapa hal, jadi tolong, bawa aku bersama mu."


Ucapan Qianren terdengar sangat sungguh-sungguh dan dari lubuk hatinya yang terdalam. Tidak ada keraguan pada tiap kata-katanya, dan membuat Weng Lou yang mendengar itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ketika dia berpikir bahwa Weng Lou akan menyetujuinya, kata-kata selanjutnya yang keluar dari mulut Weng Lou membuat Qianren terdiam di tempatnya.


"Tidak, kau tetap di sini sambil menjaga senior mu itu. Aku tidak membutuhkan lagi bantuanmu. Aku bisa menyelesaikannya seorang diri, jadi diam saja di sini dan jangan menjadi beban bagiku."


Kata-kata yang keluar dari mulut Weng Lou itu seperti sebuah anak panah yang langsung menusuk hati terdalam Qianren, dan membuat dia tidak bisa berkata apa-apa. Dia menatap wajah Weng Lou yang saat ini menjadi datar dan tidak memiliki emosi sedikitpun.


"Kau....kenapa kau berbicara seperti itu? Aku....aku akan mencoba menolong-"


"Tidak perlu! Kau hanya akan menjadi penghalang saja. Gadis lemah seperti mu bisa melakukan apa? Bahkan menahan beberapa Roh Jahat saja kau tidak sanggup, dan sekarang kau mengatakan ingin menolong ku? Hah, jangan bercanda!"


"Selama ini aku hanya meminta tolong padamu karena aku berpikir bahwa kau memiliki kekuatan yang cukup memadai, tapi beberapa hari bersama mu membuatku sadar bahwa kau sebenarnya hanyalah beban berjalan. Apanya yang menolong? Kau selama ini hanya bisa merengek dan membuatnya melakukan semuanya."


Ekspresi wajah Weng Lou sama sekali tidak berubah saat dia mengatakan semua kata-kata buruk itu. Mendadak, air mata menetes dari mata Qianren. Dia tidak percaya Weng Lou yang selalu baik padanya, bergurau, dan sering menggodanya itu mengatakan hal seburuk itu padanya.


Dia mengigit bibir bawahnya hingga berdarah, dan tangannya terkepal. Dirinya sadar bahwa selama perjalan mereka dia hanyalah beban, dan dia sadar bahwa sebenarnya Weng Lou tidak pernah membutuhkan bantuannya ketika menghadapi para Roh Jahat dan Roh Pendendam. Kedua pedang kembar milik Weng Lou sebenarnya bisa menebas mereka tanpa bantuan Qi nya.


Ya, memang benar bahwa kedua pedang kembar Weng Lou sebenarnya bisa menebas para Roh Jahat dan Roh Pendendam. Sebelum mengikuti ujian ini, dia telah menambahkan sebuah logam khsus pada keduanya yang membuatnya bisa menebas Roh Jahat dan Roh Pendendam tanpa bantuan Qi sedikitpun.


"Jadi....jadi kenapa kau terus membawaku selama ini bersama mu? Bukannya kau mengatakan bahwa aku ini beban, bukan?" Pertanyaan dari Qianren membuat senyuman muncul pada wajah Weng Lou.


Namun bukan sebuah senyum yang biasa diperlihatkan nya pada gadis itu, melainkan sebuah senyuman mengejek dan merendahkan.

__ADS_1


"Kupikir aku sudah memberitahumu sebelumnya beberapa hari yang lalu ketika kau menanyakan kenapa Senior mu itu tidak Hadar juga?"


Balasan dari Weng Lou itu bagai tamparan keras bagi Qianren yang telah jatuh dari tebing tinggi oleh kata-kata menusuk Weng Lou.


"Kau....hanya menginginkan hadiah? Jadi karena itu?"


"Benar, setidaknya kau memiliki kepala yang sedikit encer. Itu adalah kelebihan mu. Semuanya demi keuntungan semata. Aku adalah orang yang sangat serakah. Ketika aku melihat suatu kesempatan untuk mendapatkan keuntungan, maka aku pasti akan melakukannya."


Weng Lou berhenti berbicara sejenak dan menatap ke langit yang sudah jauh lebih terang. Matanya memantulkan cahaya, dan segera mengambil jubahnya yang ada di atas tanah, sebelum kemudian mulai memakainya.


"Hari sudah pagi, aku akan pergi melawan monster itu. Terserah mu jika kau tetap meaksa ikut, tapi aku menyarankan untuk mu tetap tinggal, mungkin saja ada murid lain yang datang ke sini dan memiliki niatan buruk pada senior tak berguna mu itu," ucap Weng Lou yang kemudian berbalik pergi dari situ.


Langkah kakinya ringan, dan segera meninggalkan jauh Qianren yang masih diam di tempatnya.


Air matanya sudah mengalir deras, tapi tidak ada suara yang dia keluarkan melainkan hanya penyesalan karena telah percaya pada Weng Lou selama ini.


Di belokan terkahir menuju pusat labirin, Weng Lou tersenyum lembut dan menghela napas lega.


"Maafkan aku Saudari Qian, tapi aku akan meninggalkan tempat ini beberapa waktu ke depan. Jika kau terus menerus bersamaku, aku takut kau akan mendapatkan masalah besar karena ku. Jadi bencilah aku, jauhilah aku, aku akan menerimanya, karena kau berhak melakukan itu padaku, demi masa depan lebih baik."


Pada saat ini, Weng Lou kini tiba di tikungan terakhir, dan tiba dia depan sebuah pintu besar yang tidak lain adalah pintu masuk menuju ke pusat labirin, yang menjadi titik akhir dari ujian labirin ini.


"Kau tidak perlu repot-repot bersembunyi seperti itu, kadal sialan. Ghoul seperti mu tidak cocok mengambil rupa seekor binatang buas," ucap Weng Lou yang dengan cepat melemparkan lima buah pisau dari tanduk banteng ke satu sudut lorong dekat pintu masuk.


*Tring! Tang!!!*


Pisau-pisau itu terpantul saat menabrak sesuatu di sudut lorong, dan mendadak sepasang mata merah darah bersinar terang dari kegelapan.


"Jiiiiiiii....."


Sosok kadal raksasa yang merupakan seekor Ghoul itu bergerak keluar dari sudut lorong dan tubuhnya perlahan mulai membesar dan menatap Weng Lou dengan napsu membunuh yang sangat besar


"Tidak habis pikir ada seekor Ghoul bodoh seperti mu di dalam labirin, kau pasti sebelum mati adalah seseorang yang terbelakang," ejek Weng Lou.


"Jiiiiii!!!!"


Kadal besar itu meraung marah dan segera melesat ke arah Weng Lou. Tubuhnya bagai tanpa beban, dan mencapai tempat Weng Lou hanya dalam waktu beberapa detik saja. Ekor yang dipenuhi dengan duri dan tulang-belulang diperlihatkan oleh kadal itu, yang dengan cepat menyapu ke arah Weng Lou sedang berdiri.


"Hoohh, itu baru yang ku sebut semangat bertarung! Hahaha!!" Kedua tangannya terangkat dan dia berusaha menahan serangan itu.


*BUMMM!!!!*


Tubuh Weng Lou terdorong mundur beberapa langkah, sebelum kemudian mulai berhenti dan menahan sepenuhnya ekor kadal itu.


Pada ekor itu, beberapa wajah manusia yang terlihat penuh penderitaan muncul ke sisik-sisiknya dan seolah-olah meminta Weng Lou untuk membebaskan mereka.


Weng Lou tidak menahan diri lagi, otot-ototnya mulai terbentuk beberapa kali lebih padat, dan kekuatan besar segera mendorong kembali ekor kadal Ghoul tersebut.


"Berapa banyak Roh yang kau makan selama ini? Puluhan? Ratusan? Atau bahkan ribuan? Ya, berapa banyak pun itu, kau tetap akan mati hari ini!"


"JJIIIIIIIIII!!!!!!"


Suara Ghoul tersebut berubah, ratusan wajah muncul pada sisik-sisik di sekujur tubuhnya dan ikut meraung bersama Ghoul tersebut.


Wujudnya segera kembali berubah. Rupanya menjadi lebih humanoid, dengan kedua kaki depannya berubah menjadi tangan dengan masing-masing tiga buah cakar panjang dan tajam menghiasinya.


"JIIIII!!!!" Meski sudah berubah bentuk, namun kalimat Ghoul tersebut tidak berubah sama sekali, hanya suaranya saja yang mengalami perubahan.


Ghoul itu melesat bagai angin ke arah Weng Lou, kedua cakarnya tiba di leher Weng Lou begitu dia tiba di belakang Weng Lou.


Weng Lou tidak perlu berbalik untuk merasakan kedatangan serangan itu. Dua pedangnya dengan cepat diangkat dan melindungi leher belakangnya.


*SRINGGG!!!!* Pedang dan cakar saling beradu dan menimbulkan bunyi pertemuan dua benda logam yang melengking.


Tubuh Weng Lou berputar, dia mendorong mundur cakar-cakar tersebut, dan menendang perut Ghoul tersebut hingga membuatnya terbanting menabrak dinding labirin hingga menghancurkannya berkeping-keping.


*BRUAKK!*


Ghoul itu kembali bangkit, dan menyerang Weng Lou dengan lebih beringas. Kecepatannya terus meningkat seiring berlangsung nya pertarungan. Namun pada saat yang sama, kekuatannya terus berkurang sedikit demi sedikit.


Weng Lou menyadari hal ini, dia dan Ghoul itu beradu serangan menggunakan senjata mereka masing-masing. Tiap kali Ghoul itu memberikan serangannya, ada sedikit kekuatan yang berkurang dari serangannya tersebut.


"Kau membakar Roh-Roh yang ada di dalam dirimu?!"


Gigi di kertakkan, tangan kanan Weng Lou segera mendorong menjauh Ghoul itu, lalu segera memasang kuda-kuda nya.


"Teknik Pedang Original, Membelah Gelombang!"


Weng Lou melesat maju, lalu mengayunkan kedua pedangnya dari bawah ke atas. Dua buah luka tebasan yang dalam segera ditinggal pada tubuh Ghoul tersebut. Segera berbagai macam teriakan kesakitan terdengar dari bekas serangan Weng Lou tersebut Beberapa wajah yang tertebas oleh pedangnya berteriak seperti orang gila, sementara sang Ghoul sendiri menggeram marah.


Tak perlu waktu lama, luka pada tubuhnya itu sembuh seutuhnya, sementara Ghoul itu masih berada di tempatnya dan tidak berani mendekati Weng Lou dengan ceroboh lagi.


Begitu juga sebaliknya, Weng Lou terlihat berhati-hati, dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh lawannya. Ini adalah pertama kali dia melawan seekor Ghoul, jadi dia harus selalu waspada dalam segala keadaan.


Ketika Weng Lou masih diam di tempatnya, Ghoul itu mengeluarkan uap panas dari tubuhnya. Dahi Weng Lou mengerut melihat hal itu, kabut asap tipis segera terbentuk, sementara nyala api mulai muncul dari sela-sela sisik tebal milik Ghoul tersebut.

__ADS_1


"Jiiii......JIIIIII!!!!"


Mulut Ghoul itu mendadak terbuka lebar, dan lava panas dimuntahkan ke arah Weng Lou.


Weng Lou terkejut melihat itu dan guru bergerak menghindar. Namun Ghoul itu tidak berhenti di situ saja. Bola-bola lava segera ditembakkan dari dalam mulutnya, dan terbang ke arah Weng Lou yang sedang menghindar.


Weng Lou mengatupkan mulutnya, lalu buru-buru merubah cara memegang pedangnya.


*Shuu..... HUSH! TASHH!!! TESHH!!!*


Tangan Weng Lou bergerak sangat cepat membelah bola-bola lava panas itu.


Setelah satu menit penuh melontarkan serangan yang sama, akhirnya Ghoul itu berhenti, namun bukan karena dia kelelahan, melainkan karena dia hendak memberikan serangan lainnya yang jauh lebih merepotkan.


Cakar-cakar pada kedua tangan Ghoul itu mulai memancarkan cahaya merah redup, dan berubah menjadi seperti besi panas yang bisa menembus dan melelehkan apapun yang disentuhnya.


*Whush...* Pedang Weng Lou diputar, dan dia segera melesat maju bersamaan dengan Ghoul tersebut.


"Kau hanyalah makhluk tak bernyawa! Seharusnya kau diam saja di alam sana dan nikmati hari-hari kematian mu!!!"


*Sringggg!!!!* Percikan api tercipta ketika kedua nya saling bertabrakan.


"JIII!!! JIIIII!!!!"


*Sringg! SHUUUU!!!*


Ketika keduanya masih beradu kekuatan, Ghoul itu kembali membuka mulutnya, dan memuntahkan lava ke arah Weng Lou.


Weng Lou tidak sempat menghindar, dan tubuhnya pun segera ditelan oleh lava panas itu. Ghoul itu merasa puas melihat sosok Weng Lou yang berubah menjadi manusia lava.


"Jiii.....Jijijiji!!" Ghoul itu seperti sedang menertawakan nasib Weng Lou, dan kemudian mengayunkan cakar di tangan kanannya, siap memenggal Weng Lou yang terlapisi lava panas miliknya.


Akan tetapi, segera sebuah tangan yang hangus terbakar dan sedikit meleleh keluar dari balik lava dan menangkap cakarnya itu. Kepala Weng Lou keluar dari dalam lava, dan memperlihatkan wajahnya yang hancur berantakan oleh lava yang menyelimuti dirinya.


"Ku bunuh kau, dasar bajingan sialan."


Aura dan napsu membunuh yang telah lama Weng Lou sembunyikan, mendadak meluap dari dalam tubuhnya dan menyelimuti seluruh lorong labirin tersebut.


Ghoul itu terkejut sekaligus ketakutan ketika merasakan napsu dan aura membunuh yang jauh lebih besar dari miliknya. Rasanya seperti dia sedang dicekik dan tidak bisa bernapas sedikitpun.


*Plashh!!!*


Tangan kanannya yang dipegang oleh Weng Lou langsung hancur begitu Weng Lou menambahkan kekuatan pada genggamannya. Tangan kiri Weng Lou lalu dengan cepat menusuk dada Ghoul tersebut dan menggenggam tulangnya, menghentikannya untuk melarikan diri.


*Husshh...*


Tubuh Weng Lou keluar seutuhnya dari dalam lava, dan menampakkan tubuhnya yang benar-benar hangus terbakar dengan dagingnya yang sedikit meleleh. Namun Weng Lou telah benar-benar menghiraukan rasa sakit pada tubuhnya.


*BAMM!!!*


Sebuah tinju dari tangan kanan Weng Lou menghantam wajah Ghoul itu, dan dilanjutkan dengan tinju-tinju lainnya.


Weng Lou terus memukul wajah Ghoul itu tanpa membiarkan dirinya bisa beristirahat sedikit pun. Perlahan, tubuh Weng Lou mulai pulih sendiri. Dimulai dari dagingnya dan kemudian lapisan-lapisan kulitnya yang telah benar-benar hancur.


Pada saat ini, Weng Lou menunjukkan sebuah kemampuan regenerasi yang belum pernah diperlihatkannya sebelumnya, dan dia sendiri tidak mengetahui apapun mengenai hal ini Namun yang pasti, dia merasakan sensasi panas di dalam hatinya yang menjerit untuk segera menghancurkan lawannya.


"Kau senang membunuh kan?! Huh?! Coba rasakan ini!!!"


*BUKKK!!!* Tinju Weng Lou langsung mematahkan rahang Ghoul itu. Ketika Weng Lou menghancurkan rahang lawannya, terdapat sebuah jeda yang terjadi dan langsung dimanfaatkan oleh sang Ghoul yang sudah babak belur itu.


Dia berubah bentuk lagi, namun bukan merubah ukuran tubuhnya, melainkan dia berubah menjadi wujud Roh nya, dan lepas dari genggaman Weng Lou.


Sosoknya dengan cepat melewati tubuh Weng Lou, dan membuat gerakan pemuda itu terhenti begitu, saja dan tak berapa lama dia memuntahkan darah dan jumlah tidak sedikit.


Ketika sebuah Roh Jahat atau Roh Pendendam melewati tubuh fisik makhluk fisik, mereka akan mengalami goncangan jiwa dan biasanya menyebabkan beberapa luka pada jiwa. Seekor Ghoul yang beberapa puluh kali lebih kuat dibandingkan Roh Jahat biasa, dapat menyebabkan kematian instan makhluk hidup yang dilewatinya ketika dalam wujud jiwanya.


Jiwa lawannya itu akan langsung hancur berkeping-keping. Tapi sayangnya, yang dia lewati adalah Weng Lou yang memiliki kekuatan jiwa seorang Praktisi Beladiri di ranah Penyatuan Jiwa. Di lewati oleh Roh yang mengandung sifat jahat dan merusak sekuat Ghoul hanya akan menyebabkan beberapa guncangan pada diri Weng Lou seharusnya, tapi karena Kekuatan Jiwa nya sedang tertidur di dalam dirinya, dia mengalami sedikit kerusakan pada jiwanya.


"Phuh.....itu sakit sialan...." Weng Lou berbicara dengan suara dingin.


Salah satu pedang kembarnya dia tarik dari dalam balik lava, dan dengan cepat dirinya melesat ke arah Ghoul tersebut.


"Mati!!!"


Pedang diayunkan dengan cepat dan memotong tubuh Ghoul itu hingga menjadi potongan kecil. Akan tetapi Ghoul itu tidak mati begitu saja, dia masih memberikan perlawanan pada Weng Lou. Tangan kirinya yang masih utuh itu segera berubah kembali ke wujud padat, dan menusuk dada Weng Lou hingga mencuat keluar diantara punggungnya.


"Kerckk!! Kaaahhh!!!!"


Weng Lou menusukkan juga pedangnya pada dada Ghoul itu, dan mengeluarkan sebuah bola merah seukuran kepalan tangannya. Dengan cepat Weng Lou menusuk ke arah bagian dadanya yang telah dia potong menjadi beberapa bagian itu, dan mengeluarkan sebuah bola kristal yang hanya sebesar bola mata manusia berwarna merah dari dalamnya.


Ghoul itu tampak panik melihat yang dilakukan Weng Lou. Dia berusaha menarik keluar tangannya yang masih tersangkut di dada Weng Lou, sementara Weng Lou telah memasukkan kesadarannya ke dalam bola kristal tersebut.


Di dalam bola kristal, kesadaran Weng Lou terombang-ambing diantara berbagai macam emosi jahat di bagian terluar bola, lalu dia masuk ke bagian Qi Kegelapan yang memadat dan membentuk sebuah pelindung tipis yang mencegah apapun untuk masuk lebih dalam ke dalam bola itu. Tapi dengan mudahnya Weng Lou menembus penghalang itu dan tiba di bagian terdalam bola kristal.


Namun, kesadarannya berhenti masuk lebih jauh ketika dia tiba di bagian terdalam.

__ADS_1


Dia melihat ratusan jiwa manusia sedang berkumpul bersama dengan penuh rasa kebencian mendalam, dan perasaan benci itu segera terarah pada Weng Lou yang telah menyusup masuk ke tempat itu.


"Kau.....harus mati."


__ADS_2